Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).
Dimanakah Roh Para Nabi.?
Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?
Qurban, Keutamaan dan Hukumnya
Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Serba Serbi Air Alam
Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)
Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku
Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Showing posts with label Ibrah. Show all posts
Showing posts with label Ibrah. Show all posts
Tuesday, July 31, 2012
Mengenal Hakekat Puasa
Bulan
Ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan oleh kaum muslimin di
seluruh penjuru dunia, sebab mereka meyakini bahwa bulan ramadhan adalah
bulan yang selalu mendatangkan berkah, bulan yang selalu memberi
tambahan spirit dan semangat bagi yang ingin meraih kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat dengan membawa amal saleh yang berlipat ganda.
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalla, bersabda tentang bulan Ramadhan (artinya):
“Di
bulan itu, malaikat menyeru: Wahai pencari kebaikan, bergembiralah.
Wahai pencari keburukan, tahanlah dirimu, hingga berakhirnya bulan
Ramadhan”
(HR.Ahmad)
Terkhusus
amalan puasa, yang merupakan amalan inti di bulan Ramadhan, dimana
Allah Azza wajalla, mengkhususkan ganjaran pahala yang tak ternilai bagi
seorang yang mengamalkannya dengan penuh keikhlasan dan mengikuti
petunjuk Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalla, Dalam hadits Qudsi ,
Allah Ta’ala berfirman:
“Setiap
amalan anak cucu Adam telah ditetapkan pahala baginya, satu kebaikan
sama dengan sepuluh kebaikan. Kecuali berpuasa, karena sesugguhnya puasa
itu khusus untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya.”
(Muttafaq alaihi)
Namun
ada satu hal yang banyak dilalaikan oleh orang yang berpuasa, di saat
mereka menyangka bahwa berpuasa hanyalah sekedar menahan diri dari
makan, minum, dan berjima’ dengan isteri, dan meninggalkan hal- hal yang
membatalkan puasa, lalu pemahaman puasa hanya berhenti sampai disitu
saja, tidak lebih. Tentu ini merupakan pemahaman yang keliru, sebab ada
hikmah yang besar yang dikehendaki Allah Azza wajalla, dari amalan puasa
yang dilakukan oleh setiap muslim, yaitu untuk membiasakan diri dengan
penuh kesabaran dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan kepada
Allah Azza wajalla, dan meninggalkan seluruh apa saja yang dilarang-Nya,
inilah yang disebut ‘Taqwallah”. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Wahai
orang- orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan kepada orang- orang sebelum kalian, agar
kalian menjadi orang- orang yang bertaqwa.”
(QS.Al-Baqarah: 183)
Oleh
karenanya, hendaknya seorang muslim harus berusaha untuk menjadikan
bulan Ramadhan sebagai bulan “tarbiyah” yang mendidik jiwa, lisan dan
anggota tubuhnya untuk terbiasa dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
Rabbul Alamin. Sebab
jika tidak , puasa sebulan penuh yang diamalkan bisa menjadi amalan
yang sia- sia , tanpa membuahkan hasil yag diinginkan.
Rasulullah Shallallohu ‘alahi wasallam, bersabda:
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan ‘ucapan zur’, dan melakukannya serta melakukan
perbuatan jahil, maka Allah tidak butuh kepadanya tatkala dia
meninggalkan makan dan minum.”
(HR.Bukhari dari Abu Hurairah)
Yang dimakud ‘ucapan zur’,
adalah setiap ucapan yang menyimpang dari kebenaran, diantaranya ucapan
dusta, ghibah, adu domba,persaksian dusta untuk membenarkan yang batil,
atau membatilkan kebenaran, dan yang lainnya. Yang dimaksud
mengamalkannya adalah melakukan hal- hal yang diharamkan Allah U,
dan yang dimaksud perbuatan jahil adalah melakukan tindakan yang
menunjukkan kebodohan, seperti mencela, mencaci maki, melemparkan
tudingan tak berdasar, dan yang lainnya.
Rasulullah Shallallohu ‘alahi wasallam, juga bersabda:
“Boleh
jadi orang yang berpuasa, balasan yang didapatkannya hanyalah haus dan
lapar, dan boleh jadi orang yang menegakkan qiyamullail, balasan yang
didapatkannya hanyalah begadang dimalam hari.”
(HR.Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dari Abu Hurairah radiyallohu anhu)
Telah sahih dari Abul Mutawakkil An-Naji –Rahimahullah- berkata:
“Pernah Abu Hurairah radiyallohu anhu,
dan para sahabatnya jika mereka berpuasa, mereka memperbanyak duduk di
masjid, mereka berkata: Kami ingin membersihkan puasa-puasa kami.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah:1888)
Diriwayatkan
pula dari Abu Saleh Al-Hanafi dari saudaranya yang bernama Thaliq bin
Qais bahwa ia berkata: berkata Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu anhu:
“Jika
Engkau berpuasa maka jagalah dirimu semampu kamu.” Maka jika Thaliq ia
berpuasa, dia masuk ke rumahnya, dan tidak keluar kecuali untuk shalat.”
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah: 8788)
Jabir bin Abdillah –Radhiallahu anhuma- berkata:
“Jika
kalian berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu, dan
lisanmu dari berkata dusta. Janganlah engkau menyakiti pembantu, dan
hendaknya engkau menjaga ketenangan dan kelembutan, jangan engkau
menjadikan hari berpuasamu sama dengan hari ketika engkau tidak
berpuasa.”
(Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah , Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud)
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tatkala menjelaskan hakekat berpuasa:
“Orang
yang berpuasa adalah orang yang berpuasa anggota tubuhnya dari berbuat
dosa, berpuasa lisannya dari berkata dusta, ucapan kotor dan ucapan
maksiat, berpuasa perutnya dari makan dan minum, berpuasa kemaluannya
dari berhubungan, jika dia berbicara maka dia tidak berucap dengan
sesuatu yang melukai puasanya, jika dia berbuat maka dia tidak melakukan
sesuatu yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya yang keluar
adalah ucapan yang baik lagi bermanfaat, demikian pula
amalan-amalannya.Ia berkedudukan seperti aroma yang dicium oleh orang
yang duduk bersama penjual minyak kesturi. Demikian pula orang yang
duduk bersama orang yang berpuasa, dia mendapatkan manfaat dengan duduk
bersamanya, dan merasa aman dari maksiat, dusta, perbuatan fajir dan
kezhaliman. Inilah puasa yang disyariatkan, bukan sekedar menahan diri
dari makan dan minum. Puasa hakiki adalah puasanya anggota tubuh dari
berbuat dosa, puasanya perut dari makan dan minum. Sebagaimana makan dan
minum dan memutus dan merusak puasa, demikian pula perbuatan dosa yang
memutus pahalanya dan merusak hasilnya, sehingga ia menjadi seperti
orang yang tidak berpuasa.”
(Al-Wabil Ash-Shayyib:64)
Ternyata,
meraih hakekat puasa memang membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi,
namun hal itu bukanlah sulit bagi siapa yang dimudahkan Allah azza
wajalla. Adapun hanya sekedar menahan lapar dan haus, merupakan perkara mudah yang dapat dilakukan oleh siapa saja.
Berkata
Atha’ bin As-Saaib –Rahimahullah- :“Para sahabat kami mengatakan: puasa
yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”
Berkata
Ja’far bin Burqan: “Aku mendengar Maimun berkata: Sesungguhnya puasa
yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”
(Diriwayatkan Abu Bakar bin Abi Syaibah: 3888)
Semoga Allah azza wajalla, memberi kemudahan kepada kita semua untuk meraih hakekat puasa yang sebenarnya. Amin Yaa Mujiibas Saailiin.
Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal
8 Ramadhan 1433 H.
Sumber : http://salafybpp.com
Thursday, June 28, 2012
Umamah Bintu Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anha
Bagaimana takkan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu
mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam
shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia.
Zainab, putri sulung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
disunting pemuda Quraisy, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin
‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan
‘Ali.
Sepanjang masa kecilnya, Umamah bin Abil ‘Ash benar-benar merasakan
kasih sayang sang kakek, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hingga suatu kali, para shahabat tengah duduk di depan pintu rumah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau muncul dari
pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara
Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku’, beliau letakkan
Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu
seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.
Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mendapatkan hadiah. Di antaranya berupa seuntai kalung. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memungutnya. “Aku akan memberikan kalung
ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku,” kata
beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan
memperoleh kalung itu pastilah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. “Berhiaslah dengan ini, wahai putriku!” kata beliau. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.
Ketika Abul ‘Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul
‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Tahun terus berganti. Pada masa pemerintahan
‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ‘Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu meminang Umamah. Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu
‘anhu pun menikahkan ‘Ali dengan Umamah. Namun dalam pernikahan ini
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan seorang anak pun kepada
mereka.
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah meminta Al-Mughirah bin
Naufal Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu
agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat. ‘Ali pun
berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika
Umamah menikah dengan Al-Mughirah.
Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Allah Subhanahu wa
Ta’ala takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya. ‘Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama
‘Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya.
Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Mu’awiyah bin Abi
Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Umamah pun segera mengutus seseorang untuk
memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal. “Kalau engkau mau,
kau serahkan urusan ini padaku,” jawab Al-Mughirah. Umamah pun
mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin ‘Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ’anhuma yang kemudian menikahkan Al-Mughirah
dengan Umamah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil ’Ash meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma.
Umamah bintu Abil ‘Ash, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya ….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber : http://www.salafy.or.id
Wednesday, May 30, 2012
Harus Merindu
Oleh Ustadz Mukhtar
Seribu empat ratusan tahun yang lalu,
ada seorang wanita anshar datang menemui Rasulullah untuk menawarkan
mimbar dari kayu. Kemudian Ia berkata :
”Wahai Rasulullah, berkenankah anda
jika aku membuatkan sebuah mimbar agar anda dapat duduk diatasnya,
sesungguhnya budakku seorang ahli kayu”. Rasulullah menanggapi dengan
antusias : ”Tentu,asalkan engkau mau”. Lantas bekerjalah budak tersebut
mempersiapkan mimbar,tempat duduk seorang suri tauladan umat.
Sebelumnya,Rasulullah selalu menyampaikan khutbah dan nasehat dengan bersandar pada sebatang pohon kurma,berpegang di pokoknya.
Pada hari jum’at berikutnya,
Rasulullah telah menggunakan mimbar baru pemberian wanita anshar
tersebut. Beliau duduk diatasnya, tiba-tiba pohon kurma yang biasa
digunakan Nabi untuk bersandar berteriak dan menangis seperti tangisan
anak kecil. Begitu keras tangisan pohon kurma tersebut hingga
seakan-akan pohon itu akan terbelah. Maka Rasulullah pun segera turun
dari mimbar dan langsung menuju ke arah pohon kurma,lalu pohon kurma itu
dibelai dan dipeluk oleh Nabi hingga ia pun terdiam. Nabi pun bersabda,
“Pohon kurma itu menangis karena bersedih,tidak lagi mendengar nasehat-nasehat seperti dahulu”.
Cerita diatas diriwayatkan oleh Imam
Bukhari didalam Shahih Bukhari dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah
radhiyallahu ‘anhu dan kita benar-benar yakin bahwa cerita itu memang
sungguh-sungguh terjadi karena banyak kejadian luar biasa yang telah
dianugrahkan Allah untuk Nabi Muhammad sebagai tanda mukjizat kenabian
beliau. Seperti terbelahnya bulan, memancarnya air dari sela jari jemari
tangan Nabi, makanan sedikit dapat mencukupi ribuan orang, batu yang
mengucapkan salam untuk Nabi, binatang pun berbicara dihadapan Nabi
serta mukjizat lainnya. Semuanya menjadi bukti bahwa Islam yang
diajarkan Nabi Muhammad adalah ajaran yang mutlak kebenarannya.
Banyak ibrah atau pelajaran
yang dapat diambil dari hadits diatas. Oleh karena itu, setiap muslim
harus mengambil pelajaran dari sabda-sabda Nabinya. Banyak atau
sedikitnya pelajaran yang dapat diambil dari sebuah hadits sangat erat
sekali kaitannya dengan fiqih (pemahaman agama) seseorang. Al
Imam Syafi’i mampu mengambil lebih dari 60 pelajaran penting dari sebuah
hadits,hanya dalam waktu semalam.Adapun kita??
Diantara pelajaran dari hadits diatas
adalah ajaran untuk tidak menyakiti hati orang lain serta berusaha untuk
menjaga perasaan orang.Lihatlah Nabi Muhammad,beliau menerima tawaran
dari wanita anshar tersebut sebagaimana beliau menerima tawaran ataupun
pemberian sahabatnya yang lain. Nabi senang dan menampakkan rasa
senangnya bila mendapatkan pemberian dari orang lain. Pernah beliau
menerima hadiah pakaian dari salah seorang sahabat,baju bagus yang ada
hiasannya. Karena merasa terganggu dengan pakaian tersebut didalam
shalat,beliau pun memerintahkan agar pakaian tersebut dikembalikan
kepada Abu Jahm (sahabat yang memberi) dan Nabi meminta pakaian yang
lain sebagai pengganti serta menjelaskan mengapa beliau mengembalikan
pakaian tersebut?
Lalu bagaimana dengan kita? Terkadang
muncul dalam hati rasa sombong dan tinggi hati saat mendapatkan
pemberian orang.”Memberi hadiah kok sedikit sekali” ”Memangnya aku tidak
mampu untuk membeli barang semacam ini” atau ungkapan-ungkapan lain
yang akan menyakitkan hati orang yang memberi. Sebagaimana kita pun
harus mencontoh Rasulullah yang senang memberi karena beliau adalah
seorang pemurah dan dermawan. Tidak berfikir egois dan hanya
mementingkan diri sendiri. Inginnya selalu diberi namun jarang berfikir
untuk gemar memberi. Seperti halnya diri kita yang senang jika
mendapatkan hadiah,demikian juga orang lain yang akan merasa berbahagia
bila mendapatkan hadiah dari kita. Rasulullah tidak pernah menolak bila
diminta.Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
sahabat Hakim bin Hizam Rasulullah bersada,
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
Artinya,”Tangan diatas lebih baik dibandingkan tangan dibawah”.
Sungguh indah ajaran Islam. Terlebih
lagi jika memberi dalam rangka membantu kepentingan umat Islam, seperti
yang dilakukan oleh wanita anshar tersebut. Ia rela mengeluarkan biaya
dan tenaga demi menyumbangkan bantuan untuk kepentingan kaum muslimin.
Lalu bagaimanakah dengan diri kita? Jawabannya adalah kita memang
memiliki sifat kikir. Betapa berat tangan ini untuk mengulurkan bantuan
bila umat Islam membutuhkan. Berat hati untuk berinfaq dalam pembangunan
masjid, pondok pesantren, buku-buku bacaan Islam atau yang lain. Tak
sebanding dengan harta yang dihambur-hamburkan oleh seorang caleg
legislatif atau untuk membeli kembang api dalam rangka tahun baru atau
bahkan mengundang grup musik dan campursari.
Subhaanallah…mengapa kita tidak mau
berfikir?.Jawablah sebuah pertanyaan yang saya ajukan ini,”Apa yang
telah kita perbuat selama ini untuk Islam dan kaum muslimin?”.
Pelajaran lain yang tak kalah pentingnya
dari hadits diatas adalah selalu merindukan Nabi Muhammad sebagai
kekasih Allah. Coba bayangkan,sebatang pohon pun menangis dan berteriak
karena rasa rindunya kepada nasehat-nasehat Rasulullah. Ternyata hati
kita memang kaku dan kasar,telah mati mata hati kita.Allah berfirman
dalam Al Qur’an,
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ
قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ
اْلأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا
يَشَّقَّقُ
فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءَ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ
اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Kemudian setelah itu hatimu menjadi
keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu
itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di
antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya
dan di antaranya sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada
Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. 2:74)
Maha suci Allah…betapa jauhnya kita
meninggalkan jalan kebenaran.Mengapa jauh berbeda sekali antara keadaan
kita dengan keadaan para sahabat Rasulullah?.Para sahabat selalu
merindukan kebersamaan dengan Rasulullah di dunia sebagaimana besar pula
keinginan mereka untuk dapat dikumpulkan bersama Rasululah di dalam
surga. Bagaimanakah dengan kita?.Apakah kita selalu merindukan kekasih
Allah yaitu Nabi Muhammad?.Antara kejujuran dan kedustaan yang dapat
kita lakukan untuk menjawab pertanyaan ini.
Jika benar rasa rindu kita kepada
Rasulullah maka jawablah beberapa pertanyaan ini.Apakah anda telah
mengenali bentuk fisik Rasulullah? Apakah anda telah mengetahui
sifat-sifat terpuji beliau? Apakah anda mengetahui nama istri-istri dan
anak-anak beliau? Apakah anda mengetahui nama hewan tunggangan beliau?
Mampukah anda menjelaskan sejarah hidup Nabi Muhammad semenjak kecil
sampai beliau dibesarkan? Sejarah hidup beliau semenjak belum diangkat
sebagai rasul hingga beliau wafat? Sanggupkah anda menceritakan
peperangan yang pernah dialami Nabi Muhammad? Berapakah jumlah sabda
beliau yang pernah anda baca dan hafalkan? Bisakah anda menceritakan
pengalaman Nabi dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj? Dapatkah anda
bercerita tentang isi perjanjian beliau dengan orang-orang Yahudi di
kota Madinah? Siapakah orang-orang kesayangan Rasulullah?.
Masih terlalu dini untuk menyatakan,”Aku
cinta Nabi Muhammad” karena semua itu hanya sebuah pengakuan tanpa
bukti. Sungguh amat menyedihkan sekali keadaan generasi muda umat Islam
saat ini. Banyak dari mereka yang tidak kenal dengan Nabinya kecuali
hanya sebatas nama beliau saja. Padahal diantara pertanyaan yang harus
dijawab oleh setiap muslim didalam kuburnya adalah,”Siapakah Nabimu?”.
Dimasa kita ini kerinduan seorang muslim
kepada Rasulullah dapat diwujudkan dengan mempelajari dan mengamalkan
bimbingan hidup yang beliau wariskan kepada kita. Senang membaca dan
merenungkan sabda-sabda beliau,bisa juga dengan aktif dalam
pengajian-pengajian.Setiap muslim harus merasa bersedih pabila
meninggalkan majlis taklim, seakan-akan ia berpisah langsung dengan
baginda Rasul. Betapa bersedihnya para sahabat ketika ditinggal wafat
oleh Nabi Muhammad.Hingga Umar bin Khattab pun tak dapat
mempercayai,hingga Bilal bin Rabah tak lagi ingin mengumandangkan
adzan,hingga kota Madinah dirasakan gelap gulita pada hari wafatnya
beliau.
Harapan kita,dan smoga bukan hanya
sekedar harapan belaka,kita semua dipertemukan dengan Rasulullah didalam
surga Al Firdaus bersama kekasih-kekasih Allah yang lain.Marilah
bersama tuk memperjuangkan rasa cinta dan rindu kita kepada beliau
dengan mempelajari sunnah Rasulullah. Semoga Allah senantiasa membimbing
dan mengabulkan doa kita.Amin
Solo, Abu Nashim Mukhtar bin Rifai
Sumber : http://www.salafy.or.id
Wednesday, April 18, 2012
Kisah Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit) - Keteguhan seorang pemuda untuk mempertahankan keimanannya dari ajakan “murtad”
Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Sudah menjadi Sunnatullah pada makhluk-makhluk-Nya bahwa akan
senantiasa terjadi pertikaian antara al-haq dengan yang batil sepanjang
masa dan di manapun jua. Adalah satu ketetapan pula dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala bahwa setiap orang yang mengatakan dirinya beriman
tentu tidak lepas dari berbagai ujian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الم.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ
يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ
اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan
(saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 1-3)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sa’d bin Abi Waqqash
radhiyallahu ‘anhu yang bertanya kepada beliau:
يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟ قَالَ:
اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ
عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ،
وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا
يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى
اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.”
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi. Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Kemudian yang mengikuti mereka (orang-orang mulia). Seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (iman)-nya. Kalau imannya kokoh, maka berat pula ujiannya. Apabila imannya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar imannya. Dan senantiasa ujian itu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak lagi mempunyai dosa.”
Bani Israil Sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam
Bani Israil adalah umat yang dahulunya hidup di bawah bimbingan
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Tetapi setelah mereka hidup
jauh dari masa nubuwah bahkan dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya, mereka diuji dengan berbagai kesulitan dan kehinaan. Itulah janji dan ketetapan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan atas makhluk-makhluk-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي
اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا. فَإِذَا جَاءَ
وَعْدُ أُولاَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ
شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولاً
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.’ Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (Al-Isra`: 4-5)
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.’ Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (Al-Isra`: 4-5)
Ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang dikuasakan untuk menindas mereka. Namun yang jelas, penindasan tersebut tidak lain adalah karena kezhaliman, kemaksiatan, dan kekafiran yang mereka perbuat. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah menzhalimi siapapun dari makhluk ciptaan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am: 129)
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am: 129)
Al-Qurthubi rahimahullahu mengatakan dalam Tafsir-nya, menukil dari
Ibnu Zaid: “Ini adalah ancaman keras bagi orang yang zhalim. Jika dia
tidak berhenti dari kezhalimannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala
kuasakan atas dirinya orang zhalim lainnya.”
Ada pula yang menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: “Kami serahkan
sebagian mereka (yang zhalim itu) kepada yang lain karena kekafiran yang
mereka pilih untuk diri mereka.”
Syahdan, di zaman Bani Israil, jauh sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam,
di saat Bani Israil semakin jauh dari masa nubuwah dan tuntunan Nabi
mereka, bergelimang kemaksiatan dan kekafiran, Allah Subhanahu wa Ta’ala
kuasakan atas diri mereka orang-orang yang zhalim dan bengis tidak
berperikemanusiaan.
Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, pada Kitab Az-Zuhd war Raqa`iq, bab Qishshah Ashhabil Ukhdud (no. 3005), dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut: “Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir.” Maka raja itupun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir.
Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir)
itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Lalu dia duduk di majelis rahib
tersebut, mendengarkan wejangannya dan ternyata uraian tersebut
menakjubkannya. Akhirnya, jika dia mendatangi tukang sihir itu, dia
melewati majelis si rahib dan duduk di sana. Kemudian, setelah dia
menemui tukang sihir itu, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda
itupun mengadukan keadaannya kepada si rahib.
Kata si rahib: “Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan
kepadanya: ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Dan jika engkau takut kepada
keluargamu, katakan kepada mereka: ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu’.”
Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata: “Hari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.” Diapun memungut sebuah batu dan berkata: “Ya
Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran
tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar manusia bisa berlalu.” Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusiapun dapat melanjutkan perjalanannya.
Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si
rahib berkata kepadanya: “Wahai ananda, hari ini engkau lebih utama
daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini.
Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan, maka apabila engkau
ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku.”
Pemuda itupun akhirnya mampu mengobati orang yang dilahirkan dalam
keadaan buta, sopak (belang), dan mengobati orang banyak dari berbagai
penyakit. Berita ini sampai ke telinga teman duduk sang raja, yang buta
matanya. Diapun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak,
lalu berkata: “Semua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya
kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini).”
Anak muda itu menjawab: “Sebetulnya,
saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu
adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau engkau beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, saya doakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu
Dia sembuhkan engkau.”
Teman sang raja itupun beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyembuhkannya. Kemudian dia menemui sang
raja dan duduk bersamanya seperti biasa. Raja itu berkata kepadanya:
“Siapa yang sudah mengembalikan matamu?”
Dia menjawab: “Rabbku.” Raja itu menukas: “Apa kamu punya tuhan selain aku?” Orang itu berkata: “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itupun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata: “Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu.”
Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Raja itu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sampai dia
menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada
sang raja dan dipaksa: “Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak. Raja
itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si
rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian
diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali
murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji
hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan diapun dipaksa: “Keluarlah kamu dari keyakinanmu.” Pemuda itu menolak.
Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya: “Bawa dia ke
gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak,
kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia
dari atas.” Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”
Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda
itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata: “Apa yang
dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata:
“Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari
keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.” Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan
seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan
ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah
busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib
si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu
meletakkannya pada sebuah busur dan berkata: “Bismillahi Rabbil ghulam”,
kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda.
Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu
dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera
berkata: “Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb
si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya: “Apakah
anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi.
Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan
menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata: “Siapa yang tidak mau
keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau:
ceburkan ke dalamnya).” Merekapun melakukannya, sampai akhirnya
diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu
mundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya
(karena sayang kepada bayinya). Tapi bayi itu berkata kepada ibunya:
“Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau di atas al-haq.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah ini juga dalam Kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Buruj:
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ. وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ. وَشَاهِدٍ
وَمَشْهُودٍ. قُتِلَ أَصْحَابُ اْلأُخْدُودِ. النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ.
إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ. وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ
بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ. وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلاَّ أَنْ يُؤْمِنُوا
بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ. الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ
وَاْلأَرْضِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ. إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ
جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang
dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan
terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan
dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka
menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena
orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha
Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan
cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian
mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka
azab (neraka) yang membakar….”
Itulah kisah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan dalam Kitab-Nya
yang mulia agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah
mereka.
Faedah
Beberapa faedah dari kisah ini, di samping apa yang telah diuraikan sebelumnya ialah:
1. Belajar di waktu muda lebih mudah untuk menangkap pelajaran dan memahami. Inilah alasan tukang sihir itu memilih remaja daripada yang sudah tua. Demikianlah yang dituntunkan para ulama kita, hingga sebagian mereka mengatakan: “Belajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu, dan belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air.”
2. Kemenangan dakwah bukan hanya diukur banyaknya orang yang mengikuti da’i di saat dia masih hidup. Boleh jadi setelah dia meninggal dunia, orang banyak mulai menyadari kebenaran yang disampaikannya.
3. Termasuk sebuah kemenangan adalah ketika seorang mukmin lebih memilih api yang membakar dirinya daripada hilangnya keimanan yang ada di dalam dadanya. Inilah yang terlihat dari seorang wanita yang lemah dengan bayinya yang masih dalam buaian. Wanita itu merasa iba kalau anaknya ikut terbakar, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan anak bayi itu mampu berbicara menasihati ibunya agar tetap kokoh di atas keimanannya.
4. Sifat Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, di saat begitu hebatnya kekejaman orang-orang kafir terhadap orang-orang yang beriman, di mana mereka dengan tanpa perikemanusiaan membakar hidup-hidup orang-orang yang menyatakan dirinya beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberi kesempatan bagi orang-orang kafir itu untuk bertaubat.
5. Ayat ini merupakan salah satu dari sekian hiburan (tasliyah) bagi umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Al-Qur`an ini turun di tengah-tengah mereka, bahwasanya kepahitan dan penderitaan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang baru. Kekejaman dan penindasan terhadap kaum mukminin sudah terjadi di masa-masa para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ
الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ
وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى
نَصْرُ اللهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu
sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan
Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
(Al-Baqarah: 214)
6. Di antara buah keimanan yang jujur dan kokoh ialah jauh dari sifat tertipu dengan keadaan diri sendiri.
Perhatikanlah ucapan si pemuda remaja itu. Bukan dia yang menyembuhkan
penyakit atau kebutaan, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang
menyembuhkan dan mengembalikan kebutaan seseorang. Tidak sepantasnya
pula orang yang berilmu menisbahkan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang dirasakannya kepada diri mereka sendiri. Seolah-olah semua yang
diperolehnya adalah karena kepintaran dan kecakapannya.
7. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa orang yang sedang terjepit/kesulitan jika dia berdoa kepada-Nya. Maka apabila seorang yang sedang dalam kesulitan/terjepit memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keyakinan, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan permintaannya.
8. Di samping sebagai hiburan bagi kaum mukminin, ayat ini juga merupakan ancaman dan peringatan bagi orang-orang musyrik dan kafir di manapun mereka berada. Allah Maha menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membalas perbuatan mereka itu di dunia ini, maka sesungguhnya balasan yang setimpal akan mereka dapatkan di akhirat, di saat mereka akhirnya merasakan panasnya jahannam dan siksaan yang membakar, sebagaimana yang dahulu mereka lakukan terhadap kaum mukminin di dunia. Oleh sebab itu, hendaklah orang-orang yang mengaku dirinya beriman bersabar dengan kesempitan dan kepahitan yang mereka alami di dunia ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits Shuhaib radhiyallahu ‘anhu:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ
ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا
لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang-orang yang beriman itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan itu tidak dirasakan siapapun kecuali orang yang beriman. Kalau dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan apabila dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”
“Sungguh menakjubkan urusan orang-orang yang beriman itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan itu tidak dirasakan siapapun kecuali orang yang beriman. Kalau dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan apabila dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”
Wallahul muwaffiq.
Sumber : http://kaahil.wordpress.com
Thursday, March 15, 2012
Asiyah Binti Muzahim, Secercah Cahaya Hidayah di Tangan Fir’aun
Siapa
yang Allah kehendaki baginya hidayah karena kemurahan dan kasing
sayang-Nya, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya,
siapa yang Allah sesatkan karena hikmah dan keadilan-Nya, maka tidak ada
seorang pun yang bisa menunjukinya. Hidayah taufik memang di tangan-Nya
semata. Siapa yang sangka, seorang yang berdampingan dengan orang yang
paling mulia, tetapi Allah halangi dari nikmat hidayah ini. Siapa yang
kira, orang yang hidup bersama orang yang paling kafir sedunia sepanjang
masa , Allah berkehendak untuk membuka hatinya, mengambil lentera
hidayah dalam pekat gulita kesombongan dan keangkuhan manusia, kemudian
berpendar terang menyinari relung hatinya. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Allah berfirman,
“Allah menjadikan istri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan
bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang
hamba yang shaleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu
berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan
(kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang
masuk (jahannam)”. dan Allah menjadikan istri Fir’aun perumpamaan bagi
orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah
untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari
Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” [Q.S. At Tahriim:10,11].
Ibnu katsir Rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa maksud khianat dalam
ayat di atas adalah memeluk agama selain agama suaminya. Demikian
tafsir dari Ibnu Abbas dan ulama setelahnya seperti Ikrimah, Said bin
Jubair, Ad Dhahak dan yang lainnya. Dalam ayat ini Allah tegaskan bahwa
kemuliaan orang terdekat tidak akan bermanfaat apabila tidak dibarengi
dengan keimanan.
Pada ayat yang kedua, Allah ingatkan bahwa ikatan dengan orang kafir
tidak mampu menghalangi hidayah taufik bagi seseorang apabila Allah
menghendakinya. Istri Firaun ini adalah Asiyah binti Muzahim, ia memilih
keimanan daripada kekafiran, memilih siksa dunia daripada siksa
akhirat, meninggalkan nikmat dunia untuk mendapatkan nikmat akhirat yang
lebih baik dan kekal abadi. Ia disiksa dibawah terik matahari,
disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa ia dibunuh dengan ditimpa
batu. Kemulian pun ia dapatkan,
Rasulullah ` bersabda, “banyak
kalangan laki-laki yang mencapai kesempurnaan, adapun dari kalangan
wanita, tidaklah mencapai kesempunaan kecuali Asiyah istri Fir’aun dan
Maryam binti Imran.” [H.R Al Bukhari dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari z].
Ibnul Qayyim v menjelaskan dalam I’lamul Muwaqi’in
bahwa dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada kita dengan memberikan
permisalan orang kafir dan orang mukmin. Pelajaran dalam permisalan
orang kafir adalah seorang yang tidak beriman akan diazab karena
kekafiran dan permusuhannya kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin.
Dengan kekafiran ini, tidak akan bermanfaat hubungan apapun dengan
mukmin yang lain, baik hubungan darah, nasab, pernikahan atau yang
lainnya. Karena seluruh hubungan akan terputus pada hari kiamat selain
hubungan yang terjalin karena Allah semata melalui perantara para
rasul-Nya. Seandainya tali kekeluargaan dan pernikahan bermanfaat tanpa
adanya keimanan, tentu hubungan ini akan bermanfaat pada istri Nabi Nuh
dan Nabi Luth.
Maka ayat ini memupus harapan orang yang menginginkan manfaat dari
hubungan dekatnya dengan orang shalih, namun dia bermaksiat kepada
Allah. Walaupun dahulunya di dunia memiliki hubungan yang sangat erat.
Tidak ada hubungan yang lebih dekat dari pada anak, orang tua dan suami
istri. Sementara Nabi Nuh tidak bisa berbuat banyak terhadap anaknya
yang kafir, Nabi Ibrahim tidak mampu menyelamatkan bapaknya yang
musyrik, Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak dapat menolong istri mereka dari
azab Allah sedikit pun ketika mereka berkhianat.
Allah berfirman,
“Karib Kerabat dan anak-anak kalian sekali-sekali tiada
bermanfaat bagi kalian pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara
kalian. dan Allah Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” [Q.S. Al Mumtahanah:3]. Ayat yang semakna sangat banyak dalam Al Quran.
Adapun pelajaran yang terkandung dalam permisalan bagi mukmin adalah
istri Fir’aun Asiyah binti Muzahim. Bahwa hubungan antara seorang mukmin
dengan kafir tidak akan memadharatinya sedikitpun apabila menyelisihi
si kafir tersebut dalam kekafiran dan amalan-amalannya. Kemaksiatan
orang lain tidak berpengaruh bagi seorang mukmin di akhirat sedikitpun.
Walaupun kadang di dunia ikut merasakan azab ketika manusia berpaling
dari seruan Allah dan Rasul-Nya yang azab tersebut datang menyeluruh
menimpa manusia. Allahu a’lam. [farhan].
Subscribe to:
Posts (Atom)















