Download Kajian Kitab Laamiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Download Kajian Kitab Al-Fawa'idul Bahiyyah Fii Syarhi Laamiyah Syakhil Islam Ibni Taimiyah Rahimahullah (Ta'lif Syaikh Muhammad Bin Hizam Hafizhahullah).

Dimanakah Roh Para Nabi.?

Soal : Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit.?

Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

Allah Berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)

Serba Serbi Air Alam

Allah berfirman : Dia telah menurunkan air kepada kalian supaya Dia (Allah) menyucikan kalian dengannya. (QS. Al-Anfal: 11)

Sahabatku Kan Kusebut Dirimu Dalam Do'aku

Rasulullah bersabda : Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik). (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sunday, June 17, 2012

Kajian Islam Sukoharjo 17-18 Sya'ban 1433 H / 7-8 Juli 2012 “Masa Muda Masa Penuh Inspirasi”

Dengan mengharap Ridho Allah Semata,
Hadirilah... Kajian Islam Untuk Pelajar & Mahasiswa
Dengan Tema :
 “Masa Muda Masa Penuh Inspirasi”
 
InsyaAllah Pada :
Hari Sabtu-Ahad, 17-18 Sya'ban 1433 H / 7-8 Juli 2012


Tempat
di Masjid Ibnu Taimiyah kompleks Ma’had Daarus Salaf
Jln.ciptonegaran,Sanggrahan,Grogol, Sukoharjo 57552
telp.0271-722357

Dipancarkan melalui:
Radio daarus salaf 88.3 fm

steriming online
Insya.Allah dauroh ini akan disiarkan Live di internet melalui
PALTALK diroom Religion and Spritualy-islam-daarus salaf Fm
dan www.salafy.or.id

Penyelenggara:
Ma’had Daarus salaf,Sanggarahan,grogol Sukoharjo
Informasi : 085747744663 / 085642149489

Sumber : http://www.salafy.or.id/2012/06/18/kajian-islam-untuk-pelajar-mahasiswa-di-sukoharjo/

Thursday, June 14, 2012

Kekhususan Wanita Salafiyah

Sebuah kenikmatan yang besar tatkala seorang wanita muslimah diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengenal dan kemudian berpegang teguh dengan aqidah serta manhaj salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Agar nikmat besar yang tiada taranya ini terus langgeng, maka wajib untuk dijaga dengan mensyukurinya. Di antara bentuk syukur tersebut adalah berusaha bersikap dan berhias dengan beberapa sifat yang menjadi kekhususan wanita salafiyah, yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah telah menjelaskan beberapa sifat dan perangai wanita salafiyah tersebut, di antaranya adalah:

1. Seorang wanita salafiyah itu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam batas-batas kemampuan dia menurut pemahaman as-salafush shalih.

2. Seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk bermuamalah dengan kaum muslimin dengan muamalah yang baik, dan bahkan juga terhadap orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)

Dan Allah juga berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa’: 58)

Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا
“Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil.” (Al-An’am: 152)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقِيراً فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.” (An-Nisa’: 135)

3. Wajib pula bagi seorang wanita salafiyah untuk mengenakan pakaian Islami (yang sesuai dengan syari’at), dan menjauhi sikap tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Islam.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnadnya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.”

Dan Allah yang Maha Mulia telah berfirman tentang pakaian (yang syar’i) ini,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri kaum mukminin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al-Ahzab: 59)

At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam kitab Jami’nya dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
المَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat, jika dia keluar maka syaithan akan mengikutinya.” 

4. Kami juga menasehatkan kepada wanita salafiyah untuk bersikap baik terhadap suaminya jika dia memang menginginkan kehidupan yang bahagia, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ
“Jika seorang suami mengajak istrinya untuk menuju tempat tidurnya (untuk berhubungan) kemudian si istri tersebut enggan, maka Malaikat akan melaknatnya (si istri tersebut).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dan dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dengan lafazh,
إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا
“… kecuali para penduduk langit akan murka kepadanya.”

5. Demikian pula hendaknya seorang wanita salafiyah itu menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahih keduanya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
 “Setiap kalian adalah pemimpin (penanggung jawab), dan masing-masing kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya (menjadi tanggung jawabnya).”

Dan kemudian beliau menyebutkan tentang wanita, bahwa dia itu,
رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Pemimpin (penanggungjawab) di rumah suaminya, dan dia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung jawab dia di rumahnya tersebut.”

Dan di dalam ash-Shahihain, dari shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ
“Tidaklah ada seorang hamba yang diberi oleh Allah tanggung jawab, kemudian dia tidak mau untuk mengembannya dengan memberikan nasehat kepada siapa saja yang dipimpinnya itu, kecuali dia tidak akan mendapatkan aroma surga.”

Sehingga tidak selayaknya bagi seorang wanita salafiyah itu tersibukkan dengan dakwah daripada memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

6. Demikian juga seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk meridhai hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu lebih utamanya seorang laki-laki daripada wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ
“Dan janganlah kalian iri hati terhadap sesuatu yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kalian, lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (An-Nisa’: 32)

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (An-Nisa’: 34)

Dalam ash-Shahihain dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ،
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok.”

Maka sudah seharusnya bagi seorang wanita untuk bersabar terhadap ketentuan Allah ini kepadanya, berupa keutamaan laki-laki daripada wanita. Namun bukan berarti bahwa seorang laki-laki itu boleh “memperbudak” wanita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda –sebagaimana dalam Kitab Al-Jami karya Al-Imam At-Tirmidzi:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ غَيْرَ ذَلِكَ أَلَا إِنَّ لَكُمْ فِيْ نِسَاءِكُمْ حَقًّا ، أَلَا وَإِنَّ لِنِسَائِكُمْ عَلَيَكُمْ حَقًّا ، فَحَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ ، وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي طَعَامِهِنَّ وَ كِسْوَتِهِنَّ
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), karena mereka itu seperti tawanan kalian. Kalian tidak memiliki kekuasaan terhadap mereka sedikitpun selain itu. Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak-hak yang harus ditunaikan oleh istri-istri kalian, dan mereka juga mempunyai hak yang harus kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus ditunaikan oleh istri kalian adalah mereka tidak boleh mengijinkan seorangpun berada di tempat tidur kalian dan mereka tidak mengijinkan masuk ke dalam rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Sedangkan hak istri kalian yang wajib kalian tunaikan adalah memberikan makanan dan pakaian dengan baik kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Dan dalam Kitab as-Sunan dan Musnad Al-Imam Ahmad dari shahabat Mu’awiyah bin Haidah, bahwa ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang di antara kami terhadap suaminya?” Beliau menjawab,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ  إِلَّا فِي الْبَيْتِ
 “Hendaknya engkau memberi makan kepadanya ketika engkau makan, engkau memberikan pakaian kepadanya ketika engkau berpakaian atau telah bekerja, jangan memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan menghajrnya (memboikotnya) keculi di rumah saja.”

Maka, semoga Allah melimpahkan barakah-Nya kepada kalian, sudah semestinya bagi kita semua untuk saling membantu di dalam kebaikan. Seorang suami bergaul dengan istrinya dengan pergaulan yang Islami, membantu dia untuk menuntut ilmu dan berdakwah kepada Allah. Dan juga istri hendaknya juga bergaul dengan suaminya dengan pergaulan yang Islami, membantunya untuk menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah, serta membantunya dalam mengatur rumah tangga dengan baik. Karena Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2).
Wallahul Musta’an.

Dinukil dari Kitab Majmu’ Al-Fatawa An-Nisa’iyah karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.



Matahari Terbit Di Kampung Laut

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berjalan demikian cepat. Tidak terasa satu tahun lebih telah berlalu menjalani dakwah tauhid di kampung Laut. Ketegangan, kesulitan, senyuman, dan tangisan  semuanya teralami ketika mengibarkan panji dakwah tauhid di daerah ini. Semula tatapan pesimis muncul dari  sebagian kaum muslimin yang mendengar bahwa  Ahlus sunnah mulai melangkahkan kaki untuk berdakwah di daerah ini. Mereka merasa sangsi kalau masyarakat Kampung laut yang terkenal dengan kehidupan keras , amoral, bodoh, dan miskin mau menerima dakwah tauhid, mengingat dahulu pernah ada beberapa ormas yang berupaya mencurahkan dakwah Islam dengan menjalankan berbagai program sosial dan pembangunan masjid namun hasilnya  jauh dari yang mereka harapkan sehingga ungkapan keputusasaan muncul dari mereka.

Allah Rabbul `Alamin adalah Dzat yang Maha Berkehendak, ketika menghendaki  suatu kaum untuk mendapatkan Hidayah-Nya maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya demikian pula jika menghendaki kesesatan suatu kaum maka tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Alhamdulillahilladzi bi ni`matihi tatimmu Ash Sholihat, segala puji bagi Allah yang mana dengan  Nikmat-Nya menjadi sempurnalah berbagai amalan shalih. Berbekal tawakkal, do`a  dan semangat menteladani generasi salaf dalam berdakwah, Ahlus Sunnah yang berada di sekitar Ponpes An Nur Al-Atsary Ciamis terjun untuk mempelopori dalam mengkibarkan panji dakwah tauhid di Kampung Laut dengan sebuah harapan besar bahwa hal ini akan menjadi sebab Hidayah dan Ukhuwah bagi masyarakat Kampung laut juga bagi Ahlu Sunnah yang ada di berbagai daerah. Sampai saat ini, kita melihat adanya tanda-tanda dikabulkannya do`a dan harapan tersebut oleh Allah Ta`ala, karena dengan sebab dakwah ini sekitar seratus orang masyarakat kampung laut telah kembali masuk Islam setelah sebelumnya murtad mengikuti seruan misionaris Kristen, juga masjid-masjid jami di wilayah tersebut meminta untuk dikunjungi dan diadakan pembinaan rutin, dan Ahlus Sunnah yang ada di berbagai daerah kini mulai bangkit untuk sama-sama berta`awun, semua ini menunjukan adanya respon baik yang bisa dijadikan sebagai suatu kekuatan dan peluang untuk melanjutkan dakwah tauhid yang mulia ini.

Rasa penat dan letih yang terkadang muncul ketika menjalani dakwah ini serta merta hilang ketika mendengar  ucapan Syahadat yang keluar dari lisan seorang muallaf, betapa tidak sebelumnya ia adalah  seorang yang murtad kemudian memusuhi dakwah tauhid.  Pernah suatu ketika serombongan da`i dari Ponpes An Nur Al Atsary mengunjungi sebuah lokasi wakaf di Desa Ujung  Gagak yang telah direncanakan untuk dilakukan pembangun masjid di atasnya namun pihak misionaris kristen mendahuluinya dengan membangun sebuah gereja tepat di samping tanah tersebut. Ketika bangunan gereja itu diambil gambarnya maka tiba-tiba ada seorang lelaki hitam berbadan kekar dengan bertelanjang dada berlari menghampiri, kemudian membentak rombongan da`i tersebut, belakangan diketahui bahwa lelaki itu adalah seoarang yang murtad dan menjadi pendukung utama para misionaris Kristen, namun sungguh tidak disangka,  tidak berselang lama lelaki itu datang ke Ponpes an Nur Al Atsary ditemani beberpa orang masyarakat Kampung Laut lainnya untuk menyatakan keislaman, Alhamdulillah.

Rasa haru pun kerap hadir, di saat melihat beberapa orang yang menyatakan bahwa dirinya ingin bertaubat dari segala perbuatan dosa yang ia sering lakukan kemudian ia menjalaninya dengan jatuh bangun sementara kondisi lingkungan belum mendukung keinginannya. Tersebutlah seorang pemuda Karang Anyar yang mana masyarakat telah mengenalnya sebagai  “ jagoan” yang ditakuti, hampir setiap hari miras ditenggaknya. Pada suatu hari ia dan sekitar sepuluh orang teman-temanya yang “ se-profesi” datang ke Ponpes An Nur Al Atsary bersama dengan orang yang mau masuk Islam. Para pemuda “ singa-singa kampung Laut” yang berwajah garang tersebut menyatakan bahwa mereka masih beragama Islam namun ingin bertaubat dan ingin memperbaiki  jalan hidupnya, maka mereka pun mendapatkan wejangan dan bimbingan dari asatidz Ponpes An Nur Al Atsary,  kemudian setelah berbicara banyak hal yang menunjukan adanya keinginan baik mereka pun pamit untuk pulang. Selang beberapa waktu, serombongan da`i dari Ponpes An Nur Al-Atsary berkunjung ke Karang anyar setelah selesai berdakwah di daerah Ujung Alang. Ketika sedang berjalan di jalan kampung menuju rumah sebuah penduduk, rombongan da`i tersebut melihat salah seorang “ singa Kampung Laut” yang pernah datang ke Ponpes an Nur Al Atsary dalam keadaan sedang berjalan limbung, maka dugaan pun muncul bahwa ia sedang mabuk karena miras. Ketika ia melihat ke rombongan, ia segera berlari dengan sempoyongan menuju rombongan da`i , melihat kejadian ini beberapa anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya segera berhamburan karena ketakutan, khawatir jika pemuda itu mau mengamuk. Namun setelah sampai di hadapan rombongan ia pun mengucapkan salam dan mengacung-acungkan kedua tangannya ke atas kepala sambil berkata, “ maaf ustadz…..maaf ustadz….”. Ucapan ini terus ia ulang-ulang sambil mengawal rombongan da`i menuju sebuah rumah penduduk, bahkan ketika rombongan berjalan kea rah dermaga untuk pulang ia tetap bersikeras untuk mengawal, walaupun keadaannya sempoyongan. Karena sudah masuk waktu Maghrib rombongan memutuskan untuk sholat di sebuah mushola yang ada di sana, pemuda itu pun berinisiatif mencarikan tempat yang bisa dijadikan untuk berwudlu. Ia berlari ke pinggiran dermaga lalu mendorong beberapa perahu yang sedang bersandar lalu ia ia bersihkan sampah-sampah di tepian sungai tersebut, kemudian ia berkata, “ silahkan wudlu Ustadz…..!”, rasa takjub dan haru  pun  belum berhenti sampai disana, ternyata ia memaksakan diri untuk ikut sholat bersama rombongan, ia belum memahami kalau orang yang mabuk tidak boleh mendekati sholat, ternyata ia mengikuti  sholat maghrib berjama’ah sampai selesai. Ketika rombongan sedang menjama Sholat isya, pemuda itu pun mulai kelihatan tidak bisa mengalahkan rasa mabuknya, akhirnya ia pun jatuh terbanting ke belakang kemudian tergeletak tak sadarkan diri. Saat rombongan bergegas pulang salah seoarang warga membangunkannya dan mengatakan kalau rombongan para ustadz akan pulang, ternyata di luar dugaan ia tiba-tiba bangkit dan memaksakan diri untuk mengantar rombongan menuju perahu yang bersandar di dermaga, kemudian ia memegang perahu tersebut supaya rombongan bisa naik ke atasnya, Tidak lama setelah rombongan mengucapkan salam kepadanya perahu pun laju meninggalkan pemuda tersebut yang melambaikan tangannya. Rombongan da`i pun merasa takjub  dan terharu dengan kejadian tersebut, mereka menyadari bahwa sebenarnya telah muncul kecintaan dan keinginan baik dari pemuda tersebut namun apa daya ia belum bisa mengalahkan lingkungan dan pertemanan jelek  yang ada di sekitarnya. Alhamdulillah, kini pemuda tersebut sering terlihat hadir di masjid mengerjakan sholat Jumat, bahkan ketika acara Tabligh Akbar yang diadakan di karang Anyar pada tanggal 21 April 2012 lalu, pemuda tersebut mengenakan pakaian gamis panjang, dan di dadanya tersemat tanda panita tabligh akbar.

Hidayah Taufiq benar-benar ada di tangan Allah Ta`ala,kegembiraan yang tiada terhingga akan dirasakan oleh para da`i jika melihat orang yang didakwahinya  dengan idzin Allah Ta`ala menyambut dan menerima dakwah tersebut. Demikianlah yang dirasakan ketika para da`i  Ponpes An Nur Al-Atsary melakukan  gebrakan awal untuk masuk ke Solok Jero sebuah daerah terpencil di wilayah kampung laut yang berbatasan dengan pulau Nusakambangan Barat,  disanalah para Misionaris sekte Bethel dan Advent telah berhasil memurtadkan sekitar 40 kk petani. Bertemulah ketika itu dengan salah seorang koordinator kelompok petani yang berada di sana. Pembicaraan pun terjadi, dia menanyakan maksud rombongan Ponpes An Nur al Atsary masuk ke daerah tersebut dengan membawa tiga ekor kambing dan sejumlah bahan bangunan, dijelaskanlah kepadanya bahwa tiga ekor kambing itu adalah hewan qurban yang akan disembelih dan dibagikan kepada para petani muslim disana, kemudian bahan bangunan tersebut adalah untuk membantu para petani memperluas mushola mereka yang sangat kecil.Orang tersebut pun paham dan merasa senang dengan kedatangan rombongan. Satu hal yang membuat rombongan Ponpes an Nur Al Atsary merasa heran, ketika it orang tersebut mengaku beragama Islam namun beberapa ucapanya persis ucapan kaum nashrani, seperti kalimat-kalimat “ puji tuhan” dan “ rumah tuhan” sering ia tuturkan. Ternyata dikemudian hari dia mengaku kalau ia sering diundang oleh Romo Carolus ke Cilacap dengan alasan rapat kerja namun sebelumnya ia diajak untuk mengikuti acara ritual mereka, kemudian Setelah dakwah Tauhid digencarkan di daerah Solok Jero, orang tersebut sering menghadiri sholat Jumat dan mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di masjid. Secara perlahan perubahan pun terjadi pada dirinya,  Alhamdulillah, saat ini orang tersebut terlihat sering mengenakan pakaian gamis, memelihara jenggot dan senang beraktivitas di masjid,bahkan ketika ia sempat mengirimkan sms kepada salah seorang da`i Ponpes An Nur Al Atsary ia katakan, “ Alhamdulillah, Semoga Kehadiran beliau Ustadz Muhammad banyak ilmu yang nanti ana timba, karena tentang ilmu agama, jujur ana masih awam.” Subhanallah, jauh sekali ucapannya tersebut dengan ucapan ketika pertama kali bertemu.

Kegembiraan para da`i Ponpes An Nur Al Atsary semakin bertambah ketika dua orang stasi (tangan kanan) pendeta sekte Bethel dan Advent datang ke Ponpes An Nur Al Atsary untuk masuk Islam. Dua orang ini menuturkan bahwa keduanya telah dijadikan para pendeta untuk “ menjaring domba-domba tuhan “ (pen : ini adalah ungkapan para pendeta ketika melakukan program kristenisasi). Selama menjalankan misi tersebut keduanya telah berhasil mengkristenkan sekitar 160 orang dan telah membangun sekitar lima gereja di wilayah kampung laut. Sebab pertama yang membuat mereka berkeinginan untuk keluar dari agama Kristen adalah kecurangan para pendeta kepada mereka berdua dan kepada umatnya, ketika keduanya bekerja keras mewujudkan keinginan pendeta, namun ketika ada bantuan materi yang seharusnya mereka terima ternyata “ dimakan” oleh para pendeta, pernah jugaketika mereka diminta oleh sang pendeta utuk mengajukan proposal pengadaan mobil operasional, setelah mobil tersebut turun ternyata mobil tersebut dipakai sendiri untuk kepentingan pendeta sang stasi hanya diberikan sepeda untukoperasionalnya. Ketika jamaah Kristen ada keperluanuntuk menghadiri sebuah acara mereka di perintahkan oleh pendeta untuk urunan uang agar bisa menyewa sebuah mobil. Dan  hal ini sering mereka alami. Kemudian mereka ungkapkan bahwa ketika  melihat adanya sekelompok ummat Islam yang sedang berdakwah di kampung laut dan berhasil mengembalikan sejumlah warga yang murtad menjadi Islam kembali, mulailah mereka berfikir untuk masuk Islam karena mereka melihat adanya persaudaraan (ukhuwah)hakiki antar para muallaf dengan sekelompok yang berdakwah tersebut, yang mana hal ini tidak mereka dapatkan di agama Kristen. Akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk datang, dan pada waktu itulah mereka paham bahwa perbedaan Agama Islam dengan Kristen bukan hanya dalam hal persaudaraan namun juga  dalam  prinsip ketuhanan. Setelah prosesi masuk Islam selesai mereka berdua menyatakan, “ Sekarang saya tahu siapa itu Tuhan”. Alhamdulillah, kini mereka paham bahwa Robbul Alamin adalah Dzat yang Maha Esa, tidak memiliki anak dan satu-satunya Dzat yang berhak untuk  diibadahi, adapun selain-Nya adalah makhluk tidak pantas diibadahi.  Mereka berdua pun bertekad untuk mendakwahi orang-orang yang dulu mereka murtadkan, Alhamdulillah melalui dua orang tersebut sudah ada beberapa orang yang kembali ke islam. Semoga Allah mengokohkan keislaman mereka dan menolong perjuangan mereka.

Terkadang kisah lucu yang mengundang gelak tawa pun muncul dari tingkah laku para muallaf, sebagaimana yang pernah terjadi ketika serombongan warga kampung laut datang ke Ponpes an Nur Al-Atsary  dengan maksud untuk masuk Islam. Setelah mendapatkan wejangan dan bimbingan  tentang Agama Islam mereka pun bersyahadat, kemudian mandi. Pada saat masuk waktu sholat mereka pun hadir dalam barisan jamaah sholat, rupanya mereka betul-betul belum tahu tentang tata cara sholat, sehingga ketika sholat pandangan mereka tidak lepas dari gerakan jamaah yang lain dan mereka ikuti semua gerakannya. Ketika sujud mereka pun ikut sujud,lalu ketika jamaah bangkit dari sujud, sebagian mereka ikut bangkit namun sebagian lagi tetap dalam posisi sujud, maka salah satu muallaf yang bangkit dari sujud mencoba mengingatkan temannya yang tetap sujud, sambil menedang –nendang dengan kakinya ia berkata, “ kang….kang….tangi ! kang…kang …..tangi ! liane uis podo menyat “ (kang….kang…bangun! kang..kang ..bangun! yang lain sudah berdiri). Tentu saja kejadian ini membuat jamaah yang ada di samping mereka harus menahan tawa karena sedang sholat, seandainya tidak sedang sholat niscaya ia akan tertawa terbahak-bahak, sebagaimana hal ini dituturkan oleh Pak Ade Muslih, salah seorang jamaah sholat yang waktu kejadian tersebut ada disamping mereka.

Bimbingan yang kontinyu memang dibutuhkan oleh para muallaf, kebanyakan dari mereka belum mengetahui perkara-perkara mendasar dalam Islam, apakah Aqidah, Akhlaq, ataupun Fiqh. Sampai-sampai tata cara wudlu dan sholat pun banyak yang belum mengetahuinya. Sampai-sampai ada yang melaksanakan sholat sambil dia membaca buku tata cara sholat di tangannya. Alhamdulillah saat ini, telah berjalan pengajian rutin untuk mereka selain khutbah dan sholat Jum`at. Para muallaf yang berada di daerah Solok jero mereka bisa mengikuti pengajian setiap hari jumat setelah sholat Jum`at di masjid Al-Muwahidin Solok Jero. Untuk para Muallaf yang berada di Desa Ujung gagak (karang Anyar) bisa mengikuti kajian rutin setiap malam Jum`at di masjid Al barokah Ujung Gagak. Kesemangatan mereka dalam tholabul Ilmi mulai nampak, segaimana hal ini terlihat ketika diadakan pengajian, mereka antusias untuk hadir dalam acara tersebut sampai bisa memenuhi masjid.  
    
Kesemangatan ibu-ibu petani Solok Jero dalam menimba ilmu Agama tidak kalah dengan para suaminya, setiap hari Jum`at setelah selesai sholat Jumat mereka turun dari bukit-bukit berjalan kaki sambil membawa buku tulis dan pena menuju masjid untuk mengikuti pengajian rutin. Pada awalnya,banyak dari mereka yang tidak memggunakan kerudung namun sekarang, Alhamdulillah  mereka sudah terbiasa mengenakan pakaian muslimah yang lebar-lebar. Pak  Hasan Makarim salah seorang Tokoh MUI Cilacap ketika kunjungannya ke Kampung Laut dan melihat ibu-ibu petani Solok Jero, merasa Takjub dengan semangat mereka dalam mengenakan pakaian muslimah bahkan merasa tidak percaya kalau yang dilihatnya itu adalah muallaf.  Bahkan pernah suatu ketika seorang da`i ponpes an Nur Al Atsary memberikan pengajian bagi ibu-ibu petani di Solok Jero,ia  sempat kaget ketika salah seorang ibu –ibu petani sudah ada yang berani mengenakan pakaian hitam lengkap dengan cadarnya.  Kini sebagian ibu-ibu petani belajar agama Islam secara rutin setiap bada Sholat maghrib kepada seorang istri kader da`i yang ditempatkan di masjid Solok jero. Saat menjelang waktu maghrib  terlihatlah ibu-ibu petani tersebut turun dari pebukitan dengan mengenakan mukena putih dan membawa lampu obor menuju masjid. Mereka pun ikut mengerjakan sholat maghrib berjamaah, kemudian belajar hingga waktu sholat Isya, setelah sholat isya mereka kembali ke kediamannya masing-masing. Sebuah Pemandangan yang sudah sangat jarang ditemukan, ternyata tinggal di hutan pun tidak menghalangi  seseorang untuk menimba ilmu agama.

Tidak sebatas untuk dirinya saja. ternyata kesadaran  pentingnya menanamkan  Ilmu agama Islam bagi anak-anak pun mulai muncul di hati masyarakat kampung laut. Saat ini, sebagian anak-anak petani mengikuti program belajar khusus bagi anak-anak yang diadakan di masjid Solok Jero dari pagi hari hingga sore hari, bahkan sekitar empat anak petani telah dikirimmkan ke Ponpes An Nur Al Atsary Ciamis untuk belajar Ilmu agama. Alhamdulillah beberapa Ahlu Sunnah di daerah lain segera menyambut berita gembira ini, mereka menyatakan kesedian untuk menanggung biaya anak-anak tersebut selama belajar di Pesantren. Pendidikan Agama Islam untuk putera puteri Kampung laut memang sangat penting karena Insya Allah Ta`ala merekalah yang akan menjadi penerus Dakwah Tauhid di kampung halamannya, oleh karena itu kesempatan belajar harus dibuka lebar-lebar untuk mereka ,terlebih jika mengingat para misionaris Kristen yang gencar membuka program bea siswa bagi putera-puteri kampung laut untuk disekolahkan di lembaga-lembaga pendidikan mereka seperti Yos Sudarso, Akademi Maritim Nusantara, dan yang lainnya.

`Izzatul Islam (kemulyaan Islam) mulai dirasakan oleh masyarakat Kampung Laut. Hal ini nampak ketika pada tanggal 21 April 2012 lalu, diadakanlah acara Tabligh akbar di Desa Ujung Gagak (karang Anyar) Kecamatan Kampung laut dengan tema “ Menggapai kebahagiaan Dengan Islam” dan sebagai pematerinya adalah Al ustadz Muhammad Umar As Sewwed –hafidzahullah-. Acara ini dihadiri oleh Tokoh MUI Cilacap Pak Hasan Makarim, Kepala Kecamatan Kampung laut, Kapolsek Kawunganten, dan beberapa orang anggota Marinir. Suatu hal yang luar biasa, acara ini dihadiri oleh sekitar 1500 peserta yang berasal dari luar Kecamatan kampung laut selain peserta yang berasal dari kampung laut. Lebih dari 30 perahu yang digunakan para peserta Tabligh akbar bersandar di dermaga Ujung Gagak, sehingga sebagian nelayan menahan keberangkatannya ke laut karena merasa takjub dengan pemandangan yang baru terjadi ini. Selama hidup di Kampung laut mereka baru melihat sekitar 1500 orang hadir dalam sebuah Tabligh Akbar dalam keadaan berpakaian jubah dan gamis. Tanpa sadar salah seorang penduduk berseloroh ,” akeh banget…..” (banyak sekali…). Setelah acara selesai banyak penduduk yang mencari pakain Jubah dan gamis, mereka merasa senang dan ingin meniru para tamu peserta yang kemarin hadir di acara Tabligh Akbar. Mudah-mudahan pakaian tersebut menjadi sebuah model yang terus mereka cintai.

Laa haula wa laa quwwata illa billah, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan segala apa yang telah diperoleh Ahlu Sunnah ketika berdakwah di kampung laut. Puji dan Syukur hanya bagi Allah Rabbul Alamin yang telah memilih sebagian hambanya untuk menjadi sebab terbukanya pintu hidayah dan kebaikan bagi suatu kaum yang dianggap lemah dan tak berharga. Hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga jauh lebih berharga dari kekayaan yang mewah , sebagaimana sabda Rasululloh –Shalallahu alaihi wa sallam- bahwa jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih baik dari pada onta-onta merah (kendaraan yang paling mewah).  Kini saatnya bagi Ahlu sunnah untuk bergandeng tangan merapatkan barisan menyusun langkah yang pasti untuk mengibarkan panji Dakwah Tauhid menyongsong  kemenangan yang Allah janjikan. Sungguh wajah-wajah bercahaya yang merindukan Islam kini mulai muncul, bagaikan Matahari Terbit Di kampung laut .

Wahai Ahlus Sunnah ! Siapa lagi yang paling pantas  berbelas kasih kepada manusia kalau bukan kalian ?! Dunia dan keindahannya jangan sampai memperdaya kalian, semua itu akan sirna, namun akan tetaplah amalan sholih menyertai hingga kalian berjumpa dengan Robbul `Alamin……………..

Hamba yang merindukan Wajah Allah
Abu Jundi

Tuesday, June 12, 2012

Download Kajian "Apakah Orang Mati Bisa Mendengar Kita.?" Oleh : Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar Hafizhahullah

Download Kajian
"Apakah Orang Mati Bisa Mendengar Kita.?"
Oleh :
Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar Hafizhahullah



Monday, June 11, 2012

Dauroh Palu (Sul-Teng), 10-11 Sya'ban 1433 H / 30 Juni - 1 Juli 2012 M, Bersama : Syaikh Abdullah Bin Umar Al-Mar'ie hafizhahullah

Hadirilah, dengan mengharap ridha Allah Ta'ala
Dauroh Ilmiyah Ahlussunnah Waljama'ah
Dengan Tema :
"Meraih Persatuan dan Kedamaian Yang Hakiki
Dengan Islam Yang Kaffah"
Pembicara Utama, Insya Allah :
Asy-Syaikh 'Abdullah Bin Umar Al-Mar'ie hafizhahullah
(Hadramaut-Yaman)
dan
Ustadz-Ustadz se-Sulawesi hafizhahumullah

Yang Insya Allah akan dilaksanakan pada :
Hari Sabtu-Ahad, 10-11 Sya'ban 1433 H / 30 Juni-1 Juli 2012 M
Pukul : 09.00 Wita - Selesai
Bertempat di :
Masjid Agung Darussalam
Jl. WR. Supratman, Palu, Sulawesi Tengah

Penyelenggara :
Panitia Dauroh Ilmiyah se-Sulawesi Ahlussunnah Waljama'ah
Info :
081338703373
081383314075
085341254565
081354200031

Fase Kehidupan Manusia

Pendahuluan
Saudaraku seiman, semoga Allah subhaanahu wa ta’aalaa merahmati kita semua. Baru saja kita meninggalkan tahun 1432 Hijriyyah. Tak terasa usia kita telah bertambah. Namun saudaraku, sadarkah kita bahwa umur kita telah berkurang dan kematian semakin mendekati kita?
Sehingga seorang yang cerdas dia akan berusaha mengevaluasi dirinya. Dia melihat kekurangan yang ada pada masa lalunya untuk kemudian berusaha memperbaikinya pada masa-masa mendatang.
Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):
“Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.”(Ar-Rum: 54)
Al-Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i rahimahullaah ketika menjelaskan ayat ini berkata, “Allah subhaanahu wa ta’aalaa memperingatkan (dengan ayat ini -pent) atas perubahan-perubahan (fase) yang terjadi pada manusia, terkait dengan kondisi mereka tahapan demi tahapan.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/327)

Lima Fase Kehidupan Seorang Insan
Saudara pembaca, setiap insan yang dikaruniai umur panjang dia pasti akan melalui, atau melihat orang lain melalui beberapa tahapan dalam hidupnya.
Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullaah dalam kitabnya Tanbihun Na’imil Ghamir ala Mawasimil ‘Umurmenyebutkan ada 5 tahapan yang mesti dilalui oleh setiap insan. Setiap tahapan membutuhkan ta`ammul(perenungan) dan tafakkur (memikirkan), agar masing-masing kita bisa melakukan yang terbaik pada setiap tahapan yang kita lalui tersebut. Berikut penjelasannya:

1.Fase pertama: Dari dilahirkan hingga usia baligh (kurang-lebih 15 tahun)
Masa ini adalah masa-masa untuk menanam, yakni fase pembentukan anak yang dibentuk dengan selera dan keinginan orang tuanya masing-masing. Maka pada masa ini tanggung jawab pendidikan mereka lebih ditujukan pada orang tua atau wali dari masing-masing anak tersebut. Hal ini sebagaimana sabda Nabishallallaahu ‘alaihi sallam:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan anaktersebut seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR.Muslim)
Sang anak lahir dalam keadaan mengetahui apa-apa, tidak mengerti apa saja yang bisa memberi manfaat maupun yang mendatangkan bahaya baginya.
Sehingga pada tahapan ini sangat bergantung pada pendidikan orang tua kepada anak-anaknya masing-masing. Jika dia mendidik mereka dengan Tarbiyyah Maddiyyah” (pendidikan materi/duniawi), maka anak tersebut akan tumbuh sebagai anak yang berorientasi ke dunia (materi) saja. Yang dipikirkan dan dikerjakannya adalah demi kepentingan duniawi atau meraih materi semata, sebagaimana yang terjadi pada kaum Hedonis.
Demikian pula sebaliknya, jika yang diupayakan oleh orang tuanya adalah Tarbiyah Diniyyah (pendidikan agama), maka dengan izzin Allah subhaanahu wa ta’aalaa anak tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang shalih atau shalihah.
Maka yang dituntut untuk berperan aktif pada fase ini adalah para orang tua, agar mereka senantiasa memberikan Tarbiyah Diniyyah kepada anak mereka, sehingga dihasilkan anak-anak yang shalih dan shalihah. Sebagaimana yang telah Allah subhaanahu wa ta’aalaa perintahkan:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(At-Tahrim: 6)
Dengan cara mengajari dan membenahi akidah (keyakinan), ibadah, muamalah, akhlak, dan adab sang anak, sesuai tuntunan syariat.
Karena masa-masa ini merupakan tahapan yang menentukan bagi seseorang. Jika orang tua mampu (dengan izin Allah) mencetak anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah, maka Insya Allah pada tahap berikutnya akan lebih mudah untuk dilalui. Namun jika orang tuanya gagal dalam mendidik sang anak pada tahapan ini, maka pada fase-fase berikutnya akan jauh lebih sulit untuk dilalui.

2. Fase kedua: Dari usia baligh sampai akhir usia syabab (35 tahun)
Pada usia ini seseorang sudah menjadi mukallaf (terbebani syariat). diperintah oleh syariat untuk mengerjakan sesuatu atau diperintah oleh Allah untuk meninggalkan sesuatu. Dalam tahapan ini bisa kita sebut dengan masa jihad, yaitu jihad melawan nafsu dan iblis beserta bala tentaranya. Sehingga dalam masa ini seseorang dituntut bersungguh-sungguh untuk berperang melawan hawa nafsunya.
Pada waktu yang sama, sang anak baru saja baligh, yang saat ini merupakan usia labil. Keumuman mereka lebih mengedepankan hawa nafsu, belum bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka lebih mengutamakan dorongan nafsu sepintas. Maka pada fase kedua ini tergantung dari keberhasilan fase yang pertama.
Jika orang tuanya berhasil mendidik dia pada fase pertama, maka pada masa ini akan lebih mudah untuk mengarahkan sang anak. Mudah bagi dia untuk mengenali syahwat yang menggodanya, juga mudah baginya untuk mengenali syubuhat (kerancuan-kerancuan) yang ada. Dia akan menjadi pemuda yang shalih, siap berperang melawan hawa nafsunya. Yang seperti ini karena keberhasilan tarbiyah (pendidikan) yang sebelumnya.
Jika dia berhasil melewati fase ini maka dia tergolong pemuda yang mulia, memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rabb Semesta Alam subhaanahu wa ta’aalaa, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Tujuh golongan yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa akan menaungi mereka di hari kiamat, yang ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (di antaranya) seorang pemuda yang dia tumbuh berkembang dalam keadaan taat beribadah pada Rabb-nya.” (Muttafaq ‘alaihi)
Hadits ini menjelaskan adanya pemuda yang berhasil melalui fase kedua tadi, menang dalam jihad melawan hawa nafsunya. Dia meraih keutamaan ini dengan melakukan perjuangan yang berat, dengan penuh kesabaran, karena jarang ada kawula muda yang rela mengorbankan waktunya untuk duduk, tafaqquh fid din (belajar agama), dan melakukan ketaatan-ketaatan lainnya. Ini jika dibandingkan dengan mayoritas kawula muda yang hanyut dalam kemaksiatan, berkubang dalam syahwat, hura-hura, foya-foya dan semisalnya.
Jika pada fase kedua ini berhasil maka akan lebih mudah bagi dia untuk melalui fase berikutnya. Namun sebaliknya, jika gagal maka akan lebih mengerikan. Karena dia akan menjadi seorang pemuda yang hanya memperturutkan hawa nafsunya, larut dalam melakukan berbagai kemaksiatan, dan kemungkaran. Wal ‘iyadzu billah

3. Fase ketiga: Dari usia 35 – 50 tahun
Kita bisa menyebutnya dengan masa “aji mumpung,” bisa bermakna positif dan bisa negatif. Jika sebelumnya dia berhasil menjadi pemuda yang shalih, maka pada usia ini dia akan menggunakannya secara positif. Mumpung (selagi masih ada waktu) untuk meneruskan dan terus melakukan amal shalih, mumpung masih memiliki kekuatan dari sisa-sisa masa mudanya, untuk terus di atas amalan-amalan ketaatan. Karena demikianlah yang dia dapatkan dari tarbiyah (pendidikan) sebelumnya.
Di atas umur 40 tahun ketika uban mulai tumbuh, rambut, dan jenggotnya mulai memutih, maka dia akan banyak melakukan muhasabah (introspeksi diri). Dia mencari apa yang kurang pada masa lalunya untuk kemudian dilengkapi, jika ada yang salah maka dia cepat ruju’ (kembali) dan bertaubat kepada Allahk. Demikianlah keadaan seorang yang shalih.
Namun sebaliknya jika pada fase sebelumnya gagal, maka ini pun menjadi aji mumpung yang negatif. Mumpung belum terlalu tua, mumpung masih punya sisa-sisa kekuatan, maka sekalian saja untuk melampiaskan hawa nafsunya, nanti saja bertaubatnya kalau sudah tua. Seolah-olah ajal atau kematian ada di tangannya. Kondisinya semakin mengerikan, kita berlindung kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaadari keadaan yang seperti ini.

4.Fase keempat: Dari usia 50 – 70 tahun
Pada masa ini seorang yang shalih dan shalihah maka dia akan menggencarkan muhasabah (introspeksi diri). Dia memiliki program untuk mempersiapkan kedatangan maut, banyak mengingat mati, dan memperbanyak amal shalih.
Adapun sebaliknya seseorang yang pada fase-fase sebelumnya gagal dan pada usia ini dia masih berprinsip“aji mumpung,” maka sungguh keterlaluan. Karena secara fisik sudah tidak memadai baginya, karena umumnya sudah renta, ringkih, dan lemah. Secara usia pun sudah tidak sepantasnya.
Jika pada masa-masa ini dia masih senang melakukan dosa dan kemaksiatan, maka dalam islam orang semacam ini akan dilipatgandakan hukuman untuknya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallammengabarkan:
“Ada tiga jenis manusia, yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak mengajak mereka berbicara pada hari kiamat, tidak pula melihat mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih, (satu diantaranya -pent) seorang tua renta yang melakukan zina.”(HR. Muslim no. 107)
Diterangkan oleh para ulama, dilipatgandakan hukuman baginya karena faktor-faktor yang mendorong dia untuk berzina sudah sangat lemah, sudah tidak sepadan dengan umurnya. Tetapi ketika dia masih senang melakukan perbuatan dosa semisal ini, maka dia termasuk orang tua yang celaka.

5. Fase kelima Dari usia 70 tahun keatas (masa renta dan umumnya pikun)
Pada fase ini seorang yang shalih dia akan memperbanyak istighfar (meminta ampun) dan taubatnya kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa, meningkatkan amal ibadahnya, serta memohon untuk mendapatkan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik).

Penutup
Maka saudaraku, yang penting bagi kita adalah mengetahui pada fase ke berapakah sekarang kita berada? Sehingga bisa mengoreksi dan memperbaiki keadaan kita masing-masing. Ketika dianugerahkan kepada kita keadaan yang baik, maka perbanyaklah syukur kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Namun sebaliknya, jika kondisi buruk yang mencengkeram kita, maka bersegeralah untuk memperbaikinya.
Wallahu A’lam bis Shawab
Catatan:
Artikel dengan judul ini merupakan hasil traskrip dari muhadharah ilmiah yang disampaik oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin dalam kunjungan beliau ke Ma’had As-Salafy, Jember..
Transkrip oleh: Abu ‘Umar Muhammad Husni hafizhahullah..


 

Sunday, June 10, 2012

Kajian Ilmiyah Islamiyah Lampa', Polman, (Sul-Bar) : Al-Ustadz Khidir M. Sunusi Hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan Mengharap Ridho Alloh,
Hadirilah Kajian Ilmiyah Islamiyah
Bersama : 
Al-Ustadz Khidir Bin Muhammad Sunusi Hafizhahullah
Dengan Tema :
"Seputar Pembahasan Tauhid/Aqidah"
 
Yang InsyaAlloh akan dilaksanakan pada :
Hari Ahad, 27 Rajab 1433 H / 17 Juni 2012 M
Di Masjid As-Sunnah
(jl. Sila-Sila, Lampa', Polaman, Sul-Bar)

Info :
Abu Afif (085299432939)

Friday, June 8, 2012

Pertemuan Dua Utusan Ar-Rahman

Pembaca yang budiman, tulisan kali ini pada asalnya merupakan transkrip dari taushiyah dan nasihat dari al-Ustadz Abu Mu’awiyah ‘Askari bin Jamal al-Bughisi hafizhahullah. Beliau berkunjung ke Ma’had As Salafy Jember pada hari Selasa tanggal 20 Rabi’uts Tsani 1433H dan memberikan sebuah muhadharah ringkas.

Silakan mengambil faedah dan bagikan ke saudara yang lain agar manfaatnya dapat tersebar lebih luas.. Baarakallaahu fiikum.. Selamat menyimak..

Ayyuhal ihkwati fillah, wahai saudara-saudaraku yang bersaudara karena Allah…
Pertama kali saya mengucapkan puji syukur atas limpahan nikmat dan rahmat dari Allah ta’ala. Di mana Allah ‘azza wa jalla yang memberi kemudahan kepada kita untuk bertemu di tempat ini, salah satu di antara Marakiz as-Salafiyah (markas-markas dakwah salafiyah), yang semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa memberikan berkah padanya. Bertemu para ikhwan Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan kenikmatan yang sangat besar yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada kita. Terkhusus di tengah-tengah zaman yang fitnah merajalela, semakin jauhnya mayoritas manusia dari Islam yang shahih dari tamassuk (berpegang teguh) kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dan semakin menampakkan “ghurubatus sunnah” (keterasingan sunnah Rasulullah).

Sehingga, tatkala kita mendapati di sebuah negeri, di suatu daerah ada sekumpulan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan senantiasa mementingkan ilmu dan amal. Maka, ini merupakan kebahagiaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita. Dan kita berharap semoga Allah tabaraka wa ta’ala mengumpulkan kita di akhirat, di dalam al-Jannah. Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita semua di dunia ini di atas al-Iman (keimanan), amal shalih, al itisham (berpegang teguh) dan istiqamah di atas al haq wa tsabatu ‘alaih (dan tetap berada di atas kebenaran).

Ma’asyiral ikhwah rahimakumullah….
Saya baru saja tiba beberapa saat sebelum masuknya waktu zhuhur di ma’had ini, dalam perjalanan yang cukup panjang, sehingga tentu sangat melelahkan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam hadits Mutafaqun’alaih:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ
“Safar merupkan bagian dari siksaan.”

Akan tetapi, karena permintaan al-Ustadz al-Fadhil Abu ‘Abdillah, sehingga saya ingin menyampaikan pada kesempatan kali ini nasihat yang ringkas, yang singkat. Namun, saya berharap dari nasihat ini memberikan manfaat pada kita semua terkhusus untuk diri ana pribadi. Nasihat ini berupa hadits yang diriwayatkan dari nabi, datang dari berbagai jalur dan riwayat. Datang dari hadits shahabat Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu yang diriwayatakan oleh imam al-Hakim dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan yang lainnya. Juga datang dari hadits Jabir dan Ali bin Abi Thalib. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزِّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
“Suatu ketika Jibril datang kepadaku lalu kemudian beliau mengatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu di dunia ini, karena sesungguhnya engkau akan merasakan kematian. Dan cintailah siapa yang hendak kamu cintai, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan beramal lah sesukamu di dunia ini, karena sesungguhnya engkau akan dibalas atas setiap apa yang engkau amalkan. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah ketika dia senantiasa menegakkan qiyamul lail (menegakkan shalat di malam hari). Dan kemuliaan seorang mukmin adalah ketika dia merasa tidak membutuhkan manusia yang lainnya, merasa cukup dari manusia dan dia menyandarkan dirinya kepada Allah ta’ala”.

Dalam hadits yang singkat ini dari penyampaian Jibril kepada Rasulullah ada beberapa hal yang penting untuk dijadikan sebagai faedah.

Pertama
bahwa kehidupan kita di dunia merupakan kehidupan yang fana, siapapun kita, apapun kedudukan kita di dunia ini. Bahkan, seorang hamba yang mulia pun, hamba yang sangat dimuliakan oleh Allah ta’ala, Khalilullah yang kedua setelah Ibrahim juga tidak terlepas dari yang namanya kematian. Allah ta’ala berfirman di dalam Al-Qur`anul Karim:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan sesungguhnya kalian akan disempurnakan apa yang pernah kalian amalkan, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan didekatkan kepada surga Allah dan dimasukkan ke dalamnya maka sungguh dia lah yang mendapatkan kemenangan. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” Ali Imran: 185

Maka tidak ada seorang pun hidup dari jenis insan (manusia) melainkan dia pasti akan mengalami kematian, dia pasti akan meninggalkan dunia ini, lalu kemudian melanjutkan perjalanan yang berikutnya di alam barzakh. Kemudian ia akan menuju kepada alam yang kekal yaitu darul akhirah (negeri akhirat).
Bagi seorang mukmin yang memahami hakikat dari kehidupan dunia, maka tentu dia berusaha untuk memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang Allah ta’ala berikan selama di dunia ini. Umur yang Allah ta’ala berikan, hendaknya kita berusaha untuk memanfaatkan sebaik-baiknya. Sehingga kita tidak melakukan suatu amalan, tidak mengucapkan suatu ucapan melainkan apabila kita meyakini bahwa di sana ada manfaat, di sana ada kemaslahatan duniawiyah atau ukhrawiyah.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada umatnya untuk selalu mengingat yang namanya kematian itu. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah untuk selalu mengingat pelumat segala kenikmatan dan kelezatan dunia, yaitu kematian.”

Kematian yang tidak terhindarkan bagi siapa pun dan tidak dipilih apakah dia seorang yang shalih apakah dia seorang yang thalih (buruk amalannya). Allah ta’ala berfirman:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila ajal telah tiba maka tidak bisa diundurkan dan dimajukan.” Al-A’raf: 34

Maka, hendaknya kita memikirkan hakikat dunia ini bahwa kita akan mengalami kematian. Sebagaimana yang lainnya juga akan mengalami kematian. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kematian. Allah ta’ala berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
“Tidaklah Muhammad melainkan beliau adalah seorang Rasul, dan telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh maka kalian akan kembali” Ali Imran: 144

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia biasa.
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
“Kamu mengalami kematian sebagaimana mereka juga akan mengalami kematian.” Az-Zumar: 30

Mengingat kematian ini wahai saudara-saudaraku, sangatlah penting. Untuk mengoreksi diri kita, muhasabah terhadap apa yang telah kita amalkan, agar kemudian kita bisa memperbaiki diri di masa-masa yang akan datang. Sebab kita tidak mengetahui kapan kematian itu menjemput kita, sebab kematian tidak membedakan antara orang tua dengan anak kecil, tidak membedakan antara seorang yang mukmin dan seorang yang kafir, seorang yang shalih dan thalih semuanya akan menghadapinya dalam keadaan dia tidak mengetahui kapan kematian itu akan datang kepadanya.

Bahkan yang dibutuhkan adalah persiapan, apa yang kita persiapkan dalam menghadapi kematian tersebut. Sebab, yang menjadi inti dari kehidupan ini adalah akhir dari kehidupan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari akhir dari kehidupan kita.” HR. al-Bukhari

Kita berharap semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan husnul khatimah pada saat menghadap Allah ta’ala.

Kedua
dari faedah hadits ini bahwa al-mahabbah (kecintaan) kepada yang lainnya adalah merupakan sifat dasar manusia, bahwa seorang mencintai yang lainnya, hanya saja kecintaan itu berbeda keadaannya. Ada seorang mencintai orang lain karena dunia, ada seorang mencintai yang lainnya disebabkan karena kedudukan, ada yang mencintai orang lain disebabkan karena al Iman (keimanan), tha’atullah wa tha’aturrasul (ketaatan kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), berbeda-beda dalam hal cinta.

Jibril ‘alaihis salaam mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ
 “Cintai siapa yang engkau inginkan. Sesungguhnya engkau akan berpisah dengan orang yang engkau cintai itu.” 

Sebab, kita seluruhnya milik Allah dan kita semua akan kembali kepada Allah. Dan hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada yang kekal dalam kehidupan dunia termasuk dalam hal kecintaan. Segala jenis kecintaan itu semuanya akan terputus, kecuali apabila kecintaan tersebut dibangun atas cinta karena Allah. Allah ta’ala berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Bahwa mereka orang-orang yang saling cinta mencintai pada hari kiamat mereka akan menjadi musuh, kecuali orang-orang orang-orang yang bertaqwa.” Az-Zukhruf: 67

Kita berharap semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang bersaudara yang saling cinta mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam hadits yang masyhur muttafaqun ‘alaih dari shahabat Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
“Ada tujuh golongan di mana Allah memberi naungan kepada mereka dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah,” 

Salah satunya adalah:
وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
“Dua orang yang saling cinta dan mencinta karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan mereka berpisah juga karena Allah.” 

Maka hendaknya kita melihat dasar kecintaan kita kepada yang lainnya. Apa yang mendasari kecintaan kita kepada seseorang. Apakah karena Allah atau karena sebab-sebab yang lain dari ambisi dunia, kedudukan, harta, dan yang lain sebagainya. Ketahuilah bahwasanya yang mengikat tali kecintaannya di atas dasar karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, mencegah karena Allah sempurna keimanannya.” HR. Abu Dawud

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, termasuk di antara salah satu sebab yang akan menumbuhkan yang menyebabkan seseorang akan merasakan manisnya iman.
Dalam hadits Anas bin Malik:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga amalan apabila terdapat pada diri seorang mukmin maka dia akan merasakan manisnya iman. Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya. Apabila dia mencintai seseorang dia tidak mencintainya melainkan karena Allah dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana dia benci untuk dilemparakan ke dalam api.” HR al-Bukhari dan Muslim

Kemudian Jibril mengatakan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
“Beramal lah sesukamu karena engkau akan dibalas atas apa yang engkau amalkan.”

Dari sini kita mendapatkan faedah bahwa manusia di dunia ini beramal akan tetapi berbeda-beda amalan mereka ada yang baik ada yang buruk. Namun, itu semua tidak lepas dari pengawasan Allah, apapun yang diamalkan oleh seorang hamba ketahuilah pasti ada balasannya.
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ
“Sebagaimana engkau beramal engkau akan dibalas oleh Allah terhadap apa yang engkau amalkan.”

Kalau amalan yang engkau amalkan itu kebaikan maka balasan dari Allah kebaikan pula, kalau keburukan maka jangan dia mencela kecuali dirinya sendiri.”
Oleh karenanya wahai saudaraku semua, rahimakumullah, sekian banyak nash-nash dari kitabullah dan sunnah Rasulullah yang menganjurkan seseorang untuk senantiasa menjaga amalannya agar kemudian senantiasa berada di atas amalan shalih.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” Al-‘Ashr: 1-3

Al Iman dan ‘amalan shalih ini merupakan harta yang terpenting dalam kehidupan kita, jauh lebih penting dari pada dunia dan segala isinya. Ini adalah bekal yang wajib untuk dipelihara oleh setiap hamba.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah kalian, sebaik-baik bekal itu adalah bertaqwa kepada Allah.” Al-Baqarah: 197

Kemudian Jibril ‘alaihis salaam menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua amalan yang penting untuk dipelihara oleh setiap hamba, untuk dijaga oleh setiap mukmin. Yang pertama, menegakkan qiyamul lail. Menegakkan qiyamul lail termasuk di antara amalan yang banyak kalangan manusia menganggap ini adalah suatu hal yang sulit akan tetapi pada hakikatnya itu adalah mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah.

Pahalanya sangat besar dan merupakan salah tanda bagi seorang mukmin yang ‘Abid (ahli beribadah), yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Dan termasuk sebab masuknya seorang hamba kedalam al-Jannah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلَامٍ
 “Wahai sekalian manusia tebarkan salam, beri makan, hubungkan silaturahim, dan sholatlah diwaktu malam ketika manusia dalam keadaan tidur, engkau akan mendapatkan jaminan Al Jannah dengan penuh keselamatan.” HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah

Dan dalam hadits ini, Jibril ‘alaihis salaam mengatakan:
أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ

“Keutamaan seorang mukmin ketika dia menegakan qiyamul lail.” 

Tidak mampu melakukan 13 rakaat, kerjakan dibawah dari itu, 9 rakaat, 7 rakaat, 5 rakaat, 3 rakaat bahkan 1 rakaat pun apabila seseorang mengkhawatirkan dia tidak mendapatkan shalat 3 rakaat dan waktu subuh telah dekat. Sempatkan untuk sujud di hadapan Allah sebelum berlalunya waktu malam tersebut. Jadilah seorang dari hamba-hamba yang menyempatkan dirinya meskipun itu sedikit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دَامَ عَلَيْهِ، وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang dicintai oleh Rasulullah adalah yang berkesinambungan meskipun itu sedikit.” HR Ahmad

Yang menjadi rutinitas seorang hamba, meskipun itu sedikit. Jangan sampai ia bersungguh di sebagian malam lalu pada malam-malam yang berikutnya lalu kemudian ia meninggalkan. Sempatkan untuk mengerjakan shalat malam walaupun itu sedikit.

Kemudian yang kedua,
وَعِزِّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
Kemuliaan seorang manusia adalah ketika dia menyandarkan dirinya kepada Allah ta’ala dan tidak merasa butuh dari apa yang ada di tangan manusia, dia tidak merendahkan di hadapan manusia dan dia hanya menyandarkan kepada Allah.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah yang akan memberikan kecukupan kepadanya.” Ath-Thallaq: 3

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala urusannya.” Ath-Thallaq: 4

Dan hati-hati wahai saudara-saudaraku, dengan segala bentuk-bentuk yang menyebabkan seorang hina, merendahkan diri di hadapan manusia, meminta-minta di hadapan manusia bukan dalam keadaan atau kondisi darurat. Maka seorang akan cukup terhadap apa yang Allah berikan itu jauh lebih nikmat, lebih baik dari pada kemudian seorang masuki cara-cara yang tidak di ridhai Allah yang menyebabkan dia hina di dunia demikian pula di akhirat.

Dalam riwayat Muslim dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh telah beruntunglah seorang muslim dia masuk dalam islam dia di beri hidayah Allah menjadi seorang muslim di atas islam yang shahih yang benar kemudian diberikan rizqi yang menyebabkan dia tidak merendahkan diri dihadapan manusia dan Allah memberikan sifat Qana’ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.”

Dia merasa cukup terhadap pemberian Allah yang halal demi Allah itu lebih baik dari pada dia merendahkan diri di hadapan manusia. Wallahul musta’an.

Mungkin ini insya Allah yang bisa saya berikan semoga memberi manfaat terkhusus untuk diri saya sendiri. Wa akhiru da’wana anil hamdu lillaahi rabbil ‘alamin..



Menikahi Wanita Kristen

Oleh : Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari

Pertanyaan ; 
berikut berkata si penanya; saudaraku ingin menikah dengan wanita kristen, apa hukumnya dan apa nasihat anda kepadanya?

Jawab ; 
menikah dengan wanita kristen adalah perkara yang diperselisihkan oleh ulama, berbeda dengan masalah menikah dengan wanita musyrik kafir yang bukan tergolong ahlul kitab, perkara ini ada kesepakatan dikalangan ulama bahwa hukumnya tidak boleh menikah dengannya, hal ini adalah kesepakatan bahkan ada ijma'. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta?ala;

{وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ} سورة الممتحنة ? 10 .

"Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir" (Qs. Al Mumtahanah; 10)

Perselisihannya adalah dalam masalah menikah dengan wanita Kristen. Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafi'iyyah, Malikiyah dan Hanabilah (pengikut madzhab yang empat) begitu pula sekelompok orang dari kalangan shahabat Radhiyallahu ?Anhu dan mereka banyak berpendapat bolehnya seorang muslim menikah dengan wanita ahlul kitab dengan syarat wanita tersebut muhshan (wanita baik-baik), seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta?aala;

{وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ} سورة المائدة ? 5 .

"(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik" (Qs. Al Maidah; 5) dengan sifat ini, maka boleh menikahinya.

Ibnu Umar Radhiyallahu ?Anhu seperti yang terdapat di dalam Shahih Al Bukhari dan sebagian fuqaha' al hanafiyah berpendapat hal tersebut terlarang. Ibnu Umar Radhiyallahu ?Anhu berdalil dengan keumuman ayat yang melarang menikahi wanita-wanita kafir diantaranya apa yang telah kami sebutkan "Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir" (Qs. Al Mumtahanah; 10). Ia berkata; "Saya tidak melihat kekufuran atau kesyirikan yang lebih dahsyat dari perkataan seorang wanita bahwa Rab-nya adalah Isa". Ini terdapat di dalam Shahih Al Bukhari. Akan tetapi yang benar adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil ayat, keabsahan dan kejelasannya.

Akan tetapi saya katakan berkenaan dengan seorang lelaki mukmin, apabila Allah Subhanahu Wa Ta?aala memudahkan baginya seorang wanita mukminah yang wajib baginya adalah (samar) karena dikhawatirkan atas seseorang akan tersesat dan wanita ini akan menyimpangkan agamanya. Imran bin Hitthan al khariji adalah diantara pemimpin-pemimpin khawarij dahulu adalah seorang ahlussunnah, dahulu ia diatas sunnah menikah dengan seorang wanita dari kerabatnya ada yang mengatakan wanita tersebut adalah sepupunya. Wanita ini diantara pemimpin-pemimpin khawarij. Imran berkata; Saya akan menikahinya dan meluruskannya. Akan tetapi ketika ia menikahinya wanita tersebut malah yang menyesatkannya sehingga Imran menjadi pemimpin khawarij yang sebelumnya ia diatas sunnah.

Hal ini menandakan kepada kita barakallahu fiik kepada perkara yang penting sekali. Hati-hati kita diantara jari jemari Ar-Rahman bebas Ia membolak-baliknya. Maka seseorang seharusnya tidak merasa aman terhadap dirinya dari fitnah. Ibrahim Alaihissalaam berkata seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta?aala firmankan;

{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ} سورة إبراهيم ? 35 .

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala" (Qs. Ibrahim; 35)

Berkata Ibrahim At-Taimi; Siapa yang merasa aman dari bala' setelah Ibrahim Alaihissalaam?! Maka dikhawatirkan atas seseorang bahwa wanita tersebut akan menyesatkannya. Adapun berkenaan dengan hukum permasalahan dan boleh tidaknya adalah seperti yang telah kami sebutkan keterangannya. Dan nasihat untuknya hendaknya ia menjauh dari perkara seperti ini, Allah Subhanahu Wa Ta?aala akan mencukupkan untuknya dengan wanita mukminah;

{وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ} سورة البقرة ? 221 .

"Sesungguhnya wanita budak yang mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu" (Qs. Al Baqarah; 221).

Thursday, June 7, 2012

Petunjuk Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam Dalam Menangis

Terkadang tangisan beliau sebagai bentuk ungkapan kasih sayang terhadap orang yang meninggal atau pula sebagai ungkapan rasa kekhawatiran dan belas kasih terhadap umatnya dan kadang karena rasa takut kepada Allah atau ketika mendengar Al-Qur'an. Yang seperti itu adalah tangisan yang timbul dari rasa rindu, cinta dan pengagungan bercampur rasa takut kepada Allah.( Zadul Ma'ad 1/183.)

Abdullah bin Mas'ud menuturkan, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam
bersabda:
"Bacakan (Al-Qur'an) untukku." Lalu katakan: "Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, aku baca untuk engkau padahal Al-Qur'an turun kepadamu?" Beliau berkata: "Ya, Sesungguhnya saya ingin mendengarkannya dari selainku."
Lalu aku baca surat An-Nisa' hingga sampai ayat :
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
Beliau lantas berkata: "Ya cukup." Tiba-tiba air mata beliau menetes.

Demikian pula Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah menangis ketika menyaksikan salah satunya cucunya yang nafasnya sudah mulai terputus-putus dan ketika putra beliau Ibrahim meninggal, air mata beliau menetes karena belas kasih beliau kepadanya. Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam menangis ketika meninggalnya Ustman bin Madh'un, beliau menangis ketika terjadi gerhana matahari lantas beliau shalat gerhana dan beliau nienangis dalam shalatnya, kadang pula beliau menangis di saat menunaikan shalat malam.

Diriwayatkan dari Tsabit Al-Bunaniy dari Muthorrif dari bapaknya berkata: Saya menjumpai Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam sedang dalam keadaan shalat, terdengar dalam perut beliau Al-Aziz (seperti suara air yang mendidih dalam Mirjal yaitu bejana) maksudnya beliau sedang menangis. (HR Ahmad, An-Nasa-i dan Abu Dawud serta Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dan dishahihkan oleh Al-Albani 8 AI-Fath Ar-Rabbani 4/111.)

Al-Aziz adalah rintihan dalam perut dalam arti lain suara tangis. Al-Mirjal dengan dikasroh mimnya adalah bejana yang difungsikan untuk mendidihkan air yang terbuat dari besi, kuningan atau batu. Disebutkan dalarn Al-Fath Ar-Rabbaniy : Makna ucapan tersebut adalah bahwa isi perut nabi Shalallahu’alaihi Wassallam mendidih dari sebab beliau menangis dari rasa takut kepada Allah. (Al Fath Ar Rabbani 4/111)

Terdapat dalam suatu riwayat bahwasanya beliau Shalallahu’alaihi Wassallam mengatakan : Beberapa surat telah membuatku beruban seperti surat Hud, Al-Waqi'ah, AlMursalaat, Amma Yatasa'alun dan surat Idzassyamsyu Kuwwirat. (Shahihul-Jami' no 3723.)

Adalah bacaannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bisa membelah hati seseorang sebagaimana tertera dalam Ash-Shahihain dari Jubair bin Muth'im, ia berkata :
Aku mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat maghrib, tidaklah aku mendengar suara yang paling bagus dari beliau. Dalam sebagian riwayat lain : Maka tatkala aku mendengar beliau membaca:
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) ?" (Ath-Thur: 35)
Lantas ia mengatakan: Hampir saja jantungku terbang.

Berkata Ibnu Katsir Ketika Jubair mendengar ayat tersebut ia masih musyrik menganut ajaran kaumnya, ia datang di saat terjadinya penebusan tawanan perang setelah perang badar. Maka cukuplah bagi kamu dengan orang yang bacaannya punya pengaruh terhadap orang yang getol kepada kekafirannya dan itulah yang menjadi sebab ia mendapatkan hidayah, oleh karena itu, sebaik-baik bacaan adalah yang muncul dari kekhusyukan hati. Thawus berkata: manusia yang paling bagus suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah yang mereka paling takut kepada Allah.

Dinukil dari buku : Air Mata Iman, Kisah-kisah Salafus Shaleh saat Membaca Al Qur’an
Penerbit : Qaulan Karima, Purwokerto
Judul Asli : Al-Buka’ ‘Inda Qiraatil Qur’an

Pengajian Umum Sumpiuh, Banyumas "Mengapa Kita Meninggalkan Amal.?" : Ust. Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullah

Hadirilah...
Pengajian Umum Sumpiuh, Banyumas
Bersama : 
Al_Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullah
(Pengasuh Ponpes Dhiya’us  Sunnah Cirebon & Penasehat Majalah Asy Syariah)

Dengan Tema :
"Mengapa Kita Meninggalkan Amal.?"
 
yang insyaAlloh dilaksanakan pada :
Hari Ahad, 20 Rajab 1433 H / 10 Juni 2012 M
Pukul : 09.30 WIB - Selesai
Di Masjid Jami' Al-Abror
(Komplek Ma'had Ibnu Taimiyah, Kebokura, Sumpiuh, Banyumas)

InsyaAlloh disiarkan langsung di 
Radio Al Abror 107.8 FM
dan


 

by blogonol