Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).
Dimanakah Roh Para Nabi.?
Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?
Qurban, Keutamaan dan Hukumnya
Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)
Serba Serbi Air Alam
Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)
Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku
Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Saturday, September 15, 2012
Download Rekaman Tabligh Akbar Ciamis "Mengungkap Hakekat Ajaran Syi'ah Rafidhah" Bersama Ust. Muhammad Umar As-Sewed Hafizhahullah
Download rekaman Tabligh Akbar
“Mengungkap Hakekat Ajaran Syi’ah Rafidhah”
bersama :
Al-Ustadz Muhammad bin ‘Umar As-Sewed -hafizhahullaah-
(Mudir Ma’had Dhiya’us Sunnah Cirebon dan murid Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullaah-) di Masjid At-Taqwa Banjarsari Ciamis pada malam Sabtu, 14 September 2012.
Sumber : http://rizkytulus.wordpress.com/2012/09/16/download-mengungkap-hakekat-ajaran-syiah-rafidhahust-muhammad-as-sewed/
Friday, September 14, 2012
Posisi Duduk Masbuk: Tawarruk atau Iftirasy.?
Pertanyaan
Saya ingin mengajukan pertanyaan seputar shalat yang selama ini menjadi pertanyaan di benak saya, yaitu:
Ketika imam duduk tahiyat akhir sebelum salam, apakah posisi duduk
seorang masbuk seperti posisi duduk tahiyat awal ataukah tetap mengikuti
posisi duduk imam?
Jawaban
Shalat, ditinjau dari jumlah rakaatnya, terbagi dua:
Pertama:
shalat dua rakaat, seperti shalat Shubuh,
rawatib, dan lain-lain. Cara duduk shalat seperti ini adalah duduk
iftirasy, yakni seperti duduk tasyahud awal dalam shalat yang lebih dari
dua rakaat, atau seperti duduk antara dua sujud: kaki kanan ditegakkan
dan pantat duduk di atas kaki kiri. Ada dua hadits yang menjelaskan hal
tersebut:
- Hadits Abdullah bin Zubair bahwa beliau berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ
وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ افْتَرَشَ اليُسْرَى وَنَصَبَ
اليُمْنَى وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى الْوُسْطَى وَأَشَارَ
بِالسَّبَابَةِ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى
وَأَلْقَمَ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila
duduk dalam dua rakaat, menghamparkan (kaki) kirinya dan menegakkan
(kaki) kanannya, meletakkan ibu jari (tangan kanan)nya di atas jari
tengah dan berisyarat dengan telunjuk (tangan kanan)nya, serta
meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya, sedang telapak
tangan kirinya menggenggam (lutut)nya.”[1]
- Hadits Wâ`il bin Hujr:
وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ أَضْجَعَ الْيُسْرَى
وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى
وَنَصَبَ أُصْبَعَهُ لِلدَّعَاءِ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى
فَخِذِهِ الْيُسْرَى
“Dan apabila duduk dalam dua rakaat, beliau membaringkan kaki kirinya
dan menegakkan kaki kanannya, meletakkan tangan kanannya di atas paha
kanannya, serta menegakkan jari (tangan kanan)nya untuk doa dan
meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya ….”[2]
Kedua:
shalat yang lebih dari dua rakaat, seperti
shalat Maghrib, Isya, Zhuhur, dan Ashar. Shalat seperti ini mempunyai
dua tasyahud: tasyahud awal dan tasyahud akhir. Oleh karena itu, seorang
makmum duduk secara iftirasy pada tasyahud awal, sedang, pada tasyahud
akhir, duduk secara tawarruk, yaitu menegakkan kaki kanan dan memasukkan
kaki kiri di bawah paha dan betis kanan, sedang pantat sebelah kiri
bersentuhan langsung dengan tempat duduk.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Humaid As-Sâ’idy bahwa beliau menceritakan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan sepuluh orang shahabat, dan mereka membenarkan hal itu. Abu Humaid berkata,
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ
الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ
قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الأُ خْرَى وَقَعَدَ عَلَى
مَقْعَدَتِهِ
“Dan apabila duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kirinya
dan menegakkan (kaki) kanan. Sedang, apabila duduk pada rakaat
terakhir, beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain,
serta beliau duduk di atas tempat duduknya.”[3]
Rincian di atas merupakan pendapat Imam Ahmad[4], juga merupakan pendapat Ats-Tsaury, Ishaq, dan Ashhab Ar-Ra’yi.
Oleh karena itu, kalau seorang makmum masbuk pada shalat dua rakaat,
duduknya tiada lain kecuali duduk iftirasy, demikian pula bila masbuk
pada shalat yang tiga atau empat rakaat. Hal tersebut karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mencontohkan duduk tawwaruk hanya pada raka’at terakhir saja. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat.”[5]
Saya pernah mendengar Syaikhunâ Al-‘Allâmah Al-Muhaddits dari negeri Yaman, Syaikh Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh,
berkata, “Ada sebagian orang berpendapat bahwa, kalau seseorang masbuk
dua rakaat, kemudian mendapati imam duduk tasyahud terakhir, ia duduk
tawarruk seperti cara duduk imam dengan dalil hadits Abu Hurairah
riwayat Al-Bukhâry-Muslim,
إِنَّمَا جُعِلَ الإِْ مَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti.”
Lalu, beliau berkata, “Tetapi, yang nampak bagi saya adalah bahwa si masbuk ini tetap duduk iftirasy.”
Juga guru kami, Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbiry hafizhahullâh, dalam
salah satu jawaban beliau yang pernah kami dengarkan, menfatwakan bahwa
makmum hanya duduk iftirasy, walaupun imam berada pada rakaat terakhir.
Adapun hadits “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti,” ini
berlaku untuk mengikuti imam dalam hal yang zhahir. Hal zhahir yang
dimaksud di sini adalah bahwa, bila Sang Imam duduk, makmum juga harus
duduk bersama imam. Adapun cara duduk imam (iftirasy atau tawarruk)
tidaklah tercakup ke dalam lingkup hadits.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Wal ‘Ilmu ‘Indallah.
[1] Dikeluarkan oleh Ibnu Hibbân -sebagaimana dalam Al-Ihsân 5/370 no. 1943- dengan sanad yang hasan.
[2] Dikeluarkan oleh An-Nasâ`iy 2/586-587 no. 1158 dengan sanad yang shahih.
[3] Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry no. 794.
[4] Sebagaimana dalam Masâ`il Ibnu Hâny hal. 79, Al-Mughny 21/218, dan Majmû’ 3/430.
[5] Hadits Mâlik bin Al-Huwairiz riwayat Al-Bukhâry no. 605.
Sumber : http://dzulqarnain.net/posisi-duduk-masbuk-tawarruk-atau-iftirasy.html
Sumber : http://dzulqarnain.net/posisi-duduk-masbuk-tawarruk-atau-iftirasy.html
Tuesday, September 11, 2012
Tabligh Akbar Kampung Laut Cilacap "Mensyukuri Hidayah Keislaman" Bersama Al-Ustadz Ayip Syafruddin & Al-Ustadz Ibn Mukhtar Hafizhahumullah
Dengan Mengharap Ridha Allah Semata...
Hadirilah..!
Tabligh Akbar
Dengan Tema :
"Mensyukuri Hidayah Keislaman"
Bersama :
Al-Ustadz Ayip Syafruddin & Al-Ustadz Ibn Mukhtar Hafizhahumullah
(Pengasuh Ponpes Daarus Salaf Solo)
Pada Hari Ahad, 29 Syawwal 1433 H / 16 September 2012 M
Pukul : 09.00 WIB - Selesai
Bertempat di Lapangan SDN Ujungalang 01
(Desa Ujungalang, Kec. Kampung Laut, Cilacap Barat)
Informasi : Abu 'Abdillah Fikri 085353234344
Penyelenggara :
Ponpes An-Nuur Al-Atsary, Banjarsari Ciamis
Bekerjasama dengan
DKM Nurul Huda Desa Ujungalang Kec. Kampung Laut Cilacap
Daurah Ilmiyah: TERCELANYA TAQLID, Salatiga, Ust Muhammad Na’im Lc, Ahad 29 Syawal 1433 H
InsyaAllah, akan diadakan Daurah Ilmiyah di Salatiga, dengan tema:
TERCELANYA TAQLID
(Pembahasan kitab At-Taqlid Adz-Dzamim wa Atsaruhu,
Karya Al-’Allamah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madekhali),
Pemateri:
Al-Ustadz Muhammad Na’im Lc
(Pengasuh Ma’had Al-Madinah-Boyolali)
Hari Ahad 29 Syawal 1433 H / 16 September 2012
Jam 09.00-15.00 WIB
Tempat:
Masjid Ponpes Misykatul Atsar,
(Kradenan, Tingkir Lor, Salatiga, Jateng).
Terbuka untuk Umum (Laki-laki dan Perempuan)
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com/2012/09/11/daurah-ilmiyah-tercelanya-taqlid-salatiga-ust-muhammad-naim-lc-ahad-29-syawal-1433-h/#more-1391
Monday, September 10, 2012
Dimanakah Roh Para Nabi.?
Soal:
Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit?
Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit?
Jawab:
Roh-roh mereka berada di dalam surga. Roh para syuhada`, roh para nabi, dan roh kaum mukminin, seluruhnya di dalam surga. Kalau kaum mukminin saja roh mereka bepergian di dalam surga kemanapun mereka inginkan, maka bagaimana lagi dengan roh para nabi alaihimushshalatu wassalam?! Maka roh-roh para nabi tidak terdapat di dalam kubur-kubur mereka sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi roh-roh mereka terdapat di dalam surga. Dan jasa tidak akan bersatu dengan roh kecuali pada hari kiamat.
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً
“Hari ditiupnya sangkakala lalu kalian datang dalam keadaan berbondong-bondong.” (QS. An-Naba`: 18)
Roh-roh mereka berada di dalam surga. Roh para syuhada`, roh para nabi, dan roh kaum mukminin, seluruhnya di dalam surga. Kalau kaum mukminin saja roh mereka bepergian di dalam surga kemanapun mereka inginkan, maka bagaimana lagi dengan roh para nabi alaihimushshalatu wassalam?! Maka roh-roh para nabi tidak terdapat di dalam kubur-kubur mereka sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi roh-roh mereka terdapat di dalam surga. Dan jasa tidak akan bersatu dengan roh kecuali pada hari kiamat.
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً
“Hari ditiupnya sangkakala lalu kalian datang dalam keadaan berbondong-bondong.” (QS. An-Naba`: 18)
Pada hari itulah Allah membangkitkan mereka. Manusia yang paling pertama kali terbuka kuburnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan beliau alaihishshalatu wassalam adalah manusia yang paling pertama dibangkitkan. Adapun hadits:
اَلْأَنْبِياءُ أَحْياءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
“Para nabi itu hidup di dalam kubur-kubur mereka, mereka mengerjakan shalat.”
Maka walaupun Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan shahihnya, akan tetapi yang benarnya haditsnya sangat lemah. Dan ini adalah hadits pertama yang saya kritisi kepada beliau rahimahullah.
[Diterjemahkan dari Fatawa fi Al-Aqidah wa Al-Manhaj (majelis pertama) soal no. 6 oleh Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi hafizhahullah]
Sumber : http://al-atsariyyah.com/dimanakah-roh-para-nabi.html
Merenungi Surat Al-Ashr
“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar - benar dalam
kerugian.Kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,
serta nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasihat menasehati dalam
kesabaran.” (Qs. Al -`Ashr 1- 3 )
Surat Al -`Ashr ini adalah surat pendek yang terdiri dari tiga ayat,
akan tetapi merupakan surat yang agung disebabkan kandungan makna yang
sangat mendalam di dalamnya.Oleh karena itu Imam Asy Syafi`i
Rahimahullahu Ta`aala pernah mengatakan berkaitan dengan surat ini ; “
Kalau seandainya manusia mentadaburi surat ini niscaya surat ini cukup
bagi mereka.“ Maksud ucapan beliau adalah bahwa surat Al -`Ashr ini,
cukup untuk mendorong manusia agar berpegang teguh kepada agama Allah .
Bukan berarti mencukupi bagi mereka terhadap seluruh syariat-Nya akan
tetapi dengan surat ini akan cukup menjadikan orang yang berakal ketika
mendengar atau membacanya, akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya
dari golongan yang merugi dengan cara menghiasai dirinya dengan
sifat-sifatnya seperti yang tersebut didalamnya. Lebih daripada itu,
surat ini juga merangkum sebab-sebab kebahagiaan secara menyeluruh dan
mengandung pula peringatan dari Allah Ta`aala.
Peringatan Allah Dalam Surat Al -`Ashr
Dalam surat ini, Allah Ta`aala bersumpah dengan masa.Masa yang merupakan tempat suatu kejadian,baik berupa kebaikan ataukah keburukan. Demikianlah Allah bersumpah dengan makhluknya sesuai dengan yang Allah inginkan, sedangkan makhluk tidak diperkenankan bersumpah kepada selain nama Allah, karena bersumpah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ
“ Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Tidaklah Allah bersumpah dengan menyebut makhluknya melainkan di dalamnya ada hikmah dan pelajaran .Diantara hikmahnya - Wallahu a`lam – ialah bahwa surat ini menunjukkan pentingnya waktu. Seorang hamba akan dihisab terhadap waktunya yang ia habiskan dalam kehidupan dunia ini,sejak dirinya mencapai usia baligh hingga kematian menjemputnya. Rasullullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ
“ Tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan,tentang ilmunya apa yang ia amalkan,tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan kemana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan ( habiskan ). “ ( HR. Tirmidzi dari Abu Barzah Radhiyallahu `anhu dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Didalam ayat ini Allah mengingatkan hambaNya akan pentingnya waktu,dimana kebanyakan manusia tertipu dengannya,tidak memanfaatkannya dalam perkara yang mendatangkan keridhaan Allah Ta`aala.Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَ اْلفَرَاغِ
“ Dua perkara yang kebanyakan manusia tertipu dengannya,nikmat kesehatan dan waktu longgar. “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu `Abbas Radhiyallahu `Anhu )
Ibnu Jauzi Rahimahullahu Ta`aala menjelaskan ; “ Kadang – kadang manusia dalam kondisi sehat akan tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari ma`isyah. Kadang – kadang ia berkecukupan ( sehingga punya waktu luang ) akan tetapi tidak memiliki kesehatan. Ketika berkumpul keduanya ( kesehatan dan waktu luang ) maka rasa malas untuk melakukan keta`atan menguasai dirinya, sehingga ia menjadi orang yang tertipu. Padahal, dunia adalah ladang dan tempat perniagaan yang akan nampak keberuntungannya di kehidupan akhirat. Barangsiapa yang menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk ta`at kepada Allah maka ia akan berbahagia.Dan barangsiapa yang menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah maka ia orang yang tertipu,karena waktu luang itu akan digantikan dengan kesibukan dan sehat akan digantikan dengan sakit.” ( Fathul Baari )
Demikianlah keadaan manusia,mereka terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada yang ketiga,diantaranya ada yang ta`at dan yang lainnya bermaksiat . Asy syaikh Ubaid Al Jaabiri Hafidhahullahu Ta`aala menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ;
اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“ Al Qur’an itu akan menjadi hujah bagimu ( membelamu ) ataukah akan menjadi hujah atasmu ( membinasakanmu). “ Waktumu yang engkau habiskan di dunia, tidaklah terlepas dari dua perkara,apakah engkau orang yang mengamalkan Al Qur’an, beriman dengannya, beramal terhadap ayat – ayatnya yang muhkam ( jelas ),mengimani ayat yang mutasyabih (samar ),dan engkau menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka dengan ini semua Al Quran akan menjadi hujah yang akan membelamu, ataukah sebaliknya dari itu semua, maka Al Quran akan menjadi hujah yang akan membinasakanmu.” ( Ahamiyatul Wakti Fi Hayatil Muslim )
Sebab-sebab Kebahagiaan
Allah bersumpah bahwa seluruh manusia dalam kerugian siapapun dia,kaya maupun miskin,pandai maupun jahil,mulia ataukah rendah,laki-laki maupun perempuan,bangsawan ataukah bukan. Semuanya merugi dunia dan akhiratnya kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut,yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
1.Beriman
Iman adalah yang mencakup setiap perkara yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta`aala, baik berupa keyakinan yang benar atau ilmu yang bermanfaat.Iman yang tidak bercampur dengan keraguan.Tidak ragu dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman,yaitu mengimani tentang Allah, malaikat – malaikat-Nya,kitab - kitab-Nya,rasul – rasul-Nya,hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.
Manusia dalam iman terbagi menjadi tiga, pertama ; orang yang beriman yang murni imannya,kedua ; orang yang kufur yang mengingkari dan menentangnya,ketiga; orang yang ragu.Yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman yang murni imannya.
Anjuran beriman dalam hal ini terkandung didalamnya perintah untuk menuntut Ilmu.Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali mengilmui terhadap perkara yang harus diimaninya.Asy Syaikh Abdurrahman As Sa`di Rahimahullah Ta`aala mengatakan; “ Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu. “ ( Tafsir As Sa`di )
2. Beramal Shaleh
Yang dimaksud dengan amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu ; ikhlas karena Allah dan mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad Rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” ( Qs. Al Mulk : 2 ) beliau mengatakan ; “ yang paling ikhlas dan paling benar,sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan apabila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar,amalan disebut ikhlas apabila karena Allah dan benar apabila mencocoki sunnah ( tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ).”
Sehingga tidaklah setiap orang yang beramal kebajikan itu akan mendapatkan balasan dari Allah sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai sunnah. Allah ta`aala berfirman ; “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ( Qs. Al Kahfi : 103-104 )
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ; “ Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak diatas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya.Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” ( Qs. Al Ghasyiyah : 2-4) ( Tafsir Ibnu Katsir )
Ibnu `Abbas Radhiyallahu `anhuma menafsirkan ayat ini ; “ bahwa wajah – wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.“
Apabila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka,lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali ? Hidup seperti binatang hanya makan,minum,dan memuaskan hawa nafsunya, tidak mau sholat, enggan zakat dan tidak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah.
3. Memberi Nasehat Kepada Al Haq ( kebenaran )
Yang dimaksud disini adalah berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah.Tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim ) .
Berdakwah merupakan bentuk kesempurnaan iman.Dan berdakwah,melakukan amar ma`ruf nahi mungkar bukanlah termasuk ikut campur tangan urusan orang lain, sebagaimana anggapan orang jahil di zaman ini.Akan tetapi orang yang berdakwah pada hakikatnya bertujuan membawa kebaikan bagi mereka dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan adzab Allah.Disebutkan dalam hadits ; “ Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaraan dan ia tidak merubahnya hampir - hampir Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani Rahimahullah )
4. Bersabar
Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia ini.Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.
Tidaklah seseorang itu tatkala melakukan amalan ketaatan,baik ketika menuntut ilmu,beramal shaleh ataupun ketika berdakwah dan yang lainnya,melainkan membutuhkan kesabaran agar tetap istiqomah.Dan hal ini merupakan perkara yang berat,karena setan senantiasa menggoda untuk menggelincirkannya.Demikian pula membutuhkan kesabaran untuk mengekang hawa nasfu agar tidak melakukan kemaksiatan,karena jiwa ini cenderung mendorong kepada keburukan,seperti firman Allah Ta`aala ; “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” ( Qs. Yusuf : 53 )
Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah . Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya. Allah ta`aala berfirman ; “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22)
Wallahu a`lam
Oleh : Al-Ustadz Abu Usaid Abdul Fattah
Peringatan Allah Dalam Surat Al -`Ashr
Dalam surat ini, Allah Ta`aala bersumpah dengan masa.Masa yang merupakan tempat suatu kejadian,baik berupa kebaikan ataukah keburukan. Demikianlah Allah bersumpah dengan makhluknya sesuai dengan yang Allah inginkan, sedangkan makhluk tidak diperkenankan bersumpah kepada selain nama Allah, karena bersumpah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ أَشْرَكَ
“ Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Tidaklah Allah bersumpah dengan menyebut makhluknya melainkan di dalamnya ada hikmah dan pelajaran .Diantara hikmahnya - Wallahu a`lam – ialah bahwa surat ini menunjukkan pentingnya waktu. Seorang hamba akan dihisab terhadap waktunya yang ia habiskan dalam kehidupan dunia ini,sejak dirinya mencapai usia baligh hingga kematian menjemputnya. Rasullullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتّى يُسْأَلُ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ
“ Tidaklah bergeser kedua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan,tentang ilmunya apa yang ia amalkan,tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan kemana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia rusakkan ( habiskan ). “ ( HR. Tirmidzi dari Abu Barzah Radhiyallahu `anhu dishahihkan Al Albani Rahimahullah)
Didalam ayat ini Allah mengingatkan hambaNya akan pentingnya waktu,dimana kebanyakan manusia tertipu dengannya,tidak memanfaatkannya dalam perkara yang mendatangkan keridhaan Allah Ta`aala.Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَ اْلفَرَاغِ
“ Dua perkara yang kebanyakan manusia tertipu dengannya,nikmat kesehatan dan waktu longgar. “ ( HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu `Abbas Radhiyallahu `Anhu )
Ibnu Jauzi Rahimahullahu Ta`aala menjelaskan ; “ Kadang – kadang manusia dalam kondisi sehat akan tetapi tidak memiliki waktu luang karena sibuk mencari ma`isyah. Kadang – kadang ia berkecukupan ( sehingga punya waktu luang ) akan tetapi tidak memiliki kesehatan. Ketika berkumpul keduanya ( kesehatan dan waktu luang ) maka rasa malas untuk melakukan keta`atan menguasai dirinya, sehingga ia menjadi orang yang tertipu. Padahal, dunia adalah ladang dan tempat perniagaan yang akan nampak keberuntungannya di kehidupan akhirat. Barangsiapa yang menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk ta`at kepada Allah maka ia akan berbahagia.Dan barangsiapa yang menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah maka ia orang yang tertipu,karena waktu luang itu akan digantikan dengan kesibukan dan sehat akan digantikan dengan sakit.” ( Fathul Baari )
Demikianlah keadaan manusia,mereka terbagi menjadi dua golongan dan tidak ada yang ketiga,diantaranya ada yang ta`at dan yang lainnya bermaksiat . Asy syaikh Ubaid Al Jaabiri Hafidhahullahu Ta`aala menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ;
اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“ Al Qur’an itu akan menjadi hujah bagimu ( membelamu ) ataukah akan menjadi hujah atasmu ( membinasakanmu). “ Waktumu yang engkau habiskan di dunia, tidaklah terlepas dari dua perkara,apakah engkau orang yang mengamalkan Al Qur’an, beriman dengannya, beramal terhadap ayat – ayatnya yang muhkam ( jelas ),mengimani ayat yang mutasyabih (samar ),dan engkau menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka dengan ini semua Al Quran akan menjadi hujah yang akan membelamu, ataukah sebaliknya dari itu semua, maka Al Quran akan menjadi hujah yang akan membinasakanmu.” ( Ahamiyatul Wakti Fi Hayatil Muslim )
Sebab-sebab Kebahagiaan
Allah bersumpah bahwa seluruh manusia dalam kerugian siapapun dia,kaya maupun miskin,pandai maupun jahil,mulia ataukah rendah,laki-laki maupun perempuan,bangsawan ataukah bukan. Semuanya merugi dunia dan akhiratnya kecuali orang yang mengisi waktunya dengan empat perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut,yang dengannya akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
1.Beriman
Iman adalah yang mencakup setiap perkara yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta`aala, baik berupa keyakinan yang benar atau ilmu yang bermanfaat.Iman yang tidak bercampur dengan keraguan.Tidak ragu dengan perkara yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman,yaitu mengimani tentang Allah, malaikat – malaikat-Nya,kitab - kitab-Nya,rasul – rasul-Nya,hari akhir dan beriman kepada taqdir yang baik dan buruk.
Manusia dalam iman terbagi menjadi tiga, pertama ; orang yang beriman yang murni imannya,kedua ; orang yang kufur yang mengingkari dan menentangnya,ketiga; orang yang ragu.Yang selamat adalah golongan yang pertama, orang yang beriman yang murni imannya.
Anjuran beriman dalam hal ini terkandung didalamnya perintah untuk menuntut Ilmu.Karena tidak akan terwujud keimanan yang benar kecuali mengilmui terhadap perkara yang harus diimaninya.Asy Syaikh Abdurrahman As Sa`di Rahimahullah Ta`aala mengatakan; “ Tidaklah terwujud iman tanpa ilmu, maka ilmu adalah cabang dari iman, tidaklah sempurna iman tanpa ilmu. “ ( Tafsir As Sa`di )
2. Beramal Shaleh
Yang dimaksud dengan amalan shaleh adalah setiap amalan yang terkumpul padanya dua perkara yaitu ; ikhlas karena Allah dan mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam, sebagaimana perkataan Fudhail bin `Iyyad Rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalannya.” ( Qs. Al Mulk : 2 ) beliau mengatakan ; “ yang paling ikhlas dan paling benar,sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak diterima dan apabila benar akan tetapi tidak ikhlas tidak diterima pula sampai amalan tersebut ikhlas dan benar,amalan disebut ikhlas apabila karena Allah dan benar apabila mencocoki sunnah ( tuntunan Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam ).”
Sehingga tidaklah setiap orang yang beramal kebajikan itu akan mendapatkan balasan dari Allah sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai sunnah. Allah ta`aala berfirman ; “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ( Qs. Al Kahfi : 103-104 )
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ; “ Ayat ini umum mencakup setiap yang beribadah kepada Allah tidak diatas jalan yang diridhai dalam keadaan ia menyangka benar dan diterima amalannya.Padahal ia salah dan tertolak amalannya, seperti firman Allah Ta`aala yang artinya ; “ Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” ( Qs. Al Ghasyiyah : 2-4) ( Tafsir Ibnu Katsir )
Ibnu `Abbas Radhiyallahu `anhuma menafsirkan ayat ini ; “ bahwa wajah – wajah tertunduk dan tidak bermanfaat amalannya.“
Apabila keadaan orang yang beramal tidak sesuai dengan syariat saja dimasukkan ke dalam neraka,lalu bagaimana keadaan orang yang tidak beramal sama sekali ? Hidup seperti binatang hanya makan,minum,dan memuaskan hawa nafsunya, tidak mau sholat, enggan zakat dan tidak menjaga diri dari yang haram serta bermaksiat. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan hidayah.
3. Memberi Nasehat Kepada Al Haq ( kebenaran )
Yang dimaksud disini adalah berdakwah di jalan Allah diatas ilmu dan hikmah.Tidaklah cukup seseorang itu berilmu dan beramal shaleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri,akan tetapi seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain,agar dirinya menjadi mukmin yang hakiki. Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda ;
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim ) .
Berdakwah merupakan bentuk kesempurnaan iman.Dan berdakwah,melakukan amar ma`ruf nahi mungkar bukanlah termasuk ikut campur tangan urusan orang lain, sebagaimana anggapan orang jahil di zaman ini.Akan tetapi orang yang berdakwah pada hakikatnya bertujuan membawa kebaikan bagi mereka dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan adzab Allah.Disebutkan dalam hadits ; “ Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaraan dan ia tidak merubahnya hampir - hampir Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka.” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani Rahimahullah )
4. Bersabar
Sabar yaitu menahan diri diatas ketaatan kepada Allah, menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada-Nya serta sabar terhadap ketetapan Allah berupa cobaan dan ujian dalam kehidupan dunia ini.Inilah tiga macam bentuk kesabaran yang dituntut ada pada diri seseorang.
Tidaklah seseorang itu tatkala melakukan amalan ketaatan,baik ketika menuntut ilmu,beramal shaleh ataupun ketika berdakwah dan yang lainnya,melainkan membutuhkan kesabaran agar tetap istiqomah.Dan hal ini merupakan perkara yang berat,karena setan senantiasa menggoda untuk menggelincirkannya.Demikian pula membutuhkan kesabaran untuk mengekang hawa nasfu agar tidak melakukan kemaksiatan,karena jiwa ini cenderung mendorong kepada keburukan,seperti firman Allah Ta`aala ; “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” ( Qs. Yusuf : 53 )
Begitu juga seorang dai butuh untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah . Ujian dan cobaan merupakan perkara yang pasti akan dialami setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat iman yang ada padanya. Allah ta`aala berfirman ; “Tidaklah suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadiid : 22)
Wallahu a`lam
Oleh : Al-Ustadz Abu Usaid Abdul Fattah
Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/96-merenungi-surat-al-ashr
Thursday, September 6, 2012
Hidup Di Penjara Bukan Berarti Sengsara
Penjara, identik dengan sebuah tempat yang sempit, terkekang, tidak
bebas, dan dibatasi ruang gerak dengan dinding- dinding penjara dari
seluruh penjuru. Yah, begitulah Nabi kita Muhammad –Shallallahu Alaihi
Wasallam- menyebutkan hakekat kehidupan dunia ini.
Bagi seorang mukmin, kehidupan dunia ini ibaratnya seperti orang yang
hidup dalam sebuah penjara. Dalam sebuah hadits yang sahih, Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara seorang mukmin, dan surga orang kafir.”
(HR.Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara seorang mukmin, dan surga orang kafir.”
(HR.Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)
Berkata An-Nawawi Rahimahullah tatkala menjelaskan hadits ini:
“maknanya adalah setiap mukmin dipenjara di dunia ini, dan dilarang
melampiaskan syahwat- syahwat yang diharamkan dan yang dibenci, diberi
beban untuk menjalankan amalan- amalan ketaatan yang ia merasa berat,
dan tatkala dia mati maka dia beristirahat, dan situasiNya berbalik
menuju kepada apa yang telah Allah persiapkan untuknya berupa kenikmatan
yang abadi, dan tempat beristirahat yang nyaman yang tidak ada
kekurangan sedikitpun.
Adapun bagi orang kafir, dia hanya mendapatkan apa yang diraihnya
dalam kehidupan dunia yang sedikit, itupun dikotori dengan berbagai
macam kesulitan hidup. Apabila ia telah mati, maka dia akan menuju
siksaan yang tiada henti dan kesengsaraan yang abadi.”
(Syarah Muslim, An-Nawawi:18/93)
(Syarah Muslim, An-Nawawi:18/93)
Berkata pula Al-Qurthubi tatkala menjelaskan hadits ini:
“Sesungguhnya dunia bersifat demikian disebabkan karena seorang mukmin dalam kehidupan dunia, terikat dengan beban- beban syariat, sehingga dia tidak mampu melakukan satu gerakan, dan tidak pula berdiam diri, kecuali jika syariat memberi kelapangan padanya untuk melepaskan ikatannya yang memungkinkan baginya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ditambah lagi dengan berbagai macam cobaan dan ujian, serta tantangan kehidupan berupa perasaan sedih, gundah gulana, rasa sakit, kepedihan, berusaha menghadapi tantangan dan perlawanan, menghadapi keluarga dan anak- anak.
“Sesungguhnya dunia bersifat demikian disebabkan karena seorang mukmin dalam kehidupan dunia, terikat dengan beban- beban syariat, sehingga dia tidak mampu melakukan satu gerakan, dan tidak pula berdiam diri, kecuali jika syariat memberi kelapangan padanya untuk melepaskan ikatannya yang memungkinkan baginya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ditambah lagi dengan berbagai macam cobaan dan ujian, serta tantangan kehidupan berupa perasaan sedih, gundah gulana, rasa sakit, kepedihan, berusaha menghadapi tantangan dan perlawanan, menghadapi keluarga dan anak- anak.
Secara umum, keadaannya seperti yang dijelaskan bahwa manusia yang
paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para wali, kemudian
yang semisalnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai tingkat
keimanannya, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu
Alaihi Wasallam. Penjara manakah yang lebih dahsyat dari penjara ini?.
Lalu kemudian , dia di dalam penjara tersebut dalam keadaan khawatir dan
takut yang sangat, sebab dia tidak mengetahui apa yang akan menjadi
penutup amalan dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, dia sedang
mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada yang lebih berbahaya dari sesuatu
itu, dia takut akan kebinasaan yang tidak ada lagi kebinasaan
diatasnya?!. Kalau seandainya dia tidak berharap untuk dapat keluar dari
penjara ini, niscaya dia akan binasa. Akan tetapi, Allah mengasihinya,
dan menjadikan beban seorang hamba tersebut terasa ringan dengan
janji-Nya tatkala dia bersabar, dan dibukakan baginya jalan baginya
menuju akhir kehidupan yang baik.
Adapun orang yang kafir, dia terlepas dari berbagai beban syariat
tersebut, dan merasa aman dari segala yang ditakutkan, dan terus
merasakan nikmatnya dunia, melampiaskan syahwatnya, merasa mulia dengan
hari- hari yang dilaluinya, sehingga dia makan dan bersenang- senang
seperti makannya hewan, dan dalam waktu dekat, dia akan tersadar dari
buaian mimpinya, dan akhirnya dia masuk ke dalam penjara yang dia tidak
akan keluar darinya. Kita memohon kepada Allah agar diberi keselamatan
dari kengerian yang terjadi di hari kiamat.”
(Al-Mufhim, Al-Qurthubi:7/109-110)
(Al-Mufhim, Al-Qurthubi:7/109-110)
Saudaraku, bebaskan dirimu dari penjara!
Jika kita telah menyadari bahwa ternyata kita sedang hidup didalam
penjara, maka kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar untuk bebas
dan keluar dari penjara tersebut. Jangan sampai tatkala kita telah
keluar dari penjara dunia, ternyata kita digiring menuju ke penjara
yang lebih sempit, lebih membosankan, lebih menyedihkan, lebih menyiksa
dan menyakitkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
(QS.Toha:124)
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
(QS.Toha:124)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.”
(QS.Az-Zumar:26)
“Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.”
(QS.Az-Zumar:26)
Maukah anda keluar dari penjara?
Bukanlah hal yang sulit, cukup anda menampakkan perilaku yang baik
kepada penguasa penjara itu, jaga tutur kata anda, berakhlak-lah dengan
akhlak yang baik, berbuatlah dengan hal- hal yang menyebabkan pemilik
dan penguasa penjara itu senang dan cinta kepadamu, niscaya engkau akan
segara meraih kebebasan, dan menjalani kehidupan yang sebenarnya,
kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, tidak lagi ada kesedihan, rasa
sakit, kepedihan, seperti yang pernah anda rasakan ketika hidup di
penjara. Kebahagiaan yang abadi, merasakan sebuah kenikmatan yang tak
pernah anda merasakan sebelumnya.
Oleh karena itu, jadikanlah seluruh waktumu di dalam penjara dengan
beribadah hanya kepada Penguasa penjara itu Dia adalah Allah Rabbul
Alamin, tauhidkanlah Dia, beribadahlah dengan penuh keikhlasan,
bertawakkal hanya kepada-Nya, dan menjadikan seluruh aktifitas ibadah
itu hanya untuk-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ". (QS.Al-An’am:162)
Demikian pula perbaiki akhlak dan perbuatanmu, dengan cara menjadikan
Rasuullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai panutan dan suri
tauladanmu. Sebab suatu ibadah barulah dianggap benar , jika sesuai
bimbingan dan aturan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
(QS.Al-Hasyr: 7)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
(QS.Al-Hasyr: 7)
Allah Ta’ala juga berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS.Ali Imran:31)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS.Ali Imran:31)
Rasulullah Shallallahu Alaih Wasallam bersabda:
“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang diberi hidayah setelahku.”
(HR.Tirmidzi dan yang lainnya, dari sahabat Irbadh bin Sariyah)
“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang diberi hidayah setelahku.”
(HR.Tirmidzi dan yang lainnya, dari sahabat Irbadh bin Sariyah)
Dan Beliau juga bersabda:
“barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada aturannya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
(HR.Muslim dari Aisyah Radhiallahu Anha)
“barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada aturannya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
(HR.Muslim dari Aisyah Radhiallahu Anha)
Perbaikilah kesalahan yang telah anda perbuat, memohon ampunlah
kepada Penguasa penjara itu, agar Dia –Yang Maha Pengampun dan menerima
taubat hamba-Nya- memberi maaf kepadamu, dan mengampuni segala
kesalahanmu. Hanya dengan cara ini, anda pasti akan keluar dari
penjara, menuju alam bebas yang penuh kebahagiaan dan kenikmatan yang
kekal abadi. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”
(QS.Ali Imran:133-136)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”
(QS.Ali Imran:133-136)
Allah Azza Wajalla juga berfirman:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
(QS.Al-Ankabut:64)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
(QS.Al-Ankabut:64)
Hidup di penjara, bukan berarti sengsara
Namun, bagi seorang ahli ibadah yang menghambakan diri dihadapan Allah Azza Wajalla, hidup dalam penjara dunia bukanlah sebuah kesengsaraan, namun didalamnya terkandung sebuah kenikmatan, yang hanya bisa dirasakan oleh seorang hamba yang memahami arti sebuah penghambaan dirinya kepada sang Maha Pencipta. Oleh karenanya,dalam diri seorang mukmin, menjalankan ibadah merupakan satu kenikmatan dan bukan sebagai beban, terdapat sebuah kebahagiaan disaat mereka merasakan manisnya keimanan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: 1. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya. 2. Dia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. 3. Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”
(Muttafaq Alaihi dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)
Namun, bagi seorang ahli ibadah yang menghambakan diri dihadapan Allah Azza Wajalla, hidup dalam penjara dunia bukanlah sebuah kesengsaraan, namun didalamnya terkandung sebuah kenikmatan, yang hanya bisa dirasakan oleh seorang hamba yang memahami arti sebuah penghambaan dirinya kepada sang Maha Pencipta. Oleh karenanya,dalam diri seorang mukmin, menjalankan ibadah merupakan satu kenikmatan dan bukan sebagai beban, terdapat sebuah kebahagiaan disaat mereka merasakan manisnya keimanan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: 1. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya. 2. Dia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah. 3. Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”
(Muttafaq Alaihi dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Dijadikan kenikmatan hidupku didalam shalat.”
(HR.Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)
“Dijadikan kenikmatan hidupku didalam shalat.”
(HR.Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:
“Barangsiapa yang kenikmatannya dalam melakukan suatu amalan, maka dia sangat berkeinginan untuk tidak meninggalkan amalan itu, dan tidak keluar darinya. Sebab didalamnya dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya, dan ini hanyalah dirasakan oleh seorang ahli ibadah yang bersabar menghadapi cobaan.”
(Fathul Bari:11/345)
“Barangsiapa yang kenikmatannya dalam melakukan suatu amalan, maka dia sangat berkeinginan untuk tidak meninggalkan amalan itu, dan tidak keluar darinya. Sebab didalamnya dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya, dan ini hanyalah dirasakan oleh seorang ahli ibadah yang bersabar menghadapi cobaan.”
(Fathul Bari:11/345)
Suatu ketika , Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah keluar
rumah, ketika itu dia berkedudukan sebagai pimpinan seluruh para hakim
di negerinya, Mesir. Beliau keluar rumah dengan berpakaian yang sangat
indah. Lewatlah seorang yahudi dengan pakaian yang lusuh, menghentikan
perjalanan Al-Hafizh lalu ia berkata: Wahai Imam, bagaimana anda
menafsirkan ucapan Rasul anda “Dunia adalah penjara seorang mukmin dan
surga bagi yang kafir”, sementara Engkau melihat diriku ini yang hidup
penuh masalah dan sengsara, padahal aku ini orang yang kafir menurutmu.
Sementara Engkau hidup dalam kenikmatan, padahal anda adalah seorang
mukmin? Maka Al-Hafizh menjawab: Engkau yang hidup dengan penuh masalah
dan kesengsaraan, pada hakekatnya itu merupakan kenikmatan, jika
dibandingkan siksaan yang pedih yang menantimu di akhirat kelak jika
engkkau mati dalam keadaan kafir. Sementara aku yang merasakan
kenikmatan iini, sebenarnya aku ini berada dalam penjara dunia, jika
dibandingkan kenikmatan didalam surga yang menantiku jika Allah Ta’ala
memasukkan aku ke dalam surga-Nya. Maka Yahudi itu berkata: Apakah
seperti itu keadaannya? Al-Hafizh menjawab: iya. Maka Yahudi tersebut
mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keislamannya.
Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal
Abu Muawiyah Askari bin Jamal
Balikpapan, 14 syawal 1433 H
Sumber : http://salafybpp.com/index.php/fataawa/115-hidup-di-penjara-bukan-berarti-sengsara
Wednesday, September 5, 2012
Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
Pertanyaan :
Bagaimana hukum shalat di masjid yang di sekitarnya (depan, belakang,
kanan atau kiri) ada kuburan walaupun hanya satu kuburan. Jadi masjid
tersebut tidak dibangun di atas kuburan (kuburan berada di luar dinding
masjid dengan jarak ±2 atau 3 meter) atau kuburan tersebut tidak berada
di luar masjid?
Arif Rahmanto
arif…@yahoo.com
(Pertanyaan senada datang dari Hadi, Bintaro)
arif…@yahoo.com
(Pertanyaan senada datang dari Hadi, Bintaro)
Jawab:
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad
Oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad
Berkaitan dengan permasalahan ini maka perlu dibahas dari dua sisi:
1. Shalat di area pekuburan.
2. Shalat menghadap ke kuburan.
2. Shalat menghadap ke kuburan.
Masalah shalat di atas area pekuburan, hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim (hal. 467): “Para fuqaha telah berbeda pendapat mengenai shalat di area pekuburan, (hukumnya) haram atau makruh? Jika dikatakan haram maka apakah shalatnya tetap sah (meskipun pelakunya berdosa) atau tidak? Yang masyhur di kalangan kami1 bahwa hukumnya haram dan shalatnya tidak sah (batal).”
Syaikhul Islam juga berkata di dalam kitab yang sama pada hal . 460 berkenaan dengan masjid yang di bangun di atas kuburan2: “Aku tidak mengetahui adanya khilaf (perselisihan pendapat) tentang dibencinya shalat di masjid tersebut dan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab kami shalat (tersebut) tidak sah (batal) karena adanya larangan dan laknat dari Rasulullah terhadap perkara itu.”
Jadi shalat di area pekuburan (tanpa masjid) begitu pula di masjid yang dibangun di atas kuburan hukumnya haram menurut pendapat yang masyhur di kalangan Hanabilah mengikuti pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hazm darinya dan dibenarkan (dirajihkan) oleh Ibnu Hazm. (Lihat Ahkamul Janaiz karya Al-Albani hala. 273-274). Dan pendapat ini dirajihkan (dipilih) pula oleh Syaikhul Islam sebagaimana dalam Al-Ikhtiyarat Al-’Ilmiyyah hal. 25, Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/134), Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/232-236) dan Syarh Bulughul Maram (kaset).3 Begitu pula Ibnul Qayyim menegaskan batalnya shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan dalam Zadul Ma’ad (3/572) dan Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ijabatus Sail hal. 200.
Para ulama rahimahumullah mengatakan haram dan shalatnya batal berdasarkan 3 dalil:
1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam dalam Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim hal. 462-463, Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 270, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/277-278), bahwa Rasulullah r bersabda:
“Bumi itu semuanya merupakan masjid (tempat shalat) kecuali kuburan dan kamar mandi.”
2. Hadits ‘Aisyah, Rasulullah bersabda:
“Allah melaknat Yahudi dan Nashara dikarenakan mereka menjadikan
kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Al-Bukhari no. 435 dan
Muslim no. 529) Syaikhul Islam t dalam Iqtidha Ash-Shirathil
Mustaqim hal. 462 berkata: “Termasuk di antaranya shalat di pekuburan
meskipun tidak ada bangunan masjid di sana, karena hal itu juga masuk
dalam kategori menjadikan kuburan sebagai masjid sebagaimana kata
‘Aisyah x4: “Kalau bukan karena hal itu maka sungguh kuburan Rasulullah
akan ditampakkan5, akan tetapi beliau khawatir (takut) kuburannya akan
dijadikan masjid.” Dan bukanlah maksud ‘Aisyah x pembangunan masjid
semata, karena para shahabat g tidak akan melakukan pembangunan masjid
di sisi kuburan Rasulullah r. Jadi maksud Aisyah x adalah kekhawatiran
bahwa orang-orang akan melakukan shalat di sisi kuburan Rasulullah.
Setiap tempat yang dimaksudkan untuk shalat padanya berarti telah dijadikan masjid. Bahkan setiap tempat shalat maka itu dinamakan masjid meskipun tidak ada bangunan masjidnya, sebagaimana kata Rasulullah6: “Telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid (tempat shalat) dan alat untuk bersuci (dengan tayammum).”
Setiap tempat yang dimaksudkan untuk shalat padanya berarti telah dijadikan masjid. Bahkan setiap tempat shalat maka itu dinamakan masjid meskipun tidak ada bangunan masjidnya, sebagaimana kata Rasulullah6: “Telah dijadikan bumi bagiku sebagai masjid (tempat shalat) dan alat untuk bersuci (dengan tayammum).”
3. Alasan bahwa shalat di area pekuburan dimungkinkan sebagai wasilah yang menyeret kepada penyembahan kuburan atau tasyabbuh (menyerupai) para penyembah kubur.
Kemudian perlu diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara area pekuburan yang penghuni (kuburan)nya baru satu, atau dua, dan seterusnya. Yang jelas kalau suatu area tanah tertentu telah disediakan untuk pekuburan maka jika telah ada satu mayat yang dikuburkan berarti telah menjadi pekuburan. Ini menurut pendapat yang kuat (rajih) yang dipilih oleh Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (2/134), Syaikhul Islam dalam Al-Iqtidha (hal. 460) dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/235)7. Dan hukum ini berlaku sama saja selama dia shalat di area pekuburan, baik kuburannya di hadapan orang yang shalat, di sampingnya atau di belakangnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25 dan Syarh Bulughul Maram (kaset).
Begitu pula halnya dengan shalat di masjid yang dibangun di atas satu kuburan atau lebih, sama saja baik kuburannya di depan orang yang shalat atau tidak. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Bulughul Maram (kaset) berkata: “Demikian pula hukumnya kalau suatu masjid dibangun di atas suatu kuburan karena masjid itu masuk dalam kategori area pekuburan, mengingat bahwa ketika kuburannya dalam masjid maka berarti masjid itu telah menjadi tempat pekuburan.
Adapun jika suatu mayat dikuburkan dalam masjid (yang telah dibangun lebih dulu) maka wajib hukumnya untuk membongkar kuburan tersebut kemudian dipindahkan ke pekuburan kaum muslimin dan tidak boleh dibiarkan tetap dalam masjid. Namun shalat di dalam masjid tersebut tetap sah selama kuburannya bukan di depan orang yang shalat, karena jika demikian (kuburannya di depan orang yang shalat –red) maka shalatnya batal.”
Apa yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di atas bahwa shalat menghadap ke kuburan8 tidak sah merupakan pendapat Ibnu Qudamah dalam Al-Mugni (2/50), Syaikhul Islam dalam Al-Ikhtiyarat hal. 25, Ibnu Hazm dan ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad sebagaimana diriwayatkan darinya oleh Ibnu Hazm sebagaimana dalam Ahkamul Janaiz hal. 273-274. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (2/247) setelah beliau menegaskan haramnya shalat menghadap ke pekuburan dan pendapat yang mengatakan makruh adalah marjuh (lemah), kemudian beliau berkata: “Kalau dikatakan bahwa shalatnya tidak sah maka sungguh sisi kebenarannya kuat, karena Rasulullah telah bersabda dalam hadits Abi Martsad Al-Ghanawi :
“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan haramnya shalat menghadap ke area pekuburan atau ke kuburan-kuburan atau ke satu kuburan (sekalipun). Dan juga karena alasan dilarangnya shalat di area pekuburan terdapat pula pada shalat menghadap ke kuburan. Maka selama seseorang masuk dalam kategori shalat menghadap ke kuburan atau ke area pekuburan berarti dia telah masuk dalam larangan. Jika demikian maka shalatnya tidak sah berdasarkan hadits (di atas): “Janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan.” Jadi larangan menghadap ke kuburan khusus ketika shalat, maka barangsiapa shalat menghadap ke kuburan berarti terkumpul pada amalannya antara ketaatan dan maksiat, dan tidak mungkin seseorang mendekatkan diri kepada Allah U dengan cara demikian.
Jika ditanyakan apa yang dianggap batas pemisah antara dia dengan kuburan? Kami katakan: Dinding merupakan pemisah, kecuali jika itu dinding pekuburan maka ada sedikit keraguan dengannya. Namun jika ada dinding lain yang memisahkan antara kamu dan pekuburan maka tidak ada keraguan lagi bahwa itu tidak masuk dalam larangan. Demikian pula jika antara kamu dan pekuburan ada jalan, atau antara kamu dan pekuburan ada jarak pemisah, yang sebagian ulama menyatakan seperti jaraknya pembatas shalat. Berdasarkan ini berarti jaraknya dekat. Namun ini tetap menyisakan keraguan, karena seseorang yang melihat engkau shalat sementara di depanmu ada pekuburan sejarak 3 hasta tanpa dinding pemisah, dia akan menyangka engkau shalat menghadap ke kuburan. Jika demikian berarti butuh jarak yang cukup, yang dengannya diketahui bahwa engkau shalat tidak menghadap ke kuburan.”
Jika demikian maka apabila ada masjid yang dikelilingi oleh kuburan dari luar dinding masjid (termasuk di depannya) maka shalat di dalamnya sah, dan hal ini telah ditegaskan oleh Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam Ijabatus Sail hal. 200. Sementara itu sebagian ulama Hanabilah dan dinukilkan dari Al-Imam Ahmad (berpendapat) bahwa tidak boleh shalat di masjid yang di depannya ada kuburan hingga ada dinding lain selain dinding masjid sebagai pemisah (lihat Al-Ikhtiyarat hal. 20). Dengan demikian, sebaiknya menghindari shalat di masjid tersebut jika ada masjid lain, meskipun shalat di situ tetap sah sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
1 Maksudnya kalangan fuqaha Hanabilah (pengikut madzhab Al-Imam Ahmad).
2 Dalam arti kuburannya di dalam masjid.
3 Syarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang akan disebutkan nanti.
4 Setelah Aisyah x meriwayatkan hadits di atas: “Allah melaknat …. dst.”
5 Artinya beliau akan dikuburkan di luar rumah, di pekuburan Baqi’ misalnya, bersama para shahabat g. Lihat Al-Qaulul Mufid syarah Kitabut Tauhid (1/347) karya Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t.
6 HR. Al-Bukhari no. 330 dan Muslim no. 520 dari Jabir z.
7 Karena ada sebagian ulama menganggap bahwa yang dilarang adalah bila sudah ada 3 kuburan atau lebih.
8 Dalam arti dia di luar area pekuburan.
2 Dalam arti kuburannya di dalam masjid.
3 Syarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang akan disebutkan nanti.
4 Setelah Aisyah x meriwayatkan hadits di atas: “Allah melaknat …. dst.”
5 Artinya beliau akan dikuburkan di luar rumah, di pekuburan Baqi’ misalnya, bersama para shahabat g. Lihat Al-Qaulul Mufid syarah Kitabut Tauhid (1/347) karya Asy-Syaikh Al-’Utsaimin t.
6 HR. Al-Bukhari no. 330 dan Muslim no. 520 dari Jabir z.
7 Karena ada sebagian ulama menganggap bahwa yang dilarang adalah bila sudah ada 3 kuburan atau lebih.
8 Dalam arti dia di luar area pekuburan.
Sumber : http://asysyariah.com/shalat-di-masjid-yang-ada-kuburannya.html
Tuesday, September 4, 2012
Tabligh Akbar Banjarsari-Ciamis: "MENGUNGKAP HAKIKAT AGAMA SYIAH", Oleh Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Hadirilah...
Tabligh Akbar
“MENGUNGKAP HAKEKAT AGAMA SYIAH”
Malam Sabtu, Ba’da Isya; 28 Syawal 1433 H /14 September 2012.
Malam Sabtu, Ba’da Isya; 28 Syawal 1433 H /14 September 2012.
Bersama :
Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed -hafizhahullah-.
Bertempat di Masjid Agung At-Taqwa Banjarsari Ciamis.
Terbuka Untuk Umum (Pria dan Wanita)
Informasi:
Abu ‘Abdillah Fikri (085353234344)
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com/2012/09/04/tabligh-akbar-banjarsari-ciamis-mengungkap-hakikat-agama-syiah-oleh-al-ustadz-muhammad-umar-as-sewed/#more-1383
Hukum Imunisasi
Pertanyaan:
Bagaimana hukum vaksinasi atau imunisasi untuk anak-anak, apakah halal atau haram? Karena kami bingung.
Bagaimana hukum vaksinasi atau imunisasi untuk anak-anak, apakah halal atau haram? Karena kami bingung.
Jawaban:
Untuk pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan:
Pertama,
pengobatan untuk mencegah terjadinya penyakit adalah hal yang diperbolehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ
“Barang siapa yang makan pagi dengan tujuh butir kurma ‘Ajwah, dia tidak akan dibahayakan oleh racun dan sihir pada hari itu.” (Hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim)
Dari hadits di atas, telah jelas bahwa pencegahan terhadap bahaya racun dan sihir adalah dengan memakan kurma ‘Ajwah.
Kedua,
penggunaan vaksinasi dan imunisasi, berupa
zat yang bermanfaat dan halal, adalah hal yang diperbolehkan berdasarkan
dalil-dalil umum tentang pembolehan untuk berobat.
Ketiga,
sebagian efek sementara yang timbul akibat
vaksinasi dan imunisasi, berupa panas dan semisalnya adalah hal yang
tidak dipermasalahkan selama ada manfaat besar yang terkandung pada
vaksinasi dan imunisasi itu. Hal ini sebagaimana khitan pada seseorang,
yang membahayakan lantaran rasa sakit dalam proses khitan itu, tetapi
tidak dipermasalahkan karena manfaat khitan yang sangat besar.
Keempat,
kalau terbukti, berdasarkan ilmu
kedokteran, bahwa suatu vaksinasi atau imunisasi memberi bahaya yang
lebih besar terhadap anak, seseorang tidak diperbolehkan untuk
melakukannya karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ.
“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” [Al-Baqarah: 195]
Juga karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Tidak (diperbolehkan) ada bahaya dan pembahayaan.” (Diriwayatkan oleh sejumlah shahabat. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa` Al-Ghalil no. 896)
Wallahu A’lam.
Sumber : http://dzulqarnain.net/hukum-imunisasi.html
Saturday, September 1, 2012
Download Kumpulan Nasehat Beberapa Asatidzah Ahlussunnah di Bulan Ramadhan 1433 H / 2012 M
Download Kumpulan Nasehat Beberapa Asatidzah Ahlussunnah di Bulan Ramadhan 1433 H / 2012 M
1. Al-Ustadz Ibnu Yunus
- Peribadatan Harus Khusus untuk Allah taala
2. Al-Ustadz Khidir M. Sunusi
– Hikmah Agung dari Penciptaan Mati &
Hidup (Taushiyah Nasikah)
– Isti’adzah (Meminta Perlindungan Kepada
Allah ta’ala); Ibadah yang dilalaikan Manusia
– Kesempatan Taubat di dalam & luar Bulan
Ramadhan
– Optimalisasi Fungsi Pikiran Menuju Jenjang
Ketaqwaan
– Pentingnya Niat Ikhlas dalam Beribadah
– Puncak Mujahadah dalam Beribadah Harus
bersama dengan Istighfar
(Ibroh dari Surah Ali Imron 146-148)
– Tauhid; Dakwah Para Rasul
3. Al-Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi
– Puasa Ramadhan,
Kewajiban & Keutamaannya
– Antara Puasa dan
Ketakwaan.
– Bagaimana
Seorang Muslim Hidup dalam Ramadhan.
– Keutamaan
Membaca Al-Qur`an
– Beberapa Adab
dan Etika dalam Membaca Al-Qur`an.
– Keutamaan Shalat
Malam.
– Keutamaan Doa.
– Beberapa Adab
dan Etika dalam Berdoa.
– Tanya Jawab Seputar Puasa Ramadhan
(Sesi 1)
4. Al-Ustadz ‘Abdul Qadir Abu Faizah, Lc
– Amaliah yang Hendaknya Dilazimi
pada Bulan Ramadhan
5. Al-Ustadz Azhari Asri
– Sunnah2 dalam Berpuasa Ramadhan
6. Al-Ustadz Mustamin Musaruddin, Lc
– Pembahasan Ringkas Rukun Iman ke- 6
(Taqdir)
Download disini
Download disini
7. Al-Ustadz Nashrul Haq
– Bahaya Al Kibr (Kesombongan)
Download disini
Download disini
- Kewajiban Bertauhid & Konsekuensinya.
Download disini
Download disini
8. Al-Ustadz Sanusi Daris
– Nabi Ayyub : Cermin Kesabaran & Kesyukuran.
Download disini
9. Al-Ustadz Salman Bin Mahmud
– 7 Perkara Yg Membinasakan
Download Sesi. 1
Download Sesi. 2
Download Sesi. 3
– Hinanya Dunia Disisi Allah
Download disini
– Nasehat Rasulullah Kpd Shahabat
Download disini
– Kecemburuan Allah Kpd Hamba
Download disini
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com (selain Nasehat Ust. Salman Bin Mahmud)
Download disini
9. Al-Ustadz Salman Bin Mahmud
– 7 Perkara Yg Membinasakan
Download Sesi. 1
Download Sesi. 2
Download Sesi. 3
– Hinanya Dunia Disisi Allah
Download disini
– Nasehat Rasulullah Kpd Shahabat
Download disini
– Kecemburuan Allah Kpd Hamba
Download disini
Sumber : http://aasiraj.wordpress.com (selain Nasehat Ust. Salman Bin Mahmud)
Subscribe to:
Posts (Atom)






















