Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).

Dimanakah Roh Para Nabi.?

Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Serba Serbi Air Alam

Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)

Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku

Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Showing posts with label Nasehat. Show all posts
Showing posts with label Nasehat. Show all posts

Sunday, November 11, 2012

Al-Qur'an Penyejuk Hati Orang-Orang Yang Beriman

Al Qur’anul Karim adalah kalam ilahi (firman Allah ) yang diwahyukan kepada Nabi besar Muhammad , penutup dan pemimpin para Nabi dan Rasul. Al Qur’an diturunkan kepada beliau secara berangsur-angsur (tidak sekaligus). 

Allah berfirman:
“Berkatalah orang-orang kafir: “Kenapa Al Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?” Demikianlah supaya kami memperkuat hatimu (Muhammad).” (Al Furqan: 32)

Demikianlah proses penurunan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dan ketika beliau wafat, Al Qur’an benar-benar telah sempurna, tak ada satu ayatpun yang belum diturunkan kepada beliau .

Sepeninggal Nabi , Al Qur’an diemban oleh para shahabat dan murid-murid beliau. Mereka sampaikan Al Qur’an tersebut kepada umat, sebagaimana Nabi menyampaikannya, yang tak berubah nilai kemurnian dan keasliannya, hingga sampai ditangan kita sekarang ini. Maka dari itu, siapapun yang di hatinya ada keimanan, pasti yakin bahwa Al Qur’an yang ada ditangan kaum muslimin ini adalah kitab suci yang selalu terpelihara keabsahannya. 

Sebagaimana firman Allah (artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar yang memeliharanya.” (Al Hijr: 9)

Namun, sejarah membuktikan bahwa para musuh Al Qur’an telah berkali-kali mencoba menggugat nilai keasliannya!? Kaum Syi’ah Rafidhah dengan beraninya menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin ini telah mengalami perubahan dari yang semestinya. (lihat Ushul Al-Kaafi karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini 2/634 -salah satu ulama syi’ah). Dan juga di zaman ini pula muncul sekte (baca: agama baru) Ahmadiyah yang mengaku pula membawa kitab suci baru (baca: kitab palsu) At Tadzkirah yang dikarang oleh nabi (palsu) Mirza Ghulam Ahmad (lahir 13 Februari 1839, wafat 26 Mei 1908).

Para pembaca, realita sejarah dan pembuktian ilmiah telah menolak dan membatalkan tuduhan perubahan dan pemalsuan Al Qur’an. Karena bila Allah sendiri yang memelihara kemurniannya, maka tiada seorang pun dari manusia ataupun jin mampu merubah-rubahnya dan tiada seorang pun yang mampu membuat serupa dengan Al Qur’an. Maha benar janji Allah dalam firman-Nya (artinya): “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an , niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu atas sebagian yang lainnya”. (Al Isra’: 88)

Demikianlah, Allah selalu menjaga keaslian Al Qur’an dari masa ke masa sampai ia kembali kepada-Nya.
Lebih dari itu, Al Qur’an pun memilki sifat-sifat yang istemewa, diantaranya:

1. Mau’izhah (pemberi pelajaran)

2. Syifa’ (penyembuh)

3. Huda (petunjuk) dan Rahmat

Allah berfirman (artinya): “Wahai para manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian Mau’izhah (pemberi pelajaran) dari Rabb kalian, dan Syifa’ (penyembuh segala penyakit -pen) yang ada di dalam dada, serta Huda (petunjuk) dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Yunus: 57)

4. Penerang jalan keselamatan
Allah berfirman (artinya):
“Sesunguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan, dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seidzin-Nya.” (Al Maidah: 15-16)

5. Tibyan (penjelas segala sesuatu)
Allah berfirman (artinya):
“Dan Kami turunkan Al Kitab (Al Qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu.” (An Nahl: 89)

Sehingga Al Qur’an merupakan nikmat yang amat agung dan sekaligus sebagai mu’jizat terbesar bagi umat Islam. Hal ini menuntut umat Islam untuk bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat yang besar berupa kesempurnaan agama Islam, dipilihkan seorang Nabi/Rasul sebagai pemimipin para nabi dan rasul, serta dianugerahkan kitab suci yang menjelaskan segala sesuatu dan terjamin keasliannya sampai akhir zaman.

Namun bila menengok keadaan diri kita dan umat Islam di negeri ini pada umumnya, sudahkah kita menjadi hamba Allah yang memuliakan Al Qur’an sebagai wujud syukur kepada-Nya? Sudahkah kita meluangkan waktu tiap harinya untuk membaca Al Qur’an?, … menghafal Al Qur’an? Dan sudahkah kita menelaah dan memahami ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan apa yang telah dipahami oleh Rasulullah dan para shahabatnya?

Para pembaca, ketahuilah, sesungguhnya bila kita mau peduli dengan Al Qur’an dengan membacanya, mempelajarinya dan mengajarkannya niscaya Allah akan memberikan jaminan keselamatan (hidayah), bahkan Allah akan memberikan tambahan balasan yang luar biasa kepada kita sebagai wujud kasih sayang-Nya.

Keutamaan Membaca Al Qur’an
Diantara keutamaannya:

1. Wasilah meraih derajat mukmin yang tertinggi
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَرِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an itu bagaikan buah utrujjah, harum baunya dan enak rasanya, sedangkan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an bagaikan buah raihanah, harum baunya tapi pahit rasanya. Sedangkan orang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah handzalah yang tidak ada baunya bahkan pahit rasanya. (H.R. Al Bukhari no.5427 dan Muslim no.797)

2. Mendapatkan syafa’at dari Al Qur’an
اقْرَءُوا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya Al Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi shahibul qur’an”. (H.R. Muslim no.804)

3. Memperoleh balasan (pahala) yang sangat besar disisi Allah
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَأَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan AlifLaamMiim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. At Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Apa keutamaan orang yang mahir membaca Al Qur’an?
Dari Aisyah y meriwayatkan hadits dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda:
المَاهِرُ بِالقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir Al Qur’an niscaya akan bersama para malaikat yang mulia dan sedangkan orang yang terbata-bata membacanya karena mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (H.R. Muslim)

Didalam membaca Al Qur’an pun seharusnya disertai dengan beberapa adab yang dituntunkan oleh Rasulullah . 

Berikut ini diantara adab-adab membaca Al Qur’an:

1. Membaca dengan tartil (yaitu sesuai kaidah ilmu tajwid dan makharijul huruf).
Allah berfirman: “Dan bacalah Al Qur’an secara tartil”.(Al Muzammil no. 4)

2. Membaca bacaan Ta’awudz (berlindung dari gangguan syaithan).

أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk.”
Allah berfirman:
“Apabila kamu membaca Al Qur’an, maka hendaklah berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (An Nahl: 98)

3. Membaca dengan bacaan yang indah.
Rasulullah bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرآنَ
“Bukan dari golongan kami siapa saja yang tidak memperindah bacaan Al Qur’an.” (Muttafaqun alaihi)
Tetapi perlu diingat!!! Tatkala memperindah bacaan Al Qur’an jangan sampai melapaui batas (ghuluw/ekstrim) dari ilmu tajwid yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

4. Men-tadabbur-inya (memperhatikan makna-maknya).
Allah berfirman (artinya):
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya”. (Ash Shad: 29)

“Apabila dibacakan Al Qur’an, maka hendaklah mereka mendengarkannya dan diam, supaya mereka mendapatkan rahmat.” (Al A’raf: 204)

Keutamaan Mempelajari Al Qur’an

Diantara keutamaannya adalah sebagaimana berikut:

1. Tanda kebaikan/kejujuran iman seseorang di sisi Allah
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya. (H.R. Al Bukhari)

2. Mendapatkan ketenangan, diliputi rahmat, dinaungi para malaikat, dan mendapat pujian dari Allah
Rasulullah bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُمْ إلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْ هُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْ هُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah (masjid) Allah dalam keadaan mereka membaca kitabullah dan saling mengkaji diantara mereka, melainkan diturunkan ketenangan kepada mereka, diliputi rahmat, dinaungi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka disisi malaikat-Nya. (H.R. Muslim no. 2699).

3. Terangkat derajatnya di sisi Allah
Dari Umar Bin Khaththab bahwasanya Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al Qur’an dan akan merendahkan beberapa kaum yang lain. “(H.R. Muslim no. 817)

Penutup
Para pembaca, telah kita ketahui bahwa rukun iman ketiga adalah beriman kepada kitab-kitab Allah , termasuk Al Qur’an sebagai kitab suci terakhir. Beriman kepada Al Qur’an mengandung konsekuensi tidak sekedar meyakini kebenarannya saja, namun harus disertai dengan mengamalkan kandungannya. Tentunya, tidaklah bisa mengamalkannya melainkan harus membaca dan mempelajarinya. Dan inilah sebenar-benarnya hakekat dari beriman kepada Al Qur’anul Karim. Sehingga manakala suatu kaum/negeri tersibukkan dengan membaca, mengkaji/memahami dan mengajarkan Al Qur’an, niscaya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum/negeri tersebut. Sebaliknya bila suatu kaum/negeri lalai dan menyia-nyiakan Al Qur’an, maka Allah pun akan menghinakan mereka.

Atas dasar ini, berita/kabar dari Rasulullah (sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Umar diatas, yang tidaklah beliau berkata dari hawa nafsunya), bahwa penyebab terpuruknya negeri ini disebabkan karena kebanyakan dari kita telah lalai dan menyia-nyiakan Al Qur’an. Sehingga solusi agar negeri kita menjadi tentram dan aman dibawah naungan rahmat ilahi, maka kita harus bangkit kembali untuk memuliakan Al Qur’an dengan membacanya, mengkajinya, mengamalkannya dan mengajarkannya.

Wahai para pembaca, kalau sekiranya kita mau memperhatikan Al Qur’an, sesungguhnya banyak dari ayat-ayat Al Qur’an yang memberitakan sebab kehancuran pada kaum-kaum terdahulu disebabkan mereka lalai dan menyia-nyiakan kitab yang diturunkan kepada mereka. Diantaranya firman Allah (artinya): “Perumpamaan orang-orang (Yahudi) yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemuduian tiadalah mereka memikulnya (tidak mau mempelajari dan mengamalkannya -pent) adalah seperti keledai yang membawa tumpukan-tumpakan kitab yang berat. Sungguh amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah.” (Al Jum’ah: 5)

Akhir kata, mudah-mudahan kajian kali ini sebagai pendorong kita, sanak keluarga, handai taulan dan lainnya dalam meramaikan syi’ar Islam yang terbesar yaitu Al Qur’anul Karim.

Sumber :  http://www.buletin-alilmu.com/2006/09/19/al-quran-penyejuk-hati-orang-orang-yang-beriman/


Wanita Penghuni Surga dan ciri-cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati. 

Kenikmatan-kenikmatan di Al-Jannah (Surga)
Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanallahu wa Ta’ala Shalallahu ‘alaihi wa Sallam rahimahullah berfirman:
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Merekalah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah: 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
”Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah: 22-23)

Juga firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman: 56)

Juga firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman: 58)

Dan firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah: 35-37)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau:
”…seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan berdendang bagi suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka: ”Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan: ”Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1561)
Ciri-Ciri Wanita Ahli Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?
Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki.

Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah:

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah Subhanallahu wa Ta’ala, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala seakan-akan melihat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, jika dia tidak dapat melihat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, dia meyakini bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, tawakkal kepada-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah Subhanallahu wa Ta’ala, mengharap rahmat Allah Subhanallahu wa Ta’ala, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah Subhanallahu wa Ta’ala serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Taat kepada suami (dalam hal ma’ruf/kebaikan)

7. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah Subhanallahu wa Ta’ala ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala semata.

8. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

9. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

10. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, suka berderma, menjaga diri dari meminta-minta, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

11. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

12. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk

13. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

14. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

15. Berbakti kepada kedua orang tua.

16. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

17. Menutup aurat dan menjaga kehormatan dirinya.

18. Menundukkan pandangan

19. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423

Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
” … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’: 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.
 
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Azhari Asri dan Redaksi artikel Darus Sunnah, berjudul Wanita Ahli Surga dan Ciri-cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini, dengan beberapa tambahan)

Sumber :  http://www.buletin-alilmu.com/2010/05/13/wanita-penghuni-surga-dan-ciri-cirinya/


Sunday, October 21, 2012

Hakikat Hati Manusia

Oleh Al Imam Ibnu Qudamah

Sesuatu yang paling mulia pada manusia adalah hati. Karena sesungguhnya hatilah yang mengetahui Allah I, yang beramal untuk-Nya, dan yang berusaha menuju kepada-Nya. Anggota badan hanya menjadi pengikut dan pembantu hati, layaknya seorang budak yang membantu raja. Barangsiapa mengetahui hakekat hatinya, ia akan mengetahui hakekat Rabb-Nya. Namun mayoritas manusia tidak mengetahui hati dan jiwanya.

Ketahuilah, bahwa hati, pada tabiat fitrahnya, mau menerima petunjuk. Tapi tetap ada syahwat dan hawa nafsu yang melekat padanya di mana hati juga akan cenderung kepadanya. Di sana, akan saling mengusir antara malaikat dan setan, terus berlangsung sampai hati itu membuka untuk salah satunya dan akhirnya menetap padanya. Sehingga pihak kedua tidak melewati hati itu kecuali sembunyi-sembunyi. Sebagaimana firman Allah :
“Dari kejahatan bisikan-bisikan yang tersembunyi”.

Yaitu yang jika disebut Allah I ia sembunyi, tapi kalau lalai ia merasa lega. Dan tidak ada yang mengusir setan dari hati kecuali dzikir kepada Allah I. Setan tidak akan tentram bersama dzikir.
Ketahuilah, permisalan hati seperti sebuah benteng, sedang setan adalah musuh yang hendak memasuki benteng itu lalu menguasainya. Tidak mungkin benteng itu terjaga kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Dan orang yang tidak mengetahuinya tidak mungkin mampu menjaganya, begitu pula tidak mungkin menghalangi setan kecuali dengan mengetahui jalan masuknya.

Jalan-jalan masuk setan banyak jumlahnya, di antaranya hasad (dengki), ambisi duniawi, marah, syahwat, cinta berhias, kenyang, tamak, terburu-buru, cinta harta, fanatik madzhab, berpikir sesuatu yang tidak dicapai akal, buruk sangka dengan kaum muslimin, dan lain-lain.

Seyogyanya seorang manusia menjaga dirinya dari sesuatu yang akan menjadikan orang berprasangka buruk kepadanya. Untuk mengobati kerusakan-kerusakan ini adalah dengan menutup pintu-pintu setan tersebut dengan membersihkan hati dan sifat-sifat jelek itu sehingga dengan bersihnya hati dari sifat-sifat itu berarti setan-setan hanya bisa lewat, tidak bisa menetap padanya. Untuk menghalangi lewatnya cukup dengan berdzikir kepada Allah I dan memenuhi hati dengan takwa.

Perumpamaan setan itu seperti anjing lapar yang mendekatimu. Kalau kamu tidak punya makanan dia akan pergi hanya diusir dengan kata-kata. Tapi kalau kamu punya makanan sedangkan dia lapar, dia tidak akan pergi hanya dengan ucapan. Begitupula hati yang tidak memiliki makanan untuk setan, setan itu akan pergi hanya dengan dzikir.

Sebaliknya hati yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, dia menjadikan dzikir itu hanya sambilan sehingga tidak mapan di tengahnya. Maka setanlah yang akhirnya menetap di tengahnya.

Jika kamu ingin tahu kebenarannya, perhatikan yang demikian ini pada shalatmu. Lihatlah bagaimana setan mengajak bincang-bincang dengan hatimu di saat semacam ini, dengan mengingatkan pasar, penghasilan/ gaji , urusan dunia, dan lain-lain.

Wallahu ta’ala a’lam.
(Diterjemahkan dan diringkas dari Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah hal. 193-195 oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi)

Sumber :  http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?no=348


Thursday, September 6, 2012

Hidup Di Penjara Bukan Berarti Sengsara

Penjara, identik dengan sebuah tempat yang sempit, terkekang, tidak bebas, dan dibatasi ruang gerak dengan dinding- dinding penjara dari seluruh penjuru. Yah, begitulah Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam- menyebutkan hakekat kehidupan dunia ini.

Bagi seorang mukmin, kehidupan dunia ini ibaratnya seperti orang yang hidup dalam sebuah penjara.  Dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara seorang mukmin, dan surga orang kafir.”
(HR.Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

Berkata An-Nawawi Rahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini: “maknanya adalah setiap mukmin dipenjara di dunia ini, dan dilarang melampiaskan syahwat- syahwat yang diharamkan dan yang dibenci, diberi beban untuk menjalankan amalan- amalan ketaatan yang ia merasa berat, dan tatkala dia mati maka dia beristirahat, dan situasiNya berbalik menuju kepada apa yang telah Allah persiapkan untuknya berupa kenikmatan yang abadi, dan tempat beristirahat yang nyaman yang tidak ada kekurangan sedikitpun.

Adapun bagi orang kafir, dia hanya mendapatkan apa yang diraihnya dalam kehidupan dunia yang sedikit, itupun dikotori dengan berbagai macam kesulitan hidup. Apabila ia telah mati, maka dia akan menuju siksaan yang tiada henti dan kesengsaraan yang abadi.”
(Syarah Muslim, An-Nawawi:18/93)

Berkata pula Al-Qurthubi tatkala menjelaskan hadits ini:
“Sesungguhnya dunia bersifat demikian disebabkan karena seorang mukmin dalam kehidupan dunia, terikat dengan beban- beban syariat, sehingga dia tidak mampu melakukan satu  gerakan, dan tidak pula berdiam diri, kecuali jika syariat memberi kelapangan padanya untuk melepaskan ikatannya yang memungkinkan baginya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ditambah lagi dengan berbagai macam cobaan dan ujian, serta tantangan kehidupan berupa perasaan sedih, gundah gulana, rasa sakit, kepedihan, berusaha menghadapi tantangan dan perlawanan, menghadapi keluarga dan anak- anak.

Secara umum, keadaannya seperti yang  dijelaskan bahwa manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian yang semisalnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai tingkat keimanannya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Penjara manakah yang lebih dahsyat dari penjara ini?. Lalu kemudian , dia di dalam penjara tersebut dalam keadaan khawatir dan takut yang sangat, sebab dia tidak mengetahui apa yang akan menjadi penutup amalan dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, dia sedang mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada yang lebih berbahaya dari sesuatu itu, dia takut akan kebinasaan yang tidak ada lagi kebinasaan diatasnya?!. Kalau seandainya dia tidak berharap untuk dapat keluar dari penjara ini, niscaya dia akan binasa. Akan tetapi, Allah mengasihinya, dan menjadikan beban seorang hamba tersebut terasa ringan dengan janji-Nya tatkala dia bersabar, dan dibukakan baginya jalan baginya menuju akhir kehidupan yang baik.

Adapun orang yang kafir, dia terlepas dari berbagai beban syariat tersebut, dan merasa aman dari segala yang ditakutkan, dan terus merasakan nikmatnya dunia, melampiaskan syahwatnya, merasa mulia dengan hari- hari yang dilaluinya, sehingga dia makan dan bersenang- senang seperti makannya hewan, dan dalam waktu dekat, dia akan tersadar dari buaian mimpinya, dan akhirnya dia masuk ke dalam penjara yang dia tidak akan keluar darinya. Kita memohon kepada Allah agar diberi keselamatan dari kengerian yang terjadi di hari kiamat.”
(Al-Mufhim, Al-Qurthubi:7/109-110)

Saudaraku, bebaskan dirimu dari penjara!
Jika kita telah menyadari bahwa ternyata kita sedang hidup didalam penjara, maka kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar untuk bebas dan keluar dari penjara tersebut. Jangan sampai tatkala kita telah keluar dari penjara dunia, ternyata kita  digiring menuju ke penjara yang  lebih sempit, lebih membosankan, lebih menyedihkan, lebih menyiksa dan menyakitkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan  barangsiapa  berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari  kiamat  dalam keadaan buta".
(QS.Toha:124)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.”
(QS.Az-Zumar:26)

Maukah anda keluar dari penjara?
Bukanlah hal yang sulit, cukup anda menampakkan perilaku yang baik kepada penguasa penjara itu, jaga tutur kata anda, berakhlak-lah dengan akhlak yang baik, berbuatlah dengan hal- hal yang menyebabkan pemilik dan penguasa penjara itu senang dan cinta kepadamu, niscaya engkau akan segara meraih kebebasan, dan menjalani kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, tidak lagi ada kesedihan, rasa sakit, kepedihan, seperti yang pernah anda rasakan ketika hidup di penjara. Kebahagiaan yang abadi, merasakan sebuah kenikmatan yang tak pernah anda merasakan sebelumnya.
Oleh karena itu, jadikanlah seluruh waktumu di dalam penjara dengan beribadah hanya kepada Penguasa penjara itu Dia adalah Allah Rabbul Alamin, tauhidkanlah Dia, beribadahlah dengan penuh keikhlasan, bertawakkal hanya kepada-Nya, dan menjadikan seluruh aktifitas ibadah itu hanya untuk-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ 
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku,  hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ". (QS.Al-An’am:162)

Demikian pula perbaiki akhlak dan perbuatanmu, dengan cara menjadikan Rasuullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai panutan dan suri tauladanmu. Sebab suatu ibadah barulah dianggap benar , jika sesuai bimbingan dan aturan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
(QS.Al-Hasyr: 7)

Allah Ta’ala juga berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: "Jika kamu  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS.Ali Imran:31)

Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:
“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang diberi hidayah setelahku.”
(HR.Tirmidzi dan yang lainnya, dari sahabat Irbadh bin Sariyah)

Dan Beliau juga bersabda:
“barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada aturannya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
(HR.Muslim dari Aisyah Radhiallahu Anha)

Perbaikilah kesalahan yang telah anda perbuat, memohon ampunlah kepada Penguasa penjara itu, agar Dia –Yang Maha Pengampun dan menerima taubat hamba-Nya- memberi maaf kepadamu, dan mengampuni segala kesalahanmu.  Hanya dengan cara ini, anda pasti akan keluar dari penjara, menuju alam bebas yang penuh kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal abadi. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”
(QS.Ali Imran:133-136)

Allah Azza Wajalla juga berfirman:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
(QS.Al-Ankabut:64)

Hidup di penjara, bukan berarti sengsara
Namun, bagi seorang ahli ibadah yang menghambakan diri dihadapan Allah Azza Wajalla, hidup dalam penjara dunia bukanlah sebuah kesengsaraan, namun didalamnya terkandung sebuah kenikmatan, yang hanya bisa dirasakan oleh seorang hamba yang memahami arti sebuah penghambaan dirinya kepada sang Maha Pencipta. Oleh karenanya,dalam diri seorang mukmin, menjalankan ibadah merupakan satu kenikmatan dan bukan sebagai beban, terdapat sebuah kebahagiaan disaat mereka merasakan manisnya keimanan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: 1. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya. 2. Dia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. 3. Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”
(Muttafaq Alaihi dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Dijadikan kenikmatan hidupku didalam shalat.”
(HR.Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:
“Barangsiapa yang kenikmatannya dalam melakukan suatu amalan, maka dia sangat berkeinginan untuk tidak meninggalkan amalan itu, dan tidak keluar darinya. Sebab didalamnya dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya, dan ini hanyalah dirasakan oleh seorang ahli ibadah yang bersabar menghadapi cobaan.”
(Fathul Bari:11/345)

Suatu ketika , Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah keluar rumah, ketika itu dia berkedudukan sebagai pimpinan seluruh para hakim di negerinya, Mesir. Beliau keluar rumah dengan berpakaian yang sangat indah. Lewatlah seorang yahudi dengan pakaian yang lusuh, menghentikan perjalanan Al-Hafizh lalu ia berkata: Wahai Imam, bagaimana anda menafsirkan ucapan Rasul anda “Dunia adalah penjara seorang mukmin dan surga bagi yang kafir”, sementara Engkau melihat diriku ini yang hidup penuh masalah dan sengsara, padahal aku ini orang yang kafir menurutmu. Sementara Engkau hidup dalam kenikmatan, padahal anda adalah seorang mukmin? Maka Al-Hafizh menjawab: Engkau yang hidup dengan penuh masalah dan kesengsaraan, pada hakekatnya itu merupakan kenikmatan, jika dibandingkan siksaan yang pedih yang menantimu di akhirat kelak jika engkkau mati dalam keadaan kafir. Sementara aku yang merasakan kenikmatan iini, sebenarnya aku ini berada dalam penjara dunia, jika dibandingkan kenikmatan didalam surga yang menantiku jika Allah Ta’ala memasukkan aku ke dalam surga-Nya.   Maka Yahudi itu berkata: Apakah seperti itu keadaannya? Al-Hafizh menjawab: iya. Maka Yahudi tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keislamannya.

Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal
Balikpapan, 14 syawal 1433 H

Sumber :  http://salafybpp.com/index.php/fataawa/115-hidup-di-penjara-bukan-berarti-sengsara


Monday, July 30, 2012

Sebab Yang Dapat Menjaga & Mengokohkan Agama Seorang Muslim (Bag. 3, Selesai)


  4. Terkhusus dalam hal ini, yang akan membantu seorang muslim untuk kokoh di atas agamanya baik para penuntut ilmu dari kaum laki-laki demikian pula para wanita adalah beramal dengan ilmu karena sesungguhnya mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui itu akan membuka bagimu ilmu yang tidak kamu ketahui sebelumnya,
 
sebab dengan mengamalkan ilmu tersebut Allah -Subhanahu wata’ala- akan memberikan taufiq kepadamu sehingga engkau senantiasa kokoh di atas agamanya dan engkau senantiasa melanjutkan perjalanan ilmu tersebut sehingga ilmu mu semakin bertambah sebab jalan menuntut ilmu adalah merupakan jalan menuju Allah -Subhanahu wata’ala- sehingga apabila engkau telah diberikan ilmu maka hendaknya engkau mengamalkan ilmu tersebut dan apabila engkau tidak mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui maka Allah -Subhanahu wata’ala- akan menghinakanmu.

Berapa banyak dari manusia, dimana mereka sebelumnya semangat dalam menuntut ilmu, semangat dalam menghasilkan ilmu akan tetapi dia tidak mengamalkan ilmu tersebut sehingga pada suatu saat yang berikutnya dia diharamkan dari menuntut ilmu, ia meninggalkan jalan menuntut ilmu tersebut disebabkan karena dia tidak mengmalkan ilmu itu.

Oleh karena itu disebutkan oleh Waki’ Ibnul Jarrah –Rahimahullah- beliau mengatakan :

ان العلم نور ونورالله لايهدى ولا يعطى لعاصى                        

 “Sesunggauhnya ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah itu tidaklah diberikan kepada orang yang melakukan kemaksiatan”.

Berapa banyak dari mereka yang sebelumnya diketahui semangat dalam menuntut ilmu lalu kemudian dia meninggalkan menuntut ilmu tersebut dan yang terbesar dalam hal ini adalah terjatuhnya seorang ke dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Bahkan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- ash-shadiqul masduq, beliau bersabda dalam hadits yang shahih :

ان أحد كم ليعمل بعمل أهل الجنة فيما يبدوا للناس                      

“ Sesungguhnya salah seorang kalian ada yang mengamalkan amalan penghuni surga ( yaitu amalan sholeh ) namun itulah yang tampak dihadapan manusia “

yang ternyata Allah -Subhanahu wata’ala- menetapkan dirinya termasuk penghuni neraka. Dan ma’na dari hadits yang disebutkan oleh nabi -Shallallahu ‘alahi wasallam- Ini, bahwa ada sebagian manusia secara dhohir (Nampak) bahwa dia adalah orang yang sholeh, akan tetapi pada saat dia tidak dihadapan orang lain, pada saat dia jauh dari yang lainnya, ternyata dia melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan kepada Allah -Subhanahu wata’ala-

Ketahuilah bahwa sesungguhnya perbuatan dosa dan kemaksiatan itu, akan menyebabkan seorang muslim merasa berat untuk menjalankan agama Allah, akan terasa berat untuk mengamalkan ilmu sehingga dengan perbuatan kemaksiatan itu, menyebabkan seorang muslim itu berpaling dari kebaikan yang sebelumnya dia mengamalkan kebaikan itu.

Maka hendaknya seorang penuntut ilmu berhati-hati dari terjerumus kedalam perbuatan dosa dan kemaksiatan dan berhati-hati pula dari tidak mengamalkan ilmu, karena hal itu akan memalingkan seorang hamba dari jalan Allah -Subhanahu wata’ala- Ash-shiratul mustaqim.

Allah -Subhanahu wata’ala-  berfirman :

ونقلب أفئد تهم وأبصا رهم كما لم يؤمنوا به أول مرة ونذ رهم فى طغيا نهم يعمهون 

“ Dan kami akan membalikkan hati-hati dan pandangan-pandangan mereka sebagaimana awalnya mereka tidak beriman kepada Allah, dan kami biarkan mereka dalam keadaan kedzaliman, dalam keadaan melakukan perbuatan-perbuatan kemaksiatan.

Maka demikian pula Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

ان قلوب العباد بين أصبعين من أصا بعا الرحمن يقلبها كيف يشاء           

“ Sesungguhnya hati-hati hamba-hamba ini berada  diantara 2 jari dari jari jemari Allah,  dimana Allah membolak-balikkan hati-hati tersebut sekehendak Allah Azza Wajalla.
 
Dan ma’na dari hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- ini adalah hendaknya kalian bersemangat untuk memelihara hati tersebut, hendaknya kalian selalu bersemangat untuk menjaga hati kalian agar tidak terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Azza Wajallah.

Dan termasuk diantara do’a Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- Yang beliau panjatkan, beliau selalu mengatakan :

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبى على طا عتك                

“ Ya Allah yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hatiku ini menuju kepada ketaatan-Mu”

Dan ma’na dari hadits ini bahwa sesungguhnya berjalannya hati itu menuju kepada kemaksiatan merupakan sebab yang akan menyebabkan, atau mendatangkan kerugian hidup seorang memiliki hati tersebut dalam kehidupan dunia demikian pula dalam kehidupan akhirat.

Terlebih lagi ketika dia tidak mengamalkan ilmunya, maka hati ini -kaum muslimin rahimakumullah- selalu berangan-angan untuk melakukan perbuatan dosa , namun seorang yang berakal dia akan selalu berusaha mencegah nafsu dan jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan, dia berusaha untuk menghalanginya dan mencegahnya untuk melakukan apa saja yang diinginkannya, sehingga apabila dia meninggalkan keinginan dari nafsu tersebut, ketika dia meninggalkan untuk beramal dengan ilmu dan dia melakukan apa yang dikehendaki oleh nafsunya, maka itulah yang menyebabkan dia menyimpang dari jalan Allah -Subhanahu wata’ala-.

Dosa-dosa itu seperti najis, (yang mana) air yang bersih, air yang jernih, yang suci apabila diletakkan padanya najis, meskipun najis itu sedikit tatkala terjadi perubahan pada air tersebut maka jadilah air itu menjadi air yang najis, demikian pula amalan-amalan seorang muslim, janganlah dia mengotorinya dengan perbuatan dosa sebab apabila dia mengotori amalan tersebut dengan perbuatan dosa maka itu akan menyebabkan rusaknya amalan seperti rusaknya air yang suci tadi dengan dicampurnya najis yang menyebabkan air tersebut menjadi air yang najis, demikian pula hati, hati tersebut diisi dengan hal-hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah -Subhanahu wata’ala-

Sebagaimana kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, demikian pula kita bersungguh-sungguh dalam beramal, mengamalkan ilmu tersebut, sebab dengan mengamalkan ilmu itu akan memberi kemshlahatan pada diri, (dan) henkdaknya engkau senantiasa membiasakan dirimu untuk mengamalkan ilmu sebagaimana engkau membiasakan dirimu untuk berilmu, maka biasakanlah dia untuk mengamalkan ilmu tersebut.

Seorang ayah, seorang ibu, demikian pula anak-anak hendaknya mereka saling bahu-membahu, saling tolong-menolong untuk berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya.

Sebagai contoh, ketika seorang ayah menganjurkan keluarganya untuk menegakkan qiyamullail, menganjurkan mereka untuk bangun di malam hari, sebagaimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melakukan itu kepada keluarganya.

Telah disebutkan di dalam shahih imamul bukhari -Rahimahullah- dimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- suatu hari bangun di malam hari lalu kemudian beliau mengatakan :  

أو قظوا صوا حب الحجرات                                 

“Bangunkanlah wanita-wanita yang berada di dalam kamar-kamar tersebut (yang dimaksud adalah istri-istri beliau)”

 lalu beliau mengatakan :

فرب كا سية فى الدنيا عا رية يوم القيامة                               

“Boleh jadi seorang wanita itu berpakaian di dunia namun dia menjadi telanjang pada hari kiamat”.
 
Lihatlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menganjurkan keluarganya untuk menegakkan shalat malam, padahal beliau memiliki 9 orang istri, beliau mendatangi masing-masing dari istri tersebut dan mengetuk pintunya di malam hari agar kemudian mereka bangun dan menegakkan qiyamullail.

Kata Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- :

فرب كا سية فى الدنيا عا رية يوم القيامة                            

“Boleh jadi seorang wanita itu berpakaian di dunia namun dia menjadi telanjang pada hari kiamat”

Tahukah kamu apa yang dimaksud telanjang pada hari kiamat.? yaitu dia tidak memiliki ketaatan di hadapan Allah -Subhanahu wata’ala-, maka makna dari hadits ini adalah hendaknya kalian memperbanyak amalan-amalan ketaatan yang mendekatkan diri kalian kepada Allah -Subhanahu wata’ala- terkhusus pada sepertiga malam terakhir sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir lalu kemudian Allah mengatakan :

“siapakah yang berdo’a kepadaku maka aku akan kabulkan, siapa yang meminta kepadaku maka aku akan berikan, siap yang memohon ampun kepadaku maka aku akan mengampuninya”

Maka hendaknya engkau senantiasa berusaha untuk mendidik dirimu, demikian pula anak-anakmu untuk senantiasa beramal dengan amalan yang shaleh, demikian pula halnya dengan berpuasa, kita berusaha menganjurkan diri kita dan keluarga kita untuk mengamalkan ilmu dan diantara bentuk pengamalan ilmu (adalah dengan) menganjurkan mereka berpuasa dalam setiap bulan sebagaimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menganjurkan para shahabat agar mereka berpuasa.

Sesungguhnya berpuasa itu termasuk amalan yang paling afdhal, yang paling utama, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tatkala beliau ditanya suatu amalan yang shaleh yang dengannya seorang berpegang teguh dengannya, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan :

عليك باالصوم فأنه لامثيل له                                 

“Hendaknya engkau senantiasa berpuasa karena dengan berpuasa itu tidak ada bandingannya dari amalan-amalan yang lain”

Maka janganlah kita kikir terhadap diri-diri kita, senantiasa melakukan amalan-amalan yang shaleh yang akan membersihkan diri-diri kita dan Akan membersihkan jiwa-jiwa kita dan disamping itu kita akan mendapatkan dan meraih pahala yang besar disisi Allah -Subhanahu wata’ala- pada yaumul qiyamah.

Maka kami memohon kepada Allah -Subhanahu wata’ala- semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada kita agar tidak terjatuh ke dalam AL-AMMARATU BISSU’ (jiwa yang memerintahkan pada keburukan) dan semoga Allah -Subhanahu wata’ala- senantiasa membantu kita untuk beramal terhadap ilmu yang telah kita miliki.
 
وصلى الله وسلم على نبينا محمد واله وصحبه وسلم وجزا ك الله خيرا               

Muhadharoh Syaikh Abdullah Bin Umar Al-Mar’ie hafizhahullah
Di Ma’had Hikmatussunnah Palu Pada  12 Sya'ban 1433 H / 2 Juli 2012 M 
Diterjemahkan Oleh : Al-Ustadz Abu Karimah Askari Hafizhahullah
Ditranskrip oleh :  Admin

Audio : Download disini

Mamuju, 8 Ramadhan 1433 H / 27 Juli 2012


Sunday, July 29, 2012

Sebab Yang Dapat Menjaga & Mengokohkan Agama Seorang Muslim (Bag. 2)

  3. Termasuk diantara yang akan membantu seorang muslim agar dia senantiasa kokoh di atas agamanya dan berpegang teguh dengannya di tengah-tengah banyaknya fitnah yang terjadi, setelah ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan setelah mutaba’ah / mengikuti sunnah Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah bersungguh-sungguh dan memiliki cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu syar’I, ilmu yang bermanfaat dan berusaha untuk mendapatkannya.

Telah ditanya Al-Imam Al-Bukhari -Rahimahullahu ta’ala- ketika ada yang berkata atau yang bertanya kepada beliau :

يا امام, هل من دواء فيطلب فيكون فى حفظ العلم ؟ فقال : لم أجد مثل مدا ومة النظر وهمة طالب العلم                                     
wahai imam, apakah ada resep yang dengannya seseorang mampu untuk memelihara ilmu.? Lalu Al-Imamul Bukhari -Rahimahullah-  menjawab, saya tidak mendapatkan satu resep untuk memelihara ilmu kecuali dengan cara terus melihat kepada kitab-kitab ilmu dan terus-menerus menela’ah kitab-kitab ilmu tersebut dan semangat dalam menuntut ilmu”.

Dengan semangat dalam menuntut ilmu, maka engkau akan bisa membedakan antara sebuah keluarga yang memiliki semangat yang tinggi untuk mendapatkan ilmu syar’i.

Ketika seorang ayah, demikian pula seorang ibu dan demikian pula anak-anak yang lainnya mereka semua menyibukkan dirinya untuk menuntut ilmu, mempelajari ilmu syar’I ini sementara keluarga yang lainnya semangatnya lemah, ayahnya sibuk sementara ibunya bermalas-malasan dalam menuntut ilmu ditambah lagi anak-anaknya yang lalai yang tidak punya tugas dalam menuntut ilmu maka engkau akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh diantara keluarga tersebut.
Oleh karena itu dikatakan :

من جد وجد ومن زرع حصد                             

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan meraih apa yang diinginkannya, dan barangsiapa yang bercocok tanam maka dia akan memetik pula hasilnya”.

Adapun seseorang yang dia menelantarkan hari-harinya yang berlalu dengan berbagai kesibukan-kesibukan yang lainnya dan melalaikan dirinya dari menuntut ilmu, maka orang yang seperti ini tidak akan menghasilkan ilmu yang banyak, namun sebuah keluarga yang apabila tinggi semangat mereka dalam menuntut ilmu, seorang ayah semangat dalam menuntut ilmu maka dia senantiasa akan mendengarkan ilmu dan menulisnya lalu kemudian dia menghafal ilmu tersebut dan dia berusaha untuk mengajarkan anak-anaknya ilmu yang telah diketahuinya, demikian pula seorang ibu, dia berusaha untuk menghafal, mendengarkan ilmu dan menulisnya lalu kemudian berusaha untuk mengumpulkan anak-anaknya dan mengulang-ulangi ilmu tersebut bersama mereka dan terus mengontrol mereka maka ini adalah merupakan semangat yang tinggi yang akan memiliki atau akan memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Seorang ayah, apabila dia bersabar dengan itu (yakni semangat dalam menuntut ilmu), dia menghafalkan Al-Qur’anul karim maka Allah -Subhanahu wata’ala- member manfaat dengannya, demikian pula seorang ibu dan anak-anaknya, mereka akan menjadi penyejuk hati dalam sebuah keluarga sehingga dengannya Allah -Subhanahu wata’ala- memberikan manfaat kepada diri-diri mereka demikian pula kepada masyarakatnya, namun keluarga yang lain yang bermalas-malasan, mereka menelantarkan waktu-waktu yang ada yang mana mereka dalam keadaan tidak menghasilkan sedikit pun sesuatu yang dapat memberi manfaat dalam kehidupan dunia terlebih dalam kehidupan akhirat mereka.

Maka oleh karena itu, termasuk yang akan menolong seorang muslim untuk kokoh di atas agamanya dan berpegang teguh dengan agamanya adalah semangat dalam menuntut ilmu.

Apabila engkau memperhatikan siroh dari para ulama ……….. (kurang jelas) engkau akan mendapati bahwa mereka tidaklah menkdapatkan ilmu dengan cara bersantai ria, dengan cara mengistirahatkan tubuhnya, bahkan mereka mengatakan :

ان العلم لاينال برا حة الجسد                                  

“Sesungguhnya ilmu itu tidak akan diraih dengan bersantai ria, ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan jasad yang tidak bersungguh-sungguh.

Mereka para ulama bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menghasilkan ilmu, bahkan mereka tidak tidur di malam hari, mereka begadang di malam hari dan mereka berusaha untuk menghasilkan ilmu di siang harinya sehingga terkumpullah pada diri-diri mereka ilmu yang banyak, namun bukan berarti, ketika kita menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memiliki semangat yang kuat dalam menuntut ilmu hal ini menunjukkan bahwa kita meninggalkan untuk mencari ma’isyah (Nafkah), untuk mencari pencaharian, untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita, tidak demikian.!!
 
Sebab para shahabat -Radhiyallahu ta’ala ‘anhum- mereka adalah orang-orang yang memiliki keluarga akan tetapi yang demikian tidaklah mencegah dan menghalangi mereka dari menuntut ilmu.

Tentu kalian telah mengetahui kisah Umar Ibnul Khattab -Radhiyallahu ‘anhu- bersama dengan seorang anshar, ketika mereka bergantian dalam menuntut ilmu, dalam satu hari umar ibnul khattab ingin menuntut ilmu kemudian orang anshar inilah yang bertugas untuk mencari ma’isyah ataukah memelihara kambing-kambing lalu kemudian di hari yang berikutnya mereka bergantian, umar yang bekerja dan anshar inilah yang menuntut ilmu di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, sehingga Al-Imamul Bukhari -Rahimahullah- beliau menyebutkan dalam kitab shahihnya  (باب التنوه فى العلم)  “Bab : Bergantian Dalam Menuntut Ilmu”, lalu kemudian beliau menyebutkan kisah Umar Ibnul Khattab –Radhiyallahu ‘anhu- ini.

Mereka (para ulama) juga bekerja, mereka juga mencari mata pencaharian, namun tidaklah mencegah mereka dari menuntut ilmu.

Diantara mereka ada yang bekerja untuk membuat kapas, diantara mereka ada yang bekerja untuk membuat sendal, diantara mereka ada yang pekerjaannya menjual kain, bahkan diantara mereka ada yang pekerjaannya menjual rempah-rempah seperti Al-Imam Al-Bazzar -Rahimahullah- seorang imam yang masyhur (terkenal), pekerjaan beliau menjual rempah-rempah kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh manusia, maka mereka juga mencari ma’isyah namun mereka juga bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’I, bahkan Abdullah Ibnul Mubarak -Rahimahulla- yang disebutkan dalam biografinya bahwa tidak ada perbedaan antara Abdullah ibnul Mubarak dengan shahabat Nabi kecuali yang membedakan itu adalah zamannya dimana Ibnul Mubarak tidak satu zaman dengan para Shahabat Nabi –Radhiyallahu ta’ala ‘anhum- karena beliau bukan bagian dari para shahabat, akan tetapi beliau dikenal sebagai seorang yang senantiasa berbuat kebaikan dan mengamalkan amalan-amalan yang shaleh.

Ibnul  Mubarak –Rahimahullahu ta’ala- beliau dalam setahun menunaikan ibadah haji dan tahun yang berikutnya beliau berjihad, dan begitu seterusnya, dan diantara haji dan jihad beliau adalah menuntut ilmu dan beliau juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan diri beliau dan bahkan memenuhi kebutuhan yang lainnya, bahkan beliau seringkali bersedekah yang diberikan kepada sekian banyak para ulama, jadi bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup beliau saja akan tetapi juga beliau berusaha untuk membantu para ulama yang lain dalam menghasilkan ilmu yang bermanfaat.

Kita melihat kesibukan Ibnul Mubarak, beliau berdagang dan mencari nafkah namun hal itu tidaklah menghalangi beliau untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga beliaupun menjadi seorang Imam yang tidak tersamarkan oleh kita keimaman / kepemimpinan yang dimiliki oleh Abdullah Ibnul Mubarak –Rahimahullalhu Ta’ala-.

Seorang muslim harus memiliki cita-cita yang besar, cita-cita yang tinggi dan semangat yang tinggi, keadaannya seperti rumah lebah, dimana rumah lebah tersebut yang selalu terjadi gerakan, yang selalu terjadi kesibukan padanya, maka demikian pula sepantasnyalah rumah-rumah kita disibukkan dengan berbagai macam kesibukan, (seperti dengan) mengulang-ulangi ilmu yang telah kita pelajari lalu kemudian berusaha untuk mentranskrip pelajaran-pelajaran yang telah kita dengarkan atau mendengarkan kaset-kaset dan yang semisalnya, yang dengan nya –dengan izin Allah -Subhanahu wata’ala- kita akan melihat hasilnya di masa yang akan datang.

Setiap para ulama yang kita ketahui, mereka dari kalangan para ulama yang kita tidak akan mendapati seorangpun dari mereka bermalas-malasan dalam menuntut ilmu, namun yang ada dari perjalanan mereka, dari biografi mereka, bahwa mereka adalah orang yang dikenal sebagai orang yang bersungguh-sungguh dalam mendapatkan ilmu syar’i.

Saudara-saudaraku yang aku cintai, nasehat-nasehat itu sangat banyak namun kami menutup majelis ini dengan menyampaikan nasehat yang lain yang akan membantu seorang muslim agar dia kokoh di atas agama Allah -Subhanahu wata’ala- dan senantiasa berpegang teguh dengannya dalam menghadapi berbagai fitnah di zamannya.

(Bersambung InsyaAllah)...


 

by blogonol