Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).

Dimanakah Roh Para Nabi.?

Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Serba Serbi Air Alam

Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)

Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku

Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Monday, October 15, 2012

Sebab-sebab Usaha Dan Rizki Yang Halal

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول أمين، أما بعد

Perkara yang halal memiliki kedudukan yang besar dalam syari’at ini. Banyak ulama yang mengungkapan besarnya kedudukan halal dan banyaknya manfaat dengan berkata: “Halal itu kunci tatanan dunia”. Dan mereka berkata: “Dengan halal tegaklah dan luruslah kehidupan”. Dan mereka berkata: “Tidaklah baik mata pencaharian kecuali dengan perkara yang halal”.

Perkara yang halal adalah penolong akan tegaknya islam, tegaknya kehidupan dunia dan akhirat.
Perkara yang halal artinya semua perkara yang tidak diharamkan oleh syari’at Allah Ta’ala.
Perkara yang halal tidak akan diraih kecuali oleh orang yang menempuh sebab-sebabnya. Maka siapa yang telah menempuh sebab-sebabnya akan diharapkan untuk bisa meraih riziqi yang halal. Dan sebagian dari sebab-sebab tersebut adalah:

01. Memperbanyak do’a agar bisa mendapatkannya dan dipermudah baginya.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللَّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kalian merasa iri terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi para lelaki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan memohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Tahu terhadaap segala sesuatu.”
Seorang muslim hendaknya meminta kepada Rabbnya agar dipermudah dan ditolong dalam meraih yang halal. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdurrazaq dari Ummu Salamah dan dari Abu Ad-Darda’: “Rasulullah senantiasa berdo’a selepas shalat fajr:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً، وَرِزْقًا طَيِّبًا

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan rizqi yang baik (halal penuh barakah).”
Dan sungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada beliau rizqi yang paling baik, paling utama dan paling bermanfaat. Hadist tersebut dihasankan oleh Al-Hafizh dalam “Nata’ij Al-Adzkar”.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama bahwa sebaik-baik rizqi dan usaha adalah yang di dapat dengan sebab memperjuangkan kalimat Allah Ta’ala, seperti rampasan perang, fai yang mana ini diberikan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Dan kita lebih pantas untuk dikatakan lebih butuh kepada rizqi yang halal dan baik dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya untuk berdo’a:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَنْ مَنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizqi halal-Mu (dan hindarkan) dari yang Engkau haramkan, dan cukupilah aku dengan anugerah-Mu (dan hindarkan) aku dari selain Engkau.” Hadits di hasankan oleh Al-Albany dalam “Ash-Shahihah”.
Maka dalam do’a ini permintaan untuk bisa merasa cukup dengan perkara yang halal dan menjauhi perkara yang haram. Dan ini semata-mata merupakan anugerah dari Allah Ta’ala.

02. Tawakkal kepada Allah Ta’ala
At-Tirmidzy dan Ahmad meriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalau saja kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kepada-Nya niscaya Allah akan memberi rizqi pada kalian sebagaimana Allah memberikan rizqi kepada burung yang pergi pagi dengan perut kosong dan kembali di waktu petang dengan perut kenyang.” Haditsnya shahih.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah landasan inti dalam tawakkal dan mencari rizqi”. Sufyan berkata: “Tawakkal kepada Allah Ta’ala adalah cakupan agama ini, yaitu engkau ridha akan apa yang Allah Ta’ala tetapkan untukmu”.
Dan tawakkal haruslah hanya kepada Allah Ta’ala semata karena Allah Ta’ala itu Dzat Pemberi Rizqi. Betapa banyak orang yang lalai akan tawakkal kepada Allah Ta’ala dalam mencari rizqi.

03.  Ketakwaan
Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan baginya jalan keluar. Dan Allah akan memberinya rizqi dari arah yang tidak dia sangka.”
Maka rizqi akan mudah didapat dengan ketakwaan. Dan ketakwaan adalah menunaikan perintah dan menjauhi larangan dan bersabar menjalani takdir. Jika dia bertakwa kepada Allah Ta’ala maka dia tidak ridha dengan tipu menipu, dusta dan sumpah palsu. Karena dia merasa diawasi Allah ta’ala dan dia takut akan adzab Allah Ta’ala.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy:

لو عمل الناس بهذه الآية لكفتهم

“Kalau manusia mengamalkan ayat ini niscaya akan mencukupi mereka.”
Yang benar hadits ini terputus sanadnya, namun perkara takwa adalah perkara yang jelas disebutkan dalaam ayat yang mulia.

04. Memperbanyak ibadah sunnah
Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Jika telah ditunaikan shalat maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah keutamaan (anugerah) Allah dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim dan Ad-Darimy dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘ahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَآمُرُكُمَا بِسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، فَإِنَّهَا صَلاَةُ كُلِّ شَيْءٍ، وَبِهَا يُرْزَقُ كُلُّ شَيْءٍ

“Aku perintahkan kamu dengan Subhanallah wa bihamdih, karena sesungguhnya ia adalah shalatnya (do’anya) segala sesuatu dan dengannya segala sesuatu diberi rizqi.”
Allah Ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“Ingatlah Aku maka Aku akan mengingat kalian, dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan kalian kufur.”
Karena yang berbuat untuk mencari rizqi adalah anggota badan maka dia tidak ingat untuk mengingat Allah Ta’ala, jadi lisanlah yang harus mewakilinya untuk mengingat Allah Ta’ala.
Sebagian ulama berkata: “Menunaikan perintah yang wajib adalah modal inti dan menunaikan amalan sunnah adalah labanya.”. Maka manusia butuh kepada laba. Maka jika penunaian sunnah merupakan sebab teraihnya rizqi, maka penunaian perintah wajib lebih pantas menjadi sebab teraihnya rizqi.

05. Baiknya niat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amalan itu dengan niat.”
Dan mencari rizqi adalah amalan anggota badan luar. Maka pencari rizqi berniat dengan niat yang baik, bahwa dia akan mencari yang halal agar bisa menghindarkan diri dari minta-minta dan dari mengambil harta orang.

06. Bahwa pencari rizqi tidaklah cita-citanya untuk berbangga-bangga dengan harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

“Jika dia keluar berusaha demi anaknya yang masih kecil maka dia di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk kedua orang tuanya yang lanjut usia maka dia di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk dirinya agar terhindar (dari meminta dan mengambil harta orang) maka dia di jalan Allah. Dan jika dia keluar berusaha (cari rizqi) untuk pamer dan berbangga-bangga maka dia di jalan syaithan.”
Perkara berbangga-bangga ini merupakan kebodohan, maka hendaknya menjauh dari unsur pamer dan segala penyakit kalbu.

07. Hendaknya dia mencintai kebaikan untuk orang lain
Sebagaimana dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia suka kebaikan itu ada pada dirinya.”
Jika engkau suka mendapatkan rizqi yang baik dan halal, maka engkau harus suka agar rizqi yang baaik dan halal itu bisa didapat oleh saudaramu. Sehingga engkau mencintai kebiakan bagi manusia.

08. Bermuamalah dengan adil
Maka dia tidak ridha dengan muamalah yang jahat, curang dan jelek. Karena muamalah yang seperti ini akan menyebabkan dihalanginya rizqi yang baik dan halal. Demikian juga hendaknya dia bermuamalah dengan jujur, dan amanah. Dan muamalah dengan baik akan mengangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala.

Demikian saduran dari muhadharah (ceramah) Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam di Ma’had beliau Darul Hadits Ma’bar, Yaman.
Disadur oleh
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman.

Sumber : http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/06/24/sebab-sebab-usaha-dan-rizki-yang-halal/

 

Saturday, October 13, 2012

Berqurban Adalah Ibadah

Allah Azza Wa Jalla berfirman,yang artinya :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku,”nusuk”-ku,hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam.” (QS.Al – An’am : 162)

Kata “nusukiy”, diantara maknanya adalah sembelihanku. Al Imam Al Qurthubi berkata ; nusuk merupakan bentuk jamak dari nasikah yang bermakna sembelihan qurban. Sebagaimana telah dikatakan oleh Mujahid,Adh Dhahaq,Said bin Zubair dan ahli tafsir selain mereka.

Berpijak dari sini, jangan sampai kita beranggapan bahwa pelaksanaan ibadah qurban, merupakan rutinitas tahunan belaka, sehingga yang dibahas berkisar masalah teknis dan pembagian tugas saja.Memang manajemen qurban penting dan krusial bagi keberhasilan kegiatan qurban tersebut,akan tetapi ada yang lebih penting lagi yakni kesadaran personal dari setiap yang terlibat, bahwa penyembelihan qurban itu adalah ibadah. 

Oleh sebab itu hendaklah mereka mengikhlaskan niat dan tujuannya hanya untuk Allah Azza Wa Jalla. Bukan karena riya’ dan sum’ah serta tendensi duniawi  lainnya. Konsekuensi lainnya adalah  pelaksanaan penyembelihan qurban itu harus sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, sehingga terpenuhi sudah dua kriteria utama dari syarat diterimanya sebuah amalan. Sehingga kita dapati pula dalam kitab – kitab fiqih para ulama baik yang terdahulu maupun  sekarang, pembahasan tentang tata cara penyembelihan qurban ini.

Kapan Dikatakan Hewan Terkena Hukum-hukum Qurban?

Hewan terkena hukum- hukum qurban dengan salah satu dari dua perkara :

1. Dengan lafadz, seperti ucapannya “ini adalah hewan sembelihanku” maksudnya dia menginformasikan bahwa dia akan berqurban dengan hewan itu pada waktu mendatang.
2. Dengan perbuatan, dan ini ada dua macam, antara lain:
   a. Menyembelih hewan itu dengan niat berqurban.Maka,ketika ia menyembelih dengan niat seperti ini berlakulah hukum qurban pada hewan tersebut.
   b. Membeli hewan tersebut dengan niat untuk berqurban.

Bila telah demikian keadaannya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan hewan qurban tersebut.

1. Tidak boleh menggunakan hewan tersebut pada perkara yang mencegahnya/menghalangi untuk disembelih, seperti diperjualbelikan, dihibahkan, dijadikan jaminan, dan lainnya.

2. Jangan mengeksploitasi hewan tersebut, maka jangan digunakan pada usaha pertanian dan sebagainya,jangan ditunggangi, jangan diperah susunya yang bisa menguranginya atau mengurangi susu yang sedianya dibutuhkan oleh anaknya, dan jangan mencukur bulunya kecuali bila ada manfaat bagi hewan tersebut dan bulu hasil cukuran jangan dijual namun disedekahkan.

3. Bila hewan itu disembelih sebelum waktu penyembelihan, walau niatnya untuk berqurban, maka hukumnya seperti hewan yang hilang. Maksudnya harus diganti dengan yang semisalnya.

Syarat dan Adab Berkurban
Sebagaimana yang telah kita ketahui untuk unta dan sapi boleh berserikat tujuh orang, sedangkan kambing baik jenis dha’n (domba,biri-biri) ataupun ma’iiz (kambing kacang) hanya untuk satu orang.

Bagi si penyembelih qurban dan cara penyembelihannya, memiliki hukum – hukum dan adab-adab. Adapun yang berkaitan dengan orang yang menyembelih hewan qurban harus memenuhi syarat-syarat berikut :

1)  Pelaku penyembelihan hewan qurban adalah orang yang waras akalnya dan mumayyiz, artinya mengerti pembicaraan dan mampu merespon pertanyaan dengan jawaban yang semestinya. Maka tidak halal sembelihan orang yang gila,mabuk karena miras atau narkoba atau anak kecil yang belum mumayyiz.

2)  Hendaknya si penyembelih adalah seorang muslim atau seorang ahli kitab yaitu orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada agama yahudi atau nashrani. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya : “Dan tha’am orang ahlu kitab halal bagi kalian.” Maksud tha’am disini adalah sesembelihan ahli kitab,dan ini adalah perkataan Ibnu Abbas, Abu Umamah, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, As-Sudy, Muqathil bin Hayyan. Dan Ibnu Katsir berkata : Ini merupakan kesepakatan para ulama bahwa sesembelihan ahli kitab halal bagi kaum muslimin. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam makan daging kambing yang dihidangkan kepada beliau dari seorang wanita yahudi, seperti  dalam riwayat Abu Dawud dan Al Hakim.

3)  Hendaknya dia bertujuan menyembelih qurban karena ibadah, sebagaimana  firman Allah Azza wa jalla yang artinya : “ diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala (QS. Al Maidah :3). Maka menyembelih merupakan perbuatan yang khusus yang membutuhkan niat. Apabila ia tidak berniat untuk menyembelih qurban karena Allah, maka tidak halal sembelihannya tersebut,seperti misalnya apabila ia diserang hewan tersebut kemudian memotongnya untuk membela diri, maka sembelihannya tidak halal.

4)  Hendaknya hewan sembelihan tersebut tidak untuk selain Allah. Apabila sembelihan itu diperuntukkan untuk selain Allah maka tidak halal untuk dikonsumsi. Seperti menyembelih hewan ternak untuk pengagungan kepada berhala, gua , jin penunggu lembah, penghuni kubur dan sebagainya. Allah Azza Wa Jalla berfirman, yan artinya : “ diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharomkan bagimu yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah :3).

5) Tidak menyebut selain nama Alah ketika menyembelih hewan tersebut. Misalnya menyebut nama nabi,Jibril atau seseorang yang lain. Bila ia melakukannya maka seembelihannya tidak halal, walaupun disebut nama Allah berbarengan dengan nama selain Allah.

6)  Menyebut nama Allah Azza Wa Jalla ketika menyembelih hewan qurban tersebut. Alloh Jalla Wa ‘Ala berfirman yang artinya : “ Maka makanlah dari binatang – binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelih,bila kamu beriman kepada ayat-ayat-NYA. (QS. Al An’am :118). Dan Rasulullah Bersabda : “ Apa saja dari hewan yang ditumpahkan darahnya dan disebut nama Allah ketika menyembelihnya maka makanlah.” (HR.Al Bukhary dan lainnya).Bila si penyembelih adalah orang yang bisu, tidak mampu bicara, maka isyarat sudah cukup baginya, Allah berfirman yang artinya : “Maka bertaqwalah kepada Allah semampu kalian. “(QS.Ath-Taghabun:16).

7) Hendaknya yang menyembelih menggunakan alat yang sangat tajam sehingga dapat mengalirkan darah. Karena Rosululloh  bersabda :”Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Alloh ketika menyembelihnya maka makanlah, selama bukan menggunakan gigi atau kuku dan saya akan memberitahu kalian tentan hal itu, adapun gigi dia adalah tulang dan adapun kuku adalah alat berburu orang-orang habasyah.” (HR. Al Jama’ah). Dan ada dua tanda yang menunjukkan bahwa ruh hewan tersebut masih ada pada jasadnya :
   a. Hewan itu masih bergerak
   b. Mengalir dari hewan tersebut darah yang deras.

8) Mengalirkan darah disini adalah dengan menyembelihnya, bila tidak mampu untuk disembelih karena hewan tersebut mengamuk,berusaha kabur atau jatuh kedalam  sumur misalnya,maka cukup dilukai pada bagian mana saja dari badannya, meskipun yang lebih utama adalah bagian badan yang cepat menghilangkan nyawanya.
Bila mampu menyembelih dengan normal, maka sembelihlah pada leher sampai dibawah rahangnya dengan memutus dua urat leher tebal yang menempel dengan kerongkongan, dan lebih sempurna bila memotong kerongkongannya, saluran nafas dan saluran makanannya.

9) Hendaklah yang menyembelih mendapat izin secara syar’i dari pemilik hewan qurban tersebut.


Disamping memenuhi syarat-syarat diatas, juga seyogyanya memperhatikan adab – adab berikut :
1. Menghadapkan hewan sembelihan ke arah qiblat ketika menyembelihnya.

2. Berlaku baik dalam menyembelih hewan qurban, yakni dengan menggunakan alat yang tajam dan melakukan pemotongan dengan kuat dan cepat.

3. Dan menyembelih onta dalam keadaan berdiri dan terikat kaki kiri depannya dan berdiri diatas tiga kaki lainnya. Adapun selain onta maka dibaringkan atas sisinya yang kiri, bila sulit dilakukan maka boleh dibaringkan diatas sisinya yang kanan. Dan disunnahkan meletakkan kakinya keleher hewan tersebut,supaya posisinya mapan untuk menyembelihnya.

4. Memotong kerongkongan dan saluran makanan sebagai tambahan atas memotong dua urat sekitar kerongkongannya.

5. Menyembunyikan pisau dari hewan qurban tersebut, ketika mengasah pisaunya jangan sampai hewan itu melihatnya. Kecuali disaat menyembelihnya.

6. Bertakbir setelah membaca basmalah. Membaca basmalah hukumnya wajib dan bertakbir hukumnya sunnah,setelah membaca بسم الله و الله اكبر (bismillahi wa Allohu akbar)dia membaca اللهم تقبل هذه عني           (Allohumma taqobbal haadzihi ‘anniy). Bila yang menyembelih adalah pemiliknya, namun jika pemilik qurban mewakilkan kepada seseorang, hendaknya dia membaca .......اللهم تقبل هذه عن (Allohumma taqobbal hadzihi ’an......(disebut pemilik qurban)).

7. Hendaklah dia mewakilkan penyembelihan hewan qurbannya  kepada seorang muslim.Dan tidak sah,bila dia mewakilkan kepada seorang ahli kitab, walaupun sembelihannya halal. Hal ini karena penyembelihan qurban adalah ibadah, maka tidak sah bila yang melakukannya non muslim.

Dan tak ketinggalan dari masalah qurban adalah waktu penyembelihan qurban, yaitu empat hari terdiri dari hari I’edul Adha dan tiga hari tasyrik setelahnya berdasarkan hadits shohih., Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :” Setiap hari tasyrik adalah hari penyembelihan.”(HR. Ahmad dan Baihaqi).Sama saja antara malam dan siangnya,karena ini adalah makna hari (اليوم) dalam bahasa Arab secara mutlak, dan ini adalah madzab Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullahu.

    Disyari’atkan bagi yang berqurban makan dari hewan qurbannya,menghadiahkan dan mensedekahkannya, karena Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya :” Maka makanlah kalian dari sebagian daging sembelihan itu dan beri makanlah orang faqir yang tidak meminta karena merasa cukup dan menjaga harga diri dan oran faqir yang meminta. (QS. Al Hajj : 36)
Serta riwayat dari Salamah Bin Akwa’ bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :”Makanlah oleh kalian dan berilah makan  serta simpanlah.”(HR. Al Bukhari)
Dan kadar pembagian daging qurban adalah dibagi menjadi tiga bagian menurut kebiasaan masyarakat, yakni 1/3 yang dia ambil, 1/3 untuk disedekahkan kepada orang miskin sebagai sedekah dan 1/3 dihadiahkan kepada orang kaya.

    Sebagai nasehat, kami mengingatkan bahwa tidak boleh menjual dari bagian hewan qurban tersebut, apakah bulunya ataupun kulitnya dan sebagainya. Namun boleh dimanfaatkan, mengubah kulitnya menjadi tempat air dan sebagainya. Dan setelah menjadi tempat air pun tidak boleh dijual dan disewakan.
Beranjak dari hal ini,tidak boleh daging qurban dijadikan upah bagi tukang potong hewan qurban, namun dia menngambil dari yang lain sebagai upahnya.
Dari Ali bin Abi Tholib berkata : Rosululloh Shalallohu ‘Alaihi Wassalam menyuruh aku untuk mengurus qurban-qurbannya dan agar aku membagikan  apa yang dikenakannya serta kulitnya, aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan qurban itu, beliau bersabda :”kami akan memberikannya dari sisi yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dan perkara yang tak kalah penting, adalah tidak boleh memperuntukkan sembelihan qurban tersebut kepada orang yang telah meninggal secara khusus. Seperti yang dijelaskan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, “Akan tetapi kami memandang bahwa memperuntukkan sembelihan qurban untuk orang yang telah meninggal secara khusus bukan termasuk ajaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebab beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak pernah menyembelih qurban yang diperuntukkan kepada orang yang telah meninggal secara khusus. Maka Nabi saw Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyembelih qurban untuk pamannya Hamzah bin Abdul Muthallib, padahal beliau termasuk kerabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang paling mulia. Demikian juga tidak pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya menyembelih qurban untuk anak-anaknya yang telah meninggal di antaranya tiga orang anak perempuan yang sudah menikah dan tiga anak laki-laki yang masih kecil.”(Ahkaamul Udhiyyah wadzakaah, hal. 4).

    Jadi yang dibolehkan ialah ia berqurban untuk keluarganya secara umum baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

    Akhirul kalam, tidak banyak pembahasan yang bisa kami muat di sini. Namun setidak-tidaknya kita memiliki gambaran untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini dengan meniti tuntunan sebaik-baik manusia, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh : Al-Ustadz Abu Miqdad Harits
(Salah Seorang Pengajar di Ma’had Ibnul Qoyyim Balikpapan)

Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/132-berqurban-adalah-ibadah


Monday, October 1, 2012

Mereka Menghina Manusia Pilihan

Oleh Jafar Salih

Sungguh Allah telah menganugrahkan kepada ummat ini hidayah dengan diturunkan kepada mereka Al Qur’an. Sebuah kitab yang Allah jadikan sebagai petunjuk dan pedoman dalam segala situasi dan keadaan. Andaikan ummat ini konsisten dalam berpedoman kepadanya pastilah kebahagiaan dan kedamaian yang akan mereka raih bukan selainnya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. 17:9)

Akan tetapi jauhnya mereka (muslimin) dari petunjuk ini menjadikan mereka terjerumus ke dalam jerat-jerat syaithan yang membinasakan. Seperti peristiwa yang terjadi belum lama ini. Ummat Islam di banyak negara rama-ramai berdemonstrasi memprotes pembuatan film yang melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan kerugian dari pihak kaum muslimin sendiri.

Sudah menjadi sunnatullah perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, kekufuran dan keimanan. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. 6:112)

Begitu pula pelecehan, cercaan dan makian. Ini semua telah menimpa Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semasa hidupnya. Berbagai macam tuduhan dusta dialamatkan oleh kelompok kafir Quraisy kepada sosok agung sang Nabi pilihan. Allah berfirman, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS. 15:97)

Mereka menuduh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai ‘dukun’, ‘orang gila’, ‘penyair’. Mereka juga menuduhnya ‘penyihir’, ‘pendusta’. “dan mereka berkata:"Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?" (QS. 37:36)

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :"ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS. 38:4)

Bahkan cercaan, celaan, makian dan penghinaan orang-orang kafir seperti ini bukan hanya menimpa Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seorang, para nabi dan rasul sebelum beliau tidak seorang pun selamat dari lisan mereka. Dan hal ini lahir dari akidah mereka yang kotor.

Allah berfirman, “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (QS. 2:87)

Maka jangan Anda heran terhadap tingkah polah kaum yang segelap ini sejarah mereka.
Satu hal yang perlu diketahui, celaan, cercaan dan penghinaan kepada sosok yang mulia tidak akan menjadikan manusia-manusia rendahan itu terhormat dan sosok mulia, manusia pilihan, Muhammad bin Abdillah Sang Utusan Allah menjadi hina. Karena beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok paling mulia yang Allah Ta’aala sendiri puji dari atas langit yang tujuh dengan firman Nya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budipekerti yang agung.” (Qs. Qalam; 4)

Sa’d bin Hisyam mengisahkan, “Suatu hari aku mendatangi ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan mengatakan; “Sampaikanlah padaku bagaimana akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?” Maka ‘Aisyah berkata; “Akhlak beliau adalah Al Qur’an. Bukankah kamu membaca Al Qur’an?! “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budipekerti yang agung.”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling beliau cintai bercerita. “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan orang yang kotor dan suka bicara kotor dan beliau bukan orang yang suka berteriak di pasar dan tidak membalas (kejahatan) dengan kejahatan akan tetapi beliau suka memaafkan dan melupakan.” HR. Tirmidzi dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani.

“Beliau tidak pernah memukul dengan tangannya suatu apa pun, kecuali kalau berjihad fi sabilillah. Dan beliau tidak memukul pelayan tidak pula perempuan. HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Selain itu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu juga menceritakan. “Dahulu aku melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sepuluh tahun lamanya. (Selama itu) aku tidak pernah mendengar beliau mengatakan terhadap apa yang aku perbuat “kenapa kamu lakukan itu” (dan sebaliknya) terhadap apa yang tidak aku lakukan “kenapa kamu tidak kerjakan itu”. Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan aku tidak pernah menyentuh pakaian wol atau sutra atau apa pun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan (hidung)ku tidak pernah mencium wangi kesturi atau minyak wangi yang lebih harum dari keringat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. HR. Muslim

Nukilan-nukilan ini hanyalah sekelumit dari luasnya budipekerti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kami kutip sebagai contoh sekaligus penggugah bagi setiap muslim bahwa mempelajari sejarah beliau, mengikuti sunnah/ajarannya adalah merupakan pembelaan paling besar terhadap beliau dan memberikan efek positif kepada ummat sekaligus pukulan telak bagi semua musuh-musuh Islam dimana pun mereka berada.

Wallahua’lam.
Bekasi, 22 September 2012 

Sumber :  http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?no=355


Monday, September 10, 2012

Merenungi Surat Al-Ashr

“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar - benar dalam kerugian.Kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasihat menasehati dalam kesabaran.” (Qs. Al -`Ashr 1- 3 )

Surat Al -`Ashr ini adalah surat pendek yang terdiri dari tiga ayat, akan tetapi merupakan surat yang agung disebabkan kandungan makna yang sangat mendalam di dalamnya.Oleh karena itu Imam Asy Syafi`i Rahimahullahu Ta`aala pernah mengatakan berkaitan dengan surat ini ; “ Kalau seandainya manusia mentadaburi surat ini niscaya surat ini cukup bagi mereka.“ Maksud ucapan beliau adalah bahwa surat Al -`Ashr ini, cukup untuk mendorong manusia agar berpegang teguh kepada agama Allah . 
Bukan berarti mencukupi bagi mereka terhadap seluruh syariat-Nya akan tetapi dengan surat ini akan cukup menjadikan orang yang berakal ketika mendengar atau membacanya, akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari golongan yang merugi dengan cara menghiasai dirinya dengan sifat-sifatnya seperti yang tersebut didalamnya. Lebih daripada itu, surat ini juga merangkum sebab-sebab kebahagiaan secara menyeluruh dan mengandung pula peringatan dari Allah Ta`aala.

Peringatan Allah Dalam Surat Al -`Ashr

Dalam surat ini, Allah Ta`aala bersumpah dengan masa.Masa yang merupakan tempat suatu kejadian,baik berupa kebaikan ataukah keburukan. Demikianlah Allah bersumpah dengan makhluknya sesuai dengan yang Allah inginkan, sedangkan makhluk tidak diperkenankan bersumpah kepada selain nama Allah, karena bersumpah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ

“ Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan Al Albani Rahimahullah)

Tidaklah Allah bersumpah dengan menyebut makhluknya melainkan di dalamnya ada hikmah dan pelajaran .Diantara hikmahnya - Wallahu a`lam – ialah bahwa surat ini menunjukkan pentingnya waktu. Seorang hamba akan dihisab terhadap waktunya yang ia habiskan dalam kehidupan dunia ini,sejak dirinya mencapai usia baligh hingga kematian menjemputnya. Rasullullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;

لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“ Tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan,tentang ilmunya apa yang ia amalkan,tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan kemana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan ( habiskan ). “ ( HR. Tirmidzi dari Abu Barzah Radhiyallahu `anhu dishahihkan Al Albani Rahimahullah)

Didalam ayat ini Allah mengingatkan hambaNya akan pentingnya waktu,dimana kebanyakan manusia tertipu dengannya,tidak memanfaatkannya dalam perkara yang mendatangkan keridhaan Allah Ta`aala.Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَ اْلفَرَاغِ

“ Dua perkara yang kebanyakan manusia tertipu dengannya,nikmat kesehatan dan waktu longgar. “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu `Abbas Radhiyallahu `Anhu )

Ibnu Jauzi Rahimahullahu Ta`aala menjelaskan ; “ Kadang – kadang manusia dalam kondisi sehat akan tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari ma`isyah. Kadang – kadang ia berkecukupan ( sehingga punya waktu luang ) akan tetapi tidak memiliki kesehatan. Ketika berkumpul keduanya ( kesehatan dan waktu luang ) maka rasa malas untuk melakukan keta`atan menguasai dirinya, sehingga ia menjadi orang yang tertipu. Padahal, dunia adalah ladang dan tempat perniagaan yang akan nampak keberuntungannya di kehidupan akhirat. Barangsiapa yang menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk ta`at kepada Allah maka ia akan berbahagia.Dan barangsiapa yang menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah maka ia orang yang tertipu,karena waktu luang itu akan digantikan dengan kesibukan dan sehat akan digantikan dengan sakit.” ( Fathul Baari )

Demikianlah keadaan manusia,mereka terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada yang ketiga,diantaranya ada yang ta`at dan yang lainnya bermaksiat . Asy syaikh Ubaid Al Jaabiri Hafidhahullahu Ta`aala menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ;

اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“ Al Qur’an itu akan menjadi hujah bagimu ( membelamu ) ataukah akan menjadi hujah atasmu ( membinasakanmu). “ Waktumu yang engkau habiskan di dunia, tidaklah terlepas dari dua perkara,apakah engkau orang yang mengamalkan Al Qur’an, beriman dengannya, beramal terhadap ayat – ayatnya yang muhkam ( jelas ),mengimani ayat yang mutasyabih (samar ),dan engkau menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka dengan ini semua Al Quran akan menjadi hujah yang akan membelamu, ataukah sebaliknya dari itu semua, maka Al Quran akan menjadi hujah yang akan membinasakanmu.” ( Ahamiyatul Wakti Fi Hayatil Muslim )

Sebab-sebab Kebahagiaan

Allah bersumpah bahwa seluruh manusia dalam kerugian siapapun dia,kaya maupun miskin,pandai maupun jahil,mulia ataukah rendah,laki-laki maupun perempuan,bangsawan ataukah bukan. Semuanya merugi dunia dan akhiratnya kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut,yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

1.Beriman

Iman adalah yang mencakup setiap perkara yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta`aala, baik berupa keyakinan yang benar atau ilmu yang bermanfaat.Iman yang tidak bercampur dengan keraguan.Tidak ragu dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman,yaitu mengimani tentang Allah, malaikat – malaikat-Nya,kitab - kitab-Nya,rasul – rasul-Nya,hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.

Manusia dalam iman terbagi menjadi tiga, pertama ; orang yang beriman yang murni imannya,kedua ; orang yang kufur yang mengingkari dan menentangnya,ketiga; orang yang ragu.Yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman yang murni imannya.

Anjuran beriman dalam hal ini terkandung didalamnya perintah untuk menuntut Ilmu.Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali mengilmui terhadap perkara yang harus diimaninya.Asy Syaikh Abdurrahman As Sa`di Rahimahullah Ta`aala mengatakan; “ Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu. “ ( Tafsir As Sa`di )

2. Beramal Shaleh

Yang dimaksud dengan amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu ; ikhlas karena Allah dan mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad Rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” ( Qs. Al Mulk : 2 ) beliau mengatakan ; “ yang paling ikhlas dan paling benar,sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan apabila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar,amalan disebut ikhlas apabila karena Allah dan benar apabila mencocoki sunnah ( tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ).”

Sehingga tidaklah setiap orang yang beramal kebajikan itu akan mendapatkan balasan dari Allah sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai sunnah. Allah ta`aala berfirman ; “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ( Qs. Al Kahfi : 103-104 )

Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ; “ Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak diatas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya.Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” ( Qs. Al Ghasyiyah : 2-4) ( Tafsir Ibnu Katsir )

Ibnu `Abbas Radhiyallahu `anhuma menafsirkan ayat ini ; “ bahwa wajah – wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.“

Apabila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka,lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali ? Hidup seperti binatang hanya makan,minum,dan memuaskan hawa nafsunya, tidak mau sholat, enggan zakat dan tidak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah.

3. Memberi Nasehat Kepada Al Haq ( kebenaran )

Yang dimaksud disini adalah berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah.Tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“ Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim ) .

Berdakwah merupakan bentuk kesempurnaan iman.Dan berdakwah,melakukan amar ma`ruf nahi mungkar bukanlah termasuk ikut campur tangan urusan orang lain, sebagaimana anggapan orang jahil di zaman ini.Akan tetapi orang yang berdakwah pada hakikatnya bertujuan membawa kebaikan bagi mereka dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan adzab Allah.Disebutkan dalam hadits ; “ Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaraan dan ia tidak merubahnya hampir - hampir Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani Rahimahullah )

4. Bersabar

Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia ini.Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.

Tidaklah seseorang itu tatkala melakukan amalan ketaatan,baik ketika menuntut ilmu,beramal shaleh ataupun ketika berdakwah dan yang lainnya,melainkan membutuhkan kesabaran agar tetap istiqomah.Dan hal ini merupakan perkara yang berat,karena setan senantiasa menggoda untuk menggelincirkannya.Demikian pula membutuhkan kesabaran untuk mengekang hawa nasfu agar tidak melakukan kemaksiatan,karena jiwa ini cenderung mendorong kepada keburukan,seperti firman Allah Ta`aala ; “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” ( Qs. Yusuf : 53 )

Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah . Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya. Allah ta`aala berfirman ; “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22)

Wallahu a`lam

Oleh : Al-Ustadz Abu Usaid Abdul Fattah

Sumber :  http://salafybpp.com/index.php/fataawa/96-merenungi-surat-al-ashr


Monday, June 4, 2012

Mengenal Islam Lebih Dekat

Kita patut bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Walaupun kita tidak akan mampu untuk membalasi nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak. Betapa banyak nikmat Allah yang telah kita lalaikan tanpa  disadari. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk banyak bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian mengkufuri (nikmat)-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah:152].

Termasuk nikmat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat mengenal Islam dan menjadi pemeluknya. Banyak orang yang tidak mendapatkan karunia ini, tidak mengetahui Islam, terlebih untuk tunduk memeluk agama ini.

Namun bagaimana seorang akan mensyukuri sesuatu apabila ia tidak menyadari bahwa perkara tersebut patut disyukuri. Oleh karena itu,
 secara selaras dalam hati, lisan serta anggota badan.
Islam memiliki tiga esensi utama, ketiganya harus terpenuhi untuk tegak serta benarnya Islam seseorang. Tidak akan tegak salah satu darinya tanpa yang lain. Ketiga esensi itu adalah :

Yang Pertama: Mengesakan Allah Dengan Berserah Diri Hanya Kepada Allah
Seorang muslim adalah seseorang yang beriman bahwa Allah adalah satu-satunya yang mampu menciptakan mengatur serta memelihara alam. Tidak ada tandingan bagi Allah dalam kemampuan tersebut. Dia beriman pula bahwa hanya Allah yang berhak untuk diibadahi, dimintai, dan ditakuti. Yang mana, ini semua adalah konsekuensi atas keimanannya terhadap keesaan Allah dalam penciptaan, pengaturan dan pemeliharaan alam. Dia juga wajib beriman bahwa bagi-Nya lah seluruh nama-nama  dan sifat-sifat yang sempurna.
Seorang muslim adalah orang yang tidak akan memercayai bahwa ada yang bisa mengatur alam selain Allah, tidak pula berdoa dan meminta kepada selain Allah serta tidak memberikan sifat ketuhanan kepada selain Allah.

Yang Kedua: Tunduk Dan Patuh Dengan Menaati-Nya
Seorang muslim akan tunduk kepada Allah dengan menaati seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ketundukan ini adalah konsekuensi dari pengakuannya akan keesaan Allah. Tidak akan didapati pada diri seorang yang berislam dengan benar keinginan untuk menyelisihi perintah Allah, terlebih untuk terang-terangan menentang-Nya. Sikap penentangan kepada Allah seperti ini hanya akan muncul dari orang yang tidak mengesakan-Nya. Bahkan, sikap penentangan terhadap Allah adalah salah satu sikap orang kafir dan munafik. Sebaliknya, sikap tunduk atas perintah dan larangan-Nya adalah ciri dari seorang muslim sejati.

Yang Ketiga: Berlepas Diri Dari Kesyirikan Dan Para Pelakunya
Kesyirikan adalah lawan dari tauhid, tidak akan bersatu dalam diri seseorang antara syirik dan tauhid. Seandainya seseorang bertauhid maka ia akan melenyapkan kesyirikan dan demikian sebaliknya. Ketika seseorang berkeyakinan bahwa Allah satu-satunya yang mengatur alam, maka ia tidak akan mensifati selain-Nya sebagai pengatur alam yang menandingi-Nya dalam pengaturan. Ketika ia memberikan ibadah hanya kepada Allah maka tentulah ia tidak akan memberikannya kepada selain-Nya dan demikian seterusnya. Sehingga seorang muslim adalah orang yang antipati dari segala bentuk kesyirikan baik yang besar maupun kesyirikan kecil semisal riya’. Ia adalah orang yang paling jauh dari menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.

Selain membenci dan antipati terhadap kesyirikan, seorang muslim juga orang yang menghindari dan berlepas diri dari para pelaku kesyirikan tersebut serta dengan sungguh-sungguh memusuhinya. Allah ta’ala telah berfirman mengisahkan kepada kita sikap Nabi Ibrahim q beserta orang-orang yang bersama beliau terhadap kesyirikan dan para pelakunya yang artinya, ”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” [Q.S.  Al-Mumtahanah:4].

Inilah esensi Islam, barangsiapa yang meyakininya, maka ia adalah seorang muslim. Oleh sebab itulah seluruh Nabi dan Rasul demikian pula para pengikut mereka adalah kaum yang berislam, karena mereka memiliki ketiga esensi Islam.

Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk berislam(berserah diri) kepada Allah:
ﮛ  ﮜ  ﮝ    ﮞ  ﮟﮠ   ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, ‘Ber-Islam-lah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.”’ [Q.S. Al-Baqarah:131].

Allah juga berfirman yang artinya, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang ber-Islam (berserah diri) kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.”  [QS Al-Ma`idah:44].

Dalam sebuah hadits disebutkan pula bahwa seluruh Nabi memiliki keyakinan yang sama dalam akidah, tauhid, serta ketundukan mereka terhadap Allah. Namun, mereka berbeda dalam syariat sesuai yang Allah turunkan atas mereka. Rassulullah ` bersabda yang artinya, “Para nabi adalah auladul ‘alat ibu mereka berbeda-beda akan tetapi agama mereka satu.” [H.R. Ahmad, Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah z, dishahihkan Syaikh Al Albani v dalam Shahihul Jami’].

Auladul ‘alat adalah ibunya berbeda-beda dan bapaknya satu maksudnya sebagaimana yang disinggung Rasulullah ` sendiri bahwa keimanan mereka satu adapun hukum-hukum syariat mereka berbeda. Demikian penjelasan Ibnul Atsir v dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar.

Inilah makna Islam dalam artian umum, adapun Islam dalam artian khusus adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad `. Di mana seseorang tidak dikatakan menjadi pemeluk Islam sampai ia mau beriman dengan seluruh apa yang dibawa oleh Rasulullah ` serta tunduk dengan seluruh syariatnya. Ini adalah Islam yang menyempurnakan syariat yang datang sebelumnya. Satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah. Rasullullah ` bersabda yang artinya, “Demi Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, pemeluk Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian ia  mati dan tidak mau beriman terhadap apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk dari penduduk neraka.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah `].

Allah berfirman di dalam kitab-Nya:
 “Barangsiapa menginginkan selain Islam sebagai agama, maka tidaklah hal itu diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”  [Q.S. Ali Imran:85]. Allahu a’lam. [hammam].

Wednesday, May 30, 2012

Bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Tatkala Hujan

Oleh : Abu Ali Abdus Shobur  
 

Sebagai seorang muslim, tentunya kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah suri teladan yang terbaik bagi umatnya. 
 
Allah subhanahu wata'ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
(artinya) : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab : 21).

Dan kebahagian atau kesengsaraan seorang hamba di dunia dan di akhirat, itu tergantung bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam kehidupannya. Baik itu berupa hubungan dia dengan Allah subhanahu wata'ala atau dengan manusia yang lainnya. Atau hubungan antara dia dengan keluarganya atau dengan dirinya sendiri. Dan demikian pula hubungan antara dia dengan makhluk yang lainnya, baik yang bernyawa seperti hewan atau pun yang lainnya. Seluruh hal ini telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
(artinya) : seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Para shahabat) bertanya : wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, siapa yang enggan? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : barangsiapa yang mentaatiku, maka dia akan masuk surga dan barangsiapa yang bermaksiat (tidak mentaati beliau) kepadaku maka dia enggan masuk surga. (HR. Al Bukhori no. 7280 dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِى مُوسَى عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ مَا بَعَثَنِىَ اللَّهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ يَا قَوْمِ إِنِّى رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَاءَ. فَأَطَاعَهُ طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَأَدْلَجُوا فَانْطَلَقُوا عَلَى مُهْلَتِهِمْ وَكَذَّبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ فَأَصْبَحُوا مَكَانَهُمْ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ أَطَاعَنِى وَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِى وَكَذَّبَ مَا جِئْتُ بِهِ مِنَ الْحَقِّ ».
(artinya) : sesungguhnya permisalanku dan apa yang Allah subhanahu wata'ala mengutusku dengannya, seperti seorang yang datang kepada kaumnya. Lalu dia mengatakan : wahai kaumku, sesungguhnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada suatu pasukan (yang akan datang menyerang), dan sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan, maka selamatkanlah (diri kalian). Sekelompok orang dari kaumnya pun mentaatinya, sehingga mereka berjalan (di waktu malam) dan pergi dengan diam-diam (meninggalkan tempat mereka). Dan sekelompok yang lain, mereka mendustakannya. Sehingga tatkala waktu pagi datang, mereka masih berada di tempat mereka. Lalu pasukan tersebut pun menyerang dan membinasakan mereka. Maka yang demikian itu seperti seorang yang mentaatiku dan mengikuti apa yang aku datang dengannya (sehingga dia pun selamat), dan seperti seorang yang bermaksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku datang dengannya berupa kebenaran (sehingga dia pun binasa). (HR. Al bukhori no. 7283 dan Muslim no. 6094 dari Abu Musa).

Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan, baik di dunia atau di akhirat, hendaklah dia mencontoh dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Baik itu dalam urusan dunia dan terlebih lagi urusan akhirat. Dan diantara yang beliau bimbingkan adalah bagaimana sikap yang benar ketika turun hujan dan hukum-hukum yang terkait dengan turunnya hujan.
Hujan merupakan salah satu nikmat yang Allah subhanahu wata'ala turunkan kepada hamba-hambaNya. Namun tidak semua orang mendapatkan nikmat ini. Ada sebagian mereka yang mendapatkannya, sehingga mereka pun hidup dengan bahagia, dan demikian pula hewan-hewan yang ada di sekeliling mereka. Dan ada pula sebagian mereka yang Allah subhanahu wata'ala tidak menurunkan hujan kepada mereka, sehingga mereka pun hidup dalam kesengsaraan. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dalam rangka untuk mencarinya.
Sebelum hujan turun, biasanya muncul dilangit beberapa tanda. Seperti awan hitam, suara petir, angin yang kencang dan yang lainnya. Bagi sebagian orang, mereka menganggap hal ini adalah hal yang biasa saja. Namun, sesungguhnya ini merupakan salah satu dari tanda kekuasaan Allah subhanahu wata'ala yang Allah subhanahu wata'ala perlihatkan kepada hambaNya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tatkala melihat hal yang semacam ini, beliau merasa takut. Beliau khawatir kalau seandainya itu merupakan adzab dari Allah subhanahu wata'ala.
Perhatikanlah keadaan kaum ‘Aad. Tatkala mereka melihat awan yang hitam menuju tempat mereka, mereka bergembira dengannya. Mereka menyangka bahwa akan turun kepada mereka hujan sehingga mereka bisa mengambil manfaat darinya. Allah subhanahu wata'ala kisahkan mereka dalam Al Quran:
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)
(artinya) : Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." (Bukan!) bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Robbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (Al Ahqof : 24-25)

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَى النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا. رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عَرَفْتُ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤَمِّنُنِى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا (هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) ».
Dalam riwayat Al Bukhori dan Muslim, Aisyah menceritakan keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tatkala melihat kondisi langit yang berubah. Beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tatkala melihat mendung atau angin, (terjadi perubahan pada keadaan beliau) hal itu diketahui dari wajah beliau. Maka Aisyah pun bertanya : wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku melihat manusia apabila mereka melihat mendung, mereka senang. Mereka berharap akan turun hujan. (Namun) aku melihatmu, jika engkau melihat mendung, aku melihat di wajahmu ada kebencian (kegelisahan). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : wahai Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman, boleh jadi padanya ada adzab, sungguh telah diadzab suatu kaum dengan angin, dan sungguh ada suatu kaum yang mereka melihat adzab mereka justru mengatakan : ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami. (HR. Al Bukhori no. 4829 dan Muslim no. 2123 dari Aisyah).

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ ». قَالَتْ وَإِذَا تَخَيَّلَتِ السَّمَاءُ تَغَيَّرَ لَوْنُهُ وَخَرَجَ وَدَخَلَ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ فَإِذَا مَطَرَتْ سُرِّىَ عَنْهُ فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ « لَعَلَّهُ يَا عَائِشَةُ كَمَا قَالَ قَوْمُ عَادٍ (فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) ».
Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah mengatakan (yang artinya) : adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila bertiup angin yang kencang, beliau berdoa : Allahumma inni as aluka khoiroha wa khoiro ma fiiha wa khoiro ma ursilat bihi wa Allah subhanahu wata'ala’udzibuka men syarriha wa syarri ma fiha wa syarri ma ursilat bihi (yang artinya : wahai Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya, serta kebaikan yang dia diutus dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang ada padanya, serta kejelekan yang dia diutus dengannya).
Dan apabila langit berubah keadaannya, berubah warnanya, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam keluar masuk, ke depan dan ke belakang (yakni beliau gelisah). Dan jika telah turun hujan, maka beliau pun senang. Aku mengetahui hal itu dari raut muka beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Aisyah pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau pun menjawab : barangkali wahai Aisyah, sebagaimana kaum ‘Aad dahulu mereka mengatakan tatkala mereka melihat mendung menuju tempat mereka, mereka berkata : ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami (padahal yang sesungguhnya itu adalah adzab dari Allah subhanahu wata'ala). (HR. Muslim no. 2122 dari Aisyah). 

Maka dari sini kita mengetahui bahwa tidaklah setiap hujan itu mengandung manfaat bagi orang yang diturunkan kepada mereka hujan. Bahkan ada diantara hujan yang padanya mengandung adzab dari Allah subhanahu wata'ala. Dan kita saksikan di zaman ini, di berbagai tempat turun padanya hujan, namun hujan tersebut bukan membawa kebaikan tapi justru keburukan, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan yang lainnya. Oleh karena itu, bagi seorang muslim, tatkala dia melihat tanda-tanda akan diturunkan hujan, hendaklah dia berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar menjadikan pada mendung tersebut ada hujan yang bermanfaat. Dan semoga air hujan yang turun tersebut, membawa kebaikan bagi penduduk bumi sehingga dengannya tumbuh berbagai jenis tanaman dan tidak merusak apa yang di bumi. 

Sebagian ulama, seperti Al ‘Aini, mengatakan : hujan yang turun ke muka bumi padanya ada dua kenikmatan, yaitu nikmat adanya air sehingga manusia dan hewan bisa mengambil manfaat darinya, dan (hujan) merupakan sebab tumbuhnya berbagai jenis tanaman, (yang manusia dan hewan juga mengambil manfaat darinya).
Kemudian, diantara bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terkait permasalahan turunnya hujan adalah meyakini bahwa turunnya hujan merupakan kekhususan ilmu Allah subhanahu wata'ala. Yakni bahwasanya Dialah Allah subhanahu wata'ala satu-satunya yang mengetahui kapan turunnya. Sehingga, tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui kapan turunnya hujan. Dalam Al Quran Allah subhanahu wata'ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34)
(artinya): Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman : 34)

Lalu bagaimana dengan berita-berita tentang turunnya hujan, baik yang ada di koran, majalah, radio atau yang lainnya? permasalahan ini telah dijawab oleh para ulama. Mereka mengatakan : hal ini diperbolehkan dengan dua syarat. Yang pertama hendaklah berita-berita tersebut dibangun diatas qorinah (tanda-tanda) yang ada dan dengan menggunakan alat-alat yang sudah diketahui (yakni digunakan untuk meneliti cuaca). Dan yang kedua, hendaklah berita-berita yang semacam ini dibangun diatas persangkaan bukan secara yakin, sekalipun telah menggunakan alat. Karena yang namanya alat, tidak bisa memberikan kepastian, dan kepastian itu hanya dari sisi Allah subhanahu wata'ala. Terkadang dalam penelitian, terdapat tanda-tanda akan diturunkannya hujan, namun tatkala Allah subhanahu wata'ala menghendaki untuk tidak turun hujan, maka hujan pun tidak turun walau hanya setetes air. Sehingga kita tidak boleh memastikan turunnya hujan.
Dan diantara bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lain ketika turun hujan adalah menyandarkannya kepada Allah subhanahu wata'ala. Dialah Allah subhanahu wata'ala satu-satunya yang mampu untuk mendatangkan hujan. Dan tidak ada seorang pun yang mampu untuk mendatangkannya. Maka jika ada seorang yang mengaku bisa mendatangkan hujan, maka sungguh dia telah berdusta. Adapun bila turun hujan dengan sebab dia, maka itu merupakan bentuk pancingan dari Allah subhanahu wata'ala untuk menguji hamba-hambaNya. Jika ada yang percaya bahwa dia mampu menurunkan hujan, maka orang tersebut telah kafir kepada Allah subhanahu wata'ala. Dan orang yang mendustakannya, maka orang tersebut telah beriman kepada Allah subhanahu wata'ala.
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ، فَقَالَ : هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.
Zaid bin Kholid, seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia, beliau pernah mengatakan : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan sholat subuh bersama kami di Hudaibiyyah. (Waktu itu) masih ada bekas dilangit karena (hujan yang turun) tadi malam. Tatkala telah selesai, beliau menghadap kepada manusia (para jamaah). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : Allah dan RosulNya yang lebih mengetahui. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : (Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya) ) di waktu pagi ini, ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir kepadaKu. Adapun orang yang mengatakan kami diberi hujan dengan keutamaan dari Allah subhanahu wata'ala dan rahmatNya, maka dia beriman kepadaKu dan kafir dengan bintang-bintang. Dan adapun orang yang mengatakan (kami diberi hujan) dengan sebab bintang ini dan bintang itu, maka dia kafir kepadaKu dan beriman dengan bintang-bintang. (HR. Al Bukhori no. 1038 dan Muslim no.240 dari Zaid Bin Kholid).

Adapun mereka yang menyandarkan hujan kepada selain Allah subhanahu wata'ala, maka secara terperinci mereka terbagi menjadi tiga bagian : 

Pertama : Orang yang menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah subhanahu wata'ala. Yakni meyakini bahwa selain Allah subhanahu wata'ala dialah yang menurunkan hujan. Maka orang yang semacam ini, dia telah terjatuh kedalam syirik besar.

Kedua : Orang yang menisbatkan sebab turunnya hujan kepada selain Allah subhanahu wata'ala. Yakni meyakini bahwa selain Allah subhanahu wata'ala dia adalah sebagai sebab turunnya hujan, adapun yang menurunkan hujan adalah Allah subhanahu wata'ala. Maka orang yang semacam ini, dia telah terjtuh kepada syirik kecil.

Ketiga : Orang yang menisbatkan turunnya hujan kepada waktu tertentu. Sebagai contohnya mereka menisbatkan turunnya hujan di waktu bintang tertentu muncul. Para ulama berselisih dalam menghukumi hal ini, dan pendapat yang shahih Wallahu a'lam, adalah dilihat kepada orang yang melakukannya. Jika dia memiliki ketergantungan terhadap bintang tersebut, maka hendaklah dia dilarang karena bisa menjerumuskan kedalam syirik.

Inilah diantara bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika hujan turun. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahu a'lam.

Sumber : http://salafybpp.com

MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA MUSUH ISLAM, GAMBARAN RAPUHNYA KEIMANAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
Alhamdulillah ‘ala kulli haal, ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sedang berhadap-hadapan dengan proyek besar Kristenisasi atas nama PROYEK SOSIAL, sebagian orang yang mengaku muslim justru memberikan penghargaan kepada orang yang dicurigai berada di balik gerakan pemurtadan umat Islam tersebut.
Sangat disayangkan, penghargaan tersebut di berikan di sebuah stasiun televisi swasta; Metro TV yang sebelumnya telah memfitnah ma’had Ahlus Sunnah di Yaman sebagai tempat pendidikan teroris.[1] Ada apa dengan Metro TV!?
Berikut kutipan berita di sebuah media,
“Romo Carolus, demikian dia akrab disapa. Sehari-hari pria yang memiliki nama lengkap Charles Patrick Edwards Burrrows, OMI itu menjadi Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Dia telah menghabiskan waktu lebih dari 40 tahun menjadi motor perubahan sosial di Cilacap lewat sejumlah aksi sosial di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, infrastruktur, dan lainnya. Tak ayal, Maarif Institute menganugerahinya MAARIF AWARD 2012 atas keberhasilan Carolus menyuntikkan semangat baru dan menumbuhkan model alternatif untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat di Cilacap. Pria kelahiran Dublin, Irlandia Selatan, 8 April 1943 itu menapakkan kaki kali pertama di Indonesia pada 9 September 1973, setelah bertugas di Paroki Sefton, Sydney, Australia. Setiba di Indonesia, anak keempat dari lima bersaudara itu diutus ke Cilacap. Di kabupaten terbesar di Jawa Tengah inilah Romo merasakan jatuh cinta pada Kampung Laut, sebuah kecamatan miskin nan terpinggirkan dengan empat desa, yakni UJUNGALANG, UJUNGGAGAK, KLACES dan PENIKEL.”
Media tersebut juga menginformasikan,
“Soal dana, dia menuturkan, seluruh programnya bisa berjalan karena ia rajin mencari dana ke sejumlah LSM di luar negeri dan kedutaan besar untuk membiayai misi kemanusiaan tersebut. Di antaranya dari Australia, Kanada, Jerman, Belanda, Irlandia, dan Amerika Serikat. Terakhir, ia memperoleh dana bantuan Rp 10 MILLIAR untuk pembangunan jalan di 100 desa di Cilacap.”
Dari media lain,
“Charles Patrick Burrows, OMI dan Ahmad Bahruddin menjadi dua nama penerima penghargaan Maarif Award 2012 yang diumumkan di Studio Metro TV, Jakarta, Sabtu malam. Charles Patrick Burrrows yang akrab disapa Romo Carolus adalah pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, kelahiran Irlandia yang memberdayakan masyarakat KAMPUNG LAUT Cilacap sehingga keluar dari jurang kemiskinan.”
Sungguh mengagetkan kita sebagai muslim, ternyata yang memberikan pernghargaan adalah Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif yang cenderung liberal, bahkan menurutnya, Front Pembela Islam (FPI) pun hormat kepada orang kafir ini. Media memberitakan,
“Kekemanusiannya dan kesalehan sosialnya yang tinggi mengundang decak kagum siapa saja, termasuk tokoh-tokoh nasional. “Jarang ditemukan orang yang seperti ini. Dimensi kemanusiaannya jauh lebih dalam. Seorang FPI saja hormat kepada dia,” kata Buya Syafii Maarif pendiri Maarif Institute dalam sambutannya pada malam penganugerahan Maarif Award di Metro TV, Jakarta, Sabtu Malam. Buya Syafii berharap muncul generasi-generasi muda yang meniru dan bertindak seperti Romo Carolus.”
 Selesai kutipan.
Beberapa Catatan Sebagai Nasihat
Pertama: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk membenci musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan penghargaan kepadanya.
Meskipun Mantan Ketua Muhammadiyah, Ahmad Syafii Ma’arif dan Front Pembela Islam (FPI) menghormati dan memberikan penghargaan kepada Anda, namun kami berlepas diri dari Anda, sebab keimanan kami kepada Allah ta’ala sebagai sesembahan yang benar dan semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut kita untuk memusuhi musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan mencintai wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).
Allah ta’ala menegaskan,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah:  22]
Juga firman Allah jalla wa ’ala,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [Al-Mumtahanah: 4]
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]
Kedua: Aqidah Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan amalan-amalan orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak, tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
Juga firman-Nya,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Juga firman-Nya,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Juga firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Ketiga: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabatnya mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]
Juga firman-Nya,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasuk Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka?!
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]
Juga firman-Nya,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
Kelima: Aqidah Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta Nasrani adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan manusia.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]
Juga firman-Nya,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]
Bukti akan hal ini telah kami sebutkan pada artikel:
Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2012/04/05/download-dialog-nasihat-pengakuan-mantan-misionaris-kristen-dan-bukti-kebenaran-al-quran-kebanyakan-pendeta-kristen-adalah-koruptor-dan-pemalsu-kitab-suci/
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

[1] Kedustaan Metro TV ini telah kami bantah pada dua link berikut:
Dalam hal pemberitaan tersebut Metro TV terkesan licik, sebab hasil wawancara mereka dengan Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, jauh berbeda dengan berita yang mereka sebarkan kepada masyarakat Indonesia, sedang wawancara itu sendiri tidak diberitakan. Alhamdulillah Ikhwan di Ma’bar berhasil mendokumentasikan wawancara tersebut pada dua link berikut:

 

by blogonol