Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’diy -rahimahullahu-
Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).
Dimanakah Roh Para Nabi.?
Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?
Qurban, Keutamaan dan Hukumnya
Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Serba Serbi Air Alam
Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)
Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku
Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sunday, March 25, 2012
Daurah Telaah Tuntas AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH (Kaidah Ilmu Fiqih), Masjid Jajar Solo (Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi)
Hadirilah…!! InsyaAllah
Daurah Telaah Tuntas AL-QAWAID AL-FIQHIYYAH (Kaidah Ilmu Fiqih)
Bersama :
Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
[*Situs resmi beliau: www.dzulqarnain.net
**Murid Mujaddid Negeri
Yaman: Asy Syaikh Muqbil Al-Wadi'i & Murid dari Asy-Syaikh Shalih
Al-Fauzan: Anggota Badan Ulama Besar Saudi Arabiah ]
Tempat : Masjid Jajar Surakarta (Solo)
Hari : Jum’at – Ahad
Tanggal : 21-23 Jumadal Ula 1433 H / 13-15 April 2012
Waktu : Pukul 09.00 – 20.30
PEMBAHASAN KITAB: AL- QAWA’ID AL FIQHIYYAH
Karya:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’diy -rahimahullahu-
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’diy -rahimahullahu-
Penyelenggara :
Yayasan Al Madinah Surakarta
Informasi :
Taufan : 085728504800
Arif H : 081567875141
Abu Dzulfikar : 081567875543
Disiarkan Langsung :
Radio Al Madinah FM 102,7 Mhz
www.almadinah.or.id
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com
Saturday, March 24, 2012
Bawalah Ucapan Saudaramu Kepada Makna yang Benar, Jagalah Persatuan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Telah dimaklumi bersama bahwa perpecahan
sangat tercela dalam agama Islam yang mulia ini, bahkan perpecahan
termasuk ciri-ciri orang kafir dan ahlu bid’ah. Allah ta’ala telah
mengingatkan dalam kitab-Nya yang mulia,
وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Janganlah kamu seperti kaum musyrikin,
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka
menjadi bergolong-golongan, setiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada mereka.” [Ar-Rum: 31-32]
Oleh karena itu, generasi Salaf
senantiasa berusaha menjaga persatuan kaum muslimin dengan menghindari
sebab-sebab terjadinya perpecahan, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Sehingga, Salaf dahulu sangat berhati-hati dari semua yang mengandung
sebab perpecahan dan rusaknya hubungan antara sesama muslim.
Sampai Al-Khalifah Ar-Rasyid, Sahabat yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata,
لاَ تَظُنَّ كَلِمَةً خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ شَرًّا وَأَنْتَ تَجِدَ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً
“Janganlah engkau berprasangka buruk
terhadap kalimat yang diucapkan saudaramu sedang engkau masih menemukan
kemungkinan makna yang baik dalam ucapannya itu.” [Al-Adab Asy-Syar’iyah, Ibnu Muflih rahimahullah, (2/418)]
Demikianlah wasiat generasi teladan kita,
para sahabat nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam menyikapi ucapan
saudara muslim kita yang masih mengandung kemungkinan benar dan salah,
terlebih jika saudara kita telah menegaskan bahwa yang dia maksudkan
adalah makna yang benar, bukan makna yang salah.
Sebagai contoh, jika saudara kita mengucapkan bahwa, “Hukum karma itu ada dalam Islam.” Maka ucapan seperti ini mengandung dua makna:
- Makna yang batil, jika yang dimaksudkan dengan hukum karma adalah yang dipahami oleh umat Hindu dan Budha yang kafir kepada Allah ta’ala.
- Makna yang benar, adalah makna yang dipahami oleh kebanyakan orang awam dalam ilmu tentang Bahasa Indonesia, dimana mereka memahami bahwa yang dimaksud dengan karma adalah balasan setimpal atas pelaku kejahatan.
Tidak diragukan lagi makna pertama salah
dan makna kedua benar, maka hendaklah Anda bertanya apa yang dimaksud
dalam ucapan saudaramu, apakah makna yang pertama atau kedua. Kalau
memang Anda tidak mau bertanya maka bawalah ucapan saudaramu kepada
makna yang benar sebagaimana bimbingan teladanmu, para sahabat Nabi
shallallahu’alaihi wa sallam.
Terlebih jika saudaramu telah menegaskan
bahwa karma yang dia maksudkan adalah makna yang kedua, seperti dalam
penegasan berikut ini,
“Hukum karma dimaklumi ya dalam
bahasa Indonesia, dalam pengertian kita. Seorang berbuat kejelekan, ada
seseorang dia juga mendapatkan akibat yang semisalnya. Nah hal yang
semacam ini mungkin saja ada sebab
dia adalah bentuk dari siksaan, bentuk dari pembalasan, iya, bentuk
dari pembalasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa
pembalasannya itu sangatlah berat. Di dalam berbagai ayat diterangkan
bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, iya, memberikan balasan kepada orang
yang berbuat dosa sesuai dengan amalannya masing-masing.”
Dan terlebih lagi jika saudaramu adalah
seorang penyeru kepada kebaikan, kepada manhaj yang haq di tengah-tengah
ramainya manusia yang menyeru kepada kesesatan, bukankah engkau
memiliki kewajiban untuk menolong saudaramu dengan mengharumkan namanya
agar manusia mengikuti seruannya dan tidak lari dari kebenaran yang ia
serukan. Sedangkan Anda memaklumi bahwa sang penyeru kepada kebenaran
tersebut adalah manusia biasa yang mungkin berbuat kesalahan,
Berikut ini adalah ringkasan nasihat Al-Walid Al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah dalam menyikapi kesalahan para da’i Ahlus Sunnah dalam sebuah risalah yang berjudul, “Uslub An-Naqd bayna Du’at wat Ta’qib ‘alaihi.”
Beliau rahimahullah berkata,
وقد شاع في هذا العصر أن كثيرا من المنتسبين إلى العلم
والدعوة إلى الخير يقعون في أعراض كثير من إخوانهم الدعاة المشهورين ,
ويتكلمون في أعراض طلبة العلم والدعاة والمحاضرين . يفعلون ذلك سرا في
مجالسهم . وربما سجلوه في أشرطة تنشر على الناس , وقد يفعلونه علانية في
محاضرات عامة في المساجد , وهذا المسلك مخالف لما أمر الله به ورسوله من
جهات عديدة منها :
“Telah tersebar di zaman ini,
banyak orang yang menghubungkan dirinya kepada ilmu dan dakwah kepada
kebaikan, mereka itu telah menodai kehormatan banyak saudara-saudara
mereka para da’i yang terkenal (berjalan di atas kebenaran). Mereka juga
menjatuhkan kehormatan para penuntut ilmu, da’i dan penceramah. Mereka
lakukan itu secara rahasia di majelis-majelis mereka dan bisa jadi
mereka merekamnya dan disebarkan kepada khalayak. Bisa jadi juga
perbuatan tersebut mereka lakukan secara terang-terangan dalam ceramah
umum di masjid-masjid. Dan ini adalah sebuah metode yang menyelisihi
perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya dari banyak sisi.”
Berikut ringkasan pelanggaran dalam perbuatan tersebut:
Pertama:
Perbuatan tersebut melampaui batas terhadap hak-hak manusia, bahkan
manusia yang paling mulia, yaitu para penuntut ilmu dan da’i yang telah
mengerahkan tenaga mereka untuk membimbing manusia kepada kebaikan,
memperbaiki aqidah umat dan manhaj mereka serta bersungguh-sungguh dalam
mengadakan pengajaran, ceramah dan penulisan buku-buku yang bermanfaat.
Kedua:
Perbuatan tersebut memecah belah kesatuan kaum muslimin, terlebih para
du’at Ahlus Sunnah membutuhkan kekuatan dalam persatuan untuk menghadapi
ahlul bid’ah dan orang-orang kafir.
Ketiga: Perbuatan tersebut menolong ahlul bid’ah dan orang-orang kafir dalam menjatuhkan Ahlus Sunnah.
Keempat:
Perbuatan tersebut merusak hati kaum muslimin yang umum maupun yang
khusus, sehingga memunculkan banyaknya kedustaan, ghibah, namimah dan
membuka pintu-pintu keburukan terhadap orang-orang yang lemah jiwanya
lagi suka menebar syubhat dan fitnah serta menyakiti kaum muslimin.
Kelima:
Bahwa kebanyakan ucapan yang disebarkan tersebut adalah kedustaan atau
sebuah kalimat yang masih mungkin ditafsirkan kepada makna yang benar
sebagaimana ucapan Salaf (Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu) di atas.
Keenam:
Sebagian ulama dan penuntut ilmu yang melakukan ijtihad tidaklah dicela
karena kesalahan mereka dalam berijtihad, akan tetapi hendaklah
dinasihati dengan cara yang terbaik dalam keadaan kita mengingankan agar
sampai kepada kebenaran dan menolak tahrisy (memecah belah)
yang dilakukan oleh setan. Jika tidak memungkinkan disampaikan secara
langsung dan sembunyi-sembunyi, dan mengharuskan adanya nasihat secara
terbuka maka hendaklah dinasihati dengan kata-kata yang paling halus dan
lemah lembut.
Pada bagian akhir Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mewasiatkan,
فالذي أنصح به هؤلاء الأخوة الذين وقعوا في أعراض
الدعاة ونالوا منهم أن يتوبوا إلى الله تعالى مما كتبته أيديهم , أو تلفظت
به ألسنتهم مما كان سببا في إفساد قلوب بعض الشباب وشحنهم بالأحقاد
والضغائن , وشغلهم عن طلب العلم النافع , وعن الدعوة إلى الله بالقيل
والقال والكلام عن فلان وفلان , والبحث عما يعتبرونه أخطاء للآخرين وتصيدها
, وتكلف ذلك .
“Maka yang aku nasihatkan kepada
para Ikhwah yang menjatuhkan kehormatan para da’i dan melecehkan mereka,
untuk segera bertaubat kepada Allah ta’ala dari apa yang mereka tulis
dengan tangan-tangan mereka atau yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka
yang telah menjadi sebab rusaknya hati sebagian pemuda dan membakar
mereka dengan kedengkian dan kebencian, serta menyibukkan mereka dari
menuntut ilmu yang bermanfaat dan dakwah kepada Allah ta’ala dengan qila wa qaala
(desas desus) dan pembicaraan tentang fulan dan fulan, dan membahas apa
yang mereka anggap sebagai kesalahan orang lain, mencari-carinya dan
berlebihan padanya.”
Sebagaimana beliau (Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah)
juga mewasiatkan agar tidak terburu-buru dalam menulis suatu bantahan
sebelum mengembalikannya kepada para orang-orang yang berilmu. Allah
ta’ala telah mengingatkan,وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu
berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara
mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan
dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [An-Nisa’: 83]
[Diringkas dengan sedikit perubahan dari Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, (7/311-314)]
Peringatan: Tidak diragukan lagi yang dimaksud oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah
dalam wasiat beliau di atas adalah para da’i Ahlus Sunnah, bukan dalam
mengkritik ahlul bid’ah dan orang-orang kafir. Hal ini perlu kami
ingatkan sebab seringkali ahlul bid’ah dari kalangan hizbiyun bertameng
dengan nasihat ini sebagaimana mereka juga bertameng dengan kitab Rifqon Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah untuk menyalahkan Ahlus Sunnah yang mengkritik da’i-da’i mereka yang sesat.
Terlebih lagi jika ternyata orang yang
engkau jatuhkan kehormatannya itu adalah seorang yang berilmu maka
ketahuilah, tidak ada yang lebih mengenal keutamaan dan kedudukan
orang-orang yang berilmu melebihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bahkan
inilah salah satu karakter Ahlus Sunnah yang membedakannya dengan Ahlul
Bid’ah. Tanda Ahlus Sunnah adalah memuliakan orang-orang yang berilmu
dan tanda Ahlul Bid’ah adalah menjatuhkan kehormatan mereka.
Oleh karena itu, termasuk kewajiban
seorang muslim adalah memberikan nasihat kepada orang-orang yang berilmu
berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama itu adalah nasihat,” Kami
bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi Allah,
Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin (ulama dan pemerintah) kaum
muslimin dan seluruh kaum muslimin.” [HR. Muslim dari Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu’anhu]
Adapun yang dimaksud dengan nasihat terhadap orang-orang yang berilmu adalah,1. Mencintai mereka
2. Menolong mereka dalam menyampaikan kebenaran
3. Membela kehormatan mereka
4. Meluruskan kesalahan mereka dengan ADAB dan PENGHORMATAN
5. Menunjukkan cara terbaik dalam mendakwahi manusia
Tahapan Dalam Menyikapi Kesalahan Orang yang Berilmu
Seorang yang berilmu mungkin melakukan
kesalahan, akan tetapi berbeda cara menyikapi kesalahan orang yang
berilmu dan orang yang jahil. Inilah tahapan menyikapi kesalahan orang
yang berilmu, kami ringkas dengan sedikit perubahan dari penjelasan Faqihul ‘Asrh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah,
TAHAPAN PERTAMA: Melakukan tatsabbut
[pemastian] berita tentang kesalahan tersebut kepadanya, karena berapa
banyak kesalahan yang dinisbahkan kepada seorang yang berilmu secara
dusta.
TAHAPAN KEDUA: Hendaklah
diteliti apakah yang dianggap sebagai kesalahan tersebut benar-benar
suatu kesalahan atau ternyata justru itu adalah kebenaran, karena sering
terjadi di awal kali kita menganggap sesuatu sebagai kesalahan padahal
yang sebenarnya setelah diteliti lebih jauh menjadi jelas bahwa hal itu
adalah kebenaran.
TAHAPAN KETIGA: Apabila
ternyata hal itu bukan suatu kesalahan maka wajib bagi engkau untuk
membela orang yang berilmu dan menerangkan kepada manusia bahwa
ucapannya adalah suatu kebenaran.
TAHAPAN KEEMPAT: Adapun
jika ternyata ucapan orang yang berilmu itu memang suatu kesalahan dan
penisbatan kesalahan itu kepadanya juga benar, maka yang wajib engkau
lakukan adalah:
- MENGHUBUNGI orang yang berilmu tersebut dengan ADAB dan SOPAN SANTUN, lalu engkau katakan, “Aku mendengar darimu kesalahan ini dan itu, maka aku ingin engkau jelaskan kepadaku sisi kebenarannya, sebab engkau lebih tahu dariku?”
- Setelah benar-benar jelas bagimu bahwa sang ‘alim tersebut telah salah maka engkau memiliki hak untuk munaqosyah [menyampaikan pendapatmu], akan tetapi dengan ADAB dan PENGHORMATAN kepadanya sesuai dengan kedudukan dan kehormatannya sebagai seorang ‘alim.
- Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang, berupa sikap keras dan kasar serta menjatuhkan kehormatan orang-orang yang berilmu maka hal tersebut muncul dari sikap ‘ujub [kagum terhadap diri sendiri] dalam keadaan mereka menyangka bahwa merekalah Ahlus Sunnah yang berjalan di atas manhaj Salaf padahal mereka itulah yang paling jauh dari jalan Salaf. Demikianlah manusia, jika memiliki sifat ‘ujub maka dia akan melihat yang lainnya kecil di hadapannya.
Sumber : http://nasihatonline.wordpress.com/2012/03/24/bawalah-ucapan-saudaramu-kepada-makna-yang-benar-jagalah-persatuan/
Friday, March 23, 2012
Tabligh Akbar, di Kampung Laut, Cilacap Barat, (Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed )
InsyaAllah,
akan diadakan Tabligh Akbar, di Kampung Laut, Cilacap Barat,
dengan tema:
MENGGAPAI KEBAHAGIAN dengan ISLAM
Pemateri:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
(Penasehat Majalah Asy Syariah: asyasyariah.com & Pengajar Ma’had Dhiyaus Sunnah Cirebon)
Hari: Jum’at, 21 Jumadil Ula 1433 H / 13 April 2012
Jam 12.00 WIB-Selesai
Masjid Al-Barokah, Desa Ujung Gagak, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap Barat
Siaran langsung: www.radioshohabat.com
Kontak: 085353234344
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com
Tuesday, March 20, 2012
Download : Dauroh Kec. Karossa, Mamuju Hari Sabtu, 24 Rabi'uts Tsani 1433 H / 17 Maret 2012 - Selesai (Ust. Khidir Bin Muhammad Sunusi)
Dauroh
Kec. Karossa, Mamuju
Hari
Sabtu, 24 Rabi'uts Tsani 1433 H / 17 Maret 2012 - Selesai
bersama
:
Al-Ustadz
Abu 'Abdillah Khidir Bin Muhammad Sunusi Hafizhahullah
Materi Pertama :
"MERAIH
KELEZATAN IMAN DAN
KECINTAAN
ALLAH YANG HAKIKI"
Materi
Kedua :
"PEMBAHASAN
TUNTAS KITAB USHUL AS-SITTAH"
Download Linknya di Bawah ini :
TAUSIYAH BA'DA MAGHRIB DI LIMUA'
Thursday, March 15, 2012
Wawancara Metro TV Indonesia Dengan Syaikh Muhammad Al-Imam Di Ma'had Darul Hadits Ma'bar Yaman
Syaikh Muhammad Al-Imam Dikunjungi Metro TV 01
بسم الله الرحمن الرحيم
Berikut transkrip wawancara antara Syaikh Muhammad Al-Imam pimpinan dan pengasuh Darul Hadits - Ma’bar, Yaman dengan rombongan dari Metro TV. Terselenggara pada tanggal 01 Februari 2012, di ruangan Syaikh di Darul Hadits Ma’bar.
Yang hadir di tempat tersebut adalah Syaikh beserta dua pendamping (salah satunya putra kedua beliau). Dari pelajar WNI ada enam orang. Dan dari Metro TV adalah Josua Johan, Edward A.R, Ahmed Munzir Al-Ghazali, dan Panji Dewanata.
Dan ada seorang reporter wanita (Desi Fitriani) melakukan pertemuan terpisah bersama dua santriwati Indonesia dan dengan Istri Syaikh beserta keluarga beliau yang lain.
Sebenarnya ada satu penterjemah, namun suaranya kami hilangkan dan
tidak kami transkrip, kami mencukupkan dan sengaja menyajikan pertanyaan
asli dari Metro TV.
Wawancara tersebut sebagai berikut:
Johan: Kita cukup bergembira Syeikh dan kawan-kawan
bisa meluangkan waktu untuk kita bertemu dan kita dari shanaa sampai
sini, banyak yang kita lihat budaya-budaya muslim yang ada disini. Jadi
kunjungan kami kesini saya Johan, Pak Eed, Pak Ahmed dan Pak Dewa dari
Metro TV pada intinya mau melihat kondisi warga Negara Indonesia yang
sekolah dibanyak tempat di Yaman ini, karena beberapa waktu yang lalu
kita mendengar warga Negara kita disini ada yang terancamlah gitu dalam
kondisi terjebak dalam segala ancaman, jadi kita ini sebenarnya mau
lihat seperti apa sebenarnya warga Negara kita, ternyata ada banyak
tempat dan diantaranya di ma’bar ini, untuk itulah kami mau berkunjung
kesini sekaligus bersilaturahmi dengan Syeikh, kira-kira disini ada
berapa orang warga Negara Indonesia yang sekolah di mabar ini.
Syaikh: Segala puji bagi Allah تعالى. Dan aku
bersaksi bahwa tiada ilah yang benar kecuali Allah تعالى semata tiada
sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan
Allah تعالى, semoga shalawat dan keselamatan selalu tercurah pada
beliau, keluarga beliau, dan para shahabat beliau.
Pertama, selamat datang dengan kemudahan kepada saudara-saudara yang
berkunjung kepada kami untuk berziarah -sebagaimana mereka katakan-,
juga untuk melihat secara langsung keadaan para pelajar dari Republik
Indonesia yang berada di tempat kami. Selamat datang kepada mereka.
Adapun terkait jumlah pelajar (Indonesia) yang berada di sini, maka
hal ini datanya ada pada penanggung jawab para pelajar yang datang dari
luar Yaman, karena tercatat dalam daftar yang ada pada dia. Adapun saya,
hal tersebut bukan bagian saya. Anak saya (yang pertama) Abdurrahman
adalah yang diamanahi tugas tersebut, para pelajar tersebut datang ke
dia dan dia mencatatnya, menerimanya dan menjelaskan kepada mereka
metode belajar kita. Maka tidak mengapa untuk dipertanyakan hal ini
kepada Nak Abdurrahman -semoga Allah تعالى menjaganya-.
Johan: Dari banyaknya jamiah yang ada di Yaman ini
kira-kira apa beda atau yang spesifiklah di jamiah ini di perguruan ini
dibandingkan dengan jamiah-jamiah yang ada di Yaman lainnya atau di
tempat-tempat lain, apa yang khusus perbedaannya disini yang mungkin
membuat ketertarikan juga dari teman-teman dari Indonesia untuk sekolah
disini.
Syaikh: Perbedaan antara belajar di Darul Hadits
-yang dengan keberadaannya Allah تعالى memuliakan penduduk Yaman pada
zaman ini- dengan belajar di Kampus atau kuliah dan seterusnya sangatlah
besar. Perbedaannya besar dan luas.
Pertama: Belajar di Darul Hadits adalah mempelajari agama, Al-Qur’an
dan As-Sunnah, beserta bahasa Arab (sebagai kunci memahami Al-Qur’an dan
Hadits). Atau kalau mau kita sebut: Mempelajari Al-Qur’an dan Hadits
beserta semua ilmu alat yang mendukung untuk memahami Al-Qur’an dan
Hadits.
Maka belajar di sini hanya terkhusus dengan pengetahuan agama Allah
تعالى, penyebarannya, menyeru masyarakat kepadanya, dan istiqamah di
atasnya. Entah dalam bentuk menulis buku, menyampaikan bantahan pemberi
kerancuan, dan membela agama ini. Belajar di tempat kami adalah belajar
agama semata, pelajaran agama dari awal sampai akhirnya.
Pelajaran di Universitas dan semisalnya, materi ilmunya campur aduk.
Telah disusupi berbagai pengetahuan yang merusak, telah disusupi
berbagai ilmu filsafat, dan berbagai ilmu sebagian kelompok dan sekte
sesat, apa saja yang telah masuk.
Demikian juga, maksud kita belajar adalah -pertama- agar kita bisa
memperbaiki diri-diri kita, kemudian kita berusaha untuk memperbaiki
keadaan kaum muslimin sebatas yang kita mampu untuk kita tempuh. Maka
maksud yang mulia dan tuntutan yang agung inilah yang menyejukkan dada
kita, dengannya cita-cita dan ketakwaan kita mejadi tinggi, semua ini
disebabkan tekad yang ada. Kalau begitu, hendaknya seseorang mencari
ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat, yang dengannya semua
kondisi keagamaan dan duniawinya menjadi baik, kondisi duniawi dan
akhirat.
Oleh karenanya, Imam Ad-Darimy dan Ibnu Abdil Barr serta lainnya
meriwayatkan dari Imam Besar Ibnu Syihab, bahwa beliau berkata: “Para
ulama kita berkata: “Ilmu itu sebab tegak dan terangkatnya agama dan
dunia, dan hilangnya ilmu menjadi sebab hilangnya agama dan dunia.” Yang
dimaksud adalah ilmu syar’i.
Maka kita juga demikian memahami, bahwa ilmu syar’i itu menjadi sebab
tegaknya agama dan sebab baiknya dunia. Dan mengabaikan ilmu syar’i
atau meninggalkan secara keseluruhan atau meninggalkan sebagiannya atau
tidak peduli dengan ilmu syar’i dan penyebarannya, maka ini merupakan
sebab terbesar terjatuhnya kaum muslimin ke dalam kekacauan, kekacauan
dan berpengaruh terhadap kehidupan agamanya dan kehidupan duniawinya.
Maka kita memilih untuk diri-diri kita semua hal yang diajarkan oleh
Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi kita صلى الله عليه وسلم, yang
mana para ulama pendahulu telah bergegas merengkuhnya. Namun bersamaan
dengan ini kami tidaklah mengharamkan ilmu yang mubah (boleh secara
syar’i), yaitu dari ilmu dunawi, seperti ilmu kedokteran, teknologi, dan
ilmu yang lain yang memberikan manfaat duniawi, kami tidak
mengharamkannya.
Hanya saja kami melihat ilmu-ilmu duniawi ini lebih dikejar melebihi
batas yang dianjurkan. Sementara ilmu syar’i banyak dari kaum muslimin
dan putra-putrinya yang meninggalkan ilmu syar’i ini kecuali sedikit
orang saja. Apa saja di samping ilmu-ilmu selain ilmu syar’i maka
terkadang pemilihan dan pengejaran tersebut untuk ilmu-ilmu yang lain.
Termasuk diantara perbedaan yang ada, bahwa ketertarikan di
universitas itu lebih memilih dan mengejar ilmu selain ilmu syar’i.
Contohnya mengejar pelajaran bahasa asing seperti Inggris dan selain
itu, dan lebih menjadikan ilmu syar’i itu pengikut (atau kalau ada
waktu). Tidak ada yang memberikan perhatian khusus terhadap ilmu syar’i
kecuali sedikit orang.
Ini kurang lebih tiga perbedaan yang kita sebutkan antara belajar di tempat kami dan belajar di universitas yang lain.
Johan: Tadi Syeikh menyampaikan ada juga
jamiah-jamiah lain di Yaman ini yang memberikan pelajaran kesesatan, itu
seperti apa contohnya? Bisa dijelaskan?
Syaikh: Saya berbicara tentang apa yang terjadi di
tempat kami di Yaman. Dan aku kira di tempat selain Yaman -kecuali
jarang- keadaannya seperti ini atau bahkan lebih parah. Yaitu (pelajaran
yang berisi perusakan agama) seperti filsafat yunani pada beberapa
bidang, entah perkara yang terkait dengan perkara ketuhanan (atau yang
lainnya). Adapun ajaran-ajaran yang lain seperti aqidah sekte
Asy’ariyah, aqidah sekte Mu’tazilah, aqidah sekte Jahmiyah, maka semua
adalah hal-hal yang banyak terdapat pada buku-buku sekolahan. Seperti
adanya keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk (bukan ucapan Allah تعالى).
Berbagai aqidah yang semisal ini banyak terdapat pada buku-buku
tersebut.
Johan: Apakah dikampus ini siswa-siswa WNI ada
diberikan pelajaran-pelajaran, seperti perang atau bawa senjata
(nembak), tadi kita lihatkan ada yang bawa senjata, kan ditempat kita
cukup jarang seperti itukan? Apakah disini WNI ada juga dilatih dalam
pelajarannyalah di jamiah sini, kurikulumnya begitu atau mungkin tidak
dikurikulum, apa mungkin ada pelajaran tambahanlah, mungkin
kumpul-kumpullah begitu, apakah ada seperti itu?
Syaikh: Tidak ada hal itu di tempat kami. Tidak ada
pelajaran pelatihan senjata untuk orang asing. Bahkan pelajar yang
berasal dari luar Yaman kami katakan pada mereka: “Kalian tidak butuh untuk memegang senjata, karena kalian tidak ada kepentingan terhadapnya. Dan kami dengan izin Allah تعالى akan menjaga Darul Hadits ini. Kalian tidak membutuhkannya.”
Karena mungkin saja sebagian orang asing beranggapan: “Saya butuh senjata.” (Orang asing di Ma’bar ada yang dari Somalia, Indonesia, Perancis, Jaza’ir, Amerika, Kamerun, Nigeria, Etiopia, Mali dll).
Namun kami mengatakan: “Kamu nggak butuh. Karena hal ini justru
akan mengundang pengawasan intelijen (sehingga kalian ditangkap dan kamu
justru tidak bisa belajar). Karena tuduhan yang ada sekarang ini, bahwa
warga selain Yaman ini datang sebagai teroris, atau yang semislanya.”
Kami memberikan arahan (serta mempersyaratkan) kepada pelajar asing
yang ingin belajar di tempat kami, bahwa mereka akan aman di tempat
kami, mereka akan tenang dengan izin Allah تعالى, bisa istirahat dengan
tenang dengan izin Allah تعالى, dan juga mereka itu tidak butuh kepada
senjata.
Ini yang ada terjadi di tempat kami (mereka tidak boleh dekat-dekat
senjata), apalagi mau dikatakan kami mengajari mereka. Kami memandang
hal ini tidak diperlukan untuk mereka. Itu (mengajari senjata) bukan
misi kami, bukan pula tujuan dan tuntutan kami.
Bahkan seperti yang kalian dengan kami katakan pada mereka: “Kalian
tidak perlu memegang senjata. Carilah ilmu syar’i dan curahkan waktu
kalian untuk itu. Ini yang kami bimbingkan kepada kalian, dan ini yang
akan klian ambil manfaatnya.”
Dan Alhamdulillah.
Johan: Indonesia itukan masyarakatnya banyak suku
banyak agama, terus kalau nanti santri-santri atau murid-murid yang ada
disini kembali ke Indonesia itu setelah selesailah mengikuti disini, apa
harapan dari Syeikh ini? Untuk para santri yang lulusan dari ma’bar ini
jika mereka kembali ke Indonesia?
Syaikh: Kami mengajari para pelajar dan berharap
dari mereka agar Allah تعالى menjadikan mereka bermanfaat. Yaitu agar
mereka menyeru masyarakat untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan
Sunnah, agar masyarakat yang melenceng dari Al-Qur’an dan Sunnah kembali
kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta mengamalkannya. Kami katakan kepada
para pelajar agar berdakwah menyeru masyarakat kepada Allah تعالى dengan
cara yang baik. Karena Allah تعالى berfirman;
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan bijak dan
peringatan yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl:125)
Maka kami menyeru -sebatas yang kami mampu- kaum muslimin agar
berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Dan Allah تعالى akan
menjadikan hal itu bermanfaat. Kalbu manusia itu ada di tangan Allah
تعالى. Dan Allah تعالى adalag Dzat yang memberikan petunjuk kepada para
hamba.
Dan Alhamdulillah, telah terjadi banyak kebaikan dengan bergeraknya
para pelajar untuk memberikan nasehat kepada masyarakat dan untuk
menyeru mereka untuk menambah bekal kebaikan. Dan para pelajar juga
menyeru mereka agar menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan syari’at
Allah تعالى, berupa kebid’ahan, dan hal-hal yang lebih para dari itu.
Hanya kepada Allah تعالى kita meminta tolong.
Ini yang kami harapkan dari para pelajar, dan ini yang kami arahkan
(ajarkan) untuk mereka lakukan sesuai dengan kadar kemampuan mereka.
Johan: Beliau terkait dengan ketaatan kepada
pemerintah tadi, Negara kitakan mengakui adanya agama-agama tadikan?
Jadi tidak masalah, jadi intinya tadi Syeikh sampaikan syiar agama tetap
tapi dengan hikmah. Apa kaitan pesantren disini dengan yang di dammaj
karena kita nggak dikasi ke dammaj sama pemerintah Yaman, jadi kita mau
kesana tidak boleh sama pemerintah Yaman, tapi kesini boleh, apa
hubungan disini dengan disana apa ada beda atau sama, atau bagaimana?
Syaikh: Hubungan kami dengan Dammaj? Bahwasannya dakwah kami satu, dan kami juga sering kontak dengan mereka.
Adapun terkait larangan pemerintah Yaman, maka mungkin terjadi karena
adanya kekhawatiran di jalan. Kalau tidak, maka dulu beberapa pihak
dari kalian (Dubes dan jajaran KBRI) telah pergi ke sana. Entah pada
zaman Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy (Pak Dubes waktu itu ke sana), demikian
juga saya kira pada zaman Syaikh Yahya ini.
Maka larangan dari pemerintah ini, mungkin sebagai akibat dari adanya bentrokan dan keributan atau pencegatan di jalanan.
Abdullah putra Syaikh: Bagaimana kondisi Dammaj sekarang ini?
Syaikh: Sekarang keadaan telah tenang dan
pengepungan / blokade telah dibuka. Orang-orang keluar masuk ke Dammaj.
Ada yang telah pergi ke Dammaj dan telah keluar dari Dammaj. Kondisi
tenang. Dan kita memohon kepada Allah تعالى agar melanggengkan
kenikmatan dan kebaikan-Nya.
Eed: Jadi ma’bar sama dammaj sama pendidikannya,
sama pelajarannya atau kurikulumnya sama, terus bagaimana pendapat
Syeikh tentang fatwa dari Syeikh yang di dammaj itu untuk
santri-santrinya mengangkat senjata mempertahankan diri, kalau boleh
tahu pendapat Syeikh bagaimana?
Syaikh: Semoga Allah تعالى memberikan barakah pada kalian.
Terkait dengan pembelaan terhadap kehormatan, jiwa, harta dan agama
bagi orang yang dizhalimi dan dianiaya, maka hal ini adalah hal yang
disyari’atkan dalam agama, dan ini juga hal yang disepakati oleh
syari’at. Ini dari tinjauan sayari’at.
Demikian juga secara undang-undang dan adat kebiasaan internasional,
bahwa pembelaan terhadap jiwa dan kehormatan itu dibenarkan bagi orang
yang terzhalimi, dia bisa membela diri.
Maka keadaan saudara kita di Dammaj memiliki penjagaan, memiliki pos
di gunung Baraqah di atas Darul Hadits Dammaj adalh semata-mata bentuk
perlindungan dan penjagaan untuk Darul Hadits, membela Darul Hadits. Dan
ini tuntutan yang dibenarakan syari’at.
Hal ini dilakukan karena adanya sebab yang menuntut untuk itu, yang
mendorong untuk dilakukan. Yaitu usaha orang-orang Khutsi untuk
menyerang dan kezhaliman mereka, gerakan dadakan mereka, dan usaha
mereka untuk menumpahkan kerusakan yang besar kepada saudara kita berupa
pembunuhan dan semisalnya.
Maka hal seperti ini disebut dengan pembelaan diri akan jiwa,
kehormatan, dan agama pada waktu yang bersamaan. Demikian sebagaimana
kalian dengar, hal ini dibenarkan secara syari’at, secara adat
kebiasaan, dan secara undang-undang internasional. Alhalmdulillah.
(Bersambung ke bag. 2 di bawah) ..........
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam Dikunjugi Metro TV 02
Johan: Tadikan disini kita tahu, di dammaj
itu kita buka di internet dan buku, itu ada di serang al-hutsy, dammaj
itu memang betul diserang mereka mempertahankan diri, terus penjagaan,
saya lihat masuk tadikan banyak sekali didepan disini disini, apakah ini
juga, apa ancamannya, apakah al-hutsy juga akan menyerang, kok ketat
sekali gitu loh? Terus satu lagi, di shanaa ada jamiah al-iman, mereka
itu bagaimana pendapat Syeikh tentang al-iman itu, karena kalau kita
kemarin kesana itu, dengan pemerintah mereka sepertinya itu tidak cocok,
karena mereka tidak dikasih ijin -santri itu- oleh pemerintah Yaman,
tidak ada dikasih ijin disitu mereka disana, apa betul seperti itu?
Syaikh: Terkait adanya penjagaan yang
lumayan ketat di tempat kita ini, maka ini dikarenakan kondisi dan
peristiwa yang ada, juga karena kelakuan kaum Khutsi untuk menyalakan
api keributan, berupa pengeboman dan peledakan, dan semisal semua ini.
Maka penjagaan itu diadakan dari segi ini. Kami memohon kepada Allah
تعالى kelembutan.
Kondisi berubah-ubah, seakan urusan menjadi lebih parah
dengan tidak tegaknya pemerintah saat-saat ini sesuai yang diinginkan.
Maka merupakan hak setiap orang untuk waspada dan hati-hati pada semua
kondisi ini. Kami memohon pertolongan kepada Allah تعالى.
Adapun terkait Jami’ah Al-Iman. Kenapa pemerintah melarang
kalian ke sana. Maka hal ini dikarenakan sesuatu yang timbul berkembang
dalam diri mereka sendiri. Padahal awal-awalnya tidak ada yang seperti
ini.
Adapun kita, antara kami dengan partai-partai yang ada,
bahkan antara kami dengan pemerintah, kami berusaha untuk menyampaikan
nasehat kepada mereka. Kami berkeyakinan untuk memberikan nasehat yang
lurus, baik kepada partai politik ataupun kepada pemerintah, untuk
menjauhi hal-hal yang menyebabkan Allah تعالى murka, akibat adanya
berbagai perselisihan.
Maka kami menasehatkan kepada pengurus Jami’ah Al-Iman agar
menjauhi perkara perpartaian ini yang memecah belah kaum muslimin, dan
melemahkan kaum muslimin, sehingga timbullah kerusakan persaudaran kaum
muslimin. Hanya kepada Allah تعالى kita memohon kelembutan.
Dan kami juga nasehatkan kepada kaum muslimin dari dulu dan
mendatang agar mereka menjaga hak-hak sesama manusia, menjaga negara.
Ini yang kami jalani dari dulu dan mendatang.
Pertanyaan: Apa keyakinan yang dianut oleh kaum Khutsi (Syi’ah Rafidhah)? Dan apa yang menjadikan Khutsi menyerang Dammaj?
Syaikh: Rafidhah secara umum adalah
orang-orang yang berkeyakinan untuk mengedepankan ‘Ali bin Abi Thalib
dibanding Abu Bakr dan ‘Umar dalam hal kepemimpinan dan keutamaan. Maka
inilah orang Rafidhah.
Jika dia berkeyakinan untuk mencaci Abu Bakr dan ‘Umar
dalam kepemimpinan mereka, maka ini disebut Rafidhah Fanatik (dedengkot
tertinggi).
Rafidah berkeyakinan mengkafirkan banyak dari shahabat Nabi
صلى الله عليه وسلم. Maka hal ini merupakan bentuk pendustaan terhadap
Al-Qur’an Al-Karim, karena Allah تعالى telah memuji merekomendasi para
shahabat dan ridha kepada mereka, dan juga Allah تعالى menyatakan bahwa
mereka itu orang-orang yang jujur dan orang-orang yang beruntung dan
selaindari itu.
Demikian juga Rafidhah memiliki sikap yang melewati batas
terhadap keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم, terhadap ‘Ali bin Abi Thalib,
Al-Hasan, Al-Husain, Fathimah, dan orang-orang yang mereka sebut dengan
para imam. Maka mereka berlebih-lebihan pada mereka. Mereka mengatakan:
para imam ini ma’shum. Sedangkan tidak ada seorang pun yang ma’shum
kecuali para Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Rasul. Sifat ma’shum ini
tidak dimiliki oleh seorangpun dari pengikutu mereka, baik khalifahnya
atau yang lain.
Bahkan Rafidhah lebih parah sikap melampui batasnya dari
hal ini. Telah terjadi ada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib dan ini
terkenal secara sejarah bagi semua kelompok dan sekte.
Diberitakan dengan benar bahwa Abdullah bin Saba’ (orang
Yahudi yang menampakkan keislaman pemrakarsa sekte Rafidah) dan
pengikutnya berkata kepada ‘Ali: “Kamu adalah Allah تعالى”. Maka ‘Ali
mengatakan pada mereka: “Wahai kaum, aku ini manusia seperti kalian, aku
makan seperti kalian makan, aku minum seperti kalian minum, dan aku
juga menikahi wanita.” Mereka tetap berkata: “Tidak, kamu adalah Dia
(Allah تعالى).” Maka ketika mereka ngotot mengatakan bahwa ‘Ali adalah
Allah تعالى, maka ‘Ali menyatakan mereka telah murtad keluar dari islam,
dan menylakan api membara lalu melemparkan mereka dalam api dan
emmbakar mereka (karena tidak mau bertaubat).
Inilah tonggak benih kerusakan di kalangan kaum muslimin,
melalui jalan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya. Maka mereka meletakkan
dua pondasi:
- Celaan kepada para shahabat, terkhusus Abu Bakr dan ‘Umar.
- Sikap berlebihan terhadap keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم, menganggap mereka ma’shum, dan sebagian mereka mengatakan: kenabian itu hanya milik mereka, dan sebagian lagi lebih melewati batas sampai pada batasan menjadikan salah seorang mereka sebagai Allah تعالى.
Hal tadi adalah keyakinan mereka pada zaman dulu.
Demikian juga diantara keyakinan mereka belakangan ini
adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an telah diubah, keyakinan bahwa mereka
memiliki Al-Qur’an yang disebut dengan Al-Qur’an Fathimah, dan itulah
Al-Qur’an yang terjaga, itulah Al-Qur’an yang akan dijadikan patokan
hukum oleh Imam Mahdi mereka jika keluar, yaitu Mahdi dari Lorong
Sirdab.
Mahdi model ini hakikat sebenarnya dalah khurafat
(takhayul). Hanya saja keyakinan mereka, bahwa mahdi ini akan keluar dan
akan berhukum dengan Al-Qur’an Fathimah secara benar. Dia akan
mengeluarkan Al-Qur’an ini, dan akan membebaskan Makkad dan Madinah. Dan
selain itu dari keyakinan mereka.
Demikian juga keyakinan mengkafirkan orang lain. Contohnya
mereka mengkafirkan shahabat Rasulullah, mereka mengkafirkan kum
muslimin yang memiliki loyalitas dengan shahabat, setiap orang yang
mereka temukan mengucapkan “Radhiyallahu ‘anhu” pada shahabat maka
mereka anggap dia kafir, sehingga mereka menganggap darah mereka halal
untuk ditumpahkan, harta mereka halal untuk dirampas, kehormatan mereka
halal untuk dihinakan. Hanya saja mereka menyembunyikan keyakinan ini
sampai mereka kuat memiliki pengaruh. Jika mereka telah memiliki
pengaruh dan merasa kuat maka mereka tampakkan hal itu.
Diantara pokok penyimpangan dan kesesatan mereka adalah
taqiyah. Maknanya adalah: Mereka menampakkan di hadapan kaum muslimin
yang mereka takuti hal-hal yang seakan sesuai dengan kaum muslimin,
sehingga kaum muslimin menyangka bahwa mereka bukan orang yang
menyimpang. Dan hakikatnya mereka tetap pada penyimpangan mereka, akan
tetapi melakukan taqiyah ini pada saat mereka lemah di hadapan
orang-orang yang mereka takuti akan mengingkari mereka dan menjelaskan
hakikat mereka. Maka mereka berusaha untuk menampakkan bahwa rafidhah
tidaklah memiliki kejelekan ini tidak pula penyimpangan ini, dan selain
itu berupa keyakinan-keyakinan seperti pengakuan bahwa merekalah yang
paling berhak terhadap khilafah dan kepemimpinan, dan khlafah itu adalah
anugerah Allah تعالى yang khusus untuk mereka tidak pantas untuk selain
mereka. Dan mereka berkeyakinan jika yang menjadi khalifah dan pemimpin
adalah orang selain mereka maka orang tersebut kafir dan halal darahnya
ditumpahkan, hartanya dirampas dan kehormatannya dihinakan. (Dan inilah
yang menjadikan Syi’ah Rafidhah kalau sudah memiliki kekuatan mereka
menggulingkan pemerintah yang ada). Dan selain dari itu dari yang mereka
miliki berupa penyimpangan an kesesatan.
Dan yang menjadikan Khutsi menyerang kaum muslimin di
Dammaj dan tempat lainnya adalah keyakinan mereka di atas. Yang mana
sebagaimana kalian dengar.
Kalau saja mereka berani mengkafirkan banyak shahabat itu
kafir, maka lebih akan berani lagi dan lancang untuk mengkafirkan kaum
muslimin selain shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم. Padahal para shahabat
Nabi صلى الله عليه وسلم itu telah dipuji dan direkomendasi oleh Allah
تعالى, dan tidak tersisa lagi hal yang tidak mereka cela. Lebih dari itu
mereka melampaui batas dan zhalim dengan mengkafirkan para shahabat.
Maka orang-orang Rafidhah seperti Khutsi ini akan
menyerang, sama saja di Dammaj atau tempat lainnya (di dunia ini).
Mereka akan menyerang kaum muslimin secara umum, terkhusus lagi mereka
akan menyerang ahlus sunnah. Karena mereka mengkafirkan ahlus sunnah dan
menghalalkan darahnya, hartanya dan kehormatannya.
Akan tetapi Rafidhah akan berusaha untuk menyembunyikan
hakikat ini. Disaat mereka memiliki aqidah yang membolehkan segala hal,
maka mereka hanya menunggu waktu yang tepat dan kesempatan yang tepat
untuk melancarkan misi keyakinan mereka itu.
Allah تعالى yang lebih tahu semua ini.
Johan: Syukron Syeikh.
Syaikh: Semoga Allah تعالى mengampunimu.
Seperti biasanya Syaikh ketika kedatangan tamu dari orang
Indonesia (entah tamu dari KBRI atau para ustadz dari Indonesia, atau
rombongan dari Indonesia yang lain) maka beliau langsung menyediakan
waktu, meninggalkan rutinitas beliau yang sangat padat.
Setelah itu pada saat makan siang beliau menyediakan jamuan
spesial lalu makan bersama tamu dengan penuh pemuliaan. Sebagaimana hal
itu bisa ditanyakan kepada siapa saja yang hadir dalam pertemuan
tersebut.
Betapa Syaikh mencontohkan kepada umat dan terkhusus kepada
muridnya bagaimana memperlakukan orang dengan baik. Sama saja itu dari
kalangan ahlus sunnah sendiri, ataupun dari selain ahlus sunnah.
Tidak sedikit orang-orang dari kalangan awam yang mencintai
beliau karena sikap beliau ini. Tidak sedikit beberapa pejabat hormat
pada beliau karena sikap beliau.
Padahal penampilan beliau bukanlah perlente kayak
kebanyakan orang, badannya kecil kurus, namun Allah تعالى menjadikannya
berwibawa dengan ilmunya dan sikapnya terhadap semua orang dengan baik.
Inilah contoh dari ulama kita, ulama kaum muslimin.
Semoga Allah تعلى menjadikan apa yang kami sampaikan ini
bermanfaat, membawa pencerahan kepada orang yang hendak mencari
hakikatnya.
Semua anugerah dan kenikmatan adalah pemberian Allah تعالى semata tiada sekutu bagi-Nya.
Pelajar Indonesia
Di Darul Hadits
Ma’bar – Yaman
Sumber :
Asiyah Binti Muzahim, Secercah Cahaya Hidayah di Tangan Fir’aun
Siapa
yang Allah kehendaki baginya hidayah karena kemurahan dan kasing
sayang-Nya, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya,
siapa yang Allah sesatkan karena hikmah dan keadilan-Nya, maka tidak ada
seorang pun yang bisa menunjukinya. Hidayah taufik memang di tangan-Nya
semata. Siapa yang sangka, seorang yang berdampingan dengan orang yang
paling mulia, tetapi Allah halangi dari nikmat hidayah ini. Siapa yang
kira, orang yang hidup bersama orang yang paling kafir sedunia sepanjang
masa , Allah berkehendak untuk membuka hatinya, mengambil lentera
hidayah dalam pekat gulita kesombongan dan keangkuhan manusia, kemudian
berpendar terang menyinari relung hatinya. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Allah berfirman,
“Allah menjadikan istri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan
bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang
hamba yang shaleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu
berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan
(kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang
masuk (jahannam)”. dan Allah menjadikan istri Fir’aun perumpamaan bagi
orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah
untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari
Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” [Q.S. At Tahriim:10,11].
Ibnu katsir Rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa maksud khianat dalam
ayat di atas adalah memeluk agama selain agama suaminya. Demikian
tafsir dari Ibnu Abbas dan ulama setelahnya seperti Ikrimah, Said bin
Jubair, Ad Dhahak dan yang lainnya. Dalam ayat ini Allah tegaskan bahwa
kemuliaan orang terdekat tidak akan bermanfaat apabila tidak dibarengi
dengan keimanan.
Pada ayat yang kedua, Allah ingatkan bahwa ikatan dengan orang kafir
tidak mampu menghalangi hidayah taufik bagi seseorang apabila Allah
menghendakinya. Istri Firaun ini adalah Asiyah binti Muzahim, ia memilih
keimanan daripada kekafiran, memilih siksa dunia daripada siksa
akhirat, meninggalkan nikmat dunia untuk mendapatkan nikmat akhirat yang
lebih baik dan kekal abadi. Ia disiksa dibawah terik matahari,
disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa ia dibunuh dengan ditimpa
batu. Kemulian pun ia dapatkan,
Rasulullah ` bersabda, “banyak
kalangan laki-laki yang mencapai kesempurnaan, adapun dari kalangan
wanita, tidaklah mencapai kesempunaan kecuali Asiyah istri Fir’aun dan
Maryam binti Imran.” [H.R Al Bukhari dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari z].
Ibnul Qayyim v menjelaskan dalam I’lamul Muwaqi’in
bahwa dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada kita dengan memberikan
permisalan orang kafir dan orang mukmin. Pelajaran dalam permisalan
orang kafir adalah seorang yang tidak beriman akan diazab karena
kekafiran dan permusuhannya kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin.
Dengan kekafiran ini, tidak akan bermanfaat hubungan apapun dengan
mukmin yang lain, baik hubungan darah, nasab, pernikahan atau yang
lainnya. Karena seluruh hubungan akan terputus pada hari kiamat selain
hubungan yang terjalin karena Allah semata melalui perantara para
rasul-Nya. Seandainya tali kekeluargaan dan pernikahan bermanfaat tanpa
adanya keimanan, tentu hubungan ini akan bermanfaat pada istri Nabi Nuh
dan Nabi Luth.
Maka ayat ini memupus harapan orang yang menginginkan manfaat dari
hubungan dekatnya dengan orang shalih, namun dia bermaksiat kepada
Allah. Walaupun dahulunya di dunia memiliki hubungan yang sangat erat.
Tidak ada hubungan yang lebih dekat dari pada anak, orang tua dan suami
istri. Sementara Nabi Nuh tidak bisa berbuat banyak terhadap anaknya
yang kafir, Nabi Ibrahim tidak mampu menyelamatkan bapaknya yang
musyrik, Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak dapat menolong istri mereka dari
azab Allah sedikit pun ketika mereka berkhianat.
Allah berfirman,
“Karib Kerabat dan anak-anak kalian sekali-sekali tiada
bermanfaat bagi kalian pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara
kalian. dan Allah Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” [Q.S. Al Mumtahanah:3]. Ayat yang semakna sangat banyak dalam Al Quran.
Adapun pelajaran yang terkandung dalam permisalan bagi mukmin adalah
istri Fir’aun Asiyah binti Muzahim. Bahwa hubungan antara seorang mukmin
dengan kafir tidak akan memadharatinya sedikitpun apabila menyelisihi
si kafir tersebut dalam kekafiran dan amalan-amalannya. Kemaksiatan
orang lain tidak berpengaruh bagi seorang mukmin di akhirat sedikitpun.
Walaupun kadang di dunia ikut merasakan azab ketika manusia berpaling
dari seruan Allah dan Rasul-Nya yang azab tersebut datang menyeluruh
menimpa manusia. Allahu a’lam. [farhan].
Menikah dengan Memalsukan Data
Pertanyaan :
Bismillah.
Assalammualaikum wr.wb
kakak saya perempuan menikah dg seseorang laki2 yg sdh beristri, krn pernikahannya secara sembunyi2 takut ketahuan istrinya.. maka kakak ipar saya (skrng menjadi kakak ipar ) memalsukan semua datanya.. dari statusnya; menjadi perjaka dan alamat rumah serta membawa saksi2 yg palsu jg..krn kelg kami (Ibu dan kakak2 saya yg lain tdk menyetujui hub kakak saya ini)
perkawinan mereka sdh berjalan 10th dan selama itu selalu timbul mslh dg rmh tangga mereka, dari mslh keuangan sampai anak dari pihak kakak ipar saya (kebetulan dari perkawinan yg ini mereka tdk mempunyai anak) beberapa bln yg lalu kakak ipar saya berniat menceraikan istri pertamanya tp ternyata pihak istri pertama tidak mau sehingga banding sampai kekasasi…
Yg menjadi pertanyaan saya…sah kah menurut hukum islam dan negara
pernikahan yg dilakukan oleh kakak perempuan saya ini.. krn lama2 kakak
perempuan saya menjadi gamang dan ragu2 ttg keabsahan pernikahannya…dan
jalan apa yg harus mereka tempuh untuk meluruskan smua ini…apakah kakak
perempuan saya harus bercerai dl..kemudian kalo urusan perceraian
suaminya dg istri pertamanya selasai dia bs menikah lagi ato
bagaimana…terus terang perkawinan kakak permpuan saya selama ini penuh
dg kendala dan tdak berkah…apakah ini dikarenakan cara menikah yg salah
jg…? mohon jwbannya…terima kasih..kakak saya perempuan menikah dg seseorang laki2 yg sdh beristri, krn pernikahannya secara sembunyi2 takut ketahuan istrinya.. maka kakak ipar saya (skrng menjadi kakak ipar ) memalsukan semua datanya.. dari statusnya; menjadi perjaka dan alamat rumah serta membawa saksi2 yg palsu jg..krn kelg kami (Ibu dan kakak2 saya yg lain tdk menyetujui hub kakak saya ini)
perkawinan mereka sdh berjalan 10th dan selama itu selalu timbul mslh dg rmh tangga mereka, dari mslh keuangan sampai anak dari pihak kakak ipar saya (kebetulan dari perkawinan yg ini mereka tdk mempunyai anak) beberapa bln yg lalu kakak ipar saya berniat menceraikan istri pertamanya tp ternyata pihak istri pertama tidak mau sehingga banding sampai kekasasi…
wassalammualaikim wr.wb..
Jawaban :
Dijawab oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.
Waalaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Jawaban atas pertanyaan saudari Tiara.
Mengenai perkawinan kakak perempuan saudari dengan laki-laki
tersebut, sudahkah telah terpenuhi syarat-syarat pernikahan tersebut
secara agama atau belum, yaitu persyaratan adanya wali yang menikahkan,
saksi dan maharnya. Wali yang dimaksud adalah ayah perempuan tersebut,
bila telah meninggal maka kakeknya atau saudara laki-laki perempuan
tersebut misalnya. Dan saksi yang dimaksud adalah minimalnya 2
laki-laki, yang baik dan jujur, bisa dipertanggung jawabkan
persaksiannya. Bila ini terpenuhi dengan ijab dan qobulnya maka sah.
Tidak dipersyaratkan harus cerai dulu dengan istri pertamanya. Tetapi
kalau syarat-syarat diatas tidak terpenuhi maka tidak sah. Akan tetapi
suami tersebut tetap berdosa dalam hal pemalsuan data-datanya. Adapun
kalau dari sisi pandang hukum negara saya kurang tahu.
Adapun kemelut dalam keluarga, bila mana perkawinannya sah, maka
penyebabnya bukan dari sebab perkawinan itu, tapi mungkin saja dari
sisi-sisi lain, mungkin ketidak jujurannya, dan pemalsuan datanya,
kurangnya tanggung jawab, kurang bisa mengatur keluarga, dan kurang
menyayangi mereka, atau mungkin dari pihak istri yang kurang sabar,
tidak mau terima dan tidak mau tahu, atau yang lain. Yang jelas kalau
mau memperbaiki keluarga tentunya harus ada perbaikan secara menyeluruh,
dan masing masing punya niatan yang baik, dan senantiasa bertaubat
kepada Allah serta memohon pertolonganNya.
Sumber : http://tashfiyah.net/2010/12/menikah-dengan-memalsukan-data/
Sumber : http://tashfiyah.net/2010/12/menikah-dengan-memalsukan-data/
Monday, March 12, 2012
Dauroh Kec. Karossa Mamuju Bersama Ust. Khidir Bin Muhammad Sunusi
dengan
mengharap ridha Alloh Ta'ala
Dauroh
Kec. Karossa, Mamuju
bersama
:
Al-Ustadz
Abu 'Abdillah Khidir Bin Muhammad Sunusi Hafizhahullah
(Alumnus Daarul Hadits, Yaman & Pimpinan
Pondok Tahfidzul Qur'an, Parappa, Takalar Sul-Sel).
Materi Pertama :
"MERAIH
KELEZATAN IMAN
DAN
KECINTAAN
ALLAH YANG HAKIKI"
yang
insyaAlloh akan dilaksanakan pada :
Hari
Sabtu, 24 Rabi'uts Tsani 1433 H / 17 Maret 2012
Pukul
: 09.00 WITA - Zhuhur
Di
Masjid RayaNurul Muttaqin Karossa
Sunday, March 11, 2012
Download : Tabligh Akbar Mamuju, Ahad 17 Rabi'uts Tsani 1433 H / 11 Maret 2012 (Ust. Abdurrahman Lombok)
Download
Tabligh Akbar Mamuju
Bersama :
Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Lombok
" Hamba Yang Komitmen Di Atas Syari'at,
Bagaikan Menggenggam Bara Api"
Wednesday, March 7, 2012
Thursday, March 1, 2012
Menghidupkan Malam
Oleh : Abu Ali Abdus Shobur
Matahari mulai tenggelam. Malam pun datang menggantikan siang. Itulah diantara tanda kekuasaan Allah subhanahu wata'ala,.
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman ;
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190)
Allah Subhanahu wata'ala, berfirman (yang artinya) : Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Al Imron :190)
Tatkala
malam datang, syaithon-syaithon pun mulai bertebaran. Hal ini
sebagaimana dikatakan oleh Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam :
جَابِرَ
بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ - أَوْ أَمْسَيْتُمْ - فَكُفُّوا
صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ
سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا
اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا
Jika
telah datang gelapnya malam atau sore hari (mendekati maghrib), maka
tahanlah anak-anak kecil kalian (untuk tetap dirumah), karena
syaithan-syaithan menyebar ketika itu. Dan apabila telah berlalu waktu tersebut, maka biarkan mereka (tidak mengapa keluar).
Dan hendaknya kalian menutup pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah
Subhanahu wata'ala, karena sesungguhnya syaithan tidak mampu membuka
pintu yang tertutup. (HR. Al Bukhori no. 3304 dan Muslim no. 5368 dari Jabir bin Abdillah)
Subscribe to:
Posts (Atom)


















