Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).
Dimanakah Roh Para Nabi.?
Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?
Qurban, Keutamaan dan Hukumnya
Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Serba Serbi Air Alam
Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)
Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku
Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Monday, October 15, 2012
Sebab-sebab Usaha Dan Rizki Yang Halal
Perkara yang halal memiliki kedudukan yang besar dalam syari’at ini.
Banyak ulama yang mengungkapan besarnya kedudukan halal dan banyaknya
manfaat dengan berkata: “Halal itu kunci tatanan dunia”. Dan mereka berkata: “Dengan halal tegaklah dan luruslah kehidupan”. Dan mereka berkata: “Tidaklah baik mata pencaharian kecuali dengan perkara yang halal”.
Perkara yang halal adalah penolong akan tegaknya islam, tegaknya kehidupan dunia dan akhirat.
Perkara yang halal artinya semua perkara yang tidak diharamkan oleh syari’at Allah Ta’ala.
Perkara yang halal tidak akan diraih kecuali oleh orang yang menempuh
sebab-sebabnya. Maka siapa yang telah menempuh sebab-sebabnya akan
diharapkan untuk bisa meraih riziqi yang halal. Dan sebagian dari
sebab-sebab tersebut adalah:
01. Memperbanyak do’a agar bisa mendapatkannya dan dipermudah baginya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan janganlah kalian merasa iri terhadap apa yang dianugerahkan
Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi
para lelaki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita ada
bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan memohonlah kepada Allah
sebagian dari karunianya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Tahu terhadaap
segala sesuatu.”
Seorang muslim hendaknya meminta kepada Rabbnya agar dipermudah dan
ditolong dalam meraih yang halal. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdurrazaq
dari Ummu Salamah dan dari Abu Ad-Darda’: “Rasulullah senantiasa
berdo’a selepas shalat fajr:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan rizqi yang baik (halal penuh barakah).”
Dan sungguh Allah Ta’ala telah memberikan kepada beliau rizqi yang
paling baik, paling utama dan paling bermanfaat. Hadist tersebut
dihasankan oleh Al-Hafizh dalam “Nata’ij Al-Adzkar”.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kesepakatan ulama bahwa
sebaik-baik rizqi dan usaha adalah yang di dapat dengan sebab
memperjuangkan kalimat Allah Ta’ala, seperti rampasan perang, fai yang
mana ini diberikan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Dan kita lebih pantas untuk dikatakan lebih butuh kepada rizqi yang
halal dan baik dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengajarinya untuk berdo’a:
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizqi halal-Mu (dan hindarkan)
dari yang Engkau haramkan, dan cukupilah aku dengan anugerah-Mu (dan
hindarkan) aku dari selain Engkau.” Hadits di hasankan oleh Al-Albany dalam “Ash-Shahihah”.
Maka dalam do’a ini permintaan untuk bisa merasa cukup dengan perkara
yang halal dan menjauhi perkara yang haram. Dan ini semata-mata
merupakan anugerah dari Allah Ta’ala.
02. Tawakkal kepada Allah Ta’ala
At-Tirmidzy dan Ahmad meriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kalau saja kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar
tawakkal kepada-Nya niscaya Allah akan memberi rizqi pada kalian
sebagaimana Allah memberikan rizqi kepada burung yang pergi pagi dengan
perut kosong dan kembali di waktu petang dengan perut kenyang.” Haditsnya shahih.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah landasan inti
dalam tawakkal dan mencari rizqi”. Sufyan berkata: “Tawakkal kepada
Allah Ta’ala adalah cakupan agama ini, yaitu engkau ridha akan apa yang
Allah Ta’ala tetapkan untukmu”.
Dan tawakkal haruslah hanya kepada Allah Ta’ala semata karena Allah
Ta’ala itu Dzat Pemberi Rizqi. Betapa banyak orang yang lalai akan
tawakkal kepada Allah Ta’ala dalam mencari rizqi.
03. Ketakwaan
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan
baginya jalan keluar. Dan Allah akan memberinya rizqi dari arah yang
tidak dia sangka.”
Maka rizqi akan mudah didapat dengan ketakwaan. Dan ketakwaan adalah
menunaikan perintah dan menjauhi larangan dan bersabar menjalani takdir.
Jika dia bertakwa kepada Allah Ta’ala maka dia tidak ridha dengan tipu
menipu, dusta dan sumpah palsu. Karena dia merasa diawasi Allah ta’ala
dan dia takut akan adzab Allah Ta’ala.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy:
“Kalau manusia mengamalkan ayat ini niscaya akan mencukupi mereka.”
Yang benar hadits ini terputus sanadnya, namun perkara takwa adalah perkara yang jelas disebutkan dalaam ayat yang mulia.
04. Memperbanyak ibadah sunnah
Allah Ta’ala berfirman,
“Jika telah ditunaikan shalat maka menyebarlah kalian di muka
bumi dan carilah keutamaan (anugerah) Allah dan banyaklah mengingat
Allah agar kalian beruntung.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim dan Ad-Darimy dari Abdullah bin
‘Amr radhiyallahu ‘ahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Aku perintahkan kamu dengan Subhanallah wa bihamdih, karena
sesungguhnya ia adalah shalatnya (do’anya) segala sesuatu dan dengannya
segala sesuatu diberi rizqi.”
Allah Ta’ala berfirman,
“Ingatlah Aku maka Aku akan mengingat kalian, dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan kalian kufur.”
Karena yang berbuat untuk mencari rizqi adalah anggota badan maka dia
tidak ingat untuk mengingat Allah Ta’ala, jadi lisanlah yang harus
mewakilinya untuk mengingat Allah Ta’ala.
Sebagian ulama berkata: “Menunaikan perintah yang wajib adalah modal
inti dan menunaikan amalan sunnah adalah labanya.”. Maka manusia butuh
kepada laba. Maka jika penunaian sunnah merupakan sebab teraihnya rizqi,
maka penunaian perintah wajib lebih pantas menjadi sebab teraihnya
rizqi.
05. Baiknya niat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya amalan itu dengan niat.”
Dan mencari rizqi adalah amalan anggota badan luar. Maka pencari
rizqi berniat dengan niat yang baik, bahwa dia akan mencari yang halal
agar bisa menghindarkan diri dari minta-minta dan dari mengambil harta
orang.
06. Bahwa pencari rizqi tidaklah cita-citanya untuk berbangga-bangga dengan harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika dia keluar berusaha demi anaknya yang masih kecil maka dia
di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk kedua orang tuanya yang
lanjut usia maka dia di jalan Allah. Jika dia keluar berusaha untuk
dirinya agar terhindar (dari meminta dan mengambil harta orang) maka dia
di jalan Allah. Dan jika dia keluar berusaha (cari rizqi) untuk pamer dan berbangga-bangga maka dia di jalan syaithan.”
Perkara berbangga-bangga ini merupakan kebodohan, maka hendaknya menjauh dari unsur pamer dan segala penyakit kalbu.
07. Hendaknya dia mencintai kebaikan untuk orang lain
Sebagaimana dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia
mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia suka kebaikan itu ada
pada dirinya.”
Jika engkau suka mendapatkan rizqi yang baik dan halal, maka engkau
harus suka agar rizqi yang baaik dan halal itu bisa didapat oleh
saudaramu. Sehingga engkau mencintai kebiakan bagi manusia.
08. Bermuamalah dengan adil
Maka dia tidak ridha dengan muamalah yang jahat, curang dan jelek.
Karena muamalah yang seperti ini akan menyebabkan dihalanginya rizqi
yang baik dan halal. Demikian juga hendaknya dia bermuamalah dengan
jujur, dan amanah. Dan muamalah dengan baik akan mengangkat derajatnya
di sisi Allah Ta’ala.
Demikian saduran dari muhadharah (ceramah) Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam di Ma’had beliau Darul Hadits Ma’bar, Yaman.
Disadur oleh
‘Umar Al-Indunisy
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman.
Sumber : http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/06/24/sebab-sebab-usaha-dan-rizki-yang-halal/
Saturday, October 13, 2012
Berqurban Adalah Ibadah
Allah Azza Wa Jalla berfirman,yang artinya :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku,”nusuk”-ku,hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam.” (QS.Al – An’am : 162)
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku,”nusuk”-ku,hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb semesta alam.” (QS.Al – An’am : 162)
Kata “nusukiy”, diantara maknanya adalah sembelihanku. Al Imam Al
Qurthubi berkata ; nusuk merupakan bentuk jamak dari nasikah yang
bermakna sembelihan qurban. Sebagaimana telah dikatakan oleh Mujahid,Adh
Dhahaq,Said bin Zubair dan ahli tafsir selain mereka.
Berpijak dari sini, jangan sampai kita beranggapan bahwa pelaksanaan ibadah qurban, merupakan rutinitas tahunan belaka, sehingga yang dibahas berkisar masalah teknis dan pembagian tugas saja.Memang manajemen qurban penting dan krusial bagi keberhasilan kegiatan qurban tersebut,akan tetapi ada yang lebih penting lagi yakni kesadaran personal dari setiap yang terlibat, bahwa penyembelihan qurban itu adalah ibadah.
Berpijak dari sini, jangan sampai kita beranggapan bahwa pelaksanaan ibadah qurban, merupakan rutinitas tahunan belaka, sehingga yang dibahas berkisar masalah teknis dan pembagian tugas saja.Memang manajemen qurban penting dan krusial bagi keberhasilan kegiatan qurban tersebut,akan tetapi ada yang lebih penting lagi yakni kesadaran personal dari setiap yang terlibat, bahwa penyembelihan qurban itu adalah ibadah.
Oleh sebab
itu hendaklah mereka mengikhlaskan niat dan tujuannya hanya untuk Allah
Azza Wa Jalla. Bukan karena riya’ dan sum’ah serta tendensi duniawi
lainnya. Konsekuensi lainnya adalah pelaksanaan penyembelihan qurban
itu harus sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wassalam, sehingga terpenuhi sudah dua kriteria utama dari syarat
diterimanya sebuah amalan. Sehingga kita dapati pula dalam kitab – kitab
fiqih para ulama baik yang terdahulu maupun sekarang, pembahasan
tentang tata cara penyembelihan qurban ini.
Kapan Dikatakan Hewan Terkena Hukum-hukum Qurban?
Hewan terkena hukum- hukum qurban dengan salah satu dari dua perkara :
1. Dengan lafadz, seperti ucapannya “ini adalah hewan sembelihanku” maksudnya dia menginformasikan bahwa dia akan berqurban dengan hewan itu pada waktu mendatang.
2. Dengan perbuatan, dan ini ada dua macam, antara lain:
a. Menyembelih hewan itu dengan niat berqurban.Maka,ketika ia menyembelih dengan niat seperti ini berlakulah hukum qurban pada hewan tersebut.
b. Membeli hewan tersebut dengan niat untuk berqurban.
Bila telah demikian keadaannya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan hewan qurban tersebut.
1. Tidak boleh menggunakan hewan tersebut pada perkara yang mencegahnya/menghalangi untuk disembelih, seperti diperjualbelikan, dihibahkan, dijadikan jaminan, dan lainnya.
Kapan Dikatakan Hewan Terkena Hukum-hukum Qurban?
Hewan terkena hukum- hukum qurban dengan salah satu dari dua perkara :
1. Dengan lafadz, seperti ucapannya “ini adalah hewan sembelihanku” maksudnya dia menginformasikan bahwa dia akan berqurban dengan hewan itu pada waktu mendatang.
2. Dengan perbuatan, dan ini ada dua macam, antara lain:
a. Menyembelih hewan itu dengan niat berqurban.Maka,ketika ia menyembelih dengan niat seperti ini berlakulah hukum qurban pada hewan tersebut.
b. Membeli hewan tersebut dengan niat untuk berqurban.
Bila telah demikian keadaannya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan hewan qurban tersebut.
1. Tidak boleh menggunakan hewan tersebut pada perkara yang mencegahnya/menghalangi untuk disembelih, seperti diperjualbelikan, dihibahkan, dijadikan jaminan, dan lainnya.
2. Jangan mengeksploitasi hewan tersebut, maka jangan digunakan pada usaha pertanian dan sebagainya,jangan ditunggangi, jangan diperah susunya yang bisa menguranginya atau mengurangi susu yang sedianya dibutuhkan oleh anaknya, dan jangan mencukur bulunya kecuali bila ada manfaat bagi hewan tersebut dan bulu hasil cukuran jangan dijual namun disedekahkan.
3. Bila hewan itu disembelih sebelum waktu penyembelihan, walau niatnya untuk berqurban, maka hukumnya seperti hewan yang hilang. Maksudnya harus diganti dengan yang semisalnya.
Syarat dan Adab Berkurban
Sebagaimana yang telah kita ketahui untuk unta dan sapi boleh berserikat tujuh orang, sedangkan kambing baik jenis dha’n (domba,biri-biri) ataupun ma’iiz (kambing kacang) hanya untuk satu orang.
Bagi si penyembelih qurban dan cara penyembelihannya, memiliki hukum – hukum dan adab-adab. Adapun yang berkaitan dengan orang yang menyembelih hewan qurban harus memenuhi syarat-syarat berikut :
1) Pelaku penyembelihan hewan qurban adalah orang yang waras akalnya dan mumayyiz, artinya mengerti pembicaraan dan mampu merespon pertanyaan dengan jawaban yang semestinya. Maka tidak halal sembelihan orang yang gila,mabuk karena miras atau narkoba atau anak kecil yang belum mumayyiz.
2) Hendaknya si penyembelih adalah seorang muslim atau seorang ahli kitab yaitu orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada agama yahudi atau nashrani. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya : “Dan tha’am orang ahlu kitab halal bagi kalian.” Maksud tha’am disini adalah sesembelihan ahli kitab,dan ini adalah perkataan Ibnu Abbas, Abu Umamah, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, As-Sudy, Muqathil bin Hayyan. Dan Ibnu Katsir berkata : Ini merupakan kesepakatan para ulama bahwa sesembelihan ahli kitab halal bagi kaum muslimin. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam makan daging kambing yang dihidangkan kepada beliau dari seorang wanita yahudi, seperti dalam riwayat Abu Dawud dan Al Hakim.
3) Hendaknya dia bertujuan menyembelih qurban karena ibadah, sebagaimana firman Allah Azza wa jalla yang artinya : “ diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala (QS. Al Maidah :3). Maka menyembelih merupakan perbuatan yang khusus yang membutuhkan niat. Apabila ia tidak berniat untuk menyembelih qurban karena Allah, maka tidak halal sembelihannya tersebut,seperti misalnya apabila ia diserang hewan tersebut kemudian memotongnya untuk membela diri, maka sembelihannya tidak halal.
4) Hendaknya hewan sembelihan tersebut tidak untuk selain Allah. Apabila sembelihan itu diperuntukkan untuk selain Allah maka tidak halal untuk dikonsumsi. Seperti menyembelih hewan ternak untuk pengagungan kepada berhala, gua , jin penunggu lembah, penghuni kubur dan sebagainya. Allah Azza Wa Jalla berfirman, yan artinya : “ diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharomkan bagimu yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah :3).
5) Tidak menyebut selain nama Alah ketika menyembelih hewan tersebut. Misalnya menyebut nama nabi,Jibril atau seseorang yang lain. Bila ia melakukannya maka seembelihannya tidak halal, walaupun disebut nama Allah berbarengan dengan nama selain Allah.
6) Menyebut nama Allah Azza Wa Jalla ketika menyembelih hewan qurban tersebut. Alloh Jalla Wa ‘Ala berfirman yang artinya : “ Maka makanlah dari binatang – binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelih,bila kamu beriman kepada ayat-ayat-NYA. (QS. Al An’am :118). Dan Rasulullah Bersabda : “ Apa saja dari hewan yang ditumpahkan darahnya dan disebut nama Allah ketika menyembelihnya maka makanlah.” (HR.Al Bukhary dan lainnya).Bila si penyembelih adalah orang yang bisu, tidak mampu bicara, maka isyarat sudah cukup baginya, Allah berfirman yang artinya : “Maka bertaqwalah kepada Allah semampu kalian. “(QS.Ath-Taghabun:16).
7) Hendaknya yang menyembelih menggunakan alat yang sangat tajam sehingga dapat mengalirkan darah. Karena Rosululloh bersabda :”Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Alloh ketika menyembelihnya maka makanlah, selama bukan menggunakan gigi atau kuku dan saya akan memberitahu kalian tentan hal itu, adapun gigi dia adalah tulang dan adapun kuku adalah alat berburu orang-orang habasyah.” (HR. Al Jama’ah). Dan ada dua tanda yang menunjukkan bahwa ruh hewan tersebut masih ada pada jasadnya :
a. Hewan itu masih bergerak
b. Mengalir dari hewan tersebut darah yang deras.
8) Mengalirkan darah disini adalah dengan menyembelihnya, bila tidak mampu untuk disembelih karena hewan tersebut mengamuk,berusaha kabur atau jatuh kedalam sumur misalnya,maka cukup dilukai pada bagian mana saja dari badannya, meskipun yang lebih utama adalah bagian badan yang cepat menghilangkan nyawanya.
Bila mampu menyembelih dengan normal, maka sembelihlah pada leher sampai dibawah rahangnya dengan memutus dua urat leher tebal yang menempel dengan kerongkongan, dan lebih sempurna bila memotong kerongkongannya, saluran nafas dan saluran makanannya.
9) Hendaklah yang menyembelih mendapat izin secara syar’i dari pemilik hewan qurban tersebut.
Disamping memenuhi syarat-syarat diatas, juga seyogyanya memperhatikan adab – adab berikut :
1. Menghadapkan hewan sembelihan ke arah qiblat ketika menyembelihnya.
2. Berlaku baik dalam menyembelih hewan qurban, yakni dengan menggunakan alat yang tajam dan melakukan pemotongan dengan kuat dan cepat.
3. Dan menyembelih onta dalam keadaan berdiri dan terikat kaki kiri depannya dan berdiri diatas tiga kaki lainnya. Adapun selain onta maka dibaringkan atas sisinya yang kiri, bila sulit dilakukan maka boleh dibaringkan diatas sisinya yang kanan. Dan disunnahkan meletakkan kakinya keleher hewan tersebut,supaya posisinya mapan untuk menyembelihnya.
4. Memotong kerongkongan dan saluran makanan sebagai tambahan atas memotong dua urat sekitar kerongkongannya.
5. Menyembunyikan pisau dari hewan qurban tersebut, ketika mengasah pisaunya jangan sampai hewan itu melihatnya. Kecuali disaat menyembelihnya.
6. Bertakbir setelah membaca basmalah. Membaca basmalah hukumnya wajib dan bertakbir hukumnya sunnah,setelah membaca بسم الله و الله اكبر (bismillahi wa Allohu akbar)dia membaca اللهم تقبل هذه عني (Allohumma taqobbal haadzihi ‘anniy). Bila yang menyembelih adalah pemiliknya, namun jika pemilik qurban mewakilkan kepada seseorang, hendaknya dia membaca .......اللهم تقبل هذه عن (Allohumma taqobbal hadzihi ’an......(disebut pemilik qurban)).
7. Hendaklah dia mewakilkan penyembelihan hewan qurbannya kepada seorang muslim.Dan tidak sah,bila dia mewakilkan kepada seorang ahli kitab, walaupun sembelihannya halal. Hal ini karena penyembelihan qurban adalah ibadah, maka tidak sah bila yang melakukannya non muslim.
Dan tak ketinggalan dari masalah qurban adalah waktu penyembelihan qurban, yaitu empat hari terdiri dari hari I’edul Adha dan tiga hari tasyrik setelahnya berdasarkan hadits shohih., Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :” Setiap hari tasyrik adalah hari penyembelihan.”(HR. Ahmad dan Baihaqi).Sama saja antara malam dan siangnya,karena ini adalah makna hari (اليوم) dalam bahasa Arab secara mutlak, dan ini adalah madzab Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullahu.
Disyari’atkan bagi yang berqurban makan dari hewan qurbannya,menghadiahkan dan mensedekahkannya, karena Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya :” Maka makanlah kalian dari sebagian daging sembelihan itu dan beri makanlah orang faqir yang tidak meminta karena merasa cukup dan menjaga harga diri dan oran faqir yang meminta. (QS. Al Hajj : 36)
Serta riwayat dari Salamah Bin Akwa’ bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :”Makanlah oleh kalian dan berilah makan serta simpanlah.”(HR. Al Bukhari)
Dan kadar pembagian daging qurban adalah dibagi menjadi tiga bagian menurut kebiasaan masyarakat, yakni 1/3 yang dia ambil, 1/3 untuk disedekahkan kepada orang miskin sebagai sedekah dan 1/3 dihadiahkan kepada orang kaya.
Sebagai nasehat, kami mengingatkan bahwa tidak boleh menjual dari bagian hewan qurban tersebut, apakah bulunya ataupun kulitnya dan sebagainya. Namun boleh dimanfaatkan, mengubah kulitnya menjadi tempat air dan sebagainya. Dan setelah menjadi tempat air pun tidak boleh dijual dan disewakan.
Beranjak dari hal ini,tidak boleh daging qurban dijadikan upah bagi tukang potong hewan qurban, namun dia menngambil dari yang lain sebagai upahnya.
Dari Ali bin Abi Tholib berkata : Rosululloh Shalallohu ‘Alaihi Wassalam menyuruh aku untuk mengurus qurban-qurbannya dan agar aku membagikan apa yang dikenakannya serta kulitnya, aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan qurban itu, beliau bersabda :”kami akan memberikannya dari sisi yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan perkara yang tak kalah penting, adalah tidak boleh memperuntukkan sembelihan qurban tersebut kepada orang yang telah meninggal secara khusus. Seperti yang dijelaskan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, “Akan tetapi kami memandang bahwa memperuntukkan sembelihan qurban untuk orang yang telah meninggal secara khusus bukan termasuk ajaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebab beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak pernah menyembelih qurban yang diperuntukkan kepada orang yang telah meninggal secara khusus. Maka Nabi saw Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyembelih qurban untuk pamannya Hamzah bin Abdul Muthallib, padahal beliau termasuk kerabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang paling mulia. Demikian juga tidak pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya menyembelih qurban untuk anak-anaknya yang telah meninggal di antaranya tiga orang anak perempuan yang sudah menikah dan tiga anak laki-laki yang masih kecil.”(Ahkaamul Udhiyyah wadzakaah, hal. 4).
Jadi yang dibolehkan ialah ia berqurban untuk keluarganya secara umum baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Akhirul kalam, tidak banyak pembahasan yang bisa kami muat di sini. Namun setidak-tidaknya kita memiliki gambaran untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini dengan meniti tuntunan sebaik-baik manusia, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh : Al-Ustadz Abu Miqdad Harits
(Salah Seorang Pengajar di Ma’had Ibnul Qoyyim Balikpapan)
Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/132-berqurban-adalah-ibadah
Monday, October 1, 2012
Mereka Menghina Manusia Pilihan
Oleh Jafar Salih
Sungguh Allah telah menganugrahkan kepada ummat ini hidayah dengan
diturunkan kepada mereka Al Qur’an. Sebuah kitab yang Allah jadikan
sebagai petunjuk dan pedoman dalam segala situasi dan keadaan. Andaikan
ummat ini konsisten dalam berpedoman kepadanya pastilah kebahagiaan dan
kedamaian yang akan mereka raih bukan selainnya.
Allah berfirman, “Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. 17:9)
Akan tetapi jauhnya mereka (muslimin) dari petunjuk ini menjadikan mereka terjerumus ke dalam jerat-jerat syaithan yang membinasakan. Seperti peristiwa yang terjadi belum lama ini. Ummat Islam di banyak negara rama-ramai berdemonstrasi memprotes pembuatan film yang melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan kerugian dari pihak kaum muslimin sendiri.
Sudah menjadi sunnatullah perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, kekufuran dan keimanan. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. 6:112)
Begitu pula pelecehan, cercaan dan makian. Ini semua telah menimpa Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semasa hidupnya. Berbagai macam tuduhan dusta dialamatkan oleh kelompok kafir Quraisy kepada sosok agung sang Nabi pilihan. Allah berfirman, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS. 15:97)
Mereka menuduh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai ‘dukun’, ‘orang gila’, ‘penyair’. Mereka juga menuduhnya ‘penyihir’, ‘pendusta’. “dan mereka berkata:"Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?" (QS. 37:36)
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata :"ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS. 38:4)
Bahkan cercaan, celaan, makian dan penghinaan orang-orang kafir seperti ini bukan hanya menimpa Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seorang, para nabi dan rasul sebelum beliau tidak seorang pun selamat dari lisan mereka. Dan hal ini lahir dari akidah mereka yang kotor.
Allah berfirman, “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (QS. 2:87)
Maka jangan Anda heran terhadap tingkah polah kaum yang segelap ini sejarah mereka.
Satu hal yang perlu diketahui, celaan, cercaan dan penghinaan kepada sosok yang mulia tidak akan menjadikan manusia-manusia rendahan itu terhormat dan sosok mulia, manusia pilihan, Muhammad bin Abdillah Sang Utusan Allah menjadi hina. Karena beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok paling mulia yang Allah Ta’aala sendiri puji dari atas langit yang tujuh dengan firman Nya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budipekerti yang agung.” (Qs. Qalam; 4)
Sa’d bin Hisyam mengisahkan, “Suatu hari aku mendatangi ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan mengatakan; “Sampaikanlah padaku bagaimana akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?” Maka ‘Aisyah berkata; “Akhlak beliau adalah Al Qur’an. Bukankah kamu membaca Al Qur’an?! “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budipekerti yang agung.”
‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling beliau cintai bercerita. “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan orang yang kotor dan suka bicara kotor dan beliau bukan orang yang suka berteriak di pasar dan tidak membalas (kejahatan) dengan kejahatan akan tetapi beliau suka memaafkan dan melupakan.” HR. Tirmidzi dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani.
“Beliau tidak pernah memukul dengan tangannya suatu apa pun, kecuali kalau berjihad fi sabilillah. Dan beliau tidak memukul pelayan tidak pula perempuan. HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
Selain itu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu juga menceritakan. “Dahulu aku melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sepuluh tahun lamanya. (Selama itu) aku tidak pernah mendengar beliau mengatakan terhadap apa yang aku perbuat “kenapa kamu lakukan itu” (dan sebaliknya) terhadap apa yang tidak aku lakukan “kenapa kamu tidak kerjakan itu”. Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan aku tidak pernah menyentuh pakaian wol atau sutra atau apa pun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan (hidung)ku tidak pernah mencium wangi kesturi atau minyak wangi yang lebih harum dari keringat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. HR. Muslim
Nukilan-nukilan ini hanyalah sekelumit dari luasnya budipekerti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kami kutip sebagai contoh sekaligus penggugah bagi setiap muslim bahwa mempelajari sejarah beliau, mengikuti sunnah/ajarannya adalah merupakan pembelaan paling besar terhadap beliau dan memberikan efek positif kepada ummat sekaligus pukulan telak bagi semua musuh-musuh Islam dimana pun mereka berada.
Wallahua’lam.
Bekasi, 22 September 2012
Sumber : http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?no=355
Monday, September 10, 2012
Merenungi Surat Al-Ashr
“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar - benar dalam
kerugian.Kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,
serta nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasihat menasehati dalam
kesabaran.” (Qs. Al -`Ashr 1- 3 )
Surat Al -`Ashr ini adalah surat pendek yang terdiri dari tiga ayat,
akan tetapi merupakan surat yang agung disebabkan kandungan makna yang
sangat mendalam di dalamnya.Oleh karena itu Imam Asy Syafi`i
Rahimahullahu Ta`aala pernah mengatakan berkaitan dengan surat ini ; “
Kalau seandainya manusia mentadaburi surat ini niscaya surat ini cukup
bagi mereka.“ Maksud ucapan beliau adalah bahwa surat Al -`Ashr ini,
cukup untuk mendorong manusia agar berpegang teguh kepada agama Allah .
Bukan berarti mencukupi bagi mereka terhadap seluruh syariat-Nya akan
tetapi dengan surat ini akan cukup menjadikan orang yang berakal ketika
mendengar atau membacanya, akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya
dari golongan yang merugi dengan cara menghiasai dirinya dengan
sifat-sifatnya seperti yang tersebut didalamnya. Lebih daripada itu,
surat ini juga merangkum sebab-sebab kebahagiaan secara menyeluruh dan
mengandung pula peringatan dari Allah Ta`aala.
Peringatan Allah Dalam Surat Al -`Ashr
Dalam surat ini, Allah Ta`aala bersumpah dengan masa.Masa yang merupakan tempat suatu kejadian,baik berupa kebaikan ataukah keburukan. Demikianlah Allah bersumpah dengan makhluknya sesuai dengan yang Allah inginkan, sedangkan makhluk tidak diperkenankan bersumpah kepada selain nama Allah, karena bersumpah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ
“ Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Tidaklah Allah bersumpah dengan menyebut makhluknya melainkan di dalamnya ada hikmah dan pelajaran .Diantara hikmahnya - Wallahu a`lam – ialah bahwa surat ini menunjukkan pentingnya waktu. Seorang hamba akan dihisab terhadap waktunya yang ia habiskan dalam kehidupan dunia ini,sejak dirinya mencapai usia baligh hingga kematian menjemputnya. Rasullullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ
“ Tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan,tentang ilmunya apa yang ia amalkan,tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan kemana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan ( habiskan ). “ ( HR. Tirmidzi dari Abu Barzah Radhiyallahu `anhu dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Didalam ayat ini Allah mengingatkan hambaNya akan pentingnya waktu,dimana kebanyakan manusia tertipu dengannya,tidak memanfaatkannya dalam perkara yang mendatangkan keridhaan Allah Ta`aala.Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَ اْلفَرَاغِ
“ Dua perkara yang kebanyakan manusia tertipu dengannya,nikmat kesehatan dan waktu longgar. “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu `Abbas Radhiyallahu `Anhu )
Ibnu Jauzi Rahimahullahu Ta`aala menjelaskan ; “ Kadang – kadang manusia dalam kondisi sehat akan tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari ma`isyah. Kadang – kadang ia berkecukupan ( sehingga punya waktu luang ) akan tetapi tidak memiliki kesehatan. Ketika berkumpul keduanya ( kesehatan dan waktu luang ) maka rasa malas untuk melakukan keta`atan menguasai dirinya, sehingga ia menjadi orang yang tertipu. Padahal, dunia adalah ladang dan tempat perniagaan yang akan nampak keberuntungannya di kehidupan akhirat. Barangsiapa yang menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk ta`at kepada Allah maka ia akan berbahagia.Dan barangsiapa yang menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah maka ia orang yang tertipu,karena waktu luang itu akan digantikan dengan kesibukan dan sehat akan digantikan dengan sakit.” ( Fathul Baari )
Demikianlah keadaan manusia,mereka terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada yang ketiga,diantaranya ada yang ta`at dan yang lainnya bermaksiat . Asy syaikh Ubaid Al Jaabiri Hafidhahullahu Ta`aala menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ;
اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“ Al Qur’an itu akan menjadi hujah bagimu ( membelamu ) ataukah akan menjadi hujah atasmu ( membinasakanmu). “ Waktumu yang engkau habiskan di dunia, tidaklah terlepas dari dua perkara,apakah engkau orang yang mengamalkan Al Qur’an, beriman dengannya, beramal terhadap ayat – ayatnya yang muhkam ( jelas ),mengimani ayat yang mutasyabih (samar ),dan engkau menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka dengan ini semua Al Quran akan menjadi hujah yang akan membelamu, ataukah sebaliknya dari itu semua, maka Al Quran akan menjadi hujah yang akan membinasakanmu.” ( Ahamiyatul Wakti Fi Hayatil Muslim )
Sebab-sebab Kebahagiaan
Allah bersumpah bahwa seluruh manusia dalam kerugian siapapun dia,kaya maupun miskin,pandai maupun jahil,mulia ataukah rendah,laki-laki maupun perempuan,bangsawan ataukah bukan. Semuanya merugi dunia dan akhiratnya kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut,yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
1.Beriman
Iman adalah yang mencakup setiap perkara yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta`aala, baik berupa keyakinan yang benar atau ilmu yang bermanfaat.Iman yang tidak bercampur dengan keraguan.Tidak ragu dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman,yaitu mengimani tentang Allah, malaikat – malaikat-Nya,kitab - kitab-Nya,rasul – rasul-Nya,hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.
Manusia dalam iman terbagi menjadi tiga, pertama ; orang yang beriman yang murni imannya,kedua ; orang yang kufur yang mengingkari dan menentangnya,ketiga; orang yang ragu.Yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman yang murni imannya.
Anjuran beriman dalam hal ini terkandung didalamnya perintah untuk menuntut Ilmu.Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali mengilmui terhadap perkara yang harus diimaninya.Asy Syaikh Abdurrahman As Sa`di Rahimahullah Ta`aala mengatakan; “ Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu. “ ( Tafsir As Sa`di )
2. Beramal Shaleh
Yang dimaksud dengan amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu ; ikhlas karena Allah dan mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad Rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” ( Qs. Al Mulk : 2 ) beliau mengatakan ; “ yang paling ikhlas dan paling benar,sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan apabila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar,amalan disebut ikhlas apabila karena Allah dan benar apabila mencocoki sunnah ( tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ).”
Sehingga tidaklah setiap orang yang beramal kebajikan itu akan mendapatkan balasan dari Allah sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai sunnah. Allah ta`aala berfirman ; “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ( Qs. Al Kahfi : 103-104 )
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ; “ Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak diatas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya.Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” ( Qs. Al Ghasyiyah : 2-4) ( Tafsir Ibnu Katsir )
Ibnu `Abbas Radhiyallahu `anhuma menafsirkan ayat ini ; “ bahwa wajah – wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.“
Apabila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka,lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali ? Hidup seperti binatang hanya makan,minum,dan memuaskan hawa nafsunya, tidak mau sholat, enggan zakat dan tidak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah.
3. Memberi Nasehat Kepada Al Haq ( kebenaran )
Yang dimaksud disini adalah berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah.Tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim ) .
Berdakwah merupakan bentuk kesempurnaan iman.Dan berdakwah,melakukan amar ma`ruf nahi mungkar bukanlah termasuk ikut campur tangan urusan orang lain, sebagaimana anggapan orang jahil di zaman ini.Akan tetapi orang yang berdakwah pada hakikatnya bertujuan membawa kebaikan bagi mereka dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan adzab Allah.Disebutkan dalam hadits ; “ Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaraan dan ia tidak merubahnya hampir - hampir Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani Rahimahullah )
4. Bersabar
Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia ini.Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.
Tidaklah seseorang itu tatkala melakukan amalan ketaatan,baik ketika menuntut ilmu,beramal shaleh ataupun ketika berdakwah dan yang lainnya,melainkan membutuhkan kesabaran agar tetap istiqomah.Dan hal ini merupakan perkara yang berat,karena setan senantiasa menggoda untuk menggelincirkannya.Demikian pula membutuhkan kesabaran untuk mengekang hawa nasfu agar tidak melakukan kemaksiatan,karena jiwa ini cenderung mendorong kepada keburukan,seperti firman Allah Ta`aala ; “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” ( Qs. Yusuf : 53 )
Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah . Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya. Allah ta`aala berfirman ; “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22)
Wallahu a`lam
Oleh : Al-Ustadz Abu Usaid Abdul Fattah
Peringatan Allah Dalam Surat Al -`Ashr
Dalam surat ini, Allah Ta`aala bersumpah dengan masa.Masa yang merupakan tempat suatu kejadian,baik berupa kebaikan ataukah keburukan. Demikianlah Allah bersumpah dengan makhluknya sesuai dengan yang Allah inginkan, sedangkan makhluk tidak diperkenankan bersumpah kepada selain nama Allah, karena bersumpah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ
“ Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Tidaklah Allah bersumpah dengan menyebut makhluknya melainkan di dalamnya ada hikmah dan pelajaran .Diantara hikmahnya - Wallahu a`lam – ialah bahwa surat ini menunjukkan pentingnya waktu. Seorang hamba akan dihisab terhadap waktunya yang ia habiskan dalam kehidupan dunia ini,sejak dirinya mencapai usia baligh hingga kematian menjemputnya. Rasullullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ
“ Tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan,tentang ilmunya apa yang ia amalkan,tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan kemana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan ( habiskan ). “ ( HR. Tirmidzi dari Abu Barzah Radhiyallahu `anhu dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Didalam ayat ini Allah mengingatkan hambaNya akan pentingnya waktu,dimana kebanyakan manusia tertipu dengannya,tidak memanfaatkannya dalam perkara yang mendatangkan keridhaan Allah Ta`aala.Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَ اْلفَرَاغِ
“ Dua perkara yang kebanyakan manusia tertipu dengannya,nikmat kesehatan dan waktu longgar. “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu `Abbas Radhiyallahu `Anhu )
Ibnu Jauzi Rahimahullahu Ta`aala menjelaskan ; “ Kadang – kadang manusia dalam kondisi sehat akan tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari ma`isyah. Kadang – kadang ia berkecukupan ( sehingga punya waktu luang ) akan tetapi tidak memiliki kesehatan. Ketika berkumpul keduanya ( kesehatan dan waktu luang ) maka rasa malas untuk melakukan keta`atan menguasai dirinya, sehingga ia menjadi orang yang tertipu. Padahal, dunia adalah ladang dan tempat perniagaan yang akan nampak keberuntungannya di kehidupan akhirat. Barangsiapa yang menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk ta`at kepada Allah maka ia akan berbahagia.Dan barangsiapa yang menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah maka ia orang yang tertipu,karena waktu luang itu akan digantikan dengan kesibukan dan sehat akan digantikan dengan sakit.” ( Fathul Baari )
Demikianlah keadaan manusia,mereka terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada yang ketiga,diantaranya ada yang ta`at dan yang lainnya bermaksiat . Asy syaikh Ubaid Al Jaabiri Hafidhahullahu Ta`aala menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ;
اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“ Al Qur’an itu akan menjadi hujah bagimu ( membelamu ) ataukah akan menjadi hujah atasmu ( membinasakanmu). “ Waktumu yang engkau habiskan di dunia, tidaklah terlepas dari dua perkara,apakah engkau orang yang mengamalkan Al Qur’an, beriman dengannya, beramal terhadap ayat – ayatnya yang muhkam ( jelas ),mengimani ayat yang mutasyabih (samar ),dan engkau menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka dengan ini semua Al Quran akan menjadi hujah yang akan membelamu, ataukah sebaliknya dari itu semua, maka Al Quran akan menjadi hujah yang akan membinasakanmu.” ( Ahamiyatul Wakti Fi Hayatil Muslim )
Sebab-sebab Kebahagiaan
Allah bersumpah bahwa seluruh manusia dalam kerugian siapapun dia,kaya maupun miskin,pandai maupun jahil,mulia ataukah rendah,laki-laki maupun perempuan,bangsawan ataukah bukan. Semuanya merugi dunia dan akhiratnya kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut,yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
1.Beriman
Iman adalah yang mencakup setiap perkara yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta`aala, baik berupa keyakinan yang benar atau ilmu yang bermanfaat.Iman yang tidak bercampur dengan keraguan.Tidak ragu dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman,yaitu mengimani tentang Allah, malaikat – malaikat-Nya,kitab - kitab-Nya,rasul – rasul-Nya,hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.
Manusia dalam iman terbagi menjadi tiga, pertama ; orang yang beriman yang murni imannya,kedua ; orang yang kufur yang mengingkari dan menentangnya,ketiga; orang yang ragu.Yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman yang murni imannya.
Anjuran beriman dalam hal ini terkandung didalamnya perintah untuk menuntut Ilmu.Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali mengilmui terhadap perkara yang harus diimaninya.Asy Syaikh Abdurrahman As Sa`di Rahimahullah Ta`aala mengatakan; “ Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu. “ ( Tafsir As Sa`di )
2. Beramal Shaleh
Yang dimaksud dengan amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu ; ikhlas karena Allah dan mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad Rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” ( Qs. Al Mulk : 2 ) beliau mengatakan ; “ yang paling ikhlas dan paling benar,sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan apabila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar,amalan disebut ikhlas apabila karena Allah dan benar apabila mencocoki sunnah ( tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ).”
Sehingga tidaklah setiap orang yang beramal kebajikan itu akan mendapatkan balasan dari Allah sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai sunnah. Allah ta`aala berfirman ; “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ( Qs. Al Kahfi : 103-104 )
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ; “ Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak diatas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya.Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” ( Qs. Al Ghasyiyah : 2-4) ( Tafsir Ibnu Katsir )
Ibnu `Abbas Radhiyallahu `anhuma menafsirkan ayat ini ; “ bahwa wajah – wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.“
Apabila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka,lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali ? Hidup seperti binatang hanya makan,minum,dan memuaskan hawa nafsunya, tidak mau sholat, enggan zakat dan tidak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah.
3. Memberi Nasehat Kepada Al Haq ( kebenaran )
Yang dimaksud disini adalah berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah.Tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim ) .
Berdakwah merupakan bentuk kesempurnaan iman.Dan berdakwah,melakukan amar ma`ruf nahi mungkar bukanlah termasuk ikut campur tangan urusan orang lain, sebagaimana anggapan orang jahil di zaman ini.Akan tetapi orang yang berdakwah pada hakikatnya bertujuan membawa kebaikan bagi mereka dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan adzab Allah.Disebutkan dalam hadits ; “ Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaraan dan ia tidak merubahnya hampir - hampir Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani Rahimahullah )
4. Bersabar
Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia ini.Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.
Tidaklah seseorang itu tatkala melakukan amalan ketaatan,baik ketika menuntut ilmu,beramal shaleh ataupun ketika berdakwah dan yang lainnya,melainkan membutuhkan kesabaran agar tetap istiqomah.Dan hal ini merupakan perkara yang berat,karena setan senantiasa menggoda untuk menggelincirkannya.Demikian pula membutuhkan kesabaran untuk mengekang hawa nasfu agar tidak melakukan kemaksiatan,karena jiwa ini cenderung mendorong kepada keburukan,seperti firman Allah Ta`aala ; “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” ( Qs. Yusuf : 53 )
Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah . Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya. Allah ta`aala berfirman ; “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22)
Wallahu a`lam
Oleh : Al-Ustadz Abu Usaid Abdul Fattah
Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/96-merenungi-surat-al-ashr
Monday, June 4, 2012
Mengenal Islam Lebih Dekat
Kita patut bersyukur
kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Walaupun
kita tidak akan mampu untuk membalasi nikmat-nikmat-Nya yang begitu
banyak. Betapa banyak nikmat Allah yang telah kita lalaikan tanpa
disadari. Oleh sebab itulah Allah memerintahkan kita untuk banyak
bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Maka ingatlah
kalian kepada-Ku niscaya Aku akan ingat kalian dan bersyukurlah kalian
kepada-Ku dan janganlah kalian mengkufuri (nikmat)-Ku.” [Q.S. Al-Baqarah:152].
Termasuk nikmat terbesar yang telah
Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat mengenal Islam dan menjadi
pemeluknya. Banyak orang yang tidak mendapatkan karunia ini, tidak
mengetahui Islam, terlebih untuk tunduk memeluk agama ini.
Namun bagaimana seorang akan mensyukuri
sesuatu apabila ia tidak menyadari bahwa perkara tersebut patut
disyukuri. Oleh karena itu,
secara selaras dalam hati, lisan serta anggota badan.
secara selaras dalam hati, lisan serta anggota badan.
Islam memiliki tiga esensi utama,
ketiganya harus terpenuhi untuk tegak serta benarnya Islam seseorang.
Tidak akan tegak salah satu darinya tanpa yang lain. Ketiga esensi itu
adalah :
Yang Pertama: Mengesakan Allah Dengan Berserah Diri Hanya Kepada Allah
Seorang muslim adalah seseorang yang
beriman bahwa Allah adalah satu-satunya yang mampu menciptakan mengatur
serta memelihara alam. Tidak ada tandingan bagi Allah dalam kemampuan
tersebut. Dia beriman pula bahwa hanya Allah yang berhak untuk
diibadahi, dimintai, dan ditakuti. Yang mana, ini semua adalah
konsekuensi atas keimanannya terhadap keesaan Allah dalam penciptaan,
pengaturan dan pemeliharaan alam. Dia juga wajib beriman bahwa bagi-Nya
lah seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.
Seorang muslim adalah orang yang tidak
akan memercayai bahwa ada yang bisa mengatur alam selain Allah, tidak
pula berdoa dan meminta kepada selain Allah serta tidak memberikan sifat
ketuhanan kepada selain Allah.
Yang Kedua: Tunduk Dan Patuh Dengan Menaati-Nya
Seorang muslim akan tunduk kepada Allah
dengan menaati seluruh perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Ketundukan ini adalah konsekuensi dari pengakuannya akan keesaan Allah.
Tidak akan didapati pada diri seorang yang berislam dengan benar
keinginan untuk menyelisihi perintah Allah, terlebih untuk
terang-terangan menentang-Nya. Sikap penentangan kepada Allah seperti
ini hanya akan muncul dari orang yang tidak mengesakan-Nya. Bahkan,
sikap penentangan terhadap Allah adalah salah satu sikap orang kafir dan
munafik. Sebaliknya, sikap tunduk atas perintah dan larangan-Nya adalah
ciri dari seorang muslim sejati.
Yang Ketiga: Berlepas Diri Dari Kesyirikan Dan Para Pelakunya
Kesyirikan adalah lawan dari tauhid,
tidak akan bersatu dalam diri seseorang antara syirik dan tauhid.
Seandainya seseorang bertauhid maka ia akan melenyapkan kesyirikan dan
demikian sebaliknya. Ketika seseorang berkeyakinan bahwa Allah
satu-satunya yang mengatur alam, maka ia tidak akan mensifati selain-Nya
sebagai pengatur alam yang menandingi-Nya dalam pengaturan. Ketika ia
memberikan ibadah hanya kepada Allah maka tentulah ia tidak akan
memberikannya kepada selain-Nya dan demikian seterusnya. Sehingga
seorang muslim adalah orang yang antipati dari segala bentuk kesyirikan
baik yang besar maupun kesyirikan kecil semisal riya’. Ia adalah orang
yang paling jauh dari menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.
Selain membenci dan antipati terhadap
kesyirikan, seorang muslim juga orang yang menghindari dan berlepas diri
dari para pelaku kesyirikan tersebut serta dengan sungguh-sungguh
memusuhinya. Allah ta’ala telah berfirman mengisahkan kepada
kita sikap Nabi Ibrahim q beserta orang-orang yang bersama beliau
terhadap kesyirikan dan para pelakunya yang artinya, ”Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
“Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang
kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah
nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat
selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” [Q.S. Al-Mumtahanah:4].
Inilah esensi Islam, barangsiapa yang
meyakininya, maka ia adalah seorang muslim. Oleh sebab itulah seluruh
Nabi dan Rasul demikian pula para pengikut mereka adalah kaum yang
berislam, karena mereka memiliki ketiga esensi Islam.
Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk berislam(berserah diri) kepada Allah:
ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, ‘Ber-Islam-lah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.”’ [Q.S. Al-Baqarah:131].
Allah juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan
cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara
orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang ber-Islam (berserah diri) kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.” [QS Al-Ma`idah:44].
Dalam sebuah hadits disebutkan pula
bahwa seluruh Nabi memiliki keyakinan yang sama dalam akidah, tauhid,
serta ketundukan mereka terhadap Allah. Namun, mereka berbeda dalam
syariat sesuai yang Allah turunkan atas mereka. Rassulullah ` bersabda
yang artinya, “Para nabi adalah auladul ‘alat ibu mereka berbeda-beda akan tetapi agama mereka satu.” [H.R. Ahmad, Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah z, dishahihkan Syaikh Al Albani v dalam Shahihul Jami’].
Auladul ‘alat adalah ibunya
berbeda-beda dan bapaknya satu maksudnya sebagaimana yang disinggung
Rasulullah ` sendiri bahwa keimanan mereka satu adapun hukum-hukum
syariat mereka berbeda. Demikian penjelasan Ibnul Atsir v dalam An Nihayah fi Gharibil Atsar.
Inilah makna Islam dalam artian umum,
adapun Islam dalam artian khusus adalah Islam yang dibawa oleh
Rasulullah Muhammad `. Di mana seseorang tidak dikatakan menjadi pemeluk
Islam sampai ia mau beriman dengan seluruh apa yang dibawa oleh
Rasulullah ` serta tunduk dengan seluruh syariatnya. Ini adalah Islam
yang menyempurnakan syariat yang datang sebelumnya. Satu-satunya agama
yang diterima di sisi Allah. Rasullullah ` bersabda yang artinya, “Demi
Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat
ini, pemeluk Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian
ia mati dan tidak mau beriman terhadap apa yang aku diutus dengannya,
melainkan ia termasuk dari penduduk neraka.” [H.R. Muslim dari shahabat Abu Hurairah `].
Allah berfirman di dalam kitab-Nya:
“Barangsiapa
menginginkan selain Islam sebagai agama, maka tidaklah hal itu diterima
darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Ali Imran:85]. Allahu a’lam. [hammam].
Wednesday, May 30, 2012
Bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Tatkala Hujan
Oleh : Abu Ali Abdus Shobur
Sebagai seorang muslim, tentunya kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah suri teladan yang terbaik bagi umatnya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman :
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
(artinya)
: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab : 21).
Dan kebahagian atau kesengsaraan seorang hamba di dunia dan di akhirat,
itu tergantung bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam dalam kehidupannya. Baik itu berupa hubungan dia dengan
Allah subhanahu wata'ala atau dengan manusia yang lainnya. Atau
hubungan antara dia dengan keluarganya atau dengan dirinya sendiri. Dan
demikian pula hubungan antara dia dengan makhluk yang lainnya, baik yang
bernyawa seperti hewan atau pun yang lainnya. Seluruh hal ini telah
diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam hadits
yang shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُّ
أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا : يَا رَسُولَ
اللهِ ، وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ
عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
(artinya)
: seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Para shahabat)
bertanya : wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, siapa yang
enggan? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab :
barangsiapa yang mentaatiku, maka dia akan masuk surga dan barangsiapa
yang bermaksiat (tidak mentaati beliau) kepadaku maka dia enggan masuk
surga. (HR. Al Bukhori no. 7280 dari Abu Hurairah).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَنْ
أَبِى مُوسَى عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مَثَلِى
وَمَثَلَ مَا بَعَثَنِىَ اللَّهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمَهُ
فَقَالَ يَا قَوْمِ إِنِّى رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ وَإِنِّى أَنَا
النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَاءَ. فَأَطَاعَهُ
طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَأَدْلَجُوا فَانْطَلَقُوا عَلَى مُهْلَتِهِمْ
وَكَذَّبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ فَأَصْبَحُوا مَكَانَهُمْ فَصَبَّحَهُمُ
الْجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ أَطَاعَنِى
وَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِى وَكَذَّبَ مَا جِئْتُ
بِهِ مِنَ الْحَقِّ ».
(artinya)
: sesungguhnya permisalanku dan apa yang Allah subhanahu wata'ala
mengutusku dengannya, seperti seorang yang datang kepada kaumnya. Lalu
dia mengatakan : wahai kaumku, sesungguhnya aku melihat dengan mata
kepalaku sendiri ada suatu pasukan (yang akan datang menyerang), dan
sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan, maka selamatkanlah
(diri kalian). Sekelompok orang dari kaumnya pun mentaatinya, sehingga
mereka berjalan (di waktu malam) dan pergi dengan diam-diam
(meninggalkan tempat mereka). Dan sekelompok yang lain, mereka
mendustakannya. Sehingga tatkala waktu pagi datang, mereka masih berada
di tempat mereka. Lalu pasukan tersebut pun menyerang dan membinasakan
mereka. Maka yang demikian itu seperti seorang yang mentaatiku dan
mengikuti apa yang aku datang dengannya (sehingga dia pun selamat), dan
seperti seorang yang bermaksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku
datang dengannya berupa kebenaran (sehingga dia pun binasa). (HR. Al
bukhori no. 7283 dan Muslim no. 6094 dari Abu Musa).
Maka
barangsiapa yang menginginkan keselamatan, baik di dunia atau di
akhirat, hendaklah dia mencontoh dan mengikuti Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam. Baik itu dalam urusan dunia dan terlebih lagi urusan
akhirat. Dan diantara yang beliau bimbingkan adalah bagaimana sikap yang
benar ketika turun hujan dan hukum-hukum yang terkait dengan turunnya
hujan.
Hujan
merupakan salah satu nikmat yang Allah subhanahu wata'ala turunkan
kepada hamba-hambaNya. Namun tidak semua orang mendapatkan nikmat ini.
Ada sebagian mereka yang mendapatkannya, sehingga mereka pun hidup
dengan bahagia, dan demikian pula hewan-hewan yang ada di sekeliling
mereka. Dan ada pula sebagian mereka yang Allah subhanahu wata'ala tidak
menurunkan hujan kepada mereka, sehingga mereka pun hidup dalam
kesengsaraan. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain,
dalam rangka untuk mencarinya.
Sebelum hujan turun, biasanya muncul dilangit beberapa tanda. Seperti
awan hitam, suara petir, angin yang kencang dan yang lainnya. Bagi
sebagian orang, mereka menganggap hal ini adalah hal yang biasa saja.
Namun, sesungguhnya ini merupakan salah satu dari tanda kekuasaan Allah
subhanahu wata'ala yang Allah subhanahu wata'ala perlihatkan kepada
hambaNya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
tatkala melihat hal yang semacam ini, beliau merasa takut. Beliau
khawatir kalau seandainya itu merupakan adzab dari Allah subhanahu
wata'ala.
Perhatikanlah
keadaan kaum ‘Aad. Tatkala mereka melihat awan yang hitam menuju tempat
mereka, mereka bergembira dengannya. Mereka menyangka bahwa akan turun
kepada mereka hujan sehingga mereka bisa mengambil manfaat darinya.
Allah subhanahu wata'ala kisahkan mereka dalam Al Quran:
فَلَمَّا
رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ
مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ
أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا
يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
(25)
(artinya)
: Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke
lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan
menurunkan hujan kepada kami." (Bukan!) bahkan itulah adzab yang kamu
minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab
yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Robbnya,
maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas)
tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang
berdosa. (Al Ahqof : 24-25)
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ وَكَانَ
إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. فَقَالَتْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَى النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا.
رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عَرَفْتُ
فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا
يُؤَمِّنُنِى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ
وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا (هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) ».
Dalam riwayat Al Bukhori dan Muslim, Aisyah menceritakan keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tatkala
melihat kondisi langit yang berubah. Beliau berkata : Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam tatkala melihat mendung atau angin,
(terjadi perubahan pada keadaan beliau) hal itu diketahui dari wajah
beliau. Maka Aisyah pun bertanya : wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam, aku melihat manusia apabila mereka melihat mendung, mereka
senang. Mereka berharap akan turun hujan. (Namun) aku melihatmu, jika
engkau melihat mendung, aku melihat di wajahmu ada kebencian
(kegelisahan). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
: wahai Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman, boleh jadi padanya
ada adzab, sungguh telah diadzab suatu kaum dengan angin, dan sungguh
ada suatu kaum yang mereka melihat adzab mereka justru mengatakan : ini
adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami. (HR. Al Bukhori
no. 4829 dan Muslim no. 2123 dari Aisyah).
عَنْ
عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ
النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ «
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا
أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ
مَا أُرْسِلَتْ بِهِ ». قَالَتْ وَإِذَا تَخَيَّلَتِ السَّمَاءُ تَغَيَّرَ
لَوْنُهُ وَخَرَجَ وَدَخَلَ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ فَإِذَا مَطَرَتْ
سُرِّىَ عَنْهُ فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. قَالَتْ عَائِشَةُ
فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ « لَعَلَّهُ يَا عَائِشَةُ كَمَا قَالَ قَوْمُ عَادٍ
(فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا
عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) ».
Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga
pernah mengatakan (yang artinya) : adalah Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam apabila bertiup angin yang kencang, beliau berdoa : Allahumma
inni as aluka khoiroha wa khoiro ma fiiha wa khoiro ma ursilat bihi wa
Allah subhanahu wata'ala’udzibuka men syarriha wa syarri ma fiha wa
syarri ma ursilat bihi (yang artinya : wahai Allah, sesungguhnya aku
meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya, serta
kebaikan yang dia diutus dengannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari
kejelekannya dan kejelekan yang ada padanya, serta kejelekan yang dia
diutus dengannya).
Dan
apabila langit berubah keadaannya, berubah warnanya, maka beliau
shallallahu 'alaihi wasallam keluar masuk, ke depan dan ke belakang
(yakni beliau gelisah). Dan jika telah turun hujan, maka beliau pun
senang. Aku mengetahui hal itu dari raut muka beliau shallallahu 'alaihi
wasallam. Aisyah pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau pun menjawab : barangkali wahai
Aisyah, sebagaimana kaum ‘Aad dahulu mereka mengatakan tatkala mereka
melihat mendung menuju tempat mereka, mereka berkata : ini adalah
mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami (padahal yang
sesungguhnya itu adalah adzab dari Allah subhanahu wata'ala). (HR.
Muslim no. 2122 dari Aisyah).
Maka dari sini kita mengetahui bahwa tidaklah setiap hujan itu
mengandung manfaat bagi orang yang diturunkan kepada mereka hujan.
Bahkan ada diantara hujan yang padanya mengandung adzab dari Allah
subhanahu wata'ala. Dan kita saksikan di zaman ini, di berbagai tempat
turun padanya hujan, namun hujan tersebut bukan membawa kebaikan tapi
justru keburukan, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan yang
lainnya. Oleh karena itu, bagi seorang muslim, tatkala dia melihat
tanda-tanda akan diturunkan hujan, hendaklah dia berdoa kepada Allah
subhanahu wata'ala agar menjadikan pada mendung tersebut ada hujan yang
bermanfaat. Dan semoga air hujan yang turun tersebut, membawa kebaikan
bagi penduduk bumi sehingga dengannya tumbuh berbagai jenis tanaman dan
tidak merusak apa yang di bumi.
Sebagian
ulama, seperti Al ‘Aini, mengatakan : hujan yang turun ke muka bumi
padanya ada dua kenikmatan, yaitu nikmat adanya air sehingga manusia dan
hewan bisa mengambil manfaat darinya, dan (hujan) merupakan sebab
tumbuhnya berbagai jenis tanaman, (yang manusia dan hewan juga mengambil
manfaat darinya).
Kemudian,
diantara bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terkait
permasalahan turunnya hujan adalah meyakini bahwa turunnya hujan
merupakan kekhususan ilmu Allah subhanahu wata'ala. Yakni bahwasanya
Dialah Allah subhanahu wata'ala satu-satunya yang mengetahui kapan
turunnya. Sehingga, tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui kapan
turunnya hujan. Dalam Al Quran Allah subhanahu wata'ala berfirman :
إِنَّ
اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا
فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا
تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (34)
(artinya):
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang
Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang
ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman : 34)
Lalu bagaimana dengan berita-berita tentang turunnya hujan, baik yang
ada di koran, majalah, radio atau yang lainnya? permasalahan ini telah
dijawab oleh para ulama. Mereka mengatakan : hal ini diperbolehkan
dengan dua syarat. Yang pertama hendaklah berita-berita tersebut
dibangun diatas qorinah (tanda-tanda) yang ada dan dengan menggunakan
alat-alat yang sudah diketahui (yakni digunakan untuk meneliti cuaca).
Dan yang kedua, hendaklah berita-berita yang semacam ini dibangun diatas
persangkaan bukan secara yakin, sekalipun telah menggunakan alat.
Karena yang namanya alat, tidak bisa memberikan kepastian, dan kepastian
itu hanya dari sisi Allah subhanahu wata'ala. Terkadang dalam
penelitian, terdapat tanda-tanda akan diturunkannya hujan, namun tatkala
Allah subhanahu wata'ala menghendaki untuk tidak turun hujan, maka
hujan pun tidak turun walau hanya setetes air. Sehingga kita tidak boleh
memastikan turunnya hujan.
Dan
diantara bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lain
ketika turun hujan adalah menyandarkannya kepada Allah subhanahu
wata'ala. Dialah Allah subhanahu wata'ala satu-satunya yang mampu untuk
mendatangkan hujan. Dan tidak ada seorang pun yang mampu untuk
mendatangkannya. Maka jika ada seorang yang mengaku bisa mendatangkan
hujan, maka sungguh dia telah berdusta. Adapun bila turun hujan dengan
sebab dia, maka itu merupakan bentuk pancingan dari Allah subhanahu
wata'ala untuk menguji hamba-hambaNya. Jika ada yang percaya bahwa dia
mampu menurunkan hujan, maka orang tersebut telah kafir kepada Allah
subhanahu wata'ala. Dan orang yang mendustakannya, maka orang tersebut
telah beriman kepada Allah subhanahu wata'ala.
عَنْ
زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ
اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى
إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ
صلى الله عليه وسلم أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ، فَقَالَ : هَلْ تَدْرُونَ
مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ
بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ
كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ.
Zaid bin Kholid, seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
yang mulia, beliau pernah mengatakan : Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengerjakan sholat subuh bersama kami di Hudaibiyyah. (Waktu
itu) masih ada bekas dilangit karena (hujan yang turun) tadi malam.
Tatkala telah selesai, beliau menghadap kepada manusia (para jamaah).
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : apakah
kalian tahu apa yang dikatakan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : Allah
dan RosulNya yang lebih mengetahui. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
: (Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya) ) di waktu pagi
ini, ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir kepadaKu. Adapun
orang yang mengatakan kami diberi hujan dengan keutamaan dari Allah
subhanahu wata'ala dan rahmatNya, maka dia beriman kepadaKu dan kafir
dengan bintang-bintang. Dan adapun orang yang mengatakan (kami diberi
hujan) dengan sebab bintang ini dan bintang itu, maka dia kafir kepadaKu
dan beriman dengan bintang-bintang. (HR. Al Bukhori no. 1038 dan Muslim
no.240 dari Zaid Bin Kholid).
Adapun mereka yang menyandarkan hujan kepada selain Allah subhanahu
wata'ala, maka secara terperinci mereka terbagi menjadi tiga bagian :
Pertama : Orang
yang menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah subhanahu wata'ala.
Yakni meyakini bahwa selain Allah subhanahu wata'ala dialah yang
menurunkan hujan. Maka orang yang semacam ini, dia telah terjatuh
kedalam syirik besar.
Kedua :
Orang yang menisbatkan sebab turunnya hujan kepada selain Allah
subhanahu wata'ala. Yakni meyakini bahwa selain Allah subhanahu wata'ala
dia adalah sebagai sebab turunnya hujan, adapun yang menurunkan hujan
adalah Allah subhanahu wata'ala. Maka orang yang semacam ini, dia telah
terjtuh kepada syirik kecil.
Ketiga :
Orang yang menisbatkan turunnya hujan kepada waktu tertentu. Sebagai
contohnya mereka menisbatkan turunnya hujan di waktu bintang tertentu
muncul. Para ulama berselisih dalam menghukumi hal ini, dan pendapat
yang shahih Wallahu a'lam, adalah dilihat kepada orang yang
melakukannya. Jika dia memiliki ketergantungan terhadap bintang
tersebut, maka hendaklah dia dilarang karena bisa menjerumuskan kedalam
syirik.
Sumber : http://salafybpp.com
MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA MUSUH ISLAM, GAMBARAN RAPUHNYA KEIMANAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillah ‘ala kulli haal,
ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sedang berhadap-hadapan dengan
proyek besar Kristenisasi atas nama PROYEK SOSIAL, sebagian orang yang
mengaku muslim justru memberikan penghargaan kepada orang yang dicurigai
berada di balik gerakan pemurtadan umat Islam tersebut.
Sangat disayangkan, penghargaan tersebut
di berikan di sebuah stasiun televisi swasta; Metro TV yang sebelumnya
telah memfitnah ma’had Ahlus Sunnah di Yaman sebagai tempat pendidikan
teroris.[1] Ada apa dengan Metro TV!?
Berikut kutipan berita di sebuah media,
“Romo Carolus, demikian dia akrab disapa. Sehari-hari pria yang memiliki nama lengkap Charles Patrick Edwards Burrrows, OMI itu menjadi Pastor di Paroki St Stephanus Cilacap. Dia telah menghabiskan waktu lebih dari 40 tahun menjadi motor perubahan sosial di Cilacap lewat sejumlah aksi sosial di bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, infrastruktur, dan lainnya. Tak ayal, Maarif Institute menganugerahinya MAARIF AWARD 2012 atas keberhasilan Carolus menyuntikkan semangat baru dan menumbuhkan model alternatif untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat di Cilacap. Pria kelahiran Dublin, Irlandia Selatan, 8 April 1943 itu menapakkan kaki kali pertama di Indonesia pada 9 September 1973, setelah bertugas di Paroki Sefton, Sydney, Australia. Setiba di Indonesia, anak keempat dari lima bersaudara itu diutus ke Cilacap. Di kabupaten terbesar di Jawa Tengah inilah Romo merasakan jatuh cinta pada Kampung Laut, sebuah kecamatan miskin nan terpinggirkan dengan empat desa, yakni UJUNGALANG, UJUNGGAGAK, KLACES dan PENIKEL.”
Media tersebut juga menginformasikan,
“Soal dana, dia menuturkan, seluruh programnya bisa berjalan karena ia rajin mencari dana ke sejumlah LSM di luar negeri dan kedutaan besar untuk membiayai misi kemanusiaan tersebut. Di antaranya dari Australia, Kanada, Jerman, Belanda, Irlandia, dan Amerika Serikat. Terakhir, ia memperoleh dana bantuan Rp 10 MILLIAR untuk pembangunan jalan di 100 desa di Cilacap.”
Dari media lain,
“Charles Patrick Burrows, OMI dan Ahmad Bahruddin menjadi dua nama penerima penghargaan Maarif Award 2012 yang diumumkan di Studio Metro TV, Jakarta, Sabtu malam. Charles Patrick Burrrows yang akrab disapa Romo Carolus adalah pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, kelahiran Irlandia yang memberdayakan masyarakat KAMPUNG LAUT Cilacap sehingga keluar dari jurang kemiskinan.”
Sungguh mengagetkan kita sebagai muslim, ternyata yang memberikan pernghargaan adalah Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif yang cenderung liberal, bahkan menurutnya, Front Pembela Islam (FPI) pun hormat kepada orang kafir ini. Media memberitakan,
“Kekemanusiannya dan kesalehan sosialnya yang tinggi mengundang decak kagum siapa saja, termasuk tokoh-tokoh nasional. “Jarang ditemukan orang yang seperti ini. Dimensi kemanusiaannya jauh lebih dalam. Seorang FPI saja hormat kepada dia,” kata Buya Syafii Maarif pendiri Maarif Institute dalam sambutannya pada malam penganugerahan Maarif Award di Metro TV, Jakarta, Sabtu Malam. Buya Syafii berharap muncul generasi-generasi muda yang meniru dan bertindak seperti Romo Carolus.”Selesai kutipan.
Beberapa Catatan Sebagai Nasihat
Pertama: Aqidah
Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita
untuk membenci musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan
penghargaan kepadanya.
Meskipun Mantan Ketua Muhammadiyah, Ahmad
Syafii Ma’arif dan Front Pembela Islam (FPI) menghormati dan memberikan
penghargaan kepada Anda, namun kami berlepas diri dari Anda, sebab
keimanan kami kepada Allah ta’ala sebagai sesembahan yang benar dan
semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut kita untuk
memusuhi musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan
mencintai wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).
Allah ta’ala menegaskan,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum
yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan
orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah
tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara
mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah: 22]
Juga firman Allah jalla wa ’ala,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ
إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ
وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu
dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu
dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat
selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [Al-Mumtahanah: 4]
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ
تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء
بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ
يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang
kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi
orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir
pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]
Kedua: Aqidah
Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah
mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan
amalan-amalan orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak,
tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena
mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah
subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka
untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah
ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
Juga firman-Nya,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka
(orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu
yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Juga firman-Nya,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Juga firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Ketiga: Aqidah
Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan
sahabatnya mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani
adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ
وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ
هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ
مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak
akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:
“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan
datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong
bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]
Juga firman-Nya,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ
حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ
مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ
أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi
kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada
kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara
kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah
yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasuk Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad
bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal
di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan
akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan
penghargaan kepada mereka?!
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا
أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli
kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka
jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]
Juga firman-Nya,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ
فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,
dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu
seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
Kelima: Aqidah
Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan
Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta Nasrani
adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan
pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan
manusia.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ
النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan
Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara
yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]
Juga firman-Nya,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ
الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ
لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ
أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi
orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu
dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh
keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan
besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka
sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang
mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]
Bukti akan hal ini telah kami sebutkan pada artikel:
Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2012/04/05/download-dialog-nasihat-pengakuan-mantan-misionaris-kristen-dan-bukti-kebenaran-al-quran-kebanyakan-pendeta-kristen-adalah-koruptor-dan-pemalsu-kitab-suci/
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
[1] Kedustaan Metro TV ini telah kami bantah pada dua link berikut:
Dalam hal pemberitaan tersebut Metro TV terkesan licik, sebab hasil wawancara mereka dengan Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah,
jauh berbeda dengan berita yang mereka sebarkan kepada masyarakat
Indonesia, sedang wawancara itu sendiri tidak diberitakan. Alhamdulillah
Ikhwan di Ma’bar berhasil mendokumentasikan wawancara tersebut pada dua
link berikut:
Subscribe to:
Posts (Atom)


















