Bulan
Ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan oleh kaum muslimin di
seluruh penjuru dunia, sebab mereka meyakini bahwa bulan ramadhan adalah
bulan yang selalu mendatangkan berkah, bulan yang selalu memberi
tambahan spirit dan semangat bagi yang ingin meraih kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat dengan membawa amal saleh yang berlipat ganda.
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalla, bersabda tentang bulan Ramadhan (artinya):
“Di
bulan itu, malaikat menyeru: Wahai pencari kebaikan, bergembiralah.
Wahai pencari keburukan, tahanlah dirimu, hingga berakhirnya bulan
Ramadhan”
(HR.Ahmad)
Terkhusus
amalan puasa, yang merupakan amalan inti di bulan Ramadhan, dimana
Allah Azza wajalla, mengkhususkan ganjaran pahala yang tak ternilai bagi
seorang yang mengamalkannya dengan penuh keikhlasan dan mengikuti
petunjuk Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalla, Dalam hadits Qudsi ,
Allah Ta’ala berfirman:
“Setiap
amalan anak cucu Adam telah ditetapkan pahala baginya, satu kebaikan
sama dengan sepuluh kebaikan. Kecuali berpuasa, karena sesugguhnya puasa
itu khusus untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya.”
(Muttafaq alaihi)
Namun
ada satu hal yang banyak dilalaikan oleh orang yang berpuasa, di saat
mereka menyangka bahwa berpuasa hanyalah sekedar menahan diri dari
makan, minum, dan berjima’ dengan isteri, dan meninggalkan hal- hal yang
membatalkan puasa, lalu pemahaman puasa hanya berhenti sampai disitu
saja, tidak lebih. Tentu ini merupakan pemahaman yang keliru, sebab ada
hikmah yang besar yang dikehendaki Allah Azza wajalla, dari amalan puasa
yang dilakukan oleh setiap muslim, yaitu untuk membiasakan diri dengan
penuh kesabaran dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan kepada
Allah Azza wajalla, dan meninggalkan seluruh apa saja yang dilarang-Nya,
inilah yang disebut ‘Taqwallah”. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Wahai
orang- orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan kepada orang- orang sebelum kalian, agar
kalian menjadi orang- orang yang bertaqwa.”
(QS.Al-Baqarah: 183)
Oleh
karenanya, hendaknya seorang muslim harus berusaha untuk menjadikan
bulan Ramadhan sebagai bulan “tarbiyah” yang mendidik jiwa, lisan dan
anggota tubuhnya untuk terbiasa dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
Rabbul Alamin. Sebab
jika tidak , puasa sebulan penuh yang diamalkan bisa menjadi amalan
yang sia- sia , tanpa membuahkan hasil yag diinginkan.
Rasulullah Shallallohu ‘alahi wasallam, bersabda:
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan ‘ucapan zur’, dan melakukannya serta melakukan
perbuatan jahil, maka Allah tidak butuh kepadanya tatkala dia
meninggalkan makan dan minum.”
(HR.Bukhari dari Abu Hurairah)
Yang dimakud ‘ucapan zur’,
adalah setiap ucapan yang menyimpang dari kebenaran, diantaranya ucapan
dusta, ghibah, adu domba,persaksian dusta untuk membenarkan yang batil,
atau membatilkan kebenaran, dan yang lainnya. Yang dimaksud
mengamalkannya adalah melakukan hal- hal yang diharamkan Allah U,
dan yang dimaksud perbuatan jahil adalah melakukan tindakan yang
menunjukkan kebodohan, seperti mencela, mencaci maki, melemparkan
tudingan tak berdasar, dan yang lainnya.
Rasulullah Shallallohu ‘alahi wasallam, juga bersabda:
“Boleh
jadi orang yang berpuasa, balasan yang didapatkannya hanyalah haus dan
lapar, dan boleh jadi orang yang menegakkan qiyamullail, balasan yang
didapatkannya hanyalah begadang dimalam hari.”
(HR.Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dari Abu Hurairah radiyallohu anhu)
Telah sahih dari Abul Mutawakkil An-Naji –Rahimahullah- berkata:
“Pernah Abu Hurairah radiyallohu anhu,
dan para sahabatnya jika mereka berpuasa, mereka memperbanyak duduk di
masjid, mereka berkata: Kami ingin membersihkan puasa-puasa kami.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah:1888)
Diriwayatkan
pula dari Abu Saleh Al-Hanafi dari saudaranya yang bernama Thaliq bin
Qais bahwa ia berkata: berkata Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu anhu:
“Jika
Engkau berpuasa maka jagalah dirimu semampu kamu.” Maka jika Thaliq ia
berpuasa, dia masuk ke rumahnya, dan tidak keluar kecuali untuk shalat.”
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah: 8788)
Jabir bin Abdillah –Radhiallahu anhuma- berkata:
“Jika
kalian berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu, dan
lisanmu dari berkata dusta. Janganlah engkau menyakiti pembantu, dan
hendaknya engkau menjaga ketenangan dan kelembutan, jangan engkau
menjadikan hari berpuasamu sama dengan hari ketika engkau tidak
berpuasa.”
(Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah , Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud)
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata tatkala menjelaskan hakekat berpuasa:
“Orang
yang berpuasa adalah orang yang berpuasa anggota tubuhnya dari berbuat
dosa, berpuasa lisannya dari berkata dusta, ucapan kotor dan ucapan
maksiat, berpuasa perutnya dari makan dan minum, berpuasa kemaluannya
dari berhubungan, jika dia berbicara maka dia tidak berucap dengan
sesuatu yang melukai puasanya, jika dia berbuat maka dia tidak melakukan
sesuatu yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya yang keluar
adalah ucapan yang baik lagi bermanfaat, demikian pula
amalan-amalannya.Ia berkedudukan seperti aroma yang dicium oleh orang
yang duduk bersama penjual minyak kesturi. Demikian pula orang yang
duduk bersama orang yang berpuasa, dia mendapatkan manfaat dengan duduk
bersamanya, dan merasa aman dari maksiat, dusta, perbuatan fajir dan
kezhaliman. Inilah puasa yang disyariatkan, bukan sekedar menahan diri
dari makan dan minum. Puasa hakiki adalah puasanya anggota tubuh dari
berbuat dosa, puasanya perut dari makan dan minum. Sebagaimana makan dan
minum dan memutus dan merusak puasa, demikian pula perbuatan dosa yang
memutus pahalanya dan merusak hasilnya, sehingga ia menjadi seperti
orang yang tidak berpuasa.”
(Al-Wabil Ash-Shayyib:64)
Ternyata,
meraih hakekat puasa memang membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi,
namun hal itu bukanlah sulit bagi siapa yang dimudahkan Allah azza
wajalla. Adapun hanya sekedar menahan lapar dan haus, merupakan perkara mudah yang dapat dilakukan oleh siapa saja.
Berkata
Atha’ bin As-Saaib –Rahimahullah- :“Para sahabat kami mengatakan: puasa
yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”
Berkata
Ja’far bin Burqan: “Aku mendengar Maimun berkata: Sesungguhnya puasa
yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”
(Diriwayatkan Abu Bakar bin Abi Syaibah: 3888)
Semoga Allah azza wajalla, memberi kemudahan kepada kita semua untuk meraih hakekat puasa yang sebenarnya. Amin Yaa Mujiibas Saailiin.
Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal
8 Ramadhan 1433 H.
Sumber : http://salafybpp.com










0 komentar:
Post a Comment