Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).

Dimanakah Roh Para Nabi.?

Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Serba Serbi Air Alam

Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)

Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku

Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Thursday, December 1, 2011

Download Nasehat Ust. Dzulqarnain pada Dauroh mamuju


 [Download Audio] Nasehat Ust. Dzulqarnain hafizhahullah pada dauroh Mamuju (Sul-Bar) hari ke-2 (ahad) tanggal 30 Rabiul Awwal 1432 H / 5 Maret 2011, pukul 08.00 pagi- selesai 

Klik disini --> Download Audio


Transkrip Dari Audio di Atas
                                                     
        بسمالله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرورأنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له و أشهد أنلاإله إلاالله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله.
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّإَلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران:102]
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَوَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً ﴾ [الأحزاب:71]
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِيخَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَارِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً ﴾ [النساء:1]
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمدصلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالةفى النار أما بعد:


Ma’asyiral ikhwah wal akhwat rahimani warahimakumullah, pada pagi hari ini Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allahسبحا نه وتعلى , kembali diberi kesempatan untuk duduk di masjid yang mulia ini, untuk kita saling ingat mengingatkan dan berwasiat dengan kebaikan.

Bagi seorang mukmin, peringatan adalah hal yang berharga  وذ كر فان الذ كر تنفع المؤمنين    (dan berilah peringatankarena peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman). 
Nasehat menasehati adalah simbol dari agama, الد ين النصيحة  Nabi bersabda : (Agama adalah nasehat). Dandi dalam hadits jabir bin abdillah al-bajali, beliau berkata : بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على السمع والطاعة والنصح لكل مسلم (Aku membai’at rasulullahصلى الله عليه وسلم untuk mendengar dantaat dan untuk menasehati setiap muslim).

Maka dimajelis yang baik ini, ada beberapa hal yang ingin saya ingatkan dalam rangka kita saling nasehat menasehati dan berwasiat dalam kebaikan.

1.  yang pertama yang ingin saya ingatkan adalah wasiatAllah  سبحا نه وتعلىkepada orang-orang sebelum kita dan jugakepada kita ummat islam, Allah berfirman di dalam Al-qur’an  : ولقد وصينا الذيناوتواللكتاب من قبلكم وايا كم أن اتقو الله  (Sungguh kami telah wasiatkan kepada ahlul kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian, hendaknyakalian semua bertaqwa kepada Allah), maka ketaqwaan ini adalah sumber kebaikan, ketaqwaan.? adalah sumber kebaikan, dia adalah wasiat Allahkepada seluruh makhluk, karena dengan taqwa ini akan terwujud segala kebaikanyang mereka perlukan.

Kita telah membaca dikhutbah hajah tadi tiga ayat, yang ayat-ayat tersebut dibaca oleh Rasulullah  صلى الله عليه وسلمpada khutbah hajah beliau, dari tiga ayat tersebut, semuanya terdapat di dalamnya perintah untuk bertaqwa. يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّإِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن (wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar ketaqwaan dan janganlah kalian meninggal kecuali kalian itu sebagai orang yang selalu berislam / berserah diri kepada Allah). 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْمِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَة (wahai sekalian manusia bertaqwalah kalian kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dari satu jiwa)  وَخَلَقَمِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً   (dan dari jiwa itu Allah menciptakan pasangannya, kita diciptakan semua dari keturunan Nabi Adam dan dari tulang rusuk Nabi Adam Allah menciptakan isterinya hawwa’, dan dari keduanya Allah -Subhanahu wata’ala- menjadikan manusia laki-laki dan perempuan), kemudian Allah mengulangi perintah taqwa ini     وَاتَّقُوااللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ (Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, maka kalianselalu meminta dengan menyebut namanya, dan hendaknya kalian bertaqwa berkaitan dengan silaturahmi kalian)  إِنَّاللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا  (sesungguhnya Allahselalu mengawasi kalian).
                                                                                                                             
Dan ayat yang ketiga, يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا   (wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah ucapan yang lurus), ucapan yang baik, SADIDAN itu ucapan yanglurus tidak ada bengkoknya, tidak ada.? Bengkoknya, kalau kalian bertaqwa dan berucap yang baik, Allah berfirman :  يُصْلِحْلَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ   (Allahakan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian).

Maka ini dari kebaikan ketaqwaan, karena itulah taqwa ini adalah bekal yang sangat baik apalagi kita berada dimasa banyak ujian dan cobaan, banyak fitnah didalam kehidupan dan ini semuanya harus dipadamkan dengan ketaqwaan, sebagaimana ditanyakan kepada seorang dari ulama salaf terdahulu yaitu Tholaq ibnu habib رحمه الله , ketika terjadi fitnah maka beliau berkata : padamkan fitnah itu dengan taqwa, kemudian beliau ditanya apa taqwa itu.?

Kata beliau  ان تعمل بطاعة الله على نورمن الله ترجوثوا ب الله  (Engkau beramal dengan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, engkau mengharap pahala dari Allah),وان تترك معصية  اللهعلى نور من الله تخا ف عقا ب الله (dan engkau meningkalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah,engkau meninggalkan maksiat itu karena takut siksaan Allah Subhanahu wata’ala).
Maka inilah taqwa, dariasal katanya adalah Al-Wiqayah : suatu tameng yang melindungi, jadiorang yang bertaqwa seakan-akan dia meletakkan antara dirinya dan apa yang dimurkai oleh Allah dia letakkan sebuah tembok yang membentenginya, ia tidak jatuh dalam kemurkaan Allah, tidak jatuh di dalam neraka, itulah ketaqwaan, dan taqwa ini sangat berharga bagi seorang hamba, hendaknya selalu dia pegang dimana pun dia berada dalam keadaan sendiri maupun di depan orang, hendaknya selalu bertaqwa kepada Allah سبحا نه وتعلى.

2.  Kemudian yang kedua, yang ingin saya nasehatkan disini untuk dirisaya dan kepada seluruh ikhwah dan akhwat bahwa Rasulullah  صلى اللهعليه وسلمbersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abu hurairah, katabeliau (Rasulullah) : الؤمن القوي خير واحب الى الله منالمؤمن الضعيف وفي كل خير (Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan),yang namanya keimanan semuanya ada kebaikan, orang yang beriman semuanya ada kebaikan tapi mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allahdari mukmin yang lemah, mukmin yang kuat, apa makna kekuatan disini.? Kekuatan disini punya dua makna, makna secara fisik dan makna secara ma’nawi, dia punya kekuatan jiwa, kekuatan keimanan, dan makna yang kedua ini lebih didahulukan bagi seorang mukmin, maka Nabi memberikan anjuran umum agar supaya seorang mukmin selalu menambah kekuatannya, selalu menambah.? Kekuatannya.
Maka ia perlu di dalam kehidupan ini untuk selalu mendidik dirinya dengan makna-makna yang memperkuat keimanannya agar supaya ia masuk ke dalam golongan seorang mukmin yang kuat dandia lebih dicintai, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah.
Kemudian setelah Nabi memberikan anjuran secara umum, kaidah umum bahwa mukmin yang kuat lebih baikdari mukmin yang lemah, Nabi memberikan tiga landasan pijakan dan tiga pijakan ini, Ini adalah pijakan di dalam kehidupan yang hendaknya selalu berada di dalam sanubari  setiap muslim dan muslimah.
Yang pertama, Nabi berkata : احرص عل ما ينفعك (bersemangatlah engkau meraih apa yang bermanfaat bagimu), ini sifat seorang muslim, seorang mukmin punya semangat, karena hidup ini harus dipenuhi dengan semangat, tanpa semangat seorang tidak akan mencapai apa yang ingin dia raih, karena itu Allah memerintah kita dengan makna ini di dalam banyak ayat al-qur’an :  وسارعواالى مغفرة من ربكم(Dan bersegeralah kalian menuju kepada pengampunan dari Rabb kalian), diayat yang lain dibahasakan  فا ستبقوا الخيرات (Dan berlomba-lombalahkalian), di ayat yang lain  وأنيبوا الىربكم  (Berlarilah kalian semua menuju kepada Allah), ini semuanya makna semangat dan bergerak.
Maka harus ada semangat di dalam meraih kebaikan, kata Nabi : احرصعلى ما ينفعك (semangatlah engkau meraih apa yang bermanfaat bagimu), perhatikan…!!! Didalam kehidupan ini banyak perkara, banyak amalan, ada amalan yang bermanfaat ada amalan yang tidak bermanfaat, yang tidak bermanfaat itu ada yang sia-siadan ada yang merupakan dosa dan Nabi hanya menganjurkan seorang mukmin bersemangat meraih apa yang bermanfaat baginya karena itulah kehidupan, kita didunia ini semuanya sementara dan semuanya akan kembali kepada Allah سبحا نه وتعلى, semuanya akan mempertanggungjawabkan setiap amalan yang dia lakukan.
Itulah kehidupan dunia yang selalu diingatkan oleh nabi صلى الله عليه وسلم dalam banyak hadits beliau diantaranya beliau bersabda kepadaibnu umar :  كن فى الد نيا كأنك غريب أوعابر سبيل (Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang yang asing atau orang yang sekedar berlalu).
Jadi kita diibaratkan oleh nabi dikehidupan ini seperti musafir, dia asing atau dia sekedar berlalu.
Ada orang yang datang kesebuah negeri dia tinggal di negeri itu, bukan penduduk negeri yang diatinggal bukan untuk menetap hanya sementara, dia akan pergi meninggalkannya, tidak ada sanak familinya disitu, tidak ada keluarganya, dia tidak perlu untukmembangun sebuah bangunan tetap yang bisa dia harapkan untuk mukim disitu, diaorang asing atau seorang musafir yang sekedar berlalu, lewat saja dia datang singgah kesebuah tempat hanya mengambil perbekalannya sebagai seorang musafir untuk melanjutkan perjalanan. 
Maka itulah kehidupan,kita semua ini adalah musafir (yang) berjalan kepada Allah سبحا نهوتعلى, berjalan ke negeri akhirat, kalau ini disadaribahwa kita adalah seorang musafir, maka seorang musafir yang berjalan ke negeri akhirat. ,Kata Ibnul Qoyyim رحمه الله تعلى : dia perlu kepada dua kekuatan,dia perlu kapada.? Dua kekuatan.
Kekuatan yang pertama adalah kekuatan ilmiah, dan kekuatan yang kedua adalah kekuatan amaliah.

Seorang yang berjalan ke negeri akhirat dia harus tau jalan mana yang dia tempuh ke negeri akhirat, maka dia harus punya kekuatan ilmu agama yang mengantarnya kepada jalan islam,jalan yang lurus, dan ia harus punya dari kekuatan ilmu yang menerangi jalan itu supaya jalannya sangat jelas baginya, dan ia harus mempunyai dari kekuatan ilmu yang membuat dia kokoh di jalan, tidak melenceng dari jalan,tidak ke kanan tidak pula ke kiri sebab jalan kebaikan itu hanyalah satu, jalan yang mengantar ke negeri akhirat hanyalah satu tapi di samping kanan dan kiri jalan tersebut ada jalan-jalan syaithan yang ingin mengajak manusia kepada kesesatan.
Maka seorang pun harus memiliki kekuatan ilmu yang bisa menerangi jalan baginya, maka semakin kuat ilmu ini semakin ada kekuatan ilmiah maka jalan itu akan semakin terang baginya, dia akan semakin melihat rambu-rambu di atas jalan, dia akan melihat rintangan-rintangan kalau memang ada rintangan di jalan tersebut, maka ini dari kekuatan ilmiah yang harus disiapkan bagi seorang hamba, dia selalu memperdalam ilmu agamanya.
Kemudia yang kedua, kekuatan yang diperlukan bagi orang yang berjalan (musafir) ke Negeri akhirat dia perlu kekuatan amaliah, dia sudah melihat jalan di depannya tapi kalau dia tidak punya kekuatan untuk melangkah untuk berjalan maka itu sama saja, dia tidak akan sampai ke Negeri akhirat.
Maka harus ada dari kekuatan amaliah yang membuat dia bersemangat melalui jalan tersebut, untuk menempuh jalan tersebut hingga ia bisa samapai ke Negeri akhirat dengan selamat.
Maka ini dua kekuatan sangat diperlukan bagi orang yang berjalan ke negeri akhirat, karena itu perhatikan dari bahasa hadits : “seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah”, harus ada kekuatan memang, kekuatan dari sisi ilmiah dan kekuatan dari sisi amaliah dan semua kekuatan ini didapatkan dengan apa.? Nabi memberikan wejangan احرصعلى ما ينفعك  (Bersemangatlah engkau meraih apa yang bermanfaat bagimu). Dan ini kaidah didalam kehidupan seorang selalu mencari apa yang bermanfaat, apa yang membawa kebaikan untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk masyarakatnya, untuk agamanya,itu yang dia cari.
Dia penuh dengan semangat, penuh dengan semangat, lalu cita-citanya tergantung di langit sebagaimana kata seorang penyair :  كن رجلا رجله فى الثرى وهامة همته فى الثريا (Jadilahkamu seorang lelaki (yang) kakinya menapak di bumi tapi cita-citanya,semangatnya tergantung di langit), di bintang tsurayyasana.
Demikian harusnya seorang mukmin dan mukminah, harus ada semangat yang kuat, harus ada semangat.? Yang kuat. 
Aapalagi di dalam mempelajari agama, di dalam menuntut ilmu agama harus ada semangat untuk mendapatkan ilmu agama, seorang harus mencurahkan dan memberikan waktunya,sebab ilmu itu kalau kita beri seluruh waktu kita dia hanya memberi untuk kita sebagian saja, itu kalau diberi seluruh waktu kita dapat sebagian, bagaimana pula kalau tidak pernah diberi waktu, apa yang akan dia dapatkan. 

Dan ilmu perlu semangat di dalam mempelajarinya, harus ada kesabaran di dalam mendapatkannya, dan kadang kita di dunia ini, subhanallah…untuk urusan dunia kadang seorang belajar kuliah empat tahun ada yang delapan tahun, untuk.? Keilmuan diurusan dunianya,kalau diperlukan dia harus menghadiri seminar satu bulan, tiga bulan, kadang dia harus keluarkan biaya yang banyak dalam hal tersebut tapi kadang kita kurang jujur untuk keagamaan kita padahal kita punya kewajiban-kewajiban dari mempelajari ilmu agama sangat banyak dan wajib mengetahui bagaimana cara berwudhu misalnya, bagaimana cara sholat yang benar misalnya, dan kita tidak pernah ada kesadaran, misalnya berfikir saya satu pekan ini saya mau libur khusus ingin pergi belajar private bagaimana cara saya sholat (dan) dia siapkan waktu untuk itu, jarang ada yang berfikir seperti itu dan ini termasuk kemunduran yang berada ditengah ummat, jangankan ditengah ummat secara umum, ditengah orang yang punya kesadaran untuk mempelajari agama saja kadang hal ini jarang difikirkan padahal kita punya kewajiban-kewajiban.

Ada yang lebih besardari pada itu yaitu kewajiban seseorang mempelajari tauhid, kewajiban seseorang mempelajari tauhid.? Dimana dia memurnikan ibadahnya kepada Allah, diapunya kewajiban disini yang harus dia tunaikan.

Di alam kubur diaditanya dengan tiga pertanyaan yang (mana) pertanyaan ini tidak mungkin diajawab kecuali dia pelajari, dia meyakininya, adapun sekedar ikut-ikutan (maka)tiga hal ini tidak memberi manfaat baginya.
Akan ditanya dia dialam kubur, Man Rabbuka.? Siapa Rabbmu.?, Man Nabiyyuka.? Siapa Nabimu.? Madiinuka.? Apa Agamamu.? Ini tiga pertanyaan, mungkin dari kecil orang sudah menghafal jawabannya tapi subhanallah ada orang yang ditanya di (alam) kubur, Man Rabbuka.? Dia berkata apa.?هاهالاأدرى. سمعت الناس يقولون شيأ فقلته  (hahasaya tidak tau, saya hanya mendengar manusia mengucapkan seperti itu saya jugaikut mengucapkannya),
perhatikan.!!! Tidak bermanfaat apa yang dia dengar  itu, dialam kubur bahkan dia anggap dirinya tak tau karna dia hanya dengar saja tidak mempelajarinya, tidak meyakininya, maka tidak member mamfaat baginya, tidak memberi mamfaat.? Baginya.
Karena itu ada dariilmu yang wajib kita pelajari dan ini harus seorang memiliki kesadaran,bagaimana dia bisa mengangkat kewajiban dari dirinya.
Ilmu itu ada yangbersifat wajib `ain,wajib `ain atas setiap manusia mempelajari , Berdosa lkalaudia tidak mempelajari.
Ada ilmu yang sifatnya wajib Kifayah, kalau sebagaian dari ummat mempelajari (maka) gugur kewajiban atas yang lain, dan ada ilmu yang sifatnya sunnah (yakni) hal yang disunnahkan.
Yang sunnah dari ilmu agama ini, itu lebih afdhol dari seluruh ibadah sunnah lainnya, lebih afdhal dari pada jihad, lebih afdhal dari pada sholat malam, lebih afdhal daripada sholat rawatib ini ilmu agama karena pengetahuan seorang hamba itu sangat mendukung  besarnya pahala didalam amalan yang dia lakukan, besanya pahala .? di dalam amalan yang dia lakukan.
Karena itu harus ada semangat bagi seorang hamba, ini wejangan dari Nabi :احرص على ما ينفعك  (Bersemangatlah engkau meraih yang bermamfaat bagim)  واستعنباالله (Dan mohonlah pertolonan dari Allah), ini wasiat yang kedua, kita diperintah untuk memohon pertolongan kepada Allah selalu memohon.? Pertolongan kepada Allah, Banyak berdoa (dan) melakukan amalan2 yang dengannya datang pertolongan itu.
Manusia, dia (hanya)berusaha, berupaya, tapi yang menentukan adalah Allah dan ini adalah hal yang harus disadari.
Nabi Syu`aib عليه السلام berkata : ان أريد الا الأصلاح ما استطعت وما تو فيقي الا باالله عليهتوكلت واليه أنيب  kata Nabi Syu`aib :(aku hanya ingin mengadakan perbaikan, sasuai dengan kemampuanku, namun tidak ada taufiq bagiku kecuali hanya kepada Allah, kepadanyalah aku bertawakkal dan kepadanya aku kembali). Ini perhatikan ...! bagaimana ia menyerahkan perkaranya kepada Allah  سبحا نه وتعلىMaka perlu seseorang memohon pertolongan kepada Allah didalam kehidupan ini banyak dia berdoa.
Dan ada amalan2 yang menjadi sebab datangnya pertolongan ,seperti Allah berfirman:  واستعينوابا الصبر و الصلاة (Ambillah pertolongan dengan bersabar dan dengan sholat), karena kesabaran dan sholat ini adalh hal yang menyebabkan seorang hamba ditolong dan dibantu olehAllah  ini wasiat nabi yang kedua.
Kemudian yang terakhir nabi berkata  : ولا تعجز ن   (dan jangan kamu merasa lemah).
Sebab seseorang kalausudah merasa lemah dari awal dia melangkah, maka pasti dia akan sulit untuk melanjutkan perjalananya, ibarat orang yang berjalan, didepannya ada sebuah jalan dia menganggap bahwa jalannya sangat jauh sekali dan dia menganggap bahwa dirinya tidak mampu untuk melewati jalan ini, maka ia sudh kalah dari awal dia melangkah, maka pasti ia sulit untuk melanjutkan perjalanannya, ibarat orangyang berjalan,di depannya ada sebuah jalan dia menganggap bahwa jalannya sangat jauh sekali dan menganggap bahwa dirinya tidak manpu untuk melewati jalan ini, maka ini sdh kalah dari awal berjalannya, sudah kalah.? dari awal berjalan. 

Karna itu tidak boleh seorang itu merasa lemah, dia memohon pertolongan kepada  Allah dan selalu dia gambarkan pada dirinya (bahwa) ia mampu untuk melakukannya, dia bisa untuk melakukannyaitu, itu sifat seorang muslim dan inilah yang dilakukan oleh nabi dan parasahabatnya di dalam banyak hal yang dengannya mereka di tinggikan dan di muliakan oleh Allah.
       
Disebutkan di kisah Al– Imam Al-Kisa’i رحمه الله تعلى, Al-Kisa’i ini adalah seorang ulama ahli Qiro’ah  dan pakar bahasa, sangat terkenal imamul Kisa’I ini, awal kali beliau belajar ilmu bahasa arob beliau merasa bahwa dirinya tidak mampu, tiap kali Belajar, tidak mampu merasa dia gagal, karena dia memiliki kesanggupan (maka)  Allah  memperlihatkan kepada sebuah hikmah yang menyebabkan semangat beliau kembali membara, dalam keadaan beliau putus asa beliau melihat seekor semut membawa yang berat, beban yang berat, (lalu ) semut ini naik ketempat yang terjal, ya namanya bawa – bawaan yang berat naik ketempat terjal belum sampai keatas sudah jatuh ke bawah, bawaannya mungkin lebih berat  dari semutnya, tapi apakah semut ini langsung pergi dia tinggalkan bawaanya.? tidak, dia ambil lagi bawaanya tersebut dan naik lagi, ( kemudian ) jatuh lagi, terus dia ulangi sampai dia berhasil lewat ke atas, (maka) kata Al- Imamul Kisa’i semut saja tidak pernah putus asa seperti ini dan dia berhasil kenapa saya tidak bisa,maka beliau pun terus belajar dan belajar sampai Allah membukakan untuk beliau kebaikan tersebut.
Dan di sebutkan oleh Al-Khatib Al-Baghdady rahimullah Ta’ala sebuah kisah dari seorang as-salaf yang menuntut ilmu, tiap kali dia menuntut ilmu dia merasa bahwa selalu kandas dan terhambat, maka pada saat dia berjalan dia melewati sebuah batu yang menetes padanya tetesan – tetesan air,dia mencermati batu tersebut dimana air itu membekas di batu yang sangat keras itu.
Air sangat halus, lembut ( dan ) batu sangat keras tapi subhanallah air ini terus menetes akhirnya meninggalkan bekas di batu yang keras, maka iapun berkata : “Hatiku ini tidak sekeras batu dan air itu tidak lebih lembut dari ilmu agama, ilmu agama lebih lembut dan lebih baik maka kenapa ilmu itu tidak bisa masuk kehati  saya” maka iapun terus belajar danbelajar dan Allah membukakan untuknya kebaikan.
Maka demikian seorang harus punya semangat, banyak memohon pertolongan kepada Allah dan tidak boleh merasa lemah, tidak boleh merasa.? Lemah.
 Ini tiga pokok yangharus selalu tertanam dalam diri seorang hamba.
3. Kemudian yang ketiga disini yang perlu saya ingatkan untuk kita saling berwasiat dengannya.
Para ulama kita menyebutkan bahwa salah satu dari alat seorang yang menuntut ilmu dia harus punya keikhlasan dan harus punya kejujuran, ini dua hal, ikhlas dan jujur, ikhlas dalam menuntut ilmu, (dan) ikhlas dalam menyampaikannya, ini sangat penting sekali karena keikhlasan seorang hamba,Allah akan membukakan untuknya berbagai kebaikan, berbagai.? Kebaikan.
Dan ikhlas ini manfaatnya sangat besar sekali dalam menunut ilmu maupun selainnya, Di dalam musnad imam ahmad ada kisah yang sangat panjang sekali tentang keislaman salman al-Faarisi رضي الله عنه kisah yang penuh dengan hikmah dan pelajaran, yang salman al-faarisi  dari agamanya di faris kemudian berpindah ke agama nashrani, dia berguru kepada seorangpendeta kemudian pindah lagi berguru kepada pendeta lainnya, setelah itu dia berwasiat (dan) dia diarahkan lagi kepada pendeta lainnya, ketika pendetanya meninggal, terus diarahkan kepada pendeta lainnya, hingga suatu saatpendeta yang dia dapati dianggap adalah pendeta yang baik karena yang sebelumnya dia lihat hal-hal yang dari (perbuatannya) mengumpulkan harta manusia dan seterusnya, maka pendeta yang terakhir berkata : dalam waktu dekatini, dari ilmu yang dia ketahui dari Al-Kitab akan muncul seorang nabi dan dia akan muncul dari arah kota madinah disebutkan nama Yatsrib, banyak di sana pohon korma, maka salman pun berangkat kesana, beliau berangkat .? kesana, ( dan) terjadi suatu dan lain hal akhirnya beliau diperbudak oleh orang, tapi perhatikan..!! jauhnya perjalanan sedemikian rupa namun karena ada keikhlasan untuk mencari yang haq, Allah memberikan petunjuk kepada jalan yang benar, maka keikhlasan itu sangat penting bagi seorang hamba di dalam segala perkara dan keikhlasan ini yang akan memalingkannya dari segala bahaya, memalingkannya.? dari segala bahaya.
Nabi Yusuf عليه السلام, beliau di hindarkan oleh Allah dari kejelekan, dihindarkan oleh Allah.? Dari kejelekan, padahal panggilan berbuat maksiat itu kuat bagi nabi Yusuf, bayangkan beliau di ajak untuk berbuat zina, diajak, bukan beliau yang mengajak, (beliau) di ajak, segala kemungkinan sudah dihamparkan di depannya, pintu telah ditutup hanya mereka yang berdua saja, kemudian yang ketiga nabi Yusuf bukan penduduk negeri itu, kalau mungkin dia penduduk negeri, ada sanak keluarganya mungkin dia malu – malu tapi ini tidak, dia bukan penduduk negeri itutidak ada sanak familinya di negeri itu, kalau dia ingin berbuat tidak malu kepada siapa pun, panggilan maksiat sangat kuat tapi Allahسبحا نهوتعلى memalingkan beliau dari kejelekan itu karena apa? Disebutkan di dalam ayat al qur’an :  انه من عبا د ناالمخلصين (sesunggungnya ( NabiYusuf ini) dari hamba-hamba kami yang selalu di jaga diatas keikhlasan).
Karena keikhlasan, (beliau) dipalingkan dari apa.? Dari kejelekan, kekejian,maka keikhlasan ini penting bagi seorang hamba dan ini akan membuatnya istiqomah di atas jalan yang lurus, membuat dia istiqomah di atas jalan agama, sebabkadang seseorang pada hari ini mungkin dia duduk di majelis ilmu, hatinya sangat lapang dan bergembira mendengarkan ilmu agama, bersemangat, tapi di keesokan harinya sebagian orang dilihat sudah menyimpang ke kanan dan kekiri,semangat hilang, ini kadang keikhlasan punya pengaruh di dalam hal ini, karena itulah hendaknya seseorang selalu menjaga keikhlasannya.
Kemudian di harus menjaga kejujuran ( Ash-Shidiq) dan Ash – Shidiq ini dalam bahasa arob di sebut kejujuran dan bisa bermakna kesungguhan dia adalah sifat yang sangat dipuji, Sifat yang selalu membawa kebaikan bagi seorang hamba, Allah  berfirman :  ولوصد قوا الله لكان خيرا لهم  (andaikata mereka semua itu jujur kepada allah, maka sungguh itu yang terbaik untuk mereka). Sungguh itu yang terbaik untuk mereka kalau mereka jujur, jadi di sebutkan itu yang tebaik, jadi kalau ada kebaikan ( maka ) tidak ada yang lebih baik daripada kejujuran ini, tidak ada yang lebih baik..? dari pada kejujuran, dia adalah hal yang terbaik bagi seseorang hamba.
Karena itulah kejujuran ini, ini sangat bermanfaat, menjadi sebab pengampunan dan sebab seorang mendapatkan pahala yang besar, Allah menyebutkan sekelompok dari kaum muslim dan muslimah yang beramal, salah satunya Allah terangkan  والصادقين والصاد قا ت  (laki-laki dan perempuan yang jujur) dan diakhir ayat Allah Berfimran :   أعدالله لهممغفرة وأجرا عظيما (Allah siapkan untuk mereka pengampunan dan pahala yang sangat besar), ini ayat di surah Al-ahzab dan surah Al-ahzab ini di singgung kejujuran dan kesungguhan para shahabat, bagaimana kesungguhan mereka membela agama, bagaimana kesungguhan mereka dalam memperjuangkan agama, bagaimana kesungguhan meraka di dalammenjalankan perintah-perintah Allah hingga Allah memuji mereka.
Didalam surah Al-Ahzab ini pula Allah berfirman : من المؤمنين رجال صد قوا ماعا هد وا الله عليهم  (Dari kaum mukminin ada sekelompok lelaki, mereka jujur bersama Allah dalam janji yang mereka ambil) ada kejujuran, ada Shiddiq, jujur bersama Allah dalam janji yang mereka ambil  فمنهم من قضى نهبهومنهم من ينتظر وما بد لوا تبد يلا (diantara mereka ada yang sudah menunaikan kewajibannya, sudah meninggal dalam keadaan jujur dalam menjalankan janji yang dia ucapkan kepada Allah dan diantaramereka ada yang masih hidup menunggu, tapi mereka tidak pernah mengganti sama sekali).
Ini ash-shiddiq, kejujuran, kesungguhan, dan ini jalan membawa kepada surga. Karena itu nabi   صلى الله عليه وسلمbersabda :   عليكمباالصد ق فأن الصد ق يهدى ألى البر وأن البر يهدى الى الجنة ولا يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق يكتب عندالله صد يقا  : (hendaklah kalian itu selalu berlaku shiddiq (jujur) karena kejujuranitu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa kepada surga danterus-menerus seorang itu jujur dan dia memiliki kejujuran hingga Allah menulisnya, mencatat dia sebagai orang yang shiddiq disisinya(.
Perhatikan…! Di beri derajat shididq, dan ini derajat yang sangat tinggi bagi seorang hamba, Allah ketika menyebutkan mereka yang diberi nikmat maka disebutkan para nabi kemudian ash-shidiq setelahnya   ألئك الذين أنعم الله عليهم من النبين والصديقين (mereka itulah orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka dari para nabi, para shiddiq /orang– orang yan jujur), maka disebut dengan derajat shiddiq, kejujuran, dan ini harus ada di dalam semangat seorang muslim, ada kejujuran dalam beramal, ada kesungguhan di dalam dia mendekatkan dirinya kepada Allah dan kejujuran ini,apabila selalu menghiasi diri maka Allah akan memperlihatkan kebaikan untuknya di dunia maupun di akhirat.
Di hari kiamat yang bermanfaat adalah orang-orang jujur  يوم ينفع الصا د قين صدقهم  (hari tatkala orang-orang yang jujur itu, kejujuran mereka bermanfaat bagi mereka).

Disebutkan di dalam biografi  Al – Imam Abu Zur’ah Ar-razi,  nama beliau adalah ubaidullah bin abdilkarim, ini seorang imam besar dari negeri ray, abu zur’ah ar-razi, pada saat beliau sekaratul maut, dalam keadaan sekaratul maut beliau di kunjungi oleh sekelompok dari ahli hadits kawan-kawan beliau, rekan-rekan beliau.
Dikunjungi oleh muammad bin muslim bin warah, abu hatim ar-razi, mundzir bin syadzan dan selainnya.
 
Muhammad bin muslim bin warah ini lebih tua dari abu zur’ah dan lebih senior, maka melihat abu zur’ahar-razi dalam sekaratul maut, mereka pun bekata : ayo kita talqin abu zur’ahar-razi untuk mengucapkan laa ilaha illallah, sebab hak seorang muslim yang sakaratul maut ditalqin mengucapkan apa.? Laa ilaaha illallah. 
Namun mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan akhirnya malu melakukunnya, sebab ini orang yangdia akan talqin adalah seorang imam besar, panutan ditengah manusia, orang yanghidupnya dan umurnya penuh dengan kejujuran menyampaikan ilmu, beramal dengan ilmu, maka mereka malu untuk mentalqin abu zur’ah dengan mengatakan abu zur’ah ucapakan laa ilaha illallah.
Akhirnya muhammad binmuslim bin warah berkata, kalau begitu kita ingatkan saja dengan haditsnya, maka mulailah muhammad bin muslim berkata, haddatsana abu ‘ashim an-nabil, ‘an abdul hamird bin ja’far, ‘an shalih, sampai di situ dia tidak bisa melanjutkan haditsnya, hanya mengingatkan saja, setelah itu abu hatim ar-razi juga membawakan sanadnya, ia berkata : haddatsana muhammad bin basysyar, qola haddatsana abu ashim, ‘an abdil hamid bin ja’far, ‘anshalih juga sampia distu, al mundzir bin syadzan juga membawakan sanadnya, makaabu zur’ah ar-razi dalam keadaaan sakaratul maut beliau paham bahwa kawan-kawannya ini ingin mentalqinnya tentang hadits apa.? Hadits talqin. Maka dalam keadaan sakaratul maut abu zar’ah ar-razi rahimumahullah ta’ala membawakan sandanya, dia berkata haddatsana muhammad bin basysyiar, qola haddatsana abdul hamid binja’far , ‘an shalih bin abi arib, ‘an katsir bin murrah, ‘an muadz ibn jabal (darimuadz bin jabal) anna Rasullullah qola (sesungguhnya Rasulullah bersbda) :  من كن آخر كلا م لااله الاالله دخل الجنة  (siapa yang akhir ucapannya laa ilala illallah diamasuk surga),  setelah mengucapkan hadits ini langsung beliau meninggal keluar ruhnya, berarti akhir ucapan beliau adalah apa.? adalah laa ilaaha illallah, dengan membacakan hadits.
Perhartikan…!!!Kejujuran beliau di semasa hidunya hanya menyampaikan ilmu dan haditsnya, itu pula yang menutup kebaikan untuknya dan di dalam sebagian riwayat beliau membacakan haditsnya  من كن آخر كلا م لاالهالاالله , sampai kalimat itu setelah itu beliau meninggal, jadi akhir ucapan beliau adalah apa.? Laa ilaaha illallah, ini kejujuran pada seorang hamba dan selalu membawa kebaikan untuknya, mewarnai kehidupannya. 
Disebutkan oleh ibnu katsir  dalam al bidayah wannihayah tentang kisah wafatnya Syaikhul islam ibnu Taimiyah di dalam penjara, salah seorangyang mengisahkan berkata bahwa kami mengkhatamkan al qur’an sudah 80 kali, bayangkan.! dalam penjara mengkhatamkan al-qur’an sudah berapa kali.? 80 kali.
Dikhatam yang 81, syaikhul islam ibnu taimiyah membaca ayat di surah al-qomar, sudah berada di akhir surah: ان المتقين فى جنت ونهر فى مقعد صد ق عند مليك مقتد ر     (sesunggnya orang-orang yang beriman berada di surga dan di sungai-sungai yang mengalir, dikedudukan orang yang shiddiq, orang yang jujur, disisi Allah yang maha berkuasa lagi maha mampu), kemudian beliau meninggal.
Perhatikan.!!! ini pujian untuk orang yang selalu jujur ayat ini dan beliau meninggal di akhir dari membaca ayat tersebut, maka kejujuran ikhawanifillah itu sangat penting, kesungguhan bagi seorang hamba di dalam menunut ilmu, didalam berdakwah di jalan Allah, kesungguhan di dalam membina rumah tangga,kesungguhan di dalam ia mendidik anak-anaknya, kesungguhan di dalam iamenegakkan agama.
Harus ada kejujuran bagi seorang hamba dan itu adalah  sifat bagi orang yang berimanيا ايها الذين آمنوا اتقو الله وكونوا مع الصا د قين    (wahai orang-orang yang beriman bertakwaqlah kalian kepada Allah dan tergolonglah kalian kepada orang-orang yang shiddiq) orang-orang yang jujur, orang-orang yang penuh dengan kesungguhan.

4.  Kemudian dari hal yang perlu saya ingatkan disini dari wasiat yang hendaknya kita saling berwasiat dengannya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim, dan disini beliau ucapkan kepada ‘Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata :  عليكمبا الر فق فأن الر فق لا يكون فى شيء ألا زانه ولا ينزع عن شيء ألا شانه   (hendaknya kalian itu berlemah lembut, hendaknya engkau berlemah lembut karena lemah lembut itu tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali pasti akan menghiasi sesuatu itu dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperjelek sesuatu itu). 
Maka berlemah lembut ini, ini adalah sifat yang sangat indah, akhlak yang sangat mulia, akhlak yang sangat mulia, dan ini adalah sifat nabi kita Nabi Muhammad, Allah berfirman : فبمارحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القب لانفضوا من حولك  (karena rahmat dari Allah engkau (wahai nabi muhammad) berlemah lembut kepada mereka, (kepada manusia, kepada sahabat) andaikata engkau itu kasar dan keras hati pasti mereka akan lari meninggalkanmu), maka lemah lembut ini diperlukan oleh seorang muslim.
Dia berlemah lembut pada dirinya, dengan Saudaranya, keluarganya, anak-anaknya, masyarakatnya, diperlukan ar-rifq lemah lembut, ini adalah hal yang membawa kebaikan, sebab ar-rifq itusemua adalah kebaikan, semuanya membawa.? Kebaikan, Dan inilah yang menyebabkan islam dibawa oleh nabi diterima oleh manusia sedemikian rupa karena memang tampak dari keindahan islam tersebut, ada lemah lembut di dalamnya, dan ini penting bagi seorang hamba. 
Di dalam keluarganya dia perlu berlemah lembut, perlu berlemah lembut, berahlak yang baik pada keluarganya. Kadang sebagian orang, subhanallah kalau dengan orang lain dia menjaga akhlaq pembawaan di depan orang, dia banyak bersabar, tapi kalau ditengah keluarganya tidak ahlak itu, seakan-akan berakhlaq dan berbuat baikitu hanya untuk orang lain saja, dan ini keliru, sebab akhlak yang baik itu adalah kebaikan, ketaatan, dimanapun dia lakukan (dan) kepada siapapun dialakukan, apalagi itu kepada keluarganya kepada istrinya dan anak-anaknya.
Demikian pula untuk istri, lemah lembut kepada suaminya dan ia berbuat baik kepada suaminya ituadalah hal yang dituntut, perkara yang sangat baik, perkara.? yang sangat baik,akhlaq yang mulia, karena itu nabi bersabda : البرحسن الخلق   (kebaikan itu adalah akhlaq yang baik). Akhlak yang indah itulah kebaikan.
Kalau seseorang menjaganya, menjaga akhlak yang indah ini, maka di harapkan hal tersebut selalu membuahkan kebaikan untuknya.
5.  Kemudian yang ingin saya ingatkan disini dengan sebuah hadits Rasulullahصلى الله عليه وسلم, haditsnya dari abu musa al-asy’ari, ketika nabi  mengutus abu musa al- alsy’ari dan mu’adz ibnjabal ke yaman, nabi  bersabda kepada keduanya :  يسراولا تعسرا بشرا ولا تنفرا وتطا وعا ولا تختلفا   nabi bersabda, (hendaknya kalian (berdua ) mempermudah, jangan kalian mempersulit, hendaknya kalian ( Berdua )memberi kabar gembira kepada manusia jangan kalian membuat menusia itu lari, dan hendaknya kalian saling pengertian jangan kalian berselisih), inihadits termasuk dasar pokok di dalam membangun kebersamaan, dasar pokok di dalam membangun.? Kebersamaan.
Perhatikan.!!! Nabi berpesan  يسرا ولا تعسرا  :   (permudahlah jangan kalian mempersulit), agama ini mudah alhamdulillah, tuntunan dan syariatnya dimudahkan oleh Allah, dan maksud dari kemudahan agama, segala yang dituntunkan semuanya adalah kemudahan, karena itu nabi bersabda :  ان الدين يسر ولا يشادالدين أحد ألا غلبة  (sesungguhnya agama itumudah  dan tidak seorang pun yang ekstrim dalam beragama kecuali pasti dia akan terkalahkan), ini sifat dari agama kita. 
Jadi ukuran kemudahan adalah siapa yang berjalan diatas tuntunan al-Qur’an dan hadits itulah yang dimudahkan, bukan menganggap kemudahan dengan hawa nafsunya, oh… kayaknya,bagusnya kita gampangan saja yang beginian, kita permudah saja yang beginian, tidak.!!! Tapi seorang kalau berjalan diatas tuntunan al-Qur’an dan hadits itulahkemudahan, itulah..? kemudahan,  لاتعسر   (jangan kalianmempersulit). 
Tidak boleh seorang menggambarkan agama ( islam ) itu kepada manusia penggambaran (bahwa) agama inisangat sulit sekali, berat dipelajari, orang yang ingin komitmen dengan agama seakan-akan syaratnya sangat berat sekali, tidak boleh memgambarkan seperti itu,sebab ini pemgambaran yang keliru terhadap agama Allah karena itunabi berpesan : يسراولا تعسر  (hendaknya kalian(berdua) mempermudah jangan kalian mempersulit) بشراولاتنفرا  (hendaknya kalian (berdua ) memberi kabar gembira jangan kalian membuat orang lari), Ini agama. 
Ada yang ingin bertaubat, ingin kembali kepada agama, beri gembira, arahkan kepada kebaikan, jangan di buat lari dari agama, phobia untuk memperlajari agama, dan ini darisifat yang keliru dan banyak dari ummat islam tidak memperhatikan makna dan keagungan islam dari arah ini, kemudian nabi berpesan :  وتطاوعاولا تختلفا  (hendaknya kalian (berdua ) saling pengertian dan jangan kalian berselisih), dalam sebuah kegiatankebersamaan, harus ada saling pengertian, hendaknya tolong menolong di ataskebaikan dan ketaqwaan, tidak boleh berselisih di dalamnya, sebab perselisihanini adalah pintu kejelekan, hal yang membuat syaithan bergembira, hal yang membuat syithan.? Bergembira.
Karena itulah dari keawajiban seorang muslim dan muslimah dia menjaga sifat yang indah ini yang disebutkan oleh Rasulullah : يسراولاتعسرا  (Beri kabar gembira jangan kalian membuat manusia itu lari), jangan kalian membuatmanusia itu.? Lari.
Dan untuk sampai ke derajat ini, ia menyampaikan agama, memudahkannya kepada manusia, agama yangdia gambarkan adalah perkara yang memgimbirakan, ini semuanya harus  di bangun di atas ilmu syari’at yang kuat, dibangun diatas tuntunan.? ilmu yang baik.
Dan untuk sampai kederajat ini, ia menyampaikan agama, memudahkan kepada manusia, agama yang diagambarkan adalah perkara yang menggembirakan, ini semuanya harus di bangun diatas ilmu syariat yang kuat, di bangun di atas tuntunan.? Ilmu yang baik.
Karena itu kata sebagian ulama : (ilmu itu bagaimana di mudahkan manusia itu menerima agama, adapun mempersulit semua orang mampu), ini mempersulit, siapa yang tidak mampu kalau memepersulit, tapi bagaimana manusia itu mudah memahami agama, itulah ilmu namanya itulah yang di katakan.? Agama, itu yang di namakan agama. Dan hati-hati didalam maslah ini tidak boleh seorang bergampangan kalau ada manusia, ada ummat islam yang lari dia tidak maumempelajari agama di sebabkan karena perbuatan kita maka kita menanggung sebagian dari dosanya sebab kita yang menjadi sebab dia tidak mau belajar, kitamenjadi sebab orang ini tidak mau, apa.? mendapatkan kebaikan karena perbuatan kita yang menggambarkan agama sebagai hal yang berat, mambuat orang lari dan seterusnya, dan ini hal yang hendaknya di ingat dan selalu diperhatikan, selalu..? diperhatikan.
6.  kemudian diantara hal juga yang ingin saya ingatkan di sini dan kita saling berwasiat dengannya, sebuah ayat dalamAl-Qur’anul karim tentang kisah dan sifat dari nabi isa عليه السلام, Allah  سبحا نه وتعلىberfirman : tentang nabi isa,  وجعلنى مباركا أينما كنت  nabi isa berkata :(dan aku dijadikan oleh Allah berberkah dimana pun aku berada). Perhatikan ..!!berberkah.? Dimanapun dia berada, ini sifat sangat indah, para ulama menafsirkan  ayat ini dengan beberapapenafsiran, ( dan ) salah satu dari fenafsirannya adalah apa yang di sebut dan diringkas oleh ibnul qayyim, bahwa makna dia berberkah dimanapun dia berada, adalah dengan ia menyebarkan ilmu dimana pun dia berada, mengajarkan kebaikan bagi menusia, jadi berberkah dmana pun dia berada, menjadi kunci kebaikan dimana pun dia berada, menutup pintu kejelekan dan ini sifat seorang muslim dan muslimah, dimana pun dia berada, dimana kakinya menapak selalu dia memberikan kebaikan untuk manusia, selalu dia memberikan.? Kebaikan untuk manusia, berberkah untuk manusia, maka sifat inihendaknya kita jaga di dalam diri kita, selalu kita jaga dan kita berusaha untuk berberkah bagi saudara kita yang lain.
Dan nabi telah bersabda: ولايؤمنو أحد كم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه   (tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudarnya apa yang dicintai  untuk dirinya).
 
Dia cinta misalnya dirinya dapat kebaikan, harusnya dia juga cinta kebaikan itu di dapatkan oleh saudaranya,dia cinta misalnya, orang berlemah lembut kepadanya harusnya dia juga cinta dia berlemah lembut kepada saudaranya, maka demikianlah seorang mukmin itu, diamencintai untuk saudaranya kebaikan yang dicintai untuk dirinya, yang dicintai.? Untuk dirinya, maka mendidik diri supaya berberkah dimanapunberada  ini adalah sifat yang sangatindah, hal yang harusnya selalu kita kembangkan di dalam kehidupan kita.
Dimana pun kita bermasyarakat, dimana pun kita hidup selalu membawa kebaikan untuk manusia (dan)menutup pintu kejelekan dan ini sifat (yang) perlu dilatih diri-diri ini berada diatasnya, harus selalu kita berusaha untuk mengembangkannya, melatih akhlaq kita untuk berberkah kepada manusia dimanapun kita berada.
7.  Kemudian dari hal yang ingin saya ingatkan disini adalah firman Allahسبحا نه وتعلى , Allah berfirman :  يا أيهاالذين آمنوا قواأنفسكم وأهليكم نارا  (wahai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan jagalah keluarga-keluarga kalian dari api neraka), ini seruan Allah سبحا نه وتعلىkepada orang-orang beriman, kepada orang yang beriman supaya mereka menjagadiri-diri mereka dan menjaga keluarga mereka dari api neraka, menjaga diri dan keluarga dari.? Api neraka.
Bagaimana dia menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka? Inilah dari ma’na ayat yang hendaknya kita renungi, ia menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka.? Adalah dia melaksanakan segala ketaatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah danmenghindarkan dirinya dari segala kemaksiatan yang bisa menghantarkan kepadaapi neraka, maka pertama dia benahi dirinya, didahulukan diri yang harus dijaga, dan dia perbaiki dirinya.
Sebab kadang sebagian kepala rumah tangga, subhanallah... dia hanya ingin keluarga dan anak-anaknya baik, istri dan anak-anaknya baik dan dia sendiri tidak ada usaha memperbaiki diri, ia kadang menuntut istri dan anak-anaknya berakhlaq yang baik, kepadanya tapi dia sendiri tidak pernah mendidik dirinyauntuk berakhlaq yang baik untuk istri dan anak-anaknya, maka ini adalah hal yang keliru yang hendaknya diperbaiki, sebab kepala rumah tangga dia adalah yang bertanggung jawab terhadap siapa yang dia pimpin. 
Dan nabi telah mengingatkan di dalam hadits ibnu umar yang diriwayatkan oleh imamul bukhari dan imam muslim, beliau bersabda :  كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته (setiap dari kalianadalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban akan kemimpinannya). 
Seorang kepala negara adalah seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban akan kepemimpinanannya, seorang kepala rumah tangga akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya, seorang istri di tengah keluarganya, di tengah anak-anaknya akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya, seorang budak pada harta tuannya akan dimintai pertanggung jawaban akan hal tersebut. Kemudian nabi kembali menegaskan : ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عيته  (Ingatlah bahwa setiapdari kalian itu adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya).
Dan di dalam hadits ma’kil bin yasar yang diriwayatkan oleh imamul bukhari dan imam muslim, Rasulullah bersabda :  ما من عبد يسترعيةالله رعية ثم لم يحط بنصحهاألا حرم الله عليه الجنة  (tidak ada seorang hamba yang Allah berikan kepadanya tanggungjawab, (diberi tanggungjawab) lalu dia tidak beres dalam menjalankan tanggungjawabnya kecuali Allah haromkan untuknya surga).
Ini ancaman yang sangat keras bagi mereka yang Allah berikan nikmat keluarga lalu tidak menjaganya.
Dan menjaga diri dan keluarga ini dari api neraka yang paling utamanya dengan membekali diri dan keluarga dengan ilmu agama, ini yang paling utama sebab ilmu agama (adalah) sumber kebaikan, itu adalah dasar keimanan, keimanan tidak mungkin ada tanpa ilmu, dan dengan ilmu agama, seorang bisa melihat apa yang terbaik untuk diri dan keluarganya, Ia pandai melihat kebaikan untuk masa depannya apabila terjadi masalah ditengah mereka, maka ilmu agama adalah penyelesaiannya hal yang membawa kebaiakan dan penyelesaian untuknya.
Karena itulah tidak sepantasnya bagi seorang muslim dan muslimah untuk berpaling dari hal seperti ini,maka harus ada sikap menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Dan ayat ini, terdapat di dalamnya peringatan tentang kewajiban kita semua untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, dan Rasulullah pernah mengingatkan dalam sebuah hadist, kata beliau : لايد خلالجنة د يوث (tidak akan masuk surgaseorang yang dayyust), apa dayyust itu.? Kata beliau : adalah orangyang membiarkan kemungkaran ditengah keluarganya, yang membiarkan kemungkaran ditengah.? Keluarganya.
Maka ini pokok dandasar bagi kaum muslimin di dalam membangun rumah tangga.
Harus di ketahui bahwa rumah tangga itu, keluarga itu, adanya pernikahan itu, punya maksud yang mulia di dalam syari’at kita bukan hanya menumpahkan syahwat, bukan hanya sekedar punya anak dan keturunan tapi ada makna pokok yang hendak dipahami, bahwa seorang yang berumah tangga dengan rumah tangga yang dia bina untuk (dapat) lebih mendekatkan dirinya kepada Allah, agar supaya rumah tangganya bisa menjadi lahan ibadah yang lebih luas lagi baginya, manjadi lahan ibadah.? yang lebih luas baginya.
Karena itu nabi صلى الله عليه وسلم  pernah di tanya oleh seorang shahabat yang bernama uqbah bin ‘amir al-juhaniرضي الله عنه , uqbah bin amir bertanya :  يا رسول الله ما النجاح .؟  (wahai rasulullah apakah jalan keselamatan itu), apakah jalan.? Keselamatan itu, maka nabi صلى اللهعليه وسلم  bersabda : أمسكعليك لسا نك وليسعك بيتك وا بك على خطيأ تك  kata nabi : (jagalah lisanmu), di suruh menjaga lisan yang pertama, ini penting, penting.? Lisannya dia jaga kepada orang umum, kepada keluarganya, kepada orang tuanya dan selainnya, dia menjaga lisan, kemudian yang kedua وليسعكبيتك  (dan hendaknya rumahmuitu menjadi lapang bagimu), rumah menjadi lapang.?bagimu, ini jalan keselamatan, kalau rumahnya bisa menjadi hal yang lapang baginya, indah baginya.
Sebab banyak nilai-nilai ibadah yang bisa dia tegakkan di rumah, dari berakhlak yang mulia kepada keluarga, mendidik anak dan istri, ini semunya adalah  lahan-lahan ibadah ( yang ) luas, karena itudari jalan keselamatan kata nabi, hendaknya rumahmu menjadi lapang bagimu,menjadi lapang.? bagimu.
Kemudian kata beliau :  وا بك على خطيأ تك dan dari jalan keselamatan (tangisilah keselahanmu) selalu.? Menangisi kesalahan, karena setiap manusia punya.? Pasti ada dosa dan kesalahan, maka hendaknyaia selalu menangisi .? dosa dan kesalahanya tersebut, maka ini dari pokok dasar syari’at kita yang hendaknya selalu kita perhatikan dan kita cermati, maka semua dari kita punya kewajiban, semua dari kita punya tanggung jawab, dan ini penting untuk diperhatikan kewajiban dan tanggungjawab.
Yang paling penting bagi seorang hamba, bagaimana kewajiban dan tanggungjawabnya itu yang dia tunaikan, sebab itu yang akan di tanyakan pada hari kiamat, adapun kalau dia memiliki hak, maka haknya itu boleh dia tuntut, tapi dia tidak harus mengambilhaknya, tidak harus dia mengambil.? haknya, tapi yang paling penting adalah kewajiban dan tanggngjawabnya dia tunaikan, kewajiban dan tanggung jawabnya.? Dia tunaikan, ini sebenarnya pokok masalah apalagi dalam rumah tangga.
Suami kadang hanya berfikir dia punya hak terhadap istri, kenapa istrinya tidak melayaninya, tidak mengurus rumah tangga dengan baik, tidak mendidik anak-anak dengan baik dan seterusnya,yang dia fikirkan haknya, haknya, haknya, tapi jarang memikirkan tanggungjawabnya,(dan) keawajibannya.
Demikian pula istri,kadang yang di dengar darinya hanya tuntutan, tuntutan, tuntutan, dia sendiri punya kewajiban-kewajiban, (dan) mungkin banyak kekurangan dalam menegakkan kewajibannya.
Karena itu yang paling penting bagi seorang hamba dan ini yang menjaga kelangsungan, kalau mereka.? setiapdari mereka berusaha menunaikan kewajiban masing-masing, adapun masalah hak, kalau dia tidak terima saat ini di dunia, di akhirat nanti dia akan mendaptkan kebaikannya, dia akan mendapatkan.? Kebaikannya, karena itu dari pokok pembahasan yang hendaknya kita perhatikan. 
Demikian beberapa wasiat dan beberapa perkara yang ingin saya ingatkan di majelis ini, semogaAllah سبحا نه وتعلى menjadikan hal tersebut  sebagai hal yang bermanfaat untuk kita semua, menjadi pijakan–pijakan dan pedoman di dalam kehidupan kita, bisa selalu bermakna untuk hari-hari kita dimasa mendatang, dan tentunya apa yang saya sampaikan tadi (berupa) kalimat-kalimat ringkas, dasar–dasar kita uraikan dari ayat al-qur’an dan hadits Rasulullahصلى الله عليه وسلم  hendaknya selalu menjadi titik perhatian.
Kalau ingin di luaskan, apa yang diterangkan tadi itu adalah kaidah-kaidah dasar yang mempunyai makna yang sangat luas, mempunyai makna yang sangat.? Luas, kalau selalu kitacermati dan selalu kita perhatikan insya Allahu Ta’ala pasti akan selalu membawa kebaikan untuk kita semua.
Wallahu ta’ala a’lam.

Catatan Admin : kami telah berusaha mentraskip audio ceramah tersebut di atas ke dalam format tulisan sesuai dengan kemampuan kami, dan berusaha untuk tidak mengurangi atau menambah dari lafadz aslinya, namun apabila ada kesalahan & kekeliruan dalam penulisannya, apakah kurang atau lebih, terlebih lafadz ayat-ayat al-qur'an atau hadits, maka sudilah kiranya pembaca yang budiman untuk menyampaikannya kepada kami melalui kolom komentar yang ada di bawah pada postingan ini, atas perhatiannya kami mengucapkan jazaakumullahu khoiron.


Tuesday, November 29, 2011

Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]
Hadits yang Pertama
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Hadits yang Kedua
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Hadits yang Ketiga
وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.
Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.
Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]
Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:
1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.
2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]
3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]
Wallahu a’lam bish shawab.
(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)
CATATAN KAKI:
[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:
صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)
Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:
“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .
“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”
Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.
لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-
“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))
[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)
[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.
Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,
صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .
“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.
Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)
[4] (lihat no. 3)
[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,
والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.
Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)
Wallaahu a’lam.

Copy dari : http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/

Tuesday, November 22, 2011

Bagaimana Memahami Kebersamaan Allah Dengan Makhluknya

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Dalam memahami ayat-ayat tentang dekatnya Allah dengan makhluk-Nya, seringkali terjadi kesalahan pada kaum muslimin. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya sebagai berikut:
...وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ....الحديد:4
…Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada... (al-Hadiid: 4)

Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhluk-Nya. Diantaranya Allah سبحانه وتعالى berfirman:
...وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ق: 16
… dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Qaaf: 16)

Saturday, November 12, 2011

Jangan Heran

Asy Syeikh Dr. Sholih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah

Segala puji hanya milik Allah, Salawat serta salam atas Rasulullah.

Saya telah membaca perkataan beberapa masyeikh yang dimuat di surat kabar “Al wathan”. Mereka heran dengan perpecahan diantara kaum muslimin, padahal mereka yang berpecah belah tersebut berkata : “Tuhan kami  Adalah Allah”, Nabiku Muhammad, Agamaku Islam.

Saya berkata, tidak perlu heran dengan fenomena seperti itu. Sebab ucapan tidaklah cukup tanpa merealisasikan apa yang ditunjukkan oleh ucapan tersebut. Maka tidak cukup seseorang itu berkata :”Allah Tuhanku”, sampai ia istiqomah diatas kalimat ini dengan menerapkan apa yang ditunjukkan oleh ucapannya, yaitu beribadah kepada Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”.(QS. Al Ahqaf :13)

Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda, ketika Sufyan bin Abdullah Radiyallahu Anhu memintanya untuk diberikan satu perkataan di dalam islam, yang mana hal tersebut tidak akan ia minta kepada selain Nabi, maka beliau (Sallalahu Alaihi Wasallam) berkata kepadanya:
قل آمنت بالله ثم استقم
“ Katakanlah : “Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah”(HR. Ahmad no.14869)

Kalau hanya mengatakan :” Tuhanku ialah Allah” yang bermakna mengakui tauhid rububiyah, itu tidaklah cukup sehingga mengakui tauhid uluhiyah, dengan tidak menyembah(beribadah) kecuali hanya kepada Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kaum musyrikin mengakui tauhid rububiyah, tetapi mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyah-Nya, sebagaimana yang disebutkan Allah didalam Al Qur’anul Karim.

Juga tidak cukup, seseorang berkata :”Muhammad adalah nabiku” tanpa mengikuti Rasulullah, tidak mentaati perintahnya, tidak membenarkan berita dari beliau serta tidak mengikuti syariat yang beliau bawa dalam menyembah kepada Allah. Karena hal-hal tersebut merupakan tahqiq (pembenaran) dari perkataan:”Muhammad adalah nabiku”.

Adapun orang yang  berkata demikian, lalu tidak mentaati beliau pada apa-apa yang diperintahkan tidak menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang, tidak membenarkan berita dari beliau, tidak menjauhkan diri dari berbagai bid’ah serta perkara yang di ada-adakan dalam agama, bahkan melakukan ibadah kepada Allah tanpa ada dasar syariatnya dari Rasul Sallalahu Alaihi Wasallam, maka perkataannya (”Muhammad adalah nabiku”) sama sekali tidak memberi manfaat baginya.

Demikian pula orang yang berkata :”Islam agamaku”, ia harus komitmen (berpegang teguh) dengan seluruh hukum-hukum islam, seperti aqidah, syariat, muamalah, akhlaq dan suluk. Jangan mengatakan islam agamaku lalu mengikuti ajaran yang menyelisihi ajaran islam, akan tetapi ber “islam”lah dengan menempuh metode para pendahulu ummat ini dari kalangan muhajirin dan anshor, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan ini adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” (QS. Al An’am :153)

Inilah yang saya ingin peringatkan disini, Allah berfirman :
إِنْ أُرِيدُ إِلا الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللهِ
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah.”. (QS. Hud :88)

Sumber :http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=716

Copy dari : http://ahlusunnahpalopo.blogspot.com

Wednesday, November 9, 2011

MEMBONGKAR KEDOK IHYA’UT TUROTS DAN JARINGANNYA

Syaikhuna Abu Abdillah Kholid bin Dhohawi Adh-Dhufairi 1)
بسم الله. الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه ومن اتبع هداه, أما بعد:
Diantara pertanyaan yang diajukan oleh saudara-saudara kalian adalah satu hal yang penting yaitu permasalahan yayasan Ihya’ut Turots. Permasalahan ini meresahkan banyak Salafiyyin diberbagai negara. Jangan kalian menduga bahwa masalah ini hanya menimpa negara kalian saja, bahkan kejahatan Ihya’ut Turots sebagai yayasan yang berbahaya telah meluas dan terdapat di mayoritas negara yang tersebar padanya dakwah Salafiyyah. Yayasan ini mempunyai pengaruh di Kuwait dan inilah sumbernya, begitu pula di Yaman, Sudan, Mesir, Bangladesh dan di mayoritas negara yang padanya Salafiyyin tersebar. Sikap terhadap yayasan ini sangatlah jelas dan tidak ada keraguan, karena permasalahan ini adalah permasalahan antara Salafiyyin dan Hizbiyyin. Barang siapa yang melihat dan mempelajari keadaan yayasan ini, memperhatikan kondisi-nya dan meneliti sikap-sikap dan tujuannya, niscaya dia akan mengetahui bahwasannya yayasan ini tidaklah berada diatas jalan kebaikan. Tujuan dari yayasan ini jelek dan manhajnya menyimpang dari jalan yang lurus. Yayasan ini telah banyak menyelisihi prinsip-prinsip yang diyakini Ahlussunnah.
1
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Hal Ketaatan Kepada Pemerintah
Mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam permasalahan ketaatan kepada pemerintah, dan telah kita bahas di dalam kitabul imaroh (kitab Shahih Muslim) bahwasanya ketaatan kepada pemerintah termasuk perkara penting. Maka mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam perkara ini dengan mengadakan pemimpin-pemimpin yang di bai’at untuk mengurus masjid-masjid atau daerah-daerah. Mereka memiliki sistem bai’at dan pemerintahan tersendiri yang mereka namakan tidak sesuai dengan hakikatnya. Seperti mereka namakan dengan tanzhim (pengaturan), ‘ahd, mitsaaq, wafaa’ (ikatan janji) atau yang semisalnya. Ini semua hanyalah menamai sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Padahal sebenarnya semua itu adalah sistem pemerintahan (yang menyelisihi pemerintahan resmi negara, pent). Kami (Syaikh Kholid, pen.) langsung me-nyakikan fenomena ini sehingga tidak perlu seorang pun mendustakan dan mengingkari-nya. Sebagai contoh yang terjadi di tempat kami di Kuwait, sejak dahulu hingga sekarang mereka menjadikan di setiap masjid seorang amir (pemimpin), dan tidaklah boleh seorang pun menyelisihinya. Jika engkau menyelisihi-nya maka engkau dianggap berdosa. Dan sang amir masjid ini memiliki amir diatasnya lagi yaitu amir kota (wilayah), dan amir kota ini yang mengatur dan memerintah para amir masjid tersebut. Sedangkan para amir kota juga mempunyai atasan lagi yaitu amir yayasan. Demikianlah, bahkan walau untuk urusan berkunjung dan bersilaturahmi kepada sanak kerabat pun engkau tidak boleh melakukannya kecuali dengan meminta izin kepada amir tersebut, jika tidak maka engkau dianggap berdosa. Ini semua adalah perkara bid’ah yang tidak pernah dikenal dikalangan generasi shahabat ataupun selain mereka. Pernahkah kalian mendengar bahwa di masjid Quba ada amir-nya? Atau pernahkah kalian mendengar bahwa ada amir di setiap masjid di zaman Abu Bakar Radhiallahu‘anhu? Yang ada adalah kepemimpinan secara umum dan kekhilafahan (yang sah, pen.), serta adanya amir yang ditugaskan pemerintah untuk kota dan daerah. Adapun sistem pemerintahan yang mereka buat ini adalah pemerintahan bid’ah yang tidak sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan hal itu adalah salah satu bentuk pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Telah kami sebutkan ucapan Syaikh Hammad Al-Anshori Rahimahullah ketika aku tanyakan kepada beliau tentang hal ini, maka beliau menjawab: “Hendaknya dibunuh yang terakhir muncul dari keduanya”. Ini termasuk dalam bab yang dianggap beliau sebagai pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Pemerintahan propaganda yang mereka terapkan ini telah ditulis dalam satu buku oleh Muhammad bin Hamud An-Najdi, demikian pula Abdullah bin Sabt telah mengarang satu buku untuk hal ini dan banyak lagi dari mereka yang menulis buku dan berbicara didalam muhadhoroh-muhadhoroh yang terekam, yang semua itu dengan satu tujuan untuk mengokohkan pemerintahan mereka tadi. Ini adalah penyelisihan mereka terhadap pemahaman Ahlussunnah.
2
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Menyikapi Orang Yang Menyimpang
Permasalahan lain yang mereka menyelisihi Ahlussunnah adalah dalam menyikapi orang yang menyimpang. Ahlussunnah memiliki sikap yang jelas terhadap orang yang menyimpang, seperti sikap terhadap hizbiyyin, takfiriyyin, quthbiyyin dan orang-orang yang memerangi Ahlus-sunnah. Sedangkan pada yayasan ini, sikap mereka berbeda dengan sikap para ulama salaf. Mereka mengundang hizbiyyin untuk menyampaikan muhadhoroh, mereka menga-dakan mu’tamar dan seminar-seminar, serta mereka mengundang di daerah kami Abu Ishaq Al-Huwaini dan Muhammad Hassan yang memuji Sayyid Quthub dan mencela para masyaikh Ahlussunnah seperti Syaikh Rabi’ dan semisal beliau. Demikian pula mereka mengundang Muhammad Shofwat Nuruddin,-dan orang ini telah wafat-, ketika dia datang dan menyampaikan muhadhoroh di Kuwait dia berkata, bahwa: “perpecahan ummat dan beragamnya kelompok-kelompok dalam Islam adalah kenyataan yang sehat”. Ini jelas menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perpecahan dan memerintahkan untuk bersatu.
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah setelah datang kepada mereka keterangan”.
Allah melarang dari perpecahan namun orang ini malah berkata perpecahan adalah kenyataan yang sehat. Pemahaman ini diambilnya dari Abdurrahman Abdul Khaliq (dedengkot Ihya’ut Turots, pen.), dan jangan-lah seseorang menduga bahwa kesalahan, kekeliruan dan kejahatan ini hanya terbatas pada Abdurrahman Abdul Khaliq saja. Sungguh, ada beberapa orang lagi yang keluar dari manhaj ini walaupun Abdurrahman adalah sebagai pendahulu mereka dalam kesesatan ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah. Inilah sikap mereka terhadap orang-orang yang menyimpang, bahkan mereka tidak suka membicarakan dan mentahdzir orang-orang yang menyimpang dan para Hizbiyyin, mereka anggap itu adalah perbuatan memecah belah ummat. Inilah sikap yang mereka serukan di daerah kami. Mayoritas kalian yang datang dari Yaman tentu mengenal Al-Mahdi dan Al-Maqtiri serta sikap keduanya terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah dan dakwah Syaikh Muqbil. Sungguh mereka telah datang ke Kuwait berkali-kali dan mengadakan seminar serta muhadhoroh, semua ini adalah bentuk penyimpangan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka mencoba di Yaman dengan membentuk yayasan Al-Hikmah dan menyalurkan bantuan-bantuan padanya serta menerbitkan majalah Al-Furqon. Thoriq Al-Isa setelah kunjungannya ke Yaman dan men-datangi yayasan Al-Hikmah dia kembali ke Kuwait dan membuat tulisan di majalah Al-Furqon dengan memuji yayasan Al-Hikmah dan kesungguhan dakwahnya.
Demikianlah mereka selalu akrab dengan orang-orang yang menyimpang dan selalu memerangi Ahlussunnah. Maka ini adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus-sunnah dalam menyikapi orang-orang yang menyimpang.
3
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Menyikapi Salafiyyin
Termasuk penyelisihan mereka terhadap Ahlussunnah adalah sikap mereka terhadap salafiyyin. Engkau tidak akan mendapati mereka mau menolong salafiyyin dan tidak pula engkau dapati sikap terpuji mereka terhadap ulama Ahlussunnah. Engkau tidak akan dapati mereka mengadakan muhadhoroh dengan masyaikh Ahlussunnah yang dikenal, bahkan mereka berupaya dengan sungguh-sungguh di berbagai daerah untuk memecah belah salafiyyin dengan harta mereka dan inilah kenyataannya. Mereka memecah belah Ahlussunnah setelah sebelum-nya bersatu di bawah bimbingan seorang ‘alim di Bangladesh –telah wafat, Rahimahullah-, mereka datang dan memikat orang–orang yang mencintai harta, inilah metode mereka. Mereka mendatangi sekelompok Ahlussunnah dan melihat siapa yang suka harta sehingga mereka dapat merekrutnya dan memberikan harta kepadanya. Mereka memecah belah Ahlussunnah, mereka datang kesana dan merekrut Asadullah Al-Ghalib dan orang-orang yang bersamanya sehingga berpecahlah salafiyyin menjadi dua kelompok. Di Mesir mereka merusak Anshorus Sunnah, dan saat ini Anshorus Sunnah menjadi politikus-politikus. Mereka membela Abdurrahman Abdul Khaliq dan menyebarkan buku-bukunya serta berpendapat dengan pendapatnya sebagai-mana yang aku nukilkan dari Muhammad Shofwat Nuruddin dan selainnya. Maka mereka menyimpang disebabkan harta dari yayasan ini. Demikian pula di Sudan, Anshorus Sunnah di Sudan telah rusak disebabkan Ihya’ut Turots, hingga mereka menyanjung dan memuji At-Turobi dan mereka mulai masuk kelingkaran politik. Mereka juga berupaya merusak Ahlussunnah di Yaman, tetapi Allah memalingkan tipu daya mereka dan hanya mampu mempengaruhi orang–orang yang terfitnah dengan harta, serta mendirikan yayasan disana sebagaimana yang telah aku sebutkan tadi. Mereka datang kepada Syaikh Muqbil dan menawarkan bantuan, tetapi Syaikh menyadari bahwa mereka mengingin-kan syarat dan ingin mengikat dengan harta bantuan itu sehingga Syaikh menolak dan tidak mau menerima bantuan tersebut. Dan ini adalah perkara yang harus diperingatkan darinya yaitu masalah harta. Mereka sibuk mengumpulkan harta para muhsinin (derma-wan) dan orang-orang yang baik, untuk digunakan memecah belah salafiyyin dengan cara mendatangi sekelompok salafiyyin dan menawarkan harta kepada mereka. Salafus Shalih telah memperingatkan dengan keras tentang hal ini, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Abdullah bin Al-Mubarok Rahimahullah: “Jangan sampai Ahlul Bid’ah memiliki jasa terhadapmu!”.
Terkadang mereka datang menawarkan bantuan dan berkata bantuan ini tanpa syarat. Mereka bangun markas dan masjid untukmu kemudian setelah itu baru engkau menyadari ini adalah masalah harta yang jika engkau memulai proyek pembangunan maka engkau akan membutuhkan harta lainnya hingga engkau pun akan butuh kepada orang yang membantumu di awal pembangunan. Disaat itulah mereka akan mencengkram lehermu hingga engkau tidak mampu melepaskan diri. Mereka tidak akan mau membantumu dan menawarkan harta kepadamu kecuali karena mereka ingin engkau juga membantu mereka. Pernahkah engkau ketahui ada seseorang, dimana Ihya’ut Turots telah membangunkan baginya masjid dan markas, lalu dia mampu berkata bahwa: “kami tidak punya hubungan dengan At-Turots”? Dan apakah dia mampu untuk memperingatkan ummat dari Ihya’ut Turots? Demikian pula (apakah dia mampu, pen.) mengadakan muhadhoroh Syaikh Rabi’, Syaikh Ahmad (bin Yahya An-Najmi, pen.), atau Syaikh Zaid (bin Muhammad Al-Madkhali, pen.)?? Dia tidak akan mampu melakukan itu! Dikarenakan bantuan harta yang diambilnya dari mereka sehingga dia berada dibawah pengaturan mereka dan bertindak sesuai maunya mereka. Mereka merubah orang ini dan memalingkannya serta memisahkannya dari Ahlussunnah. Maka sudah seharusnya para ikhwah sekalian bertekad untuk tidak mengambil bantuan dari mereka. Sungguh, Allah Maha Kaya, di tangan-Nya lah segala kekuasaan. Dan kemuliaan hanya bagi orang-orang yang beriman. Maka janganlah kalian mengambil apapun dari mereka walaupun kalian harus belajar di bawah pohon. Jangan kalian biarkan mereka mempunyai jasa terhadap kalian, karena sebagaimana yang kita katakan tadi bahwa tidaklah mereka mau membantu kecuali dengan syarat-syarat dan untuk tujuan menyesatkan dan memecah belah. Adapun jika mereka mengetahui bahwasanya engkau adalah seorang salafy yang sesungguhnya, dan engkau selalu bersama masyaikh Ahlussunnah, maka mereka tidak akan mau bersamamu dan tidak akan menolongmu. Inilah kenyataan yang terjadi pada yayasan Ihya’ut Turots.
4
Yayasan Ihya’ut Turots
Selalu Menjadi Musuh Salafiyyin
Demikian pula keberadaan mereka yang selalu menjadi lawan salafiyyin di mayoritas tempat, contohnya di Kuwait. Mereka sungguh berbeda dengan kami, bagi mereka kelompok mereka dan bagi kami para ikhwah dan pemuda salafiyyin. Sedikitpun mereka tidak ada hubungan dengan kami bahkan mereka mentahdzir kami dan para masyaikh sunnah. Mereka mentahdzir Syaikh Rabi’ dan senantiasa memuji Abdur-rahman Abdul Khaliq. Adapun ucapan mereka bahwa, “kami telah meninggalkan Abdur-rahman Abdul Khaliq”, ini adalah sebuah lelucon yang nyata! Karena Abdurrahman Abdul Khaliq jelas berada di yayasan Ihya’ut Turots, bahkan mempunyai kedudukan di Lajnah ‘Ilmiyyah Ihya’ut Turots. Terkadang jika engkau menelepon untuk meminta fatwa maka mereka akan mengarahkanmu kepada Abdur-rahman Abdul Khaliq sebagai rasa hormat terhadapnya, dia ada dan tinggal di tengah-tengah mereka. Dan tidak benar kalau mereka berkata bahwa, “kami telah meninggalkannya”. Bahkan ada markas cabang Ihya’ut turots yang menyelenggarakan muhadhorah dan seminar bagi Abdurrahman Abdul Khaliq. Dengan ini jelaslah bahwa omongan mereka, “kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq”, ibarat melemparkan debu ke mata hingga orang tertipu dengannya. Manusia mengetahui kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan mayoritas salafiyyin mengetahui bahwa dia telah menyimpang. Asy-Syaikh Bin Baaz, Asy-Syaikh Al-Fauzan, Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh Al-Faqihi, Asy-Syaikh As-Suhaimi dan Asy-Syaikh Al-Albani telah berbicara tentang Abdurrahman Abdul Khaliq. Mereka tidak mempunyai tipu daya lagi kecuali dengan mengatakan bahwa, “kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”. Padahal dia adalah saudara mereka yang mulia, dan syaikh yang utama dikalangan mereka. Dengan pengakuan ini mereka ingin memalingkan para pemuda, karena mereka tidak akan bisa masuk kepada pemuda salafiyyin kecuali dengan menyebarkan berita dusta bahwa, “kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”.
Maka dengan ini kita harus bersikap tegas untuk tidak berhubungan dengan yayasan ini, demikian pula terhadap orang yang berhubungan dan bekerjasama dengan mereka padahal dia mengetahui keadaan mereka dan mendengar ucapan–ucapan ulama tentang mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka merusak saudara-saudara kita salafiyyin dan menipu mereka dengan yayasan ini.
Sesungguhnya kita -demi Allah- sudah merasa cukup dengan masyaikh Ahlussunnah dan buku-buku Ahlussunnah, dan kita tidak membutuhkan harta yayasan ini. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita rejeki dengan keutamannya dan menjadikan kita berkecukupan dan tidak memerlukan orang-orang yang ingin me-nyesatkan salafiyyin dengan harta mereka.
Adapun jika mereka berdalil dengan fatwa ulama yang mendukung Ihya’ut Turots, maka kita katakan, “Sungguh, kebenaran tidak diambil dari para tokoh, tetapi para tokoh itu yang diukur dengan kebenaran”. Menghukumi suatu masalah dengan melihat kenyataannya. Kami mengenal baik yayasan ini dan kalian pun mengenalinya dan mengenali sikap fanatiknya dan penyim-pangannya dalam melawan sunnah dan salafiyyin. Maka jika ada yang datang kepada kita dan memuji mereka tentu kita tidak akan menerimanya hanya semata-mata rekomen-dasi dan pujian. Sesungguhnya mereka mendatangi orang ‘alim dan menampakkan diri bahwa mereka berada dijalan Ahlussunnah dan menulis manhaj dan aqidah Ahlussunnah. “Yang jadi ibroh bukanlah ucapan dan apa yang tertulis, tetapi yang jadi ibroh adalah perbuatan dan sepak terjang kalian. Inilah sikap kalian terhadap orang yang menyim-pang. Inilah sikap kalian terhadap Ahlus-sunnah, maka inilah yang jadi ibroh. Sedangkan jika kalian berpenampilan bukan dengan penampilan kalian yang sebenarnya, dan kalian mendatangi ulama untuk men-dapatkan rekomendasi dari Ahlussunnah, sungguh jika datang seseorang kepada orang ‘alim dengan pengakuan seperti itu pastilah orang ‘alim itu akan berkata: ‘Jazakallahu khairan, ini adalah manhaj yang baik’ ”, lalu mereka akan mengambil ucapan ini dengan beranggapan bahwa orang ‘alim ini telah memberikan rekomendasi.
Kita memiliki kaidah, dan para ulama salaf juga telah meletakkan kaidah dan diantara kaidah tersebut adalah bahwa “Kebenaran tidak dikenal dari seorang tokoh, tetapi seorang tokoh itu dikenali dengan kebenarannya”. Dan diantara kaidah juga bahwa, “Kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian secara umum”. Maka jika datang seseorang kepada kita dan berkata: “Demi Allah tidaklah aku melihat keburukan mereka sedikitpun dan tidaklah aku ketahui kecuali mereka diatas kebaikan”, -maka kita katakan, pen.- sungguh hujjah bukanlah pada ucapanmu! Tetapi hujjah bagi siapa yang mengetahui hakikat yang sebenarnya, “Orang yang mengetahui lebih didahulukan ucapannya daripada yang tidak mengetahui”. Kemudian -jika kita melihat kenyataan-, sungguh tidak seorang pun dari ahlul bid’ah yang menyimpang, maka akan ada perselisihan tentangnya. Maksudnya bahwa mayoritas mereka (ahlul bid’ah, pen.) yang ada sekarang sungguh masih ada perselisihan tentang mereka. Maka kalaulah menyikapi masalah ini dengan kaidah kalian bahwasanya, “masih ada ulama yang memuji yayasan Ihya’ut Turots sehingga tidak boleh membicarakan keburukannya”, maka kalau begitu disana juga ada ulama yang memuji Sayyid Quthb, bagaimana menurut kalian? Ada juga ulama yang memuji Abdurrahman Abdul Khaliq, apa berarti tidak boleh membicarakan-nya? Maka kalau Turotsi (orang-orang yang ikut atau membela Ihya’ut Turots, pen.) ini berkata, “tidak boleh membicarakan kejelekan Ihya’ut Turots karena ada ulama yang merekomendasinya”, niscaya akan datang kepadanya seorang sururi dan menghujatnya dengan berkata: “kalau begitu tidak boleh pula membicarakan kejelekan syaikh Salman Al-Audah dan Safar Hawali karena ada ulama yang merekomendasinya”-dia membawakan rekomendasi tertulis dari sebagian ulama-. Maka bagaimana menjawab alasan ini? Turotsi ini tidak akan punya jawaban, kecuali dengan berkata bahwa yang jadi ibroh adalah kenyataan yang ada dan bahwasanya rekomendasi-rekomendasi itu tidak berguna kalau kenyataannya menyelisihi jalan Ahlussunnah, bahkan menyelisihi prinsip imam dan ‘alim yang merekomendasinya. Maka kalau dia terus berpegang dengan pendapat bahwa rekomendasi bisa mencegah untuk membicarakan seseorang, berarti kita nyatakan bahwa rekomendasi juga bisa mencegah untuk membicarakan Abdurrahman, Sayyid Quthb, Salman (al-Audah, pen.), dan selain mereka dari kalangan sururiyyin, quthbiyyin, takfiriyyin dan qiyaskanlah ke yang lainnya!
5
Penutup
Dengan ini jelaslah bahwa adanya perselisihan pada suatu masalah, tidak memberi pengertian bahwa kebenaran tidak jelas pada masalah itu, dan tidak pula menyebabkan kita tidak bersikap. Janganlah ada yang menduga bahwa masalah ini adalah ijtihadiyyah! Karena telah nyata bukti-bukti yang menunjukkan kesesatan yayasan ini dan penyimpangannya dari jalan Ahlussunnah. Maka ini bukan masalah ijtihadiyyah, dimana setiap orang boleh berkata dengan pendapatnya dan orang yang menyelisihinya dilarang untuk menentangnya. Tidak! Masalah ini adalah masalah yang jelas yang menyelisihi Ahlussunnah dan kita harus berhati-hati dari mereka.
Pada hakikatnya yang memecah belah bukanlah Ahlussunnah karena salafiyyin adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk tegaknya persatuan. Mereka datang seraya berkata: “Dengan tahdzir kalian terhadap Ihya’ut Turots, Salman, Quthbiyyin, dan Ikhwanul muslimin, semua itu telah menjadi sebab terpecah belahnya ummat”, maka sungguh perkataan itu tidak benar! Karena Ahlussunnah adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk persatuan. Persatuan diatas Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. Dan bukan persatuan ala Hasan Al-Banna dan yang semisalnya dengan semboyan: “Kita bersatu diatas apa yang telah kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang tidak kita sepakati”, tetapi kita bersatu diatas sunnah. Termasuk faktor utama terwujudnya persatuan adalah memutuskan sebab-sebab perpecahan. Dan termasuk dari sebab munculnya perpecahan adalah penyimpangan, kebid’ahan, dan fanatisme golongan. Dan semua ini termasuk dari sebab munculnya perpecahan. Dengan ini barang siapa yang datang kepada kita dengan fanatisme golongan maka dialah yang menyebabkan perpecahan dan memecah belah salafiyyin. Sedangkan tahdzir dari salafiyyin dalam hal ini hukumnya wajib!! Bahkan tahdzir adalah termasuk sebab bersatunya manusia diatas kebenaran.
Maka termasuk sebab terbentuknya persatuan adalah dengan mentahdzir orang-orang yang meyimpang dan mentahdzir ahlul bid’ah. Oleh karena itu Ahlussunnah sepakat untuk mentahdzir ahlul bid’ah, karena engkau tidak akan mampu mem-persatukan manusia diatas kebaikan kecuali engkau telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Didalam hadits telah disebutkan bahwa diantara sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memecah belah diantara manusia. Maksudnya adalah beliau memisahkan antara yang haq dan yang bathil.
“Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah sirna kebathilan, sungguh kebathilan pasti akan sirna” {Al-Israa’:81}.
Kebathilan dan kebenaran tidak akan mungkin bersatu, jika bersatu berarti menunjukkan orang tersebut tidak berada diatas jalan Ahlussunnah, yaitu jalannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Salaf selalu membedakan antara haq dan bathil dengan cara memperingatkan ummat dari yang bathil sehingga kebathilan tidak lagi mampu menyesatkan dan menjauhkan manusia dari jalan Salafus Shalih dan dari jalan kebenaran.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus kemudian membuat garis lain di kanan dan kirinya seraya berkata: “setiap jalan ini ada syaithan yang menyeru kepadanya”. Kalau begitu disana ada banyak jalan yang padanya syaithan menjauhkan manusia dari jalan Ahlussunnah dan memecah belah manusia. Dengan ini apakah aku harus diam atau mentahdzir ummat dari jalan-jalan itu? Adalah wajib bagiku untuk mentahdzir ummat dari jalan-jalan itu agar manusia tidak akan masuk dan menuju kepada jalan-jalan itu jika kita memperingatkan ummat darinya. Adapun kalau kita diam, niscaya akan terbentuklah jalan-jalan itu dan manusia akan berpecah belah, setiap hari berkelompok-kelompok. Sedangkan kewajiban kita semua adalah berada pada satu barisan dan memperingat-kan ummat dari Ahlul Bid’ah. Dan temasuk dari sebab persatuan adalah memperingatkan ummat akan bahayanya Ahlul Bid’ah.
= = = = = = = 000 = = = = = = =
1) Beliau adalah salah seorang Murid Asy-Syaikh Abu Muhammad Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy hafizahullah. Pengelola www.rabee.net dan www.sahab.net/sahab . Beliau adalah seorang da’I yang tinggal di Kuwait.
http://ibnusarijan.blogspot.com/search/label/Archive%20Ihya%27ut%20Turots/

Copas dari : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2011/10/04/membongkar-kedok-ihya%E2%80%99ut-turots-dan-jaringannya/#more-817

Tuesday, November 8, 2011

Jeritan Anak Muda


Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu "Kapan aku menikah??".
Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.
Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.". (QS. Al-Israa’:32 )
Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, "Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits".[Lihat Fathul Qodir (3/319)]
Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,
"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)". (QS.Thohaa :1-3)
Allah I berfirman
"Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur."(QS. : Al-Maidah: 6)
Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!
Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
"Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi "[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]
Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan "malu" dan "gengsi" hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya". [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa'iy (2246)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,
مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا
"Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (2231)]
Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,"Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita." Beliau bersabda, "Engkau menikahinya dengan mahar berapa?" orang ini berkata:"empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)". Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ
"Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)". [HR, Muslim(1424)].
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, "Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami".[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]
Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ
"Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)" .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]
Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,
ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ
"Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri". [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa'iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]
Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
"Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan". [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa'iy(5034)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,
يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا
"permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari". [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]
Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, "Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya".[Lihat Az-Zawaaj]
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp) 

Copy dari : http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jeritan-anak-muda.html#more-234
Share

Tuesday, October 25, 2011

Sudah Saatnya Kita Bangkit

oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Dalam kesempatan yang mulia ini, kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu.
Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah merupakan kelanjutan dari majelis-majelis para nabi. Di sana diajarkan tentang wahyu Allah yang berupa Al Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga orang-orang yang keluar dari majelis-majelis ahlus sunnah mampu membawa pengetahuan tentang agama Allah, penambahan iman, dan kekuatan di dalam memegang As Sunnah. Maka lahirlah dari majelis-majelis ilmu ini orang-orang yang militan terhadap agama Allah.
Berkata Sahl bin Abdillah At Tusturi rahimahullah:
من أراد أن ينظرإلى مجالس الأنبياء فلينظرإلى مجالس العلماء
“Barangsiapa yang ingin melihat kepada majelis-majelis para nabi ‘alaihimus shalaatu was salaam, maka silahkan dia melihat kepada majelis-majelis para ulama”.
Apa yang menyebabkan majelis-majelis para ulama disamakan dengan majelis-majelis para nabi? Jawabannya, karena majelis-majelis itu sama-sama mengajarkan tentang agama dan hukum Allah. Oleh sebab itu musuh-musuh Islam sangat tidak senang dan selalu membuat makar siang malam agar para pemuda Islam tidak memenuhi majelis-majelis Ahlus Sunnah yang mengajarkan tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Demikian pula ahlul bid’ah. Mereka punya andil besar dalam mengkaburkan dakwah Ahlus Sunnah. Mereka selalu menebarkan berbagai fitnah untuk menjauhkan para pemuda dari majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah. Mereka punya kepentingan, ambisi, dan tendensi tertentu yang mendorong mereka untuk melarikan para pemuda dari majelis-majelis Ahlus Sunnah. Sebab dengan keberadaan majelis-majelis Ahlus Sunnah, para pemuda Islam tidak lagi menghiraukan dakwah mereka, tidak lagi gampang dibodohi oleh mereka, dan tidak lagi mudah diperalat oleh mereka. Melalui majelis-majelis Ahlus Sunnah, mereka mendengarkan pelajaran-pelajaran tentang Al Quran dan Sunnah Rasulullah yang bersih dan lepas dari segala kefanatikan, lepas dari segala kepentingan, lepas dari segala nuansa politik yang kotor, dan segala ambisi para tokoh yang licik dan jahat. Inilah yang sesungguhnya menjadi momok bagi ahlul bathil baik dari kalangan orang-orang kafir maupun mubtadi’ah.
Amerika dan sekutunya sangat tidak senang terhadap dakwah Ahlus Sunnah. Maka seperti itu pula ahlul bid’ah. Tidak jauh kemungkinan bahwa berbagai aliran sesat dan menyimpang dari Islam yang murni, sengaja dipelihara oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan para pemuda islam dari dakwah Ahlus Sunnah dan Sunnah Rasulullah. Tidak jauh kemungkinan bahwa yang membuat semakin keruh kondisi perpecahan, perselisihan, dan pertikaian dalam agama ini adalah andil dan campur tangan Amerika beserta sekutu-sekutunya yang memperalat ahlul bathil dan ahlul bid’ah untuk merusak dakwah Islam, sehingga para pemuda Islam disibukkan dengan berbagai aliran, pemahaman, dan pemikiran yang sesat lagi menyimpang. Sebagaimana hal ini, pernah dinyatakan oleh guru kami yang mulia As-Syaikh Muqbil Al-Wadi’I -semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas-.
Kita menandaskan perkara ini, dikarenakan orang-orang kafir tidak pernah diam dan rela terhadap kaum muslimin. Mereka mengerti bahwa sesungguhnya bahaya laten yang paling mengerikan adalah ketika para pemuda Islam mulai kembali mempelajari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mereka takut bila para pemuda islam kembali membongkar kitab-kitab para ulama terdahulu, seperti kitab-kitab Imam Malik, imam Syafi’i, imam Ahmad, imam Al-Bukhori, imam Muslim, dan para ulama yang lainnya. Mereka tidak ingin para pemuda islam kembali kepada generasi yang terdahulu. Padahal kebaikan itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik rahimahullah:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.”
Demi kepentingan merusak pemahaman Islam ditengah-tengah kaum muslimin, orang-orang kafir mendirikan berbagai sekolahan, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi,baik formal atau non formal, yang dengan sengaja mendalami Islam guna merusaknya. Mereka berhasil menguasai literatur-literatur Islam. Banyak manuskrip yang masih dalam bentuk tulisan tangan para ulama Ahlus Sunnah berada di negeri-negeri mereka dan dijaga ketat oleh mereka. tidak sembarang orang bisa mengambil dan memanfaatkannya. Bahkan jika kaum muslimin sendiri ingin menggunakan literatur-literatur itu terpaksa harus membayar kepada mereka. Itu pun hanya mendapatkan kopiannya saja. Padahal siapa yang lebih berhak terhadap referensi-referensi tadi?
Sekian banyak kitab para ulama Ahlus Sunnah berada di tangan mereka. Mereka berupaya mempelajari bidang-bidang disiplin keilmuwan Islam dan mendalami kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah. Mereka punya sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi yang langsung mendidik kader-kader untuk mempelajari sekaligus merusak Islam. Mereka mempelajari Islam dengan harapan bisa membuat kekacauan, pengkaburan, dan pemahaman yang keliru terhadap Islam. Mereka mempelajari Al Quran dengan berbagai tafsirnya dan kitab-kitab hadits dengan berbagai penjelasannya. Setelah itu, mereka berusaha mencari perkara-perkara samar yang kira-kira bisa dipakai sebagai senjata makan tuan terhadap kaum muslimin. Syubhat-syubhat mereka yang tajam dengan gampang mampu menembus jantung-jantung kaum muslimin yang lemah iman dan ilmu agamanya.
Orang-orang yang masuk ke dalam sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi mereka ini, akan lulus sesudah berstatus sebagai zindiq atau Munafik. Merekalah para orientalis yang merusak Islam. Subhanallah, ternyata mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah bila tidak dengan aqidah dan niat yang benar, tidak akan menggiring kepada hidayah Allah kecuali bagi siapa yang dirahmati oleh Allah.
Salah satu kisah yang menjadi pukulan berat dan telak atas musuh-musuh islam adalah peristiwa yang dialami oleh seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Muhammad Khalil Harras rahimahullah. Insya Allah kebanyakan penuntut ilmu mengenal beliau walaupun melalui tulisan-tulisannya. Di antara karangan beliau adalah kitab “syarhul ‘Aqidatil Waasithiyyah” dan banyak lagi yang lainnya.
Sesungguhnya beliau rahimahullah adalah seorang profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat, di Universitas Al Azhar, Mesir. Beliau ditugaskan secara khusus oleh pembimbingnya untuk meneliti seluruh karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang membantah kebatilan filsafat ahlul kalam. sampai saat itu bahkan saat ini, bantahan syaikhul islam belum pernah terjawab oleh mereka. Syaikh Muhammad Kholil Harras karena kejeniusan dan kecerdasannya diminta untuk mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam, yang nantinya akan digunakan untuk menyerang kembali pemahaman-pemahaman yang diajarkan oleh syaikhul Islam. Maka beliau rahimahullah mulai mempelajari satu per satu dari kitab-kitab Syaikhul Islam.
Ternyata Allah berkehendak lain terhadap beliau. Allah takdirkan bahwa dengan mempelajari, mendalami, memeriksa dan meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam rahimahullah, justru beliau mendapat petunjuk kepada kebenaran pemahaman Ahlus Sunnah. Akhirnya, beliau benar-benar mengetahui bagaimana kebenaran ahlus sunnah dalam bidang aqidah, manhaj, dan yang lainnya, terlebih khusus dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sehingga Asy Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah kembali kepada jalan yang haq, dakwah Ahlus Sunnah, dan meninggalkan pemahamannya yang semula. Beliau mengikrarkan bahwa dirinya kembali kepada pemahaman yang dibawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu pemahaman Ahlus Sunnah yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.
Beliau tinggalkan gurunya dan terus giat mempelajari serta meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sampai akhirnya beliau dianggap sebagai ulama yang kokoh dan mapan dalam bidang aqidah secara khusus. Beliau sangat mengerti tentang pemahaman yang dikemukan oleh Syaikhul Islam, yang sekaligus merupakan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam bidang aqidah, terlebih khusus mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Selanjutnya beliau berpindah ke negara Saudi Arabia. Di negeri ini, lebih memungkinkan bagi beliau untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan ilmiah tentang pemahaman Ahlus Sunnah, sekaligus menyebarkan ilmu dan dakwah Ahlus Sunnah yang telah dibukakan oleh Allah kepada beliau.
Banyak karangan beliau dalam bidang aqidah dan rata-rata karya tulis beliau sangat baik. Diantaranya “Syarhul ‘Aqidatil Waasithiyyah”, yang selama ini selalu menjadi rujukan bagi para ulama dan penuntut ilmu dalam melihat pemahaman yang dimaksud oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Al ‘Aqidatul Waasithiyyah”. Kitab beliau yang lain yaitu syarh (penjelasan) terhadap “An-Nuuniyyah” karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Disamping itu, beliau rahimahullah juga membuka majelis ilmu untuk mengajarkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Majelis ilmu yang beliau adakan mampu melahirkan ulama yang kokoh dalam bidang aqidah seperti beliau. Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan dianggap sebagai salah seorang ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mapan dalam bidang aqidah, yaitu Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah.
Demikianlah sesungguhnya majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah, ternyata sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Suatu hal yang masih saya ingat dari ucapan guru kami As-Syaikh Muqbil rahimahullah, di mana beliau tak jarang mengatakan kepada para muridnya: “Ya ikhwan, demi Allah, sesungguhnya Amerika dan sekutu-sekutunya tidak takut kepada tank-tank baja dan segala persenjataan yang kita miliki. Yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam adalah majelis-majelis ilmu yang seperti ini. Karena majelis-majelis ilmu ini yang akan melahirkan orang-orang yang mengerti tentang agama Allah, ikhlas, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam memperjuangkannya”, atau sebagaimana yang diucapkan oleh beliau rohimahullah.
Adapun orang-orang yang selalu berteriak dengan yel-yel jihad. Padahal yang mereka maksud dengan jihad adalah memberontak atau kudeta terhadap pemerintah-pemerintah kaum muslimin dan mengacaukan stabilitas keamanan mereka. Demi Allah sesungguhnya mereka tidak ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Tanpa mereka sadari, justru mereka telah menjadi jongos, kaki tangan, serta antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Islam dan kaum muslimin sangat dirugikan dengan keberadaan mereka. Akibat aksi-aksi teror mereka yang arogan dan tidak sesuai dengan syariat islam di berbagai negeri, orang-orang kafir akan dengan gampang menjelek-jelekan Islam. “Coba lihat agama Islam yang haus akan darah. Coba lihat agama Islam yang selalu membuat kekacauan. Coba lihat kaum muslimin, mereka adalah para teroris”. Masih banyak lagi tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan kepada Islam dan kaum muslimin karena tindakan-tindakan bodoh dan gegabah yang mereka lakukan itu.
Sehingga di sebagian negara seperti Inggris, kita dapatkan seorang yang memiliki janggut panjang sampai ke dadanya, berorasi dengan menyuarakan “Jihad!! Jihad!!”, di televisi secara bebas. Tak ada pihak penguasa yang menghiraukan, menggubris, terlebih lagi menangkapnya. Hal itu terjadi berulang kali, sebagaimana yang diberitakan kepada saya oleh sebagian ikhwan salafi inggris yang insyaallah terpercaya. Inilah diantara indikasi yang menguatkan asumsi bahwa mereka itu justru menjadi jongos, kaki tangan, dan antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Sebab musuh-musuh Islam mengetahui dengan baik bahwa yang dilakukan kaum pergerakan itu dapat merusak agama kaum muslimin dan tidak memperbaikinya.
Tetapi mereka, seperti pepatah orang kita, lempar batu sembunyi tangan. Mereka balik menuduh bahwa Ahlus Sunnah yang telah menjadi kaki tangan Amerika dan musuh terhadap dakwah Islam. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah itu dibantu oleh Amerika atau dibantu oleh Israil”.
Na’uuzubillahi min zalik.
Ini pula yang disebut dalam pepatah arab yang artinya:
“Dia melemparku dengan penyakitnya kemudian dia berlalu”.
Oleh karena itu, hendaklah para pemuda dan pemudi islam menyadari kondisi ini. Sudah saatnya mereka bergegas utuk mempelajari islam yang benar dengan sumber yang terpercaya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Marilah kita bangkit dari kelalaian, kelengahan, dan keteledoran kita selama ini. Hendaknya kita tinggalkan segala perkara yang tidak bermanfaat dan kesia-siaan. Singsingkan lengan baju kita untuk berjibaku dengan ilmu dan meninggalkan segala perdebatan yang tidak bermanfaat. Kita yakin sepenuhnya bahwa Allah akan membela agama dan para wali-Nya. Tak ada yang mampu membongkar kedok kebathilan kecuali hanya Allah, melalui kemapanan ilmu dan hujjah yang diberikan-Nya kepada orang-orang mulia dari para hamba-Nya. Dahulu para Salaf kita yang baik, menyingkirkan segala kesesatan dengan kekuatan ilmu dan hujjah bukan dengan kekuatan lisan semata. Akhirnya, kita memohon semoga Allah mengokohkan hati-hati kita diatas islam.
Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : http://referensiislam.wordpress.com/2008/01/18/sudah-saatnya-kita-bangkit/

 

by blogonol